Addense

Sunday, 12 July 2026



 "Jadi... ini bukan ka nker, Dok?" suara Chaima bergetar. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Wajahnya masih pucat sejak memasuki ruang pemeriksaan.


Dokter tersenyum menenangkan.


"Alhamdulillah, Bu Chaima. Dari hasil pemeriksaan fisik yang saya lakukan, be njolan kecil yang Ibu maksud tampak seperti skin tag atau dalam istilah medis disebut akrokordon."


Chaima memandang dokter dengan mata berkaca-kaca.


"Skin tag?"


"Iya. Ini adalah pertumbuhan kulit yang bersifat jin ak. Bentuknya ke cil, lunak, warnanya hampir sama dengan kulit di sekitarnya, dan umumnya tidak berbahaya."


Latif yang sejak tadi duduk di samping istrinya mengembuskan napas panjang. Kalimat pertama dokter terasa seperti beban besar yang akhirnya terangkat dari dadanya.


"Jadi tidak berbahaya, Dok?" tanyanya memastikan.


"Pada kebanyakan kasus tidak berbahaya. Skin tag bukan termasuk ka nker. Banyak orang memilikinya tanpa menyadarinya selama bertahun-tahun."


Air mata Chaima kembali jatuh. Namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa syukur yang perlahan menggantikan kecemasannya.


"Alhamdulillah..." lirihnya.


Dokter mengambil sebuah lembar ilustrasi anatomi kulit dari meja kerjanya. Dengan sabar beliau mulai menjelaskan agar pasangan muda itu memahami kondisi yang sedang dihadapi.


"Skin tag bisa muncul di beberapa bagian tubuh yang sering mengalami gesekan, seperti leher, ketiak, lipatan pa ha, maupun area tubuh lainnya. Penyebab pastinya memang tidak selalu diketahui, tetapi salah satu faktor yang diduga berperan adalah gese kan kulit yang terjadi terus-menerus, selain faktor lain seperti kondisi kulit dan faktor tubuh masing-masing."


Chaima mendengarkan tanpa berkedip.


Selama semalam penuh ia membayangkan kemungkinan terburuk. Ia bahkan sempat merasa hidupnya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai.


Kini ia mulai bisa bernapas lebih lega.


"Tapi... kenapa bisa muncul di bagian itu, Dok?" tanyanya malu-malu.


Dokter menjawab dengan nada profesional.


"Area tersebut memang termasuk daerah yang mudah mengalami gesekan. Karena itu saya menyarankan Ibu mengenakan pakaian yang lebih longgar agar kulit tidak terus mengalami iritasi atau gesekan yang tidak perlu."


Ucapan itu membuat Chaima terdiam.


Entah mengapa, kalimat dokter mengingatkannya pada nasihat Latif yang hampir setiap pagi ia abaikan.


Tatapannya perlahan beralih kepada suaminya.


Latif tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum kecil, seolah tidak ingin membuat istrinya merasa disalahkan.


Suasana menjadi hening beberapa saat.


Dokter kemudian melanjutkan penjelasannya, "Namun saya perlu tegaskan, Bu. Munculnya skin tag tidak bisa disimpulkan hanya karena satu penyebab. Banyak faktor yang dapat berperan. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri."


Chaima mengangguk pelan.


Meski begitu, rasa malu tetap menyelimuti hatinya.


Ia teringat bagaimana semalam dirinya menangis tanpa henti. Ia juga teringat berkali-kali menolak permintaan Latif untuk mengenakan pakai an yang lebih longgar.


Dalam hati kecilnya mulai tumbuh penyesalan.


Latif menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


"Yang penting sekarang kamu sehat."


Chaima menundukkan kepala.


"Maafkan aku, Mas."


Latif menggeleng pelan.


"Kita tidak sedang mencari siapa yang salah."


Kalimat sederhana itu membuat air mata Chaima kembali menetes.


Dokter membiarkan pasangan itu berbicara beberapa saat sebelum kembali menjelaskan pilihan penanganan.


"Karena skin tag ini jin ak, sebenarnya tidak selalu harus diangkat. Bila tidak mengganggu, kita bisa membiarkannya."


Chaima terlihat ragu.


"Kalau dibiarkan... apa akan semakin besar?"


"Bisa tetap sama, bisa juga bertambah ukurannya secara perlahan. Setiap orang berbeda kasusnya."


