Addense

Monday, 20 July 2026

Gadis pemuas nafsu birahi


 Mobil mewah yang mereka tum pangi akhirnya meninggalkan kawasan kasino megah milik Kaivan yang penuh keramaian dan suara gemerincing koin platinum. Kini kendaraan itu melaju menembus jalanan berkelok yang semakin sepi menuju pinggiran pantai selatan. 


Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa ka ku. Kaivan du duk tenang di kursi belakang, sesekali melirik ke arah Alina yang tampak ge li sah, ma tanya terus menat ap keluar jendela seolah mencari jalan keluar yang tak ada.

 

Sopir yang terlihat terlatih itu tak banyak bicara, hanya fokus pada kemudi. Setelah sekitar satu jam perjalanan, pemandangan berubah drastis. Gedung-gedung tinggi berganti dengan hamparan bukit batu karang dan pohon kelapa yang melambai tertiup angin kencang. 


Ketika mobil berhenti di halaman luas sebuah bangunan berdinding full kaca bergaya modern yang berdiri kokoh tepat di tepi bi bir pantai, Alina menyadari bahwa tempat ini benar-benar terpencil.

 

“Ini dia, Pantai Mutiara Hitam,” ucap Kaivan sambil membu ka pintu mobil sendiri dan melang kah keluar.

 

Alina mengikuti di belakangnya dengan lang kah ragu. Begitu ka kinya menye ntuh tanah, dia langsung tertegun. Pasir di sini benar-benar berbeda dari pantai lain yang pernah dia kunjungi. Warnanya hitam pekat, namun saat diinjak, teksturnya sangat halus, lembut menyelimuti tela pak ka ki seolah debu sutra yang menutupi permukaan pantai. 


Angin laut yang bertiup kencang membawa serta aroma garam yang kuat namun menenangkan. Alina menarik na pas panjang, mencoba membiarkan udara segar itu ma suk ke da lam p4ru-p4runya. Ada sedikit rasa lega yang menyelinap di ha tinya, meski ketakutan tetap menggantung ber at di sana.

 

Kaivan mendekat, lalu dengan santai mera ngkul ba hu Alina. Ga dis itu terasa begitu kecil di sampingnya; tinggi ba dannya bahkan tidak sampai menyamai dada Kaivan, membuatnya terlihat rapuh dan mudah dihan curkan kapan saja.

 

“Malam ini kita akan mengi_nap di sini, berdua saja!” ucap Kaivan dengan nada ringan, seolah sedang membicarakan hal yang paling biasa di dunia.

 

Namun, ucapan itu justru membuat ketenangan sesaat yang dirasakan Alina lenyap seketika. Jant ungnya berde gup kencang, terlalu kencang hingga terasa nye ri di da danya. Dia me ne pis perlahan tang an Kaivan dari ba hunya dan mundur selang kah, mena tap taj am ke arah pri4 itu. 


Berbeda dengan sikap santai Kaivan, Alina kini te gang luar biasa. Setiap ot ot di tu buhnya seolah siap untuk melompat dan lari sejauh mungkin. Di benaknya, bayangan bu ruk mulai bermunculan  dia tahu betapa Kaivan dengan gaya hidupnya yang be bas dan koleksi wa nita yang selalu berganti setiap saat.

 

“Dengar, aku berbeda dari koleksi wan itamu di rumah, Kai. Jangan harap aku akan membiarkanmu menye ntuhku sembar ang an!” sergah Alina dengan suara berge tar meskipun berusaha teg as. Dia menat ap lurus ke man ik ma ta biru ge lap Kaivan, berusaha menunjukkan bahwa dia tidak mudah diatur.

 

Namun, bukannya mundur atau mar ah, Kaivan justru terse nyum miring. Tata pannya berubah, terlihat seolah dia sedang mena ntang Alina untuk mencoba mela rikan diri. Dalam sekejap, gera kan Kaivan begitu cepat hingga Alina tak sempat bereaksi. Pri4 itu meraih tub uh ram ping Alina, meng angkatnya dengan mudah seolah menga ngkat bantal em puk, lalu meman ggulnya di ba hu yang kek ar.

 

“Turunkan aku! Apa kau tu li, Kaivan?! Lep4skan ... U k h h!” ter iak Alina dengan nada hist_eris. Dia memu kul pung gung Kaivan sekuat tenaga, ka kinya mene ndang udara tanpa hasil. 


Terasa menya kitkan bagi har ga di rinya dibawa ma suk ke dal am bangunan mewah itu seperti sekarung gandum yang tak berdaya.

