Addense

Monday, 20 July 2026

Hati yang tersepakati

 



Ku tandatangani kon-trak per-ni-kah-an dengan satu aturan : pi-sah setelah satu tahun. Tapi ketika saatnya tiba, dia malah mero bek semua bukti. Lalu mem-bi-sik-kan, 

'Kita belum selesai'...


®


Telepon dengan Celine itu terjadi pagi hari.


Sore harinya, aku tahu dia tidak akan tinggal diam.


Pukul 15.00. Aku sedang membaca ulang kon-trak per-ni-kah-an di ruang tengah, kali ini lebih teliti, mencari celah atau ke-a-neh-an yang mungkin Bima sengaja sembunyikan ketika suara mobil a-sing terdengar dari depan pagar.


Bukan mobil Bima. Bukan juga mobil dinas keluarganya.


Aku bangkit dan melangkah ke jendela.


Sebuah mobil hitam SUV me-wah dengan kaca film ge-lap terparkir tepat di depan gerasi. Pintu pengemudi ter-bu-ka, tapi yang ke-lu-ar bukan sopir.


Celine.


Dia berganti pakaian. Pagi tadi dia terlihat necis dengan ga-un merah marun. Sekarang dia memakai rok pensil hitam dan kemeja putih, pakaian yang sengaja dipilih agar terlihat lebih pantas dari pada istri kon-trak seperti aku, mungkin.


Tumit tingginya meng-han-tam aspal dengan irama percaya diri.


Di belakangnya, seorang laki-laki be-sar ber-ta-to ke-lu-ar dari kursi sopir. Tu-buh-nya ke-kar, ra-hang kotak, dan matanya menyapu seluruh area seperti an-jing penjaga.


Dia membawa pre-man.


Aku tidak pa-nik. Tapi jan-tung-ku berdetak lebih cepat.


Mbak Ratih yang sedang menyapu teras depan ka-get setengah ma-ti. "N-Nyonya Celine? Ini... Bapak belum pulang, N—"


"Bukan Bapak mu yang aku cari." Mata Celine me-nem-bus langsung ke arahku di balik jendela. Dia tersenyum, senyum pre-da-tor yang tahu dia datang dengan kekuatan lebih.


"Laras," katanya ke-ras, "ke-lu-ar. Kita bicara baik-baik."


Aku mengambil waktu tiga detik untuk menarik na-pas. Lalu aku mem-bu-ka pintu dan ke-lu-ar.


Mata Mbak Ratih mem-be-la-lak. "Nyonya Laras, jangan—"


"Tidak apa-apa, Mbak." Aku berdiri di teras, tangan dilipat di da-da, tanpa turun ke halaman. "Celine. Aku rasa kita sudah bicara cukup banyak lewat telepon pagi tadi."


Celine tidak berhenti di pagar. Dia langsung membuka garasi, astaga, dia masih punya kunci? Bima bilang akan ganti kode, tapi jelas dia belum semuanya dan melangkah masuk ke halaman.


Pre man berta to itu mengikuti di belakangnya. Jaraknya satu meter. Tangan kanannya meng-geng-gam sesuatu di saku jaket hitamnya.


Jangan sampai itu sen-ja-ta.


"Bicaranya belum selesai," kata Celine, kakinya kini sudah di a-nak tangga pertama teras. "Karena kamu belum mendengar versi lengkap dariku."


"Versi lengkap apa?"


Celine tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar, tapi matanya tetap di-ngin.


"Bahwa Bima tidak akan pernah bisa men-cin-tai siapa pun setelah aku. Bahwa aku tidak per-gi tanpa alasan. Bahwa aku harus per-gi karena... ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang membuat trau-ma sampai sekarang."


Aku mengernyit. "Apa maksud mu?"


