Addense

Monday, 27 July 2026

Tangis pernikahan



 Saat pindah ke Korea Selatan, Rahma dan Rangga berharap bakal hidup bahagia kayak di DRAKOR. Tapi ternyata ketika sudah tinggal di sana, iman dan pernikahan mereka malah diuji



“Mas Rangga, jangan makan dulu. Stop! Aku barusan baca di kaleng ini,” ucap Rahma panik. Tangannya gemetar saat mengangkat benda itu. Dia menunjuk komposisinya. “Itu babi....”


Pikiran Rahma kian melayang-layang. Takut, resah, bersalah, semua bercampur jadi satu. Apalagi tadi sore mereka habis bertengkar cukup hebat. Bentakan dan sindiran sang suami masih membekas jelas di otaknya. Yang justru menambah ketakutan yang kini hinggap.


Dia menunduk, tak berani menatap suaminya. “Maaf ya.... please jangan marahin aku, Mas. Aku ceroboh, tapi jangan bentak ya.” Suara wanita berhijab itu bergetar. Wajahnya kembali pucat.


Di depan meja makan kecil, Rangga menurunkan sendok. Mulutnya kembali tertutup, tak jadi melahap makanan yang terhidang. Dia menatap lama istrinya. Lama.


“Sayang…” panggil Rangga selembut mungkin.


Rahma tak menjawab, dia masih berdiri di sana. Menggeleng-geleng dengan panik. 


Helaan napas Rangga menyusul kemudian. Bangkit lalu mendekat ke dapur. “Udah selesai nangis?”


Mendengar pertanyaan itu, Rahma langsung mendongak. Kedua mata terbelalak, bibir bergetar. “A-aku takut Mas marah lagi....” lirihnya jujur. Terlihat jelas, dia masih melirik ke kaleng yang jadi sumber ketakutan malam ini.


Rangga tak langsung menjawab. Dia hanya diam, mengambil kaleng bumbu yang terletak di meja. Lalu membuangnya ke tempat sampah kecil di ujung dapur. “Jangan overthinking banget jadi orang, Yang.”


Melihat reaksi tenang suaminya yang bertentangan dengan ekspektasi, alis Rahma naik satu. Dengan heran dia bertanya, “Loh… kok Mas santai banget? Itu babi lho… kan haram. Kalau kemakan tadi gimana? Kan dosa.”


“Emangnya kita makan?” tanya Rangga sembari mengelap tangan. “Enggak kan? Jadi ya udah. Kita baru tinggal di sini, wajar kalau salah baca. Proses adaptasi emang gitu.” 

 

Harusnya jawaban itu bisa menenangkan. Rangga tak marah, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Harusnya sih begitu, tapi entah mengapa masih ada yang mengganjal di hati Rahma.


“Mas... kalau besok kejadian lagi gimana?”


“Belum kejadian,” jawab cepat Rangga.


“Kalau aku salah beli lagi terus kita makan babi, gimana? Kalau keterusan gimana? Kalau kita mulai nyaman gimana?” Pertanyaan penuh cemas datang bertubi-tubi dari mulut Rahma. Dia tak berhenti bicara sejak tadi. Meski Rangga terus memberikan jawaban yang sama.


“Belum kejadian...” begitu kata pria itu kesekian kalinya.


Hingga di saat pertanyaan kesepuluh hampir keluar dari mulut Rahma, Rangga bertindak.


HAP.


Kedua tangannya terentang, menarik sang istri ke dalam pelukan hangat. Lalu mengelus kepala Rahma dengan lembut. “Sayang… Mas nggak marah kok. Udah ya, jangan sampai kamu banyak pikiran. Mending kita cari makan aja yuk.” 


Tubuh Rahma menegang di dekapan suaminya. Rasa bersalah itu masih menghantui. Semenjak dia sampai di Korea, dia lebih sering berpikir. Tanpa sadar, semuanya malah menjadi beban. “Aku masih kepikiran kamu nyindir tadi sore,” ungkapnya jujur. Namun Rahma tetap memeluk balik Rangga.


Akhirnya, Rangga sadar ucapan tadi sore memang makin membebani istrinya. Sembari menatap keluar jendela, dia berkata, “Maaf, Mas nggak mikirin kamu tadi… tapi beneran, Yang. Mas pengen kita fokus kuliah” 


Lega bercampur kesal datang bersamaan. Merasuk ke dalam dada Rahma. Dia melepas pelukan, wajahnya menegang.  Dengan berkacak pinggang, suaranya lepas, “Jadi bener ya? Lebih penting kuliah dari rumah tangga kita?”


Tangan Rangga naik satu, mengibas udara. Seakan menampik ucapan sang istri. “Udah ah, mau ribut lagi nih ujung-ujungnya.”


Namun, Rahma tak menyerah. Dia makin menekan, lebih emosional. “Yang keluar dari mulut Mas, kuliah terus. Dikit-dikit kuliah. Nggak ada hari selain kuliah. Asli heran banget, aku ini Mas anggap istri atau temen seangkatan S2? Jawab aku!”


“Au ah!” sanggah pria berambut pendek itu, setengah kesal. “Mending kita cari makan, laper. Kalau mau ribut lagi, ribut aja sendiri sana.”  Rangga melangkah ke dekat TV, mengambil dua pasang jaket yang tergantung di dekat pintu masuk, kemudian menyodorkannya. 


Hati Rahma masih tak puas. Dia mendesis pelan lalu berkata, “Cih… ngeselin banget kamu, Mas. Aku kan belum selesai ngomong.” Meski begitu, dia tetap menerima jaket yang diberikan suaminya, walau masih cemberut. 


