Addense

Monday, 3 August 2026

Mantan mertua


 Ku pikir setelah menjadi janda hidupku akan tenang, ternyata mantan ayah mertuaku lebih membuatku tidak bisa tenang, apalagi ketika di r a nj ang....


Telepon meja Nayara berdering, memecah kesunyian ruang kerjanya. Dengan sedikit enggan, dia mengangkatnya.


"Halo, Nay. Kamu ada waktu?"


Suara itu. Sebuah suara yang sangat dia kenal terdengar. Adrian.


"Ada apa? Kenapa tidak telepon ke ponselku?" tanya Nayara, mencoba menyamarkan kegelisahannya.


"Kamu memblokir nomor WA-ku, bagaimana aku bisa meneleponmu?" jawab Adrian, nada suaranya datar namun terdapat sedikit l u ka.


Nayara diam sejenak. Dia memang lupa kalau telah memblokir nomor mantan suaminya itu.


"Ada apa?" kembali Nayara mengulang pertanyaannya, berusaha singkat.


"Aku butuh setelan jas untuk acara ulang tahun perusahaan ayah Davin," jawab Adrian.


"Kenapa kamu tidak minta bantuan Serena saja? Selera fashion dia bagus, kan?" tanya Nayara, mencoba mengalihkan.


"Enggak sebagus kamu," jawab Adrian dengan cepat.


"Kamu hubungi Yeyen saja. Dia pasti bisa bantu kamu. Maaf, aku sendiri juga sibuk menyiapkan setelan jas khusus untuk acara ulang tahun perusahaan itu," jawab Nayara, berharap ini akan mengakhiri percakapan.


Diam sejenak di seberang garis. Lalu, Adrian terdengar terkejut.


"Si-siapa? Siapa yang pesan jas ke kamu?" tanyanya, nadanya tiba-tiba berubah.


Nayara menarik napas dalam.


"Om Davin."


Nayara lalu menutup sambungan telepon dengan sedikit gemetar. Ujung jarinya terasa dingin saat meletakkan gagang telepon perlahan, seolah alat itu bisa meledak kapan saja. Percakapan singkat itu meninggalkan rasa tidak enak di ulu h at inya. Mengapa Adrian tiba-tiba membutuhkan jas? Dan mengapa harus darinya?


Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan melihat setelan jas Davin yang masih tergantung anggun di depan meja kerjanya. Kain putih tulang itu tiba-tiba terasa seperti sebuah pertanda—elegan di luar, namun menyimpan ketegangan yang tak terlihat.


Sementara itu di apartemen Serena, Adrian masih terduduk kaku, telepon m a ti di tangannya. Wajahnya pucat, tatapannya kosong menatap dinding mewah berlapis marmer.


“Ada apa, sayang?” tanya Serena yang baru saja keluar dari k a m ar mandi, handuk mewah terikat longgar di tubuhnya. Dia mendekat, lengannya yang mulus melingkari bahu Adrian.


“Ayah Davin pesan jas ... pada Nayara,” gumam Adrian, suaranya parau, hampir tak terdengar.


Serena langsung melepas pelukannya. M at a hijauanya menyipit, ta j am dan dingin. “Sudah aku bilang kan,” desisnya, setiap kata diucapkan dengan tekanan yang membuat udara sekitarnya seketika mengental, “Mereka ada hubungan khusus! Makanya kamu harus gerak cepat sebelum semua aset perusahaan jatuh ke tangan ayah tirimu itu! Lebih baik kamu sebagai a n ak segera meminta pembagian perusahaan!”


Adrian menggeleng, menjauhkan diri dari Serena. “Nggak semudah itu, Serena! Apalagi ayah Davin masih hidup, sehat dan bugar. Memimpin perusahaan sampai 20 tahun ke depan saja dia masih sanggup!” Suaranya meninggi, dipenuhi frustrasi.


Serena mendekat lagi, wajahnya hanya berjarak seinci dari Adrian. “Ingat, Adrian. Kita tidak bisa hidup dengan baik kalau kamu tidak mendapatkan itu semua,” bisiknya, namun nada itu seperti sirene peringatan.


“Kenapa yang ada dalam o t akmu hanya harta? Tidak cukupkah apa yang aku berikan selama ini?” tanya Adrian, suaranya lirih, penuh kelelahan.


“Tidak!” Serena membentak, m at anya menyala-nyala. “Aku tidak mau kalah dari Nayara!”


Adrian tertawa getir, tatapannya menyapu tubuh Serena dari ujung kepala sampai kaki. “Kamu? Mau bersaing dengan Nayara? Lihat dirimu! Hanya model yang sudah jarang laku, tak ada bisnis apapun. Sementara Nayara punya talenta bagus di dunia fashion, dia punya butik, bahkan punya nama besar di kalangan artis.”


Wajah Serena memerah. Luka harga diri yang tersentuh membuatnya kehilangan kendali. “Jangan bandingkan aku dengan mantan istrimu yang man d ul itu!” sergahnya, suara melengking. “Selama ini Nayara sama kamu nggak hamil-hamil kan!? Apa kalau nggak mandul!?”


Adrian diam seketika. Tubuhnya menegang. Setiap kata Serena seperti pisau yang mengoyak-oyak masa lalunya yang paling kelam. Dia melihat wajah cantik itu, tapi yang terlihat hanya kebencian dan ambisi yang tak terkendali. Berdebat dengan Serena memang selalu percuma. Dia membalikkan badan, mengambil kunci mobilnya di meja.


“Mau ke mana?” tanya Serena, nada masih tinggi.


Tanpa menjawab, Adrian membanting pintu apartemen hingga bergetar. Ia perlu udara. Ia perlu melupakan bahwa wanita yang ia tinggali sekarang mungkin adalah kesalahan terbesarnya.