"Bukan tempatnya di sini, di depan pem-ban-tu mu." Dia me-na-tap Mbak Ratih yang sudah lari bersembunyi di balik pintu dapur. "Tapi satu hal yang harus kamu tahu :  jangan pernah merasa menang, Laras. Kamu cuma pengganti sementara. Dan aku akan menunggu."


"Sampai kapan pun."


Udara terasa pa-nas meski sore itu mendung.


Aku me-na-tap pre-man di belakangnya. "Dan dia? Siapa?"


Celine menoleh ke belakang, lalu kembali padaku. "Pengawal ku. Tidak percaya aku berjalan sendirian di lingkungan ini. Banyak orang ja-hat."


"Atau kamu membawanya untuk meng-in-ti-mi-da-si aku."


Celine tidak mem-ban-tah. Dia malah tertawa kecil.


"Kamu cerdas, Laras. Sa-yang-nya... kecerdasan tidak akan melindungi mu dari kenyataan."


Dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.


Sebuah amplop cokelat.


Amplop itu di lem-par kan ke arahku. Ja-tuh tepat di ka ki teras.


"Apa itu?"


"Bukti. Kamu bilang tadi pagi aku yang per-gi tanpa kabar? Itu karena aku tidak punya pilihan." Mata Celine ber-u-bah dari di-ngin menjadi... ter-lu-ka. Asli atau pal-su? Aku belum bisa membedakannya.


"Buka nanti ma lam. Setelah Bima ti-dur. Maka kamu akan tahu siapa dia sebenarnya."


Aku mem-bung-kuk, mengambil amplop itu. Tapi belum sempat aku berdiri tegak, suara klakson mobil terdengar dari luar pagar.


Mobil hitam lain. Kali ini lebih sporty. Pintu ter-bu-ka.


Bima ke-lu-ar dengan wa-jah sangat pu-cat tapi matanya me-nya-la, seperti orang yang baru menemukan ru-mah-nya ter-ba-kar.


"Celine!" ben-tak-nya, langkahnya cepat me-nem-bus pagar.


Pre-man Celine langsung bergerak, meng-ha+dang.


"Jangan dekat-dekat," ujar pre-man itu dengan suara be-rat.


"Siapa kamu? Ke-lu-ar dari ru-mah 😇ku!" Bima setengah ber-te-riak.


Celine mengangkat tangan. "Diam, Rio."


Rio pre-man ber-ta-to itu mundur satu langkah, tapi tetap was-pa-da.


Bima melompat ke teras dan berdiri di sampingku. Aku bisa merasakan tu-buh-nya sedikit ge-me-tar. Bukan karena ta-kut? Ma-rah? Aku tidak tahu.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Celine? Apa yang kamu ka-sih ke Laras?" matanya me-na-tap amplop di tanganku.


Celine tersenyum manis pal-su tentu saja.


"Hanya sedikit bukti masa lalu, Bim. Agar istri baru mu tahu... kenapa aku per-gi dulu."


Bima mem-be-ku.


Wa-jah-nya ber-u-bah drastis dari ma-rah menjadi... ke-ta-kut-an. Sejujurnya, aku belum pernah melihat Bima se-ta-kut ini. Bahkan saat Celine muncul se-ma-lam, dia hanya pa-nik. Sekarang? Dia ta-kut.


Buktinya, tangannya meraih lenganku.


Cukup ken-cang.


"Jangan buka amplop itu, Laras," bi-sik Bima di telingaku. Suaranya serak, seperti orang yang kehabisan air liur. "Aku mohon."


Aku me-na-tap-nya.


Lalu aku me-na-tap Celine.


Lalu aku me-na-tap amplop di tangan ku.


Dunia terasa berputar pelan.


"Ini baru hari kedua pernikahan kita," kataku pelan. "Dan aku sudah disodori kon-trak, an-cam-an, pre-man, dan amplop mis-te-rius. Apa lagi yang kalian sem-bu-nyi-kan?"


Celine mendekat. Bima tanpa sa-dar mundur—dan me-na-rik ku ikut mundur.


