Cika, pulang sekarang! Ibu akan jelasin semuanya.
Pesan singkat itu masuk untuk yang kesepuluh kalinya, disusul panggilan telepon yang langsung kuma tikan begitu saja. Aku tidak peduli.
Aku terus berjalan menyusuri trotoar dengan air mata yang mengalir deras, membiarkan da daku se sak oleh um patan yang tertahan di tenggorokan.
“Gimana bisa Ibu kepikiran buat nikah lagi? Kenapa harus secepat ini, Bu?!“ bisikku histeris pada angin malam.
“Ayah kurang apa sama Ibu? Ayah selalu nurutin semua maunya Ibu, banting tulang sampai sakit-sakitan demi kita! Kenapa Ibu tega banget ngelakuin ini sama Ayah?!“
Pikiranku terus berputar pada sosok Ayah yang selalu pulang dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum lembut setiap kali melihat Ibu.
Di mataku, Ayah adalah laki-laki paling tulus. Lalu sekarang, belum genap setengah tahun Ayah tertimbun tanah, Ibu sudah mau membawa laki-laki lain tidur di bekas tempat tidur Ayah?
“Ibu e gois! Ibu cuma mikirin diri Ibu sendiri! Ibu nggak pernah sayang sama Ayah, Ibu cuma sayang sama ua ngnya!“ runtuh sudah pertahananku.
Aku menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan, membiarkan beberapa orang yang lewat menatapku kasihan. Tapi perse tan dengan tatapan mereka. Dunianya tidak sedang han cur seperti duniaku.
Saat bus yang kunaiki berhenti di batas kota, ego remaja dalam diriku menolak keras untuk pulang ke rumah. Rumah itu sudah berubah menjadi ne raka. Aku tidak su di melihat wajah Ibu yang terus memak sa menikah dengan Om Putra.
Pikiranku langsung berputar, mencari tempat pelarian lain. Aku memu tuskan untuk pergi ke rumah saudara-saudara Ayah. Meski aku tidak terlalu dekat dan jarang berkomunikasi dengan mereka sejak Ayah meninggal, aku sangat yakin hanya mereka yang bisa membantuku menyadarkan Ibu. Mereka seda rah dengan Ayah, mereka pasti sama terlu kanya denganku jika tahu martabat almarhum Ayah diinjak-injak oleh Ibu.
Aku segera memesan ojek online dan meminta diantarkan ke rumah Om Fito dan Tante Mila. Om Fito adalah adik kandung nomor dua dari almarhum Ayah.
Sesampainya di depan pagar rumah mereka yang bernuansa asri, aku mengetuk pintu dengan harapan akan mendapat pelukan hangat dari pengganti sosok Ayah. Namun, pintu terbuka dan aku justru disambut dengan tatapan kaku oleh Tante Mila.
“Eh, Cika? Tumben ke sini? Mana ibumu?“ tanya Tante Mila, matanya melirik ke arah belakangku, mencari-cari keberadaan mobil atau sosok Ibu.
“Aku sendiri, Tante,“ jawabku lesu. Bahuku merosot. Aku sangat berharap minimal diajak masuk atau dirang kul untuk menenangkan hatiku yang sedang patah.
“Sen-sendiri?“ Tante Mila tampak terkejut, ekspresi wajahnya berubah aneh dan tidak nyaman.
“Memangnya kenapa, Tante? Aku nggak disuruh masuk? Udah mau gelap ini, Tan,“ ujarku blak-blakan.
“Eh iya, ayo masuk, Cik!“ Tante Mila buru-buru menggeser tu buhnya, mempersilakan aku masuk dengan gestur yang dipak sakan.
Aku melangkah masuk mendahului Tante Mila dan langsung mengempaskan tu buhku di sofa ruang tamu. Aku terpak sa bersikap sok dekat dan sok santai, karena nyatanya, hubunganku dengan keluarga Ayah memang tidak pernah luwes sejak dulu akibat Ibu yang jarang mau diajak berkumpul dengan mereka.
Tante Mila duduk di sofa seberangku, menatapku dengan pandangan menyelidik. “Apa ada sesuatu, Cika? Ada ma salah di rumah?“
“Aku mau bicara sama Om Fito, Tan. Kapan Om Fito pulang?“ tanyaku tanpa basa-basi, mengabaikan pertanyaannya.
