"Ibu!"
Suaraku pecah begitu saja. Aku bahkan tak lagi peduli apakah kehadiranku akan mengejutkan banyak orang. Yang kutahu, dadaku sudah terlalu sesak melihat ibu diperlakukan seperti itu.
Ibu yang sedang membungkuk hendak memungut pecahan mangkuk langsung menoleh. Dan saat melihatku yang sudah berdiri tak jauh darinya, mata beliau tampak membulat.
"Astaghfirullah... Meysa?" bibirnya bergetar. "Nduk... kok tiba-tiba di sini?"
Aku memilih tak menjawab. Melainkan mempercepat langkah, lalu menghampiri beliau dan meraih pergelangan tangannya.
"Bu, Meysa yang harusnya bertanya,"ucapku tegas. Tanganku menggenggam tangan ibu yang mulai dipenuhi keriput itu.
"Ibu ngapain di sini?"tanyaku. Kemudian menoleh ke arah perempuan tua yang sejak tadi duduk di atas kursi roda.
"Dan... siapa nenek ini?"
Perempuan itu membalas tatapanku dengan sorot mata malas. Bukannya menjawab, ia malah mendecak pelan.
"Ck!"
Lalu tiba-tiba ia berteriak sekencang mungkin. Membuatku reflek mundur beberapa langkah.
"Adnaaan...!"
"Adnan!"
"Istrimu bawa orang nggak sopan ke sini!"
Aku mengernyit. Sementara Ibu justru tampak semakin panik.
"Nduk... ayo... sini dulu,"kata ibu. Beliau menarik pelan lenganku.
"Ayo kita ke depan dulu."
"Kenapa harus ke depan, Bu? Meysa cuma mau tahu—"
Belum sempat kalimatku selesai, terdengar suara langkah kaki berlari dari dalam rumah.
"Bu!"
Seorang laki-laki muncul dari arah pintu belakang. Rupanya, Mas Adnan.
Wajahnya terlihat begitu cemas.
"Ada apa, Bu? Kenapa teriak-teriak?" tanyanya sambil menghampiri kursi roda. "Udah jadi makan, kan?"
Perempuan tua itu langsung menunjuk ibu dengan wajah kesal.
"Makan apanya?" Jawabnya. "Itu... mertua kamu itu nggak bisa apa-apa."
Aku mengepalkan tangan. Berarti... Perempuan ini adalah ibunya Mas Adnan?
Darahku langsung mendidih.
Jadi benar...mereka membawa ibu ke sini bukan tanpa alasan.
Aku melepaskan genggaman tangan ibu. Lalu berjalan cepat menghampiri Mas Adnan.
"Jadi karena ini, Mas?"
Mas Adnan menoleh kaget. Sepertinya baru menyadari keberadaanku.
"Meysa? Kamu... kapan datang?"
Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan terasa asing di wajahku sendiri.
"Kenapa, Mas?"tanyaku sinis. "Kaget karena tiba-tiba aku ada di sini?"
"Bu-bukan begitu..."lirihnya terbata. Ia menatapku juga ibunya bergantian.
"Jadi karena ini Mas dan Mbak Nela bersikeras membawa ibu ke rumah ini?"ucapku lagi. Aku menunjuk ibu yang masih berdiri mematung.
"Karena ibu dibawa ke sini buat merawat ibunya Mas, kan?"
"Meysa, kamu salah paham,"bantahnya. Ia menegakkan punggungnya sekarang.
"Salah paham apanya?"
Aku tertawa hambar, kepalaku menggeleng sangking tak percayanya atas apa yang barusan aku lihat.
"Mas, ibu itu sudah enam puluh tahun. Tapi kalian malah membiarkannya mengurus orang lain, membiarkannya dimarahin, dibentak, bahkan dilempari mangkuk."
"Meysa, dengarkan dulu—"
"Tega ya kalian,"potongku. Sungguh aku tak mau mendengar alasan apapun dari mulutnya. Emosiku sudah di ubun-ubun.
