"Amira, lihat Tante, Sayang. Tarik napasnya pelan-pelan ya."
Hana mengusap punggung Amira yang masih terguncang oleh sisa-sisa tangis. Perempuan itu menuntun Amira untuk duduk di salah satu kursi kayu dekat sudut toko, lalu menyodorkan segelas air hangat yang langsung diteguk Amira dengan tangan yang masih bergetar.
Boneka beruang kecilnya diletakkan di pangkuan, dipeluk erat-erat seolah benda itu adalah benteng pertahanan terakhirnya.
"Tante Hana, aku benar-benar nggak mau pulang," bisik Amira, matanya yang bulat kini tampak sembab dan merah. "Aku nggak mau Papa menikah dengan Tante Clara. Papa nggak tahu kalau Tante Clara itu jahat."
Hana berlutut di samping kursi Amira, menggenggam sepasang tangan kecil yang terasa dingin itu. "Kenapa Amira bisa bilang begitu? Memangnya Tante Clara melakukan apa pada Amira?"
"Dia selalu tersenyum kalau ada Papa, Tante. Tapi kalau Papa sudah berangkat kerja, wajahnya langsung galak," Amira mengadu dengan b1bir melengkung ke bawah, air matanya kembali menggenang di sudut kelopak mata.
"Dia suka membentak Amira. Waktu itu Amira nggak sengaja menjatuhkan mainan, dia langsung menjewer telinga Amira sampai merah. Dia bilang Amira anak nakal yang merepotkan. Kalau aku mengadu pada Papa, Tante Clara bilang dia akan membuang boneka beruangku ini. Boneka ini dari Mama, dia … dia pergi. Kata Mama dia akan Kembali, tapi aku tunggu nggak dateng juga."
Hana terdiam, kalimat-kalimat polos dari bibir Amira seperti mesin waktu yang melempar ingatan Hana kembali ke masa belasan tahun yang lalu. Ingatan tentang bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang kehilangan ibu kandung, lalu harus menyaksikan seorang wanita asing masuk ke dalam rumah dengan senyum manis yang ternyata menyimpan dvri.
Dulu, setelah mamanya meninggal, papa Hana memutuskan untuk menikah lagi dengan Sabrina. Di depan papanya, Sabrina adalah sosok ibu sambung yang penuh perhatian dan lemah lembut.
Namun, begitu punggung sang papa menjauh, rumah itu berubah menjadi neraka kecil bagi Hana. Bentakan, tuduhan, hingga cubitan di lengan menjadi makanan sehari-hari yang harus ia telan dalam kesunyian.
Dan bagian paling menyakitkan adalah ketika papanya perlahan mulai berubah, lebih memercayai aduan manis Sabrina ketimbang tangisan anak kandungnya sendiri, apalagi setelah Tasya lahir. Hana makin tersisih, hingga maut akhirnya menjemput papanya itu tanpa sempat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Hana melihat seluruh bayangan masa lalunya yang kelam ada di dalam diri Amira sekarang. Ia bisa merasakan ketakutan yang nyata, rasa tidak berdaya seorang anak kecil yang instingnya sedang berusaha menyelamatkan diri dari ancaman orang dewasa.
Namun, akal sehat Hana buru-buru menariknya kembali ke realitas. Ia tahu betul posisinya sekarang. Ia hanyalah seorang pemilik toko kue, orang asing yang kebetulan disukai oleh anak ini.
Hana tidak tahu siapa ayah Amira, bagaimana watak keluarganya, atau apakah ada konflik lain di balik cerita ini. Menyembunyikan anak kecil di tokonya tanpa izin orang tua bisa menyeretnya ke dalam jerat hukum yang rumit dengan tuduhan penculikan anak. Setelah semua badai perceraian yang melelahkan kemarin, Hana tidak ingin masuk ke dalam masalah baru.
"Amira, dengar Tante ya," Hana mengusap pipi tembam Amira dengan ibu jarinya, mencoba tersenyum selembut mungkin untuk menenangkan. "Tante tahu Amira sedang takut. Tante juga paham rasanya sedih dan tidak nyaman. Tapi, melarikan diri seperti ini bukan cara yang benar, Sayang. Kasihan Papa, pasti sekarang sedang kebingungan mencari Amira ke mana-mana."
Amira menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya kembali luruh. "Tapi kalau aku pulang, Papa tetap akan menikah dengan Tante Clara. Papa tidak pernah mau mendengarkan aku."
"Itu karena Amira belum bicara dengan cara yang benar pada Papa," Hana menjeda kalimatnya, memberikan ketukan lembut pada punggung tangan anak itu. "Amira harus berani. Katakan pada Papa apa yang Amira rasakan, tunjukkan bagian yang sakit kalau Tante Clara berbuat jahat lagi. Seorang papa pasti akan membela anaknya kalau tahu yang sebenarnya. Amira percaya kan pada Papa?"
