Addense

Monday, 27 July 2026

Di sangka tki ternyata dokter

 Dikirim video calon istri check-in sama sepupuku di hotel, aku bukannya kecewa atau marah.


Tapi, ini yang aku lakukan pas pulang merantau dari luar negeri. Aku balas mereka dengan cara 


Aku mere-mas pinggiran kebaya pengantinku yang terasa mencekik leher. Harusnya ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Hari di mana aku bersanding dengan seorang dokter, pria masa depan yang akan mengangkat derajat keluargaku.


Namun, yang kudapatkan hanyalah kekacauan yang membuat kepalaku hampir pecah.


Aku memejamkan mata, menahan tangis yang bercampur amarah. Di luar, dekorasi bunga-bunga impor yang menghiasi halaman rumahku masih berdiri tegak, lampu-lampu kristal sewaan masih bersinar terang, dan katering kelas satu masih menyajikan hidangan lezat.


Tapi semua itu terasa seperti bom waktu.


Vendor dekorasi baru saja mengirim pesan padaku. Mereka meminta pelunasan sisa pembayaran sore ini juga karena Mas Kaizan, pria yang selama ini menjadi penjamin, telah membatalkan otorisasi pembayarannya secara sepihak.


"Gila! Benar-benar gila!" aku mendesis, mondar-mandir di luar kamar 


Aku menatap saldo di tabunganku. Itu adalah uang hasil tabunganku selama ini dan sedikit uang simpanan dari Ayah yang bulan lalu dapat untung entah dari mana 


Dengan tangan gemetar, aku mentransfer sisa biaya dekorasi dan katering agar mereka tidak membuat keributan di depan tamu undangan. Hampir seluruh simpananku ludes dalam sekejap.


Aku membuka pintu kamar dan menatap Dimas yang terduduk lemas di lantai.

 

"Aku sudah melunasinya dengan uang tabunganku, Mas. Semua. Dekorasi, katering, sampai biaya rias. Tapi dengar baik-baik..." Aku menunjuk wajahnya dengan telunjuk yang gemetar. "Ini utang. Kamu harus menggantinya secepatnya! Aku gak mau tahu bagaimana caranya, kamu harus bayar!"


Dimas mendongak, wajahnya pucat pasi, namun ia mengangguk cepat. "Iya, Sil. Iya. Begitu aku praktik, aku ganti semuanya. Aku janji. Ini cuma sementara."


Aku hanya bisa mendengus kasar. Janji. Hanya itu yang dia punya sekarang.


Tak lama kemudian, rombongan keluarga Dimas, Ibu dan Ayahnya keluar dari rumah. Mereka mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. 


Dengan wajah tebal, mereka kembali ke pelaminan bersamaku dan Dimas.


Kami harus berpura-pura. Demi harga diri di depan warga desa dan teman-teman sejawat. Kami berganti pakaian hingga dua kali, tersenyum palsu di depan kamera, menyalami ratusan tamu yang memuji betapa serasinya pasangan "Dokter dan Dokter" ini. 


Setiap kali seseorang memuji kemewahan pesta ini, hatiku rasanya perih tertusuk duri. Mereka tidak tahu bahwa kemewahan ini dibayar dengan air mata dan sisa tabunganku yang ludes.


Malam harinya, setelah tamu terakhir pulang dan lampu-lampu mulai dipadamkan, keheningan yang menyesakkan menyelimuti rumahku. 


Keluarga Dimas sudah pulang ke rumah mereka sendiri, meninggalkan aku dan Dimas di kamar pengantin yang kini terasa asing.


Aku duduk di depan meja rias, menghapus riasan tebal yang terasa berat. Dimas merebahkan tubuhnya di kasur, tampak sangat kelelahan secara mental.


"Akhirnya selesai juga," gumam Dimas pelan.


Ia menggeser bantal, mungkin mencari posisi nyaman, namun gerakannya terhenti. Matanya tertuju pada selembar foto yang terselip di bawah kasur, sedikit menonjol di dekat kaki ranjang. Itu adalah sudut kamar yang jarang terjamah saat pembersihan kilat tadi pagi.


"Ini siapa, Sil?" tanya Dimas sambil menarik foto itu.


Jantungku hampir berhenti berdetak. Aku menoleh cermin dan melihat Dimas memegang foto seorang wanita berhijab. Itu adalah foto lama, foto seseorang yang sangat ingin kulupakan keberadaannya.


"Bukan siapa-siapa! Sini!" aku berbalik dengan cepat, merebut foto itu dari tangannya dengan gerakan kasar.


"Tapi itu... kayak akrab banget sama kamu. Teman kuliah? Kok mukanya mirip—"


Sret! Sret!


Aku tidak membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya. Dengan napas memburu, aku merobek foto itu menjadi kepingan kecil hingga wajah wanita di foto itu tak lagi bisa dikenali. 


Aku melempar potongan kertas itu ke tempat sampah di sudut meja rias.

"Aku bilang bukan siapa-siapa, Mas! Jangan bahas hal yang gak penting!" bentakku. 


Dadaku naik turun. Aku tidak ingin masa lalu atau rahasia apa pun merusak sisa harga diriku malam ini.


Dimas tertegun melihat reaksiku, tapi dia tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia tahu aku sedang di puncak emosi.


Aku berbalik, menatapnya dengan tajam. Fokusku kembali pada masalah utama yang menghimpit leher kami. "Sekarang, lupakan foto itu. Pikirkan bagaimana cara kita mendapatkan kembali 300 juta itu! Aku gak mau tahu, Mas Kaizan harus mengembalikan uang itu. Itu hakmu, kan? Dia hanya TKI, dia gak butuh uang sebanyak itu!"


"Dia mematikan ponselnya, Sil. Dia membawa lari uang itu bersama Dila," jawab Dimas frustasi, meremas rambutnya sendiri.


"Cari dia!" aku mendekat, mencengkeram bahu suamiku itu. "Dia pasti ke Jakarta atau kembali ke Malaysia. Kamu kan tahu instansi tempat dia kerja di sana? Telepon kantornya! Bilang dia mencuri uang keluarga! Buat dia dipecat kalau perlu, supaya dia mengemis kembali pada kita!"


"Aku... aku gak tahu nama kantornya secara spesifik, Sil. Ibu selalu bilang dia cuma kerja di bagian logistik rumah sakit di Kuala Lumpur," bisik Dimas ragu.


Aku tertawa sinis. "Logistik? Cuma kuli gudang saja gayanya selangit pakai melamar Mbak Dila segala. Mas, dengar. Kalau uang itu gak kembali, kita gak bisa bulan madu ke luar negeri. Kamu juga belum dapat panggilan dari rumah sakit, apa kamu mau jadi dokter puskesmas biasa dengan gaji pas-pasan sementara utang dekorasi ini mencekik kita! Kamu mau hidup susah?"


Dimas menggeleng kuat. "Enggak. Aku nggak mau."


"Kalau begitu, besok minta ibu kamu geledah kamar lama Mas Kaizan. Pasti ada petunjuk, alamat, atau paspor cadangan. Pokoknya harus temukan dia dan ambil apa yang seharusnya jadi milik kita," ucapku dengan nada dingin.


"Siap, besok pagi kita otw honey moon," sambung Dimas bersemangat.


Di dalam hatiku, selain kemarahan pada Kaizan, ada ketakutan yang mendalam Ketakutan jika Mbak Dila, wanita yang selalu kuanggap sampah, ternyata mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada aku.


"Mas Kaizan..." gumamku dalam hati. "Kamu pikir bisa lari setelah mengacaukan hidupku? Jangan harap."


No comments:

Post a Comment