Addense

Monday, 20 July 2026

Puasa terpanjang

 Anak 8th ini Pingsan Saat Buka Puasa Bersama. Tapi yang Ia Geng-gam Sejak Tadi Bikin Semua Orang Langsung Me-na-ngis. Ternyata …




“A nak saya kemana?”


Pertanyaan itu ke-lu-ar dengan suara serak, tapi cukup keras untuk membuat perawat yang sedang mengecek in fus menoleh cepat.


Ibu Kalea mencoba bangkit. Tangannya ge-me-tar men-ceng-ke-ram seprai. Selang in-fus terta-rik, membuat alarm berbunyi nyaring. Perawat segera mendekat, me-ne-kan bahunya pelan agar ia berbaring kembali.


“Bu, jangan dulu. Ibu masih lemah.”


“A nak saya,” ulangnya. Matanya menyapu ruangan. “Tadi dia di sini.”


“Bu Rini sebentar lagi ke sini.”


“Bukan Bu Rini.” Na-pas Ibu Kalea terengah. “Kalea. A nak saya.”


Ia mencoba duduk lagi. Kali ini perawat memanggil rekannya. Dua tangan menahan tu-buh-nya yang ku-rus, yang tampak terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja melewati malam panjang di IGD.


“Bu, tolong dengarkan dulu,” kata perawat itu, berusaha tersenyum. “Ibu butuh istirahat.”


“Kalau dia kenapa-kenapa …” suara Ibu Kalea mele-mah, lalu me-ning-gi lagi, “kenapa saya nggak dengar suaranya?”


Perawat itu terdiam.


Ruangan terasa lebih sempit. Ba-u o-bat menu-suk. Di luar, langkah kaki berlalu-lalang, tapi tidak ada satu pun yang terdengar seperti langkah Kalea yang kecil dan tergesa.


Pintu ter-bu-ka pelan. Bu Rini masuk, membawa sebuah kotak makanan di tangannya.


Ibu Kalea langsung menoleh. Matanya menyipit, mencoba fokus. “Itu kotak Kalea.”


Bu Rini berhenti di dekat pintu. “Iya, Bu.”


“Dia mana?” tanyanya. “Kok kotaknya dipegang kamu?”


Bu Rini melangkah mendekat. Ia menarik kursi dan duduk di samping ran-jang. Kotak itu ia letakkan di meja kecil, tapi tangannya tidak langsung melepas.


“Ibu,” katanya pelan, “dengar saya dulu.”


Ibu Kalea menatap kotak itu, lalu wa-jah Bu Rini. “Dia nggak makan lagi ya?”


Bu Rini menggeleng kecil.


“Makanya dia ping-san?” lanjutnya, “Saya bilang suruh dia makan dulu.”


“Kalea di mana?” suara Ibu Kalea me-na-jam. “Jangan jawab muter-muter.”


Bu Rini menarik na-pas panjang. “Kalea aman.”


“Di mana?”


Bu Rini menunduk. Jarinya mengu-sap sisi kotak yang sedikit penyok. “Dia sedang di tempat yang lebih baik.”


Ibu Kalea tertawa pendek. Bukan tawa senang. “Baik itu ru-mah.”


“Kondisinya tidak memungkinkan,” jawab Bu Rini.


“Maksud kamu apa?”


Bu Rini mengangkat kepala. Matanya bertemu mata Ibu Kalea yang mulai ba-sah tapi masih ta-jam. “Tadi malam, setelah Ibu dibawa ke sini, Kalea dibawa dinas sosial.”


Ibu Kalea terdiam. Na-pasnya berhenti sejenak. Tangannya perlahan men-ceng-ke-ram seprai.


“Dibawa?” ulangnya. “Ke mana?”


“Sementara,” kata Bu Rini, “hanya sementara.”


Ibu Kalea menggeleng. “Nggak. Kamu sa-lah.”


“Kondisinya darurat,” lanjut Bu Rini. “Kalea ping-san. Ibu tidak sa-dar. Tidak ada keluarga lain.”


“Dia a-nak saya,” po-tong ibu Kalea. “Kenapa dia dibawa tanpa saya?”


“Ibu tidak sa-dar.”


“Sekarang saya sa-dar,” katanya. “Panggil dia.”


Bu Rini terdiam.


“Panggil dia!” suara itu me-ning-gi. Alarm monitor jan-tung mulai berbunyi cepat.


Perawat mendekat lagi. “Bu, tolong tenang.”


Ibu Kalea tidak menoleh. Matanya menan-cap pada Bu Rini. “Kamu janji apa sama dia?”


Bu Rini terke-jut. “Apa?”


“Dia pasti nitip sesuatu,” katanya. “Dia selalu begitu.”


Bu Rini me-ne-lan lu-dah. Tangannya meraih kotak makanan itu dan mendorongnya perlahan ke arah Ibu Kalea.


“Dia nitip ini,” katanya.


Ibu Kalea menatap kotak itu lama. Tangannya terulur ragu, lalu menyen-tuhnya. Jemarinya mengu-sap tutupnya yang sudah longgar.


“Dia bilang apa?” tanyanya.


“Dia bilang,” suara Bu Rini bergetar, “jangan dibuka di sini.”


Ibu Kalea mengangguk. “Iya.”