Amira menatap Hana dengan ragu, mata bulatnya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna nasihat yang baru saja didengarnya. "Apakah Papa benar-benar akan percaya padaku, Tante?"
"Tentu saja. Tapi pertama-tama, kita harus memberi tahu Papa kalau Amira aman di sini," Hana menegakkan tubuhnya sedikit, lalu merogoh kantong celemeknya. "Amira hafal nomor telepon Papa? Biar Tante yang hubungi."
Anak kecil itu terdiam lama, jemari kecilnya memainkan bulu-bulu boneka beruangnya dengan bimbang. Namun, setelah melihat tatapan mata Hana yang penuh ketulusan dan rasa aman, Amira akhirnya mengangguk pelan. Ia menyebutkan deretan angka yang dihafalnya di luar kepala, yang langsung diketikkan oleh Hana ke atas layar ponselnya.
Hana menatap deretan angka di layar gawainya, lalu mengarahkan jarinya untuk menekan tombol panggil. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh permukaan kaca, sebuah suara deru mesin mobil yang melaju kencang mendadak berhenti dengan hentakan keras tepat di pelataran parkir rukonya.
Suasana sore yang tenang seketika pecah oleh lengkingan suara sirine mobil polisi yang memekakkan telinga, bergema menyorot kaca-kaca depan toko kue Hana dengan kilatan lampu rotator berwarna biru dan merah yang berputar cepat sore itu.
Jantung Hana serasa melompat dari tempatnya ketika pintu kaca toko terdorong kasar hingga membentur pembatas besi di dinding. Suara sirine yang meraung-raung di luar membuat atmosfer di dalam ruangan yang semula hangat dan harum aroma kue, mendadak berubah mencekam dan menegangkan.
Ratih dan dua pegawai dapur lainnya berlari keluar dari ruang belakang dengan wajah pucat pasi. Tangan mereka masih berlumuran sisa tepung, menatap liar ke arah pintu depan dengan mata melebar penuh ketakutan.
"Mbak Hana, ada apa ini? Kenapa ada polisi di luar?" bisik Ratih dengan suara bergetar hebat, tubuhnya gemetaran di balik celemek kerja.
Hana segera menegakkan tvbuh, mengangkat satu tangannya di udara untuk memberikan isak tanda agar seluruh pegawainya menahan diri. "Tenang semuanya. Tetap di tempat kalian dan jangan ada yang keluar dari balik meja kasir. Biar aku yang urus."
Belum sempat Hana melangkah lebih dekat ke arah pintu, dua petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk dengan tatapan mata yang menyelidik tajam. Di belakang mereka, seorang pria bertubuh tinggi tegap merangsek masuk dengan langkah lebar yang terburu-buru.
Pria itu mengenakan kemeja kerja berwarna biru tua yang lengannya digulung rapi hingga sebatas siku, memamerkan jam tangan perak berdesain tegas di pergelangan tangannya. Wajahnya memiliki garis rahang yang kokoh, dengan hidung mancung dan sepasang mata elang yang memancarkan aura ketegasan sekaligus kepanikan yang teramat sangat. Ketampanannya yang mencolok tertutup oleh gurat kecemasan yang mendalam.
"Papa!" Amira menjerit kencang, langsung melompat turun dari kursi kayu dan berlari menubruk pria tinggi tersebut.
Pria itu langsung berlutut di atas lantai toko, menangkap tubuh mungil Amira dan mendekapnya dengan begitu erat ke dalam d4danya. Ia memejamkan mata dalam-dalam, menghirup aroma rambut putrinya seolah baru saja menemukan kembali dunianya yang sempat hilang. Bahu tegap pria itu tampak naik turun dengan napas yang memburu, meredam rasa takut yang sempat mencekik batinnya selama beberapa jam terakhir.
"Amira... Tuhan, kamu ke mana saja, Nak? Kenapa bisa ada di sini?" bisik pria itu, suaranya terdengar serak dan bergetar di dekat telinga anaknya. Ia mengusap punggung Amira berulang kali, memastikan bahwa anak perempuan kesayangannya itu benar-benar berada di pelukannya dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun.
Hana berdiri terpaku tidak jauh dari mereka, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang campur aduk antara lega sekaligus bingung. Jemarinya bertautan di depan celemek, menunggu dengan sabar hingga pelukan ayah dan anak itu merenggang.
Setelah memastikan Amira baik-baik saja, pria bertubuh tegap itu bangkit berdiri. Ia menatap Hana dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menvsuk, seolah menuntut pertanggungjawaban penuh atas apa yang telah terjadi pada putrinya.
Salah satu petugas polisi yang bertubuh tambun melangkah maju, berdiri di antara Hana dan pria tersebut. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku seragamnya, lalu menatap Hana dengan raut wajah yang sangat serius tanpa kompromi.

No comments:
Post a Comment