Mereka mengenakan jaket masing-masing, lengkap dengan syal yang melilit di leher. Di sela-sela itu keduanya sempat saling pandang.


“Kita ke mana? Emang Mas yakin ada restoran halal dekat sini?”


“Nggak tahu, coba aja cari dulu. Daripada ngomel-ngomel nggak bakal kelar.” Rangga mengelus perutnya, lanjut bicara, “Nih lapar udah lapar. Kamu juga kan?”


“Nggak!” jawab cepat Rahma sembari menyilangkan tangan di perut. Pipinya menggembung tanda masih kesal.


Tak sama seperti tadi sore, Rangga justru tertawa, gemas. Kemudian menyentuh pelan hidung istrinya. “Cantik amat sih kalau lagi ngambek!”


“MAS!” Seketika pipi Rahma memerah. Rasa malu mulai menggerogoti kesalnya dengan paksa.


Lalu.


HAP.


Mereka saling berpegangan tangan lalu keluar. Mencari makan malam di Distrik Gwanak-gu.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah menyusuri kawasan itu. Benar saja, malam makin membuat Korea tambah hidup. Lampu-lampu menyala terang. Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh. 


Di setiap sudut, restoran, cafe, club berjejer rapi. Banyak orang yang berkunjung. Ada yang minum-minum, ada yang pacaran, ada juga yang berkumpul keluarga. Mereka memanggang daging, minum botol, atau sekadar menikmati malam.


Semuanya tampak lezat dan membuat Rahma makin keroncongan. Dia sempat melirik sebuah restoran keluarga. Pelanggannya banyak. “Mas... kita makan di sini aja yuk, halal nggak ya?” tanyanya sembari mengelus perut.


Tanpa pikir panjang, Rangga setuju. Melangkah masuk ke dalam. Sesampainya di sana, dia segera ke kasir. “Excuse me, pork?” (Permisi, ini babi?)


Pelayan wanita itu terdiam sesaat. Kaget mendengar pertanyaan Rangga barusan. Pandangan melirik Rahma yang sedang memakai hijab, cukup lama. Lalu berkata dalam bahasa Korea, "Ne. Samgyeopsal." (Ya... ini perut babi)


Rangga mengangguk sopan. “Kamsahamnida.” Lalu menarik tangan Rahma keluar restoran.


Di sebelahnya, Rahma tak berkata apa pun. Walau belum terlalu fasih bahasa Koreanya, wanita itu tahu. Restoran tadi tak menghidangkan makanan halal.


Mau tak mau mereka pun kembali mencari tempat lain. Langkah kaki mulai terasa berat, bahkan tak jarang perut keduanya berbunyi, tanda lapar makin menjadi-jadi.

 

Setiap yang Rangga dan Rahma lewati pasti tercium aroma makanan yang lezat. Dan itu menyiksa karena setiap restoran yang mereka kunjungi, pasti ujungnya sama. Dari toko ramyeon, barbeque, hingga jajanan di jalan. Semuanya sama. Tak ada yang bisa memastikan itu halal.


“Duh... Ya Allah, masa nggak ada sih, Mas? Aku laper banget ini,” keluh Rahma sambil menunduk. Sejak tadi dia mulai risih karena warga kembali melirik hijabnya.


Hingga saat mereka menyusuri trotoar Gwanak-gu, tanpa sadar langkah Rahma melambat. 


“Mas, aku takut?”


“Takut napa lagi, Yang?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Rangga. Namun, matanya tetap fokus menyapu setiap tulisan Hangul yang tergantung di deretan toko.


Refleks, Rahma mundur sedikit, bersembunyi di balik punggung suaminya. “Mereka tadi—”


“Eh, Yang!”


Tiba-tiba Rangga setengah menjerit. Memotong ucapan Rahma yang masih menggantung. Lalu menunjuk ke atas bangunan. “Tengok tuh depan kita!” perintahnya dengan semangat.


Wanita itu mengikuti arah jari suaminya, sedikit mendongak. Begitu sadar apa yang ada di depan mereka, senyum Rahma ikut mekar. Di lantai dua gedung itu, sebuah plang terpampang nyata.


India Durbar Restaurant.


Segera, Rangga menarik tangan istrinya. Mereka menuju lift, naik ke lantai dua. Begitu keluar, sebuah restoran cantik menyambut. Aroma khas India tercium lezat. Dan yang paling penting sebuah logo kecil berwarna hijau dengan alfabet “Halal” menempel di jendelanya.


Begitu sudah berada di sana, rasa lapar mereka sudah tak tertahankan. “Ayo, Mas udah laper. Kita pesan itu aja, soalnya—”

 

“Mas, tunggu!” Spontan, Rahma menahan Rangga sebelum masuk. Dia melihat seseorang. 


Dari balik pintu restoran, seorang wanita berdiri di depan kasir. Berhijab sama seperti Rahma. Namun, dari parasnya, yang pasti dia bukan orang Indonesia. Dia membungkuk sopan kepada kasir, lalu terdengar dia bicara dengan logat Korea yang kental, "Kamsahamnida! Jal meogessumnida!" (Terima kasih, saya makan dengan baik).


Seketika mata Rahma membesar. Antara kagum dan kaget. “Loh, Mas… aku baru liat orang Korea yang Muslim.... Aku kira—”


Judul : Tangis Pernikahan Kami di Negeri Oppa (Korea Selatan)

Saat pindah ke Korea Selatan, Rahma dan Rangga berharap bakal hidup bahagia kayak di DRAKOR. Tapi ternyata ketika sudah tinggal di sana, iman dan pernikahan mereka malah diuji


No comments:

Post a Comment