"Jangan me-nyen-tuh-nya!" ben-tak Bima.


"Tenang, Bim," Celine ber-bi-sik. "Aku hanya ingin..."


Dia mengulurkan tangan ke arahku.


Bima menghalau. Tapi tangannya malah mengenai bahu Celine dengan ke-ras terlalu ke-ras.


Celine ja-tuh.


Bukan ja-tuh pu-ra-pu-ra. Pantatnya meng-han-tam lantai batu teras. Tangan kirinya mencoba me-na-han, tapi tu-buh-nya tetap meng-han-tam ke-ras.


"Celine!" Bima langsung ber-lu-tut di sampingnya.


Aku hanya berdiri, mem-be-ku.


Rio pre-man itu menghambur ke arah Bima.


"Awas Lo! Berani dorong dia?!"


Rio menarik kerah Bima. Bima tidak melawan dia hanya menatap Celine yang mengerang pelan, tangannya memegang siku kiri.


"Sa-kit, Bim...," bi-sik Celine. Matanya berkaca-kaca.


Tapi sedetik kemudian hanya sedetik Celine melirik ke arahku.


Dan dia tersenyum.


Senyum kecil. Hanya untuk ku.


Itu senyum checkmate.


Aku mem-be-ku.


Itu akting. Dia pu-ra-pu-ra ja-tuh. Tu-buh-nya mungkin memang sa-kit karena ter-hem-pas, tapi dia me-re-ka-re-ka-kan situasi ini. Di depan pre-man bernama Rio. Di depan Bima yang sekarang pa-nik setengah ma-ti.


Dia mengubah posisinya dari penyerang menjadi kor-ban.


Dalam satu gerakan.


Aku menghirup udara di-ngin.


Dan di situlah aku sa-dar, Celine bukan sekadar mantan yang cem-bu-ru.


Dia ja-uh lebih ber-ba-ha-ya dari itu.


®


Bima mengangkat Celine dan membantunya berdiri. Rio melepaskannya karena Celine berkata, "Sudah. Bawa aku ke mobil."


Rio me-nge-rang, lalu menggandeng Celine per-gi.


Sebelum masuk ke SUV hitamnya, Celine menoleh ke arahku.


"Selamat ma-lam, Laras. Dan... selamat membaca."


Dia tersenyum.


Lalu mobil itu melaju me-ning-gal-kan kami.


Aku masih berdiri di teras.


Angin sore mem-be-lai rambutku.


Di tanganku, amplop cokelat itu terasa semakin be-rat.


Bima berdiri di sampingku, mengatur na-pas yang tidak karuan.


"MAAF," kataku me me cah keheningan, "tadi Bima mendorong, dia dulu yang sa-lah."


"Apa aku terlihat pe-du-li siapa yang sa-lah?" Bima menghadap ku. Wa-jah-nya masih pu-cat, dan keringat mengalir di pelipis. "Aku bilang jangan bu-ka amplop itu. Tolong. Untuk pertama kali, dengarkan aku."


"Aku bukan he-wan, Bima. Aku tidak ikut perintah."


"LARAS!"


Ben-tak-an ya menggema di seluruh halaman. Burung-burung di taman bambu terbang berhamburan.


Aku tidak bergeming.


"Kamu boleh ber-te-riak," kataku di-ngin. "Tapi itu tidak akan menghentikan ku mem-bu-ka amplop ini nanti ma-lam. Karena sudah jelas kalian berdua me-nyem-bu-nyi-kan sesuatu yang be-sar. Dan aku. Bukan. Boneka."


Aku berbalik dan berjalan masuk ke ru-mah.


Di balik pintu, aku mendengar Bima mem-ban-ting sesuatu di teras.


Tapi aku tidak pe-du-li.


Aku naik ke ka-mar ku, mengunci pintu, duduk di tepi tempat ti-dur, dan me-na-tap amplop cokelat itu.


Bersambung...

No comments:

Post a Comment