Dihantui Masa Lalu, Karakter Utama WARISAN PILIH KASIH Hampir Kehilangan Akal Sehat!
Lampu di lantai dua kantor masih menyala ketika sebagian besar r u a n g a n sudah kosong.
Jam dinding menunjukkan p u k u l delapan malam.
Suara pendingin r u a n g a n terdengar samar di tengah keheningan.
Bayu masih duduk di depan komputer.
Tatapannya tertuju pada layar yang penuh angka dan laporan.
Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Ponselnya bergetar lagi.
Bayu melirik sekilas.
Mama
Untuk ketujuh kalinya hari itu.
Ia membiarkan layar menyala beberapa detik sebelum panggilan itu terputus sendiri.
Lalu kembali fokus pada komputer.
Atau setidaknya berusaha fokus.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki.
"Masih di sini?"
Bayu menoleh.
Doni berdiri di depan r u a n g a n n y a sambil membawa tas kerja.
"Belum pulang?"
tanya Bayu.
Doni tertawa.
"Harusnya aku yang nanya begitu."
Bayu hanya tersenyum t i p i s.
Doni sudah bekerja bersamanya hampir lima tahun.
Di antara semua rekan kerja, mungkin hanya Doni yang cukup berani mengobrol santai dengannya.
"Kamu tahu nggak?"
kata Doni sambil masuk tanpa diundang.
"Aku c u r i g a kamu sebenarnya tinggal di kantor."
"Kalau tinggal di kantor, aku nggak perlu bayar apartemen."
"Benar juga."
Doni menarik kursi lalu duduk.
Matanya tanpa sengaja menangkap layar ponsel Bayu.
"Panggilan lagi?"
Bayu mengangguk singkat.
"Keluarga?"
"Hm."
"Nggak diangkat?"
"Nggak."
Doni menghela n a p a s.
"Hubunganmu sama keluarga memang aneh."
Bayu tidak menjawab.
Karena ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan dari mana.
Aneh?
Mungkin.
Atau mungkin hanya lelah.
"Kamu nggak pernah cerita tentang mereka."
"Nggak ada yang perlu diceritakan."
"Itu jawaban yang selalu kamu kasih."
Bayu menutup laptopnya.
Pembicaraan ini mulai mengarah ke tempat yang tidak ingin ia datangi.
Namun Doni tampaknya belum berniat berhenti.
"Kadang aku iri sama orang yang keluarganya dekat."
Bayu tertawa kecil.
"Kalau dekat belum tentu bahagia."
"Nah, berarti ada cerita."
"Tidak ada."
Doni memandangnya beberapa detik.
Lalu menyerah.
"Ya sudah."
Ia berdiri.
"Tapi satu hal."
"Apa?"
"Kalau suatu hari kamu butuh cerita, jangan dipendam sendirian."
Bayu mengangguk pelan.
Doni pergi beberapa saat kemudian.
Meninggalkan r u a n g a n kembali sunyi.
Namun kata-katanya masih tertinggal.
"Jangan dipendam sendirian."
Bayu menatap ponselnya.
Layar kembali menyala.
Kali ini bukan telepon.
Melainkan pesan.
Mama: Bayu, angkat telepon Mama.
Beberapa detik kemudian pesan lain masuk.
Mama: Penting.
Bayu bahkan tidak perlu menebak.
Ia tahu apa yang dianggap penting oleh Maya.
Bukan dirinya.
Bukan kabarnya.
Bukan hidupnya.
Melainkan sesuatu yang berkaitan dengan Dinda.
Selalu Dinda.
Entah bagaimana, pikirannya langsung melayang jauh.
Jauh ke masa ketika ia masih berusia sembilan tahun.
"Bayu!"
Suara Bu Ratna membuat seluruh kelas menoleh.
Bayu yang sedang menulis langsung berdiri.
"Iya, Bu?"
"Sini sebentar."
Dengan bingung ia maju ke depan kelas.
Bu Ratna tersenyum lebar.
Senyum yang jarang terlihat.
"Selamat."
Bayu mengernyit.
"Untuk apa, Bu?"
"Kamu lolos ke final."
Beberapa murid langsung berseru.
"Serius?"
"Wah!"
Bayu sendiri masih belum memahami.
Final?
Final apa?
"Kamu lolos ke final lomba sains tingkat kota."
Jantungnya langsung berdegup kencang.
Benar-benar kencang.
"Benarkah?"
Bu Ratna tertawa.
"Kalau tidak benar, Ibu nggak akan bilang."
Teman-temannya langsung mengerubunginya.
Memberi selamat.
Menepuk bahunya.
Namun Bayu hampir tidak mendengar apa pun.
Pikirannya sudah melayang ke r u m a h.
Ke Mama.
Ke Papa.
Mereka pasti bangga.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa punya sesuatu yang layak dibanggakan.
Sepulang sekolah, Bayu berlari hampir sepanjang jalan.
Tasnya berguncang di punggung.
N a p a s n y a memburu.
Namun ia tidak peduli.
Begitu sampai r u m a h, ia langsung masuk.
"Ma!"
Tidak ada jawaban.
"Ma!"
Suara televisi terdengar dari ruang tengah.
Maya sedang duduk di lantai menemani Dinda yang sibuk bermain boneka.
"Ada apa sih teriak-teriak?"
Bayu langsung mengeluarkan surat dari tasnya.
"Ma, aku masuk final!"
Maya mengernyit.
"Final apa?"
"Lomba sains."
"Oh."
Bayu menunggu.