Latif segera mengangkat tangan.


"Dok... kalau boleh, saya ingin istri saya menjalani tindakan pengangkatan saja."


Dokter menoleh.


"Boleh saya tahu alasannya?"


Latif menarik napas panjang.


"Istri saya sudah sangat cemas. Semalaman dia tidak bisa tidur. Saya khawatir rasa takut itu justru mengganggu kesehatan dan pikirannya."


Dokter mengangguk memahami.


"Baik. Kalau memang lokasinya mengganggu atau membuat pasien tidak nyaman secara psiko logis, tindakan pengangkatan bisa dipertimbangkan. Prosedurnya termasuk tindakan kecil dan biasanya berlangsung singkat."


Chaima menatap suaminya.


"Mas... apa memang perlu?"


Latif tersenyum lembut.


"Kalau dengan begitu hatimu lebih tenang, kita ikhtiar."


Chaima menggigit bibir bawahnya.


Perasaan campur aduk memenuhi dadanya.


Ia masih malu.


Masih takut.


Namun ia juga ingin segera terbebas dari bayangan mengerikan yang sejak semalam menghantuinya.


Dokter kemudian menjelaskan tahapan prosedur secara rinci. Tindakan dilakukan dengan anestesi lokal sehingga pasien tetap sadar tetapi tidak merasakan nyeri di area yang ditangani. Setelah itu, skin tag akan diangkat menggunakan prosedur minor sesuai kondisi, lalu luka kecil akan dirawat hingga sembuh.


"Biasanya pasien bisa pulang pada hari yang sama," jelas dokter.


Chaima mengangguk pelan.


Ia mencoba menguatkan dirinya.


Setelah penjelasan selesai, dokter menyerahkan beberapa lembar formulir persetujuan tindakan.


Latif membacanya dengan teliti.


Sementara itu, Chaima menatap keluar jendela ruang praktik.


Langit Kota Malang tampak mendung.


Hatinya pun masih dipenuhi awan yang belum benar-benar pergi.


Ia mengusap sudut matanya.


"Mas..."


"Iya?"


"Kalau nanti sakit bagaimana?"


Latif menggenggam jemarinya.


"Insyaallah tidak seberat rasa takut yang semalam kamu rasakan."


Chaima tersenyum tipis meski masih dibayangi kecemasan.


Sebelum mereka meninggalkan ruang praktik, dokter kembali memberikan beberapa anjuran.


"Mulai sekarang, usahakan memilih pakaian yang nyaman, tidak terlalu menimbulkan gesekan pada kulit, dan jaga kebersihan area tersebut. Yang tidak kalah penting, jangan ragu memeriksakan diri bila menemukan perubahan apa pun pada tubuh."


"Baik, Dok," jawab Chaima lirih.


Di perjalanan pulang, suasana mobil jauh lebih tenang dibanding pagi tadi.


Chaima memandangi jalanan melalui kaca jendela.


Sesekali ia mengusap perutnya sendiri.


Pikirannya terus mengulang percakapan bersama dokter.


Bukan hanya soal penyakit.


Melainkan tentang bagaimana Allah sering kali menegur hamba-Nya melalui jalan yang tidak pernah diduga.


"Mas..."


"Iya?"


"Terima kasih sudah sering mengingatkan Chaima.” Latif mengangguk.


Air mata Chaima kembali mengalir.


Ia menyadari betapa sabarnya laki-laki di sampingnya.


Selama ini Latif tidak pernah memarahinya, meski nasihatnya sering diabaikan.


Ia hanya terus mendoakan.


Sesampainya di rumah, Chaima tampak kehilangan selera makan. Pipinya mulai terlihat lebih tirus dibanding beberapa hari sebelumnya. Kecemasan yang ia rasakan membuat na fsu makannya menurun drastis.


Latif memperhatikan perubahan itu.


"Kalau tidak sanggup makan banyak, sedikit saja."


Chaima mengangguk.


Ia memaksa dirinya menghabiskan beberapa suap nasi sebelum akhirnya berhenti.


Malam harinya, Latif mengajak istrinya salat berjamaah.


Usai berdoa, Chaima menangis cukup lama.


"Ya Allah... ampuni segala kekuranganku. Berikan aku kesehatan dan hati yang lebih mudah menerima nasihat yang baik."


Latif mengaminkan doa itu dalam hati.




Bersambung…


No comments:

Post a Comment