"Lila! Cepat buatkan hidangan pembuka yang e-nak! Ingat, tamu Adrian kali ini sangat berkelas. Jangan bikin ma-lu dengan menyajikan gorengan pa-sar!" te riak Ibu dari lantai atas, suaranya me-leng-king di antara bunyi geseran lemari saat ia sibuk memilih baju terbaiknya.
Aku menyeka keringat di dahi dengan pung-gung tangan. "Ada tamu siapa, Bu?" tanyaku pelan.
"Bukan urusan mu! Kamu cukup di dapur, siapkan hidangan, dan kalau tamu sudah datang, kamu jangan be-ra-ni menampakkan ba-tang hidung mu di ruang tamu! Masuk ke ka-mar belakang, jangan ke-lu-ar sampai saya panggil!"
Aku hanya mengangguk tanpa mem-ban-tah. Aku masuk ke dapur, mulai me mo tong buah-buahan dengan lincah. Di tengah kesibukan itu, ponsel di saku das-ter ku ber-ge-tar. Sebuah pesan masuk dari Mas Reyhan.
[Lila, sampel coating kayu anti-api yang kamu buat kemarin sudah lulus uji lab. In ves tor dari Jakarta tertarik dengan patennya. Mas sudah siapkan kantor kecil untuk kita di dekat proyek Hotel Grand Jaya. Bertahan sedikit lagi ya, Dek.]
Aku tersenyum tipis. Sebuah binar harapan muncul di ma-ta-ku yang le-lah. Cepat-cepat ku ba las pesan itu sebelum ada yang memer-goki ku.
Tepat pu kul sepuluh pagi, raungan mesin mobil me wah berhenti di depan gerbang.
Seorang wa-ni-ta muda turun dengan anggun. Rambutnya dicat kecokelatan sempurna, mengenakan dress bermerek yang menempel tu buh nya, dan menenteng tas kulit yang har-ga nya mungkin bisa mem bia yai makan ku selama setahun.
Dialah Risma.
Aku mengintip dari celah pintu dapur.
Ku tandai bagaimana Mas Adrian menyambut wa-ni-ta itu dengan senyum yang tidak pernah ia berikan padaku selama dua tahun terakhir.
"Hai, Risma. Akhirnya sampai juga," ujar Mas Adrian lem-but, bahkan ia membantu membawakan tas kecil wa-ni-ta itu, hal yang tak pernah ia lakukan padaku meski aku membawa be lan ja an pasar yang be-rat.
"Hai, Adrian. Tante Melinda mana? Aku bawakan oleh-oleh dari Singapura," suara Risma terdengar man ja namun penuh percaya diri.
Aku kembali ke meja dapur, menata teh ke atas nampan dengan tangan yang sedikit ge-me-tar. Da da ku terasa se-sak. Aku adalah istri sah, namun aku disembunyikan seperti sebuah ai b yang me-ma-lu-kan.
"Lila! Bawa minumnya ke sini!" perintah Ibu mertua.
Aku berjalan menuju ruang tamu. Saat aku meletakkan nampan di meja, aku bisa merasakan mata Risma tertuju padaku. Ia me-na-tap-ku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan ta-tap-an yang sangat
me ren dah kan.
"Oh, ini pem ban tu barunya, Tante?" tanya Risma santai sambil menyesap teh buatan ku.
Ibu tertawa, melirik ku dengan si nis. "Bisa dibilang begitu, Risma. Dia ini asalnya dari kam-pung, tidak punya apa-apa. Untung Adrian ka-sih-an dan mau me nam pung nya di sini untuk urus dapur."
Aku tetap diam, memasang wa jah sedatar mungkin. Me-na-tap Mas Adrian, berharap ada sedikit pembelaan, namun suamiku itu justru asyik memuji kecantikan Risma, sama sekali tidak berniat meluruskan status ku.
"Lila, kamu berdiri di situ mau apa? Mau minta ua ng tip? Sana kembali ke dapur! Ba-u bawang mu mengganggu pen ci u man Risma yang wangi ini!" u-sir Ibu dengan ka-sar.
Aku berbalik tanpa kata.
Namun, langkahku terhenti saat mendengar Risma berbicara lagi dengan nada ang kuh.