Menunggu reaksi yang lebih besar.
Namun Maya hanya mengambil surat itu sekilas.
Membacanya sebentar.
Lalu mengembalikannya.
"Bagus."
Hanya itu.
Bagus.
Namun Bayu tetap tersenyum.
Karena ia terlalu bahagia untuk kecewa.
"Kalau menang dapat piala."
"Iya."
"Kalau menang bisa mewakili sekolah."
"Iya."
Dinda yang sejak tadi bermain tiba-tiba menarik tangan Maya.
"Mama, lihat boneka Dinda."
Maya langsung menoleh.
"Wah cantik."
Perhatian itu berpindah begitu saja.
Namun Bayu tetap bertahan.
"Ma."
"Hm?"
"Mama datang, kan?"
Maya menoleh.
"Kapan?"
"Waktu final."
"Oh."
Untuk sesaat Maya terlihat berpikir.
Lalu mengangguk.
"Iya."
Senyum Bayu langsung melebar.
Benar-benar lebar.
Maya akan datang.
Malam harinya Arif pulang.
Dan Bayu kembali menunjukkan surat itu.
Arif membacanya lebih lama dibanding Maya.
Lalu mengangguk.
"Bagus."
Bayu kembali menunggu.
Kali ini dengan harapan yang sama.
"Papa datang?"
Arif menatapnya.
"Hari lombanya kapan?"
Bayu menyebut tanggalnya.
Arif berpikir sejenak.
Lalu tersenyum.
"Kalau nggak ada kerjaan, Papa datang."
Bayu langsung mengangguk.
Bagi a n a k sembilan tahun, jawaban itu sudah lebih dari cukup.
Ia t i d u r malam itu dengan senyum.
Membayangkan Mama dan Papa duduk di antara penonton.
Menyaksikan dirinya menang.
Menyaksikan dirinya membanggakan keluarga.
Hari lomba akhirnya tiba.
Bayu datang paling pagi.
Seragamnya rapi.
Sepatunya mengilap.
Pena cadangan tersimpan di saku.
Ia duduk di kursi peserta sambil sesekali melirik pintu masuk.
Masih belum ada.
Tidak apa-apa.
Acara belum dimulai.
Lima belas menit berlalu.
Tiga puluh menit.
Empat puluh menit.
Satu per satu kursi penonton mulai terisi.
Orang tua peserta berdatangan.
Ada yang membawa kamera.
Ada yang membawa makanan.
Ada yang sibuk memberi semangat.
Bayu terus melihat ke pintu.
Menunggu.
Dan menunggu.
Namun sosok yang ia harapkan tidak muncul.
Sampai akhirnya lomba dimulai.
Kursi yang seharusnya ditempati Maya dan Arif tetap kosong.
Lomba berakhir siang hari.
Dan saat pengumuman pemenang dilakukan—
Nama Bayu disebut pertama.
"Juara satu lomba sains tingkat kota diraih oleh... Bayu Prasetyo!"
Tepuk tangan memenuhi r u a n g a n.
Bayu berdiri.
Jantungnya berdebar.
Tangannya gemetar saat menerima piala.
Ia menoleh ke arah bangku penonton.
Masih kosong.
Tetap kosong.
A n a k-a n a k lain berlari memeluk orang tua mereka.
Bayu berdiri sendiri.
Memegang piala yang terasa jauh lebih berat dari seharusnya.
Hingga akhirnya Bu Ratna datang.
Memeluk bahunya.
"Ibu bangga sama kamu."
Bayu tersenyum.
Namun entah kenapa matanya terasa panas.
Malam itu ia pulang membawa piala.
Masih berharap.
Mungkin Mama dan Papa lupa jamnya.
Mungkin ada sesuatu yang terjadi.
Namun saat membuka pintu r u m a h—
Ia menemukan Maya dan Arif sedang tertawa di ruang tengah.
Dinda duduk di antara mereka.
Memamerkan mainan baru.
"Bayu pulang."
kata Maya.
Bayu berdiri mematung.
"Itu apa?"
tanya Arif sambil menunjuk piala.
"Aku menang."
"Oh iya?"
Arif tersenyum.
"Bagus."
Bayu menggenggam pialanya lebih erat.
"Kalian lupa datang."
R u a n g a n mendadak hening.
Maya saling pandang dengan Arif.
Dan dari tatapan itu, Bayu langsung tahu jawabannya.
Mereka benar-benar lupa.
Bukan terlambat.
Bukan terhalang sesuatu.
Bukan karena keadaan darurat.
Mereka lupa.
Lupa bahwa hari itu penting baginya.
Lupa bahwa mereka pernah berjanji.
Lupa bahwa ia sudah menunggu.
Dan entah kenapa, itulah bagian yang paling menyakitkan.
Bayu tersadar ketika layar ponselnya kembali menyala.
Ia kembali berada di ruang kerjanya.
Bukan lagi a n a k sembilan tahun yang memegang piala.
Bukan lagi a n a k yang menunggu di kursi penonton.
Namun rasa itu masih ada.
Sama jelasnya seperti dulu.
Ponselnya bergetar lagi.
Mama menelepon.
Bayu menatap layar beberapa detik.
Lalu m e m a t i k a n n y a.
Bukan karena m a r a h.
Bukan karena benci.
Melainkan karena ia sudah terlalu lama belajar satu hal.
Orang tuanya selalu ingat dirinya saat membutuhkan sesuatu.
Tapi tidak pernah ingat dirinya saat ia membutuhkan mereka.
Bersambung....

No comments:
Post a Comment