SEBENARNYA AKU TAKUT PERSELING KUHAN INI DIKETAHUI SUAMIKU. TAPI AKU JUGA NGGAK BISA LEPAS DARI PRIA YANG SELALU MEMBUATKU SENANG
“Apa kamu cembu ru?”
Pertanyaan itu membuat Vyora menoleh cepat. Tatapannya ta jam, seolah tak terima dengan ucapan Aiden.
“Jangan ge er, aku bahkan nggak peduli kamu punya tunangan atau sudah menikah sekali pun,” dengusnya.
Aiden terkekeh pelan sambil kembali fokus menyetir. “Meskipun begitu, tetap kamu yang ada di hatiku?”
Hening. Cukup lama Vyora termangu karena pengakuan Aiden sebelum akhirnya dia kembali bicara.
“Semakin kesini sikapmu semakin keterlaluan, aku ini atasanmu kenapa kamu terus berbicara sesantai itu!” hardiknya.
Sudut bi bir Aiden terangkat. “Bukannya kamu juga melakukan hal yang sama?”
“Apa?”
“Kamu menci umku, meme lukku dan bercerita hal pribadi denganku. Bukankah itu hal yang nggak biasa dilakukan atasan ke bawahan?”
“Itu karena—”
“Karena kamu memiliki perasaan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan.”
Vyora memalingkan wajahnya. “Apa aku sudah melewati batas?” batin Vyora.
“Saat kita berdua, aku akan bersikap seperti teman, tapi saat kita sedang bekerja, aku akan bersikap formal.”
Bukannya menjawab, Vyora malah diam dan membuat suasana semakin canggung. Mobil mereka terus melaju membelah jalan menuju bandara. Langit sore perlahan berubah jingga saat akhirnya mereka tiba di Bali beberapa jam kemudian.
Angin malam Bali terasa hangat saat Vyora keluar dari mobil. Dress putih tanpa lengan yang dikenakannya bergerak pelan diterpa angin pantai.
Aiden yang berdiri di samping mobil sempat terpaku beberapa detik.
“Kenapa diam saja?” tanya Vyora sambil melepas kacamata hitamnya.
“Cantik.”
Vyora langsung memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan senyumnya.
“Matamu masih normal rupanya.”
Aiden tertawa kecil lalu mengambil koper wanita itu. Hotel tempat mereka mengi nap berada tepat di tepi pantai, lampu-lampu keemasan memantul indah di permukaan kolam.
Namun, langkah Vyora tiba-tiba berhenti saat resepsionis berkata ramah. “Maaf Pak, karena ada kendala reservasi, suite yang tersedia hanya satu.”
“Satu?” ulang Vyora.
“Dengan satu kamar tidur, Bu,” jelas resepsionis itu.
Aiden menahan senyum yang nyaris lo los. Sementara Vyora langsung menatapnya ta jam seolah memperingatkan pria itu agar tidak macam-macam.
“Gimana, mau ambil atau kita cari hotel lain?” tanya Aiden memastikan.
“Ambil saja, lagi pula hanya hotel ini yang viewnya sangat indah.”
Aiden pun berbicara dengan resepsionis sedangkan Vyora memilih menjauh.
Meeting di Bali sebenarnya hanya akal-akalan Vyora. Dia ingin berlibur dan menikmati waktu senggang yang selama ini sulit dia dapatkan karena merawat Gunawan.
“Ini kunci kamarnya,” ucap Aiden memberikan kunci.
Vyora berdiri lalu memberikan kopernya ke Aiden, dia berjalan lebih dulu. Sikapnya yang ketus membuat Aiden merasa ingin terus menggodanya.
Langkah keduanya terhenti di depan kamar 201. Sesaat Vyora tertegun melihat nomor kamar mereka.
“Apa ini hanya kebetulan? kenapa nomornya sama dengan nomor kamar hotel yang aku pakai dengan Aiden malam itu,” batin Vyora tak percaya.
“Silahkan,” ucap Aiden saat pintu kamar terbuka.
Vyora berjalan masuk. Kamar yang begitu luas dengan ran jang ukuran king size serta pemandangan yang begitu menawan. Hanya duduk di balkon mereka bisa melihat keindahan pantai dari sana.
“Jadwal—”
Vyora mengangkat tangannya, tanda jika dia tak ingin mendengar ucapan Aiden.
“Aku ingin istirahat.”
Aiden tak bergeming, dia lalu duduk di sofa—membiarkan Vyora berbaring diatas ran jang.
“Pesan wine, aku ingin menghangatkan tu buhku.”