“Sebentar lagi juga pulang, jam segini biasanya sudah di jalan. Ya sudah, kamu tunggu aja dulu di sini,“ sahut Tante Mila, nadanya masih terdengar canggung.
“Boleh aku rebahan, Tante? Aku capek banget,“ kataku sambil memijat pelipisku yang pening setelah seharian menangis dan naik transportasi umum.
“Boleh, Cik, silakan,“ jawab Tante Mila kaku. Dia bangkit berdiri dari sofanya. “Tante tinggal ke belakang dulu ya, Cik.“
“Iya, Tan.“
Tante Mila meninggalkanku sendirian di ruang tamu yang sepi. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan gemuruh di da daku, hingga tanpa sadar waktu berlalu cukup lama. Kerongkonganku mulai terasa sangat kering dan haus. Karena tidak ada tanda-tanda Tante Mila akan mengantarkan minum, aku akhirnya bangun dari sofa dan berjalan pelan menuju ke arah dapur.
Namun, baru saja langkahku sampai di dekat lorong dapur, aku mendadak menghentikan langkah. Suara Tante Mila yang sedang berbicara di telepon terdengar sangat jelas dari balik sekat ruangan.
“Kurang tahu, Mas. Makanya kamu cepetan pulang! Siapa tahu Mbak Linda emang nyuruh Cika ke sini buat nganterin wa ri san bagianmu!“ ucap Tante Mila di seberang telepon dengan nada suara yang berbisik namun penuh am bisi.
Aku mematung. Jan tungku seperti berhenti berdetak seketika.
“Kan Kakakmu itu nggak punya ank laki-laki, cuma ada Cika. Jadi secara hukum, masih ada jatah wa risanmu dari rumah dan kontrakan yang di sana itu, Mas! Jangan sampai Mbak Linda kuasain semuanya sendiri!“ lanjut Tante Mila berapi-api.
Apa? Wa risan? Bagian Om Fito?
Seluruh badanku mendadak dingin dan kaku. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk mataku. Da daku rasanya seperti dihantam batu besar sampai re muk.
“Iya, aku tunggu. Cepetan ya, Mas! Aku nggak tahu mau ngobrol apa sama Cika dari tadi, anknya diam aja kayak orang linglung,“ keluh Tante Mila sebelum menutup teleponnya.
Aku melangkah mundur dengan sangat perlahan, berhati-hati agar langkah kakiku tidak menimbulkan suara. Rasa haus yang tadinya menyik sa tenggorokanku mendadak hilang tak berbekas, digantikan oleh rasa mu al yang teramat sangat.
Aku buru-buru kembali ke ruang tamu, meraih tas sekolahku dengan tangan yang gemetaran hebat. Tanpa pamit, tanpa mengeluarkan suara, aku langsung memutar knop pintu depan dan pergi melesat keluar dari rumah Om Fito.
Aku berjalan menyusuri jalanan kompleks yang mulai gelap dengan hati yang makin han cur. Han cur sean cur-an curnya sampai tidak ada lagi bagian yang utuh.
“Wa risan? Kok bisa-bisanya Tante Mila kepikiran wa risan Ayahku di saat aku lagi kayak gini?“ bisikku lirih di tengah isak tangis yang kembali pe cah.
Ternyata dugaanku salah besar. Tidak ada satu pun orang dewasa yang tulus di dunia ini. Ibu sibuk mencari pemu as naf su dengan laki-laki lain, sedangkan keluarga Ayah yang kuharap bisa menjadi pelindung, ternyata hanya mengincarku sebagai kurir pembawa har ta wari san. Mereka semua sama saja. Manusia-manusia se ra kah yang bermuka dua!
Aku berjalan tanpa arah di bawah temaram lampu jalanan, memeluk tas sekolahku erat-erat seperti memeluk sisa-sisa har ga diriku yang tersisa. Aku tidak tahu lagi harus bersandar ke siapa sekarang.
Hidupku benar-benar terasa ki amat sejak Ayah mening gal, dan diperparah oleh Ibu yang egois. Aku sendirian di dunia ini. Benar-benar sendirian.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di samping trotoar tempatku berjalan. Kaca mobilnya perlahan turun, menampilkan sosok laki-laki.
“Dek, malam-malam nangis di pinggir jalan sendirian. Mau saya antar pulang?“
Bersambung

No comments:
Post a Comment