Ia menarik kotak itu ke da da nya, me-me-luk-nya seperti me-me-luk sesuatu yang hidup. Matanya terpejam. Na pas nya ber-ge-tar.


“Dia pasti bilang ini buat saya,” katanya lirih.


Bu Rini mengangguk.


“Dia selalu begitu,” lanjutnya. “Kalau ada apa-apa, yang dia pikirin saya dulu.”


Ia mem-bu-ka mata. Air mata ja-tuh satu-satu ke tutup kotak.


“Kamu tahu,” katanya tanpa menatap siapa pun, “dia suka nyimpen roti kering di saku.”


Bu Rini terdiam.


“Bilangnya buat nanti,” lanjut Ibu Kalea. “Padahal nanti itu nggak pernah datang.”


Ia tertawa kecil, lalu terisak. Tangannya menceng-keram kotak itu erat.


“Dia ta-kut saya la-par,” katanya. “Padahal dia yang la-par.”


Bu Rini menunduk. Da-danya terasa se-sak.


“Bawa dia pulang,” kata Ibu Kalea tiba-tiba.


“Ibu masih harus dirawat,” jawab Bu Rini.


“Dia juga harus dirawat,” sahutnya. “Sama saya.”


“Kondisinya ...”


“Dia a nak saya,” po tongnya. “Kalau mau ambil saya, ambil saya. Jangan dia.”


Perawat saling pandang. Sa-lah satunya ke-lu-ar ruangan, mungkin memanggil dokter.


Ibu Kalea menoleh lagi ke Bu Rini. “Kamu tahu alamatnya?”


“Tempatnya di ra-ha-sia kan sementara,” jawab Bu Rini.


“Bilang ke saya.”


“Saya tidak bisa.”


“Kalea pasti ta-kut.”


Bu Rini menggeleng. “Dia ku-at, pemberani.”


“Dia ku-at karena ter-pak-sa,” sahutnya. “Bukan karena mau.”


Pintu ter-bu-ka lagi. Dokter masuk, memeriksa monitor, lalu menatap Ibu Kalea.


“Bu, kondisi Ibu belum stabil,” katanya. “Kami perlu observasi.”


“A nak saya di observasi siapa?” ba-las-nya cepat.


Dokter terdiam sejenak. “Kami akan koordinasi.”


“Koordinasi itu lama,” katanya. “A nak saya sendirian.”


Ia mencoba bangkit lagi. Kali ini Bu Rini membantu me-na-han, bukan untuk mene-kan, tapi agar ia tidak ja-tuh.


“Kalea bilang apa sebelum per-gi?” tanya Ibu Kalea mendadak.


Bu Rini menelan lu-dah. “Dia tanya… kalau dia per-gi, Ibu nanti sendirian atau tidak.”


Ibu Kalea memejamkan mata. Wajahnya mene-gang. Bi-bir-nya berge-tar.


“Jawaban kamu apa?”


Bu Rini tidak langsung menjawab. “Saya bilang Ibu sedang dira-wat.”


“Bukan itu jawabannya,” katanya pelan.


Bu Rini menunduk. “Saya tidak sempat.”


Ibu Kalea menarik na-pas panjang. “Kalau dia tanya lagi nanti,” katanya, mem-bu-ka mata, “bilang ke dia saya ma-rah.”


Bu Rini terkejut. “Bu …”


“Ma-rah karena dia per-gi tanpa pamit,” lanjutnya. “Bilang juga saya nunggu.”


“Dia bilang akan nunggu,” jawab Bu Rini.


Ibu Kalea mengangguk. “Bagus.”


Ia menatap kotak makanan itu lagi. Jemarinya mem-bu-ka tutupnya perlahan. Di dalamnya hanya ada nasi putih dan sepotong kecil ayam goreng.


Ia terdiam lama.


“Dia nggak makan sama sekali,” katanya li-rih.


Bu Rini menggeleng.


Ibu Kalea menyuapkan satu sendok kecil ke mu-lut-nya. Tangannya ge-me-tar. Air matanya ja-tuh ke nasi.


“Kalau saya nggak habisin,” katanya, “dia pasti kecewa.”


Pintu ruangan diketuk. Seorang petugas dinas sosial berdiri di ambang pintu.


“Bu,” katanya hati-hati, “besok pagi kami akan datang lagi.”


Ibu Kalea menoleh cepat. “Untuk apa?”


Petugas itu ragu sejenak. “Untuk membicarakan penempatan Kalea selanjutnya.”


Ruangan mendadak sunyi.


“Selanjutnya?” ulang Ibu Kalea.


“Keputusan sementara,” jawabnya.


Ibu Kalea menatap Bu Rini. “Dia nggak boleh pindah.”


Petugas itu menunduk sedikit. “Kami akan jelaskan besok.”


Setelah pintu tertutup, Ibu Kalea masih menatap ke arah yang sama.


“Kalau saya pulang,” katanya, “a nak saya masih ingat ru-mah-nya, kan?”


Bu Rini menahan napas. “Ibu …”


“Jawab,” katanya.


Bu Rini mem-bu-ka mu-lut. Di luar, suara langkah kaki semakin menjauh.


“Bu Rini,” Ibu Kalea mengulang, “kalau dia nanti manggil saya dan saya nggak ada… dia bakal berhenti manggil, kan?”


Bersambung ...

No comments:

Post a Comment