Aiden beranjak dari sofa lalu menghubungi resepsionis dari telepon kamar.
“Aku keluar sebentar, wine-nya akan segera datang.”
Vyora hanya bergumam tanpa menoleh, membiarkan Aiden meninggalkannya sendiri.
“Si al, kenapa jantungku berdetak kencang. Satu kamar dengan dia benar-benar membuatku gi la,” gerutunya.
Tak lama laya nan kamar datang. Vyora segera menuangkan wine ke gelasnya untuk menghilangkan perasaan aneh di hatinya.
***
Suara ombak terdengar samar dari balkon kamar hotel. Vyora berdiri di sana sambil memeg ang gelas wi ne, rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin.
Sementara di belakangnya, Aiden keluar dari kamar mandi hanya dengan kaos hitam tipis dan celana santai.
Langkah pria itu perlahan mendekat. “Belum tidur?” tanyanya pelan.
Vyora menggeleng. “Bali terlalu indah untuk tidur cepat.”
Aiden berdiri di sampingnya, bahu mereka hampir bersen tuhan.
“Kalau begitu aku temani.”
Hening, hanya suara ombak dan desir angin malam yang mengisi suasana. Entah sejak kapan, jarak mereka semakin dekat.
Vyora bisa menci um aroma tu buh Aiden yang bercampur dengan aroma sabun mandi.
“Kamu beli baju baru?”
“Hm, aku pikir kita akan pulang cepat, makanya aku nggak bawa baju ganti.”
“Bajunya cocok denganmu.”
Aiden tersenyum mendapat pujian dari Vyora.
“Sebenarnya aku ke Bali untuk bersenang-senang. Sedangkan membawamu, aku hanya ingin membuat Doni percaya.”
“Haruskah aku memberi tahu Doni kalau kita meeting selama seminggu?”
Vyora berdecak. “Nggak usah berlebihan, aku hanya butuh waktu tiga hari untuk bersenang-senang. Oh ya, bukannya kamu ada janji dengan tunanganmu?”
Tatapan Aiden berubah dalam. “Dia hanya ingin membicarakan pernikahan.”
“Pernikahan?”
“Iya, aku akan menikah. Tapi aku merasa ragu.”
“Ragu, bukannya dia pilihamu?”
Aiden menggeleng pelan. “Perjodohan.”
Vyora tertawa. “Zaman sudah modern masih ada perjodohan, lucu sekali. Apa nggak ada wanita yang kamu suka?”
Vyora men elan lu dah saat pria itu perlahan membalikkan tu buhnya hingga kini mereka saling berhadapan.
“Ada, tapi wanita itu sudah menikah.”
“Menikah, yang ben—”
Kedua ma ta mereka saling bertemu. Vyora tak sanggup lagi menggo da pria yang berdiri tepat di depannya. Napas Vyora tercekat, tangannya spontan menceng kram kaos Aiden saat pria itu mendekatkan wajahnya perlahan.
“Kalau kita bertemu lebih dulu, apa kamu mau menikah denganku?”
“Kalau pun aku belum menikah sepertinya kita nggak akan pernah bertemu,” jelas Vyora.
Jelas mereka tidak akan pernah bertemu karena kehidupan Vyora yang dulu hanya lingkungan biasa bukan lingkungan elit seperti sekarang ini.
“Takdir nggak ada yang tahu.”
Vyora menghabiskan wi ne yang ada di gelasnya. Dia sadar jika terus berdekatan dengan Aiden mungkin dia akan melakukan hal yang tidak-tidak
“Mau wi ne?” tanya Vyora.
Aiden mengangguk. Vyora bergegas menuangkan wi ne ke gelas kosong di tangannya.
“Ini.”
Mata Aiden terpaku pada gelas wi ne lalu beralih menatap kedua mata Vyora.
Tangannya meraih teng kuk wanita itu, lalu menci um bi bir Vyora dengan lembut.
“Manis,” go da Aiden seraya melepaskan pagutannya.
Vyora tidak bergerak mundur. Dia memejamkan mata saat Aiden kembali menci umnya. Tangan Aiden melingkar di pinggangnya, menarik tu buh Vyora semakin dekat hingga nyaris tanpa jarak.
Ci uman itu terasa panas di tengah angin malam Bali.
“Aiden ....” desah Vyora lirih saat pria itu mengecup teng kuknya perlahan.
“Aku menginginkanmu,” bisiknya serak.
Vyora tak mampu menjawab karena kenyataannya, dia juga menginginkannya.

No comments:
Post a Comment