 

Kaivan berjalan santai melewati lorong-lorong luas yang dingin dan berb4u kayu cendana. Dia menaiki tangga menuju lantai dua, lalu membuka pintu besar yang langsung menuju ruangan paling luas dan mewah di sana, ka mar ti dur utama. Ruangan itu didominasi perabotan berwarna ge lap yang elegan, dengan balkon  jendela kaca besar yang menghadap langsung ke samudra luas.

 

Begitu pintu tertu tup ra pat di belakang mereka, Alina semakin pa nik. Pikirannya dipenuhi ketakutan yang tak terkatakan. Dia curiga Kaivan pasti akan me mper ko sanya, dan tidak akan ada satu pun orang di tempat terpencil ini yang bisa mendengar teri4kannya. 


Tub uhnya terhem pas di at as ka sur yang terlihat sangat em puk dan be sar. Namun, baginya saat ini terasa seperti tempat eksekusi. Belum sempat dia b4ngkit dan mera ngkak menjauh, Kaivan sudah dengan cepat meni ndih tub uhnya, mengunci kedua sisi tu buh Alina dengan leng annya yang ku at.

 

Wa jah mereka berha dapan, jaraknya hanya beberapa sentimeter saja. Alina bisa mera sakan hem bu san na pas ha ngat Kaivan menyapu ku lit wa jahnya. Dia me ne lan lu dah dengan susah payah, ma tanya mena tap tak berkedip ke arah pri4 di at asnya.

 

“Bisa nggak sih kalau tenang dan nggak mem ber ontak kepadaku?” ucap Kaivan pelan, namun ada nada te gas di baliknya. Sebuah senyuman ti pis terukir di sud ut bib irnya, senyuman yang bagi Alina terlihat sangat mena kutkan namun entah mengapa juga memi kat.

 

“Tidak ... kau pri4 ja hat, menyingkir dari at4s tu buhku!” sembur Alina dengan wa jah yang me me rah padam, campuran antara ma rah, tak ut, dan rasa ma lu yang luar biasa. Dia mencoba mendo rong da da bidang Kaivan. Namun, usahanya sia-sia.

 

Tiba-tiba Alina merasakan sesuatu yang ker as men ekan pe rutnya. Sens4si itu membuatnya tersentak hebat dan ma tanya membelalak kaget. Dia sudah cu kup de wa sa untuk mengerti apa itu. 


Tub uh Kaivan sedang bere4ksi, menginginkannya dengan cara yang sama sekali tidak p4ntas dan tidak dia harapkan. Per4saan ta kut bercampur p4nas menja lar ke seluruh tub uh Alina, membuatnya serasa terper4ngkap dalam api yang perlahan membakarnya hidup-hidup.

 

Kaivan menu nduk sedikit lebih dekat, membuat jarak wa jah mereka semakin hilang. Tat apan ma tanya kini gelap dan penuh keinginan yang sulit disembunyikan.

 

“Kau meminta sesuatu yang mustahil kulakukan, Alina,” bisik Kaivan tepat di samping telin ga ga dis itu, suaranya terdengar be rat dan mengget arkan ha ti. “Kini kau tak bisa lagi lari ke mana-mana! Di sini tak ada orang lain, hanya kau dan aku. Dan aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak menjadikanmu milikku seutuhnya.”

 

Alina menutup ma tanya rapat-rapat, air ma ta mulai menggenang di su dut ma tanya. Dia merasa begitu kecil dan tak berdaya di bawah bayang-bayang tu buh Kaivan yang be sar dan ku4t. Namun, di balik ket4kutan itu, ada rasa aneh yang mulai mengganggu ha tinya, rasa yang dia sendiri tak mengerti mengapa bisa muncul. Apakah dia benar-benar aman di sini, atau malam ini akan menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya?

 

Kaivan perlahan mengangkat satu tan gannya, menye ntuh lem but pi pi Alina yang bas ah oleh 4ir ma ta. Sent uhan itu kontras dengan penind ihannya yang kuat di at as tu buh ga dis itu. Dia mengu sap pi pi itu dengan ibu j4rinya, seolah menikm4ti ketak utan yang terpancar dari wa jah Alina.

 

“Jang an mena ngis,” gumam Kaivan, nada suaranya sedikit melunak namun masih tetap menahan kekuasaan penuh. “Aku tidak akan menya kitimu ... setidaknya tidak lebih dari yang kau minta dengan terus-menerus mema ncing emo_siku.”

 

Alina membu ka mat anya perlahan, mena tap ma ta Kaivan yang dalam. Dia tidak tahu harus percaya atau tidak pada kata-kata itu. Namun, dia sadar satu hal yaitu dia terjebak, dan dia harus mencari cara untuk bertahan tanpa harus benar-benar kehil4ngan ha_rga di rinya malam ini. 


Angin laut menderu di luar jendela, seolah ikut mena han na pas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka berdua di ka mar yang rem ang itu.

 


No comments:

Post a Comment