"Adrian, soal proyek renovasi kantor ku nanti, aku mau pakai material yang paling ma hal. Aku dengar ada tren interior baru yang pakai kayu teknologi tinggi. Kamu sebagai kon-trak-tor harus bisa cari itu ya, biar aku bangga punya partner seperti kamu."
Adrian tertawa bangga. "Apa pun untuk mu, Risma. Perusahaan ku sedang me-ngin-car distributor material eksklusif itu. Katanya pemiliknya sangat tertutup, tapi aku pasti bisa me-lu-luh-kan mereka."
Aku tersenyum ge-tir di balik pintu dapur. Distributor eksklusif? Mas Adrian tidak sa-dar bahwa material yang ia puja-puja itu adalah hasil riset dan pa-ten milik ku.
®
Sore harinya, setelah Risma per-gi, Ibu memanggil ku ke ruang tengah. Di sana sudah ada Mas Adrian yang tampak te-gang namun matanya berkilat penuh ambisi.
"Lila, mulai malam ini, kamu pindah ke ka-mar belakang. Barang-barang mu di ka-mar atas sudah dipindahkan Adrian ke gudang kecil dekat tempat cuci," ucap Ibu tanpa be-ban sedikit pun.
Aku terkejut. "Kenapa, Bu? Itu kan ka-mar saya dan Mas Adrian."
"Karena Risma akan sering me-ngi-nap di sini untuk urus pro-yek be-sar dengan Adrian! Dia butuh ka mar yang layak, bukan ka mar yang ba-u apek karena daster-daster sepuluh ri bu an mu itu!" ben tak Ibu mertua.
Aku me-na-tap Mas Adrian, mencari si-sa-si-sa nurani di mata suamiku. "Mas, kamu benar-benar membiarkan wa-ni-ta lain ti dur di ka mar kita? Sementara istri mu dipindah ke gudang?"
Mas Adrian berdiri, wa jah nya me nge ras. "Lila, sa-dar lah! Risma itu membawa
in ves ta si be-sar untuk perusahaan ku! Dia berkelas. Sedangkan kamu? Kamu cuma be-ban yang tidak bisa memberi ke-tu-run-an! Turuti saja kata Ibu kalau kamu masih mau punya tempat berteduh!"
Aku tertawa hambar. "Tempat berteduh? Kamu pikir aku ini pe nge mis, Mas? Aku bertahan di sini karena aku ingin melihat sampai mana batas ke bia da ban kalian."
"Lila! Jaga mu lut mu!" Mas Adrian mengangkat tangannya, bersiap mendaratkan tam pa ran nya padaku.
Aku tidak mundur, justru memajukan wa jah ku. "Tam par, Mas. Silakan. Biar aku tidak punya si-sa rasa ber-sa-lah sedikit pun saat aku me-ning-gal-kan ru-mah ini nanti."
Mas Adrian menurunkan tangannya dengan ge-ram. "Per-gi kamu ke belakang! Besok pagi, cuci semua baju Risma yang tertinggal di atas ka-sur. Pakai tangan! Jangan sampai ada serat ya ng rusak karena baju itu lebih ma hal dari har ga dirimu!"
Aku berjalan menuju ka mar belakang yang pengap. Aku duduk di atas ka sur tipis, mem-bu-ka ponsel. Ada pesan baru dari Mas Reyhan.
[Mobil jemputan sudah siap kapan saja kamu memberi kode, Lila. Mas sudah tidak sabar melihat kamu memakai setelan CEO dan berdiri di depan Adrian sebagai pemilik Dania Design & Interior.]
Aku me-me-jam-kan mata. "Tunggu aku, Mas," bi-sik-ku pada layar ponsel. "Biarkan mereka me-nik-ma-ti kemenangan pal-su ini satu minggu lagi. Saat proyek Grand Jaya dimulai, aku sendiri yang akan men co ret nama perusahaan Adrian dari daftar itu."
Malamnya, saat semua orang sudah ti dur, aku menyelinap ke ruang kerja Mas Adrian.
Aku memotret dokumen-dokumen penting yang selama ini disembunyikan suamiku, bukti bahwa ia menggunakan ua ng perusahaan untuk mem be li kan barang me wah bagi Risma.
Saat aku sedang memotret, tiba-tiba gagang pintu bergerak. Seseorang hendak masuk.
Bersambung ....

No comments:
Post a Comment