"Ibu itu juga lansia, Mas," tambahku lagi. "Harusnya ibu juga sudah ada yang ngerawat. Bukan malah dijadikan perawat buat lansia lain!"
"Meysa!"
Suara perempuan lain memotong ucapanku. Saat aku menoleh, Mbak Nela tampak berdiri di ambang pintu dapur rumahnya.
Ia masih memakai pakaian tidur. Rambutnya acak-acakan seolah baru bangun. Dan saat melihatku berdiri di sini, wajahnya jelas memperlihatkan keterkejutan.
"Mey? Kapan datang? Kok nggak ngomong dulu?"
Aku menarik napas panjang. Rasanya percuma berbasa-basi.
"Nggak usah basa-basi, Mbak,"sahutku.
Tatapanku lurus menatap kakak kandungku itu.
"Hari ini juga aku bakal bawa ibu pulang."
Mbak Nela mengernyit. Ia menatap kami satu persatu.
"Loh? Kok kamu datang-datang langsung ngamuk gini? Ada apa sih kamu?"
Aku hampir tertawa. Dia bahkan masih bertanya ada apa?
"Mbak masih nanya ada apa?"tanyaku sinis. "Ibu di sini kalian jadiin pengasuh ibunya Mas Adnan, kan? Iya, kan?"
Suasana mendadak hening. Tak ada yang menjawab pertanyaanku. Hal itu semakin membuatku yakin kalau dugaanku benar.
Namun...Hal yang sama sekali tak kuduga justru terjadi.
"Hahaha..."
Mbak Nela malah tertawa. Bahkan semakin lama tawanya semakin keras.
"Ya Allah, Mey,"ucapnya. Ia mengibaskan tangan ke udara. "Stress, ya kamu?"
Aku mengernyit. Menatap ibu sekilas.
"Ngapain Mbak bikin ibu jadi pengasuh mertuanya Mbak?"ucapnya. Ia menyilangkan tangan di dada dengan pongahnya. "Mbak ini ada uang. Mbak bisa sewa siapa saja buat ngurus mertuanya Mbak."
"Kalau memang bisa nyewa orang...Kenapa malah ibu yang nyuapin mertuanya Mbak?"serangku balik. Membuatnya mengatupkan bibirnya seketika.
Tapi, ibu malah lebih dulu melangkah ke tengah-tengah kami. Menengahi perdebatan ini.
"Nduk...Sudah ya," lirihnya. Tangannya mengusap punggungku. "Ibu tadi yang mau. Bukan karena ibu jadi pengasuh besannya ibu."
Aku menatap wajah ibu lekat-lekat. Tapi beliau malah menghindari pandanganku.
Entah kenapa... Sikap itu justru membuatku semakin curiga.
"Tuh, dengar,"ucap Mbak Nela. Dia kembali melipat kedua tangannya di dada.
"Makanya itu otak dipakai yang bener.
Jangan taunya suudzon mulu. Kebanyakan makan micin kali ya."
Aku menggigit bibir sekuat tenaga mendengar ucapannya. Bukan karena malu. Melainkan karena berusaha menahan air mata dan amarah yang bercampur menjadi satu.
Kalau memang ibu melakukannya dengan suka rela dan atas dasar kedekatannya dengan besannya, tapi kenapa tadi beliau sampai dibentak?
Kenapa juga harus meminta maaf berkali-kali seperti orang yang sedang ketakutan?
Dan yang paling membuatku tidak tenang...Kenapa sejak tadi ibu terus menghindari menatap mataku?
Aku mengenal ibu lebih dari siapa pun.
Beliau selalu seperti itu setiap kali sedang menyembunyikan sesuatu.
Tanganku perlahan mengepal.
Tidak.
Aku sama sekali tidak percaya.
Ibu pasti sedang berbohong.
Dan aku akan mencari tahu... kebohongan apa yang sebenarnya sedang mereka sembunyikan dariku.

No comments:
Post a Comment