Udara café yang sejuk dan aroma kopi sangrai tidak juga mampu mengusir kekusutan di wajah Adrian. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kulit, menatap hujan rintik-rintik yang mulai membasahi jalanan ibu kota. Kukuh, sahabat lamanya, sudah duduk di seberang, menyilangkan kaki dengan gaya santainya yang khas.


“Lagi-lagi Serena?” tanya Kukuh tanpa basa-basi, kedua alisnya naik penuh arti. “Wajahmu kayak baru digebukin preman.”


Adrian menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Dia nggak ada habisnya, Kuh. Selalu saja ada yang dipermasalahin.”


Kukuh terkekeh kecil, menggeser gelas kopinya. “Salah sendiri. Berlian dibuang, batu kali dicomot. Dulu Nayara sama kamu harmonis-harmonis aja. Serena? Dari luar aja udah keliatan rumit.”


Adrian menggeleng, m a tanya menerawang keluar jendela. “Dia nuduh Nayara mandul. Bilang, itu sebabnya kita nggak punya a n ak.”


Kukuh hampir tersedak kopinya. “Serius? Dasar Serena, nyerangnya makin rendah saja. Itu cuma tukang nutupin kekurangannya sendiri. Dari segi attitude, karir, sampai kelas—Nayara menang telak. Kamu aja yang b o doh malah ngelepas dia.” Kata-kata Kukuh tajam, tapi jujur. Seperti selalu.


Adrian meminum es kopinya dalam satu tegukan besar. Rasa pahitnya seakan mewakili hidupnya sekarang. “Aku tahu. Aku sadar, Kuh. Serena ... ternyata terlalu ambisius. Terlau haus harta dan pengakuan.”


“Nah, sekarang kamu baru ngeh,” Kukuh menyeringai. “Tapi nggak usah disesali lagi. Kamu sudah pilih Serena, lepas Nayara. Harus jalanin saja konsekuensinya.”


Tapi penyesalan itu seperti hujan di luar—merembes pelan, membasahi setiap sudut h a tinya. Adrian teringat senyum lembut Nayara, dukungannya tanpa syarat, dan cara dia selalu menerima segala kekurangannya. Kini, yang ada hanya Serena dengan tuntutan dan ambisinya yang tak pernah habis.


“Aku mungkin memang bo d oh, Kuh,” gumam Adrian lembut, m a ta tak berkedip memandangi tetesan hujan yang mulai deras.


Kukuh hanya menghela napas. “Cuma satu saran aku, Yan. Jangan biarkan Serena merusak segalanya—termasuk hubunganmu dengan Davin. Dia ayahmu juga, meski bukan darah.”


Tapi Adrian sudah tidak mendengar. Pikirannya melayang pada Nayara. Pada kata-kata Nayara yang bilang kalau Davin memesan setelan jas untuk acara ulang tahun perusahaan padanya. Pada kenyataan bahwa mungkin saja, kekosongan dalam hidupnya sekarang adalah akibat pilihannya sendiri yang keliru.


Matahari sore mulai merendah, menebar cahaya keemasan yang menyelinap lepas dari balik tirai kaca butik. Nayara masih asyik menyempurnakan detail bordir pada jas Davin, jemarinya lincah menari di atas kain mewah. Konsentrasinya pecah ketika bel pintu berdenting kasar, diikuti langkah mantap yang terlalu familiar.


Davin berdiri di ambang pintu, siluet tubuhnya yang tegap memenuhi bingkai pintu. Ma tanya, gelap dan ta ja m, langsung mengunci Nayara yang terkesiap di belakang meja kerja.


“Sudah jam enam sore,” suaranya rendah, beresonansi di ruang yang tiba-tiba terasa sempit. “Mau sampai jam berapa kamu di sini?”


Nayara menjatuhkan jarumnya. “Aku ... belum selesai.”


Davin melangkah mendekat, setiap langkahnya penuh tujuan. Dia mengabaikan tatapan penasaran Yeyen dan karyawan lain yang berpura-pura sibuk. “Aku bilang jam enam. Kamu pikir aku main-main?”


“Aku cuma butuh waktu sedikit lagi—”


“Tidak.” Davin sudah berada di hadapannya. Tangannya yang besar menutup permukaan meja, mengurung Nayara dalam posisi yang membuatnya sulit bergerak. “Kita punya janji. Dan kamu seharusnya sudah siap sejam yang lalu.”


Nafas Nayara tersendat. Aroma parfumnya—wangian kayu dan vanilla yang mahal—memenuhi paru-parunya, membawa pulang semua memori Bali yang berusaha dia pendam.


“Aku bukan karyawanmu, Om Davin. Kau tidak bisa mengatur jam kerjaku seperti itu.”


Davin membungkuk, mendekatkan wajahnya hanya beberapa inci dari Nayara. “Ini bukan tentang jam kerja,” bisiknya, hanya untuk didengarnya sendiri. “Ini tentang kamu yang berusaha menghindar. Dan aku tidak akan membiarkannya.”


Tuesday, 28 July 2026

Istri bucin


 "Amira, lihat Tante, Sayang. Tarik napasnya pelan-pelan ya."


Hana mengusap punggung Amira yang masih terguncang oleh sisa-sisa tangis. Perempuan itu menuntun Amira untuk duduk di salah satu kursi kayu dekat sudut toko, lalu menyodorkan segelas air hangat yang langsung diteguk Amira dengan tangan yang masih bergetar.


 Boneka beruang kecilnya diletakkan di pangkuan, dipeluk erat-erat seolah benda itu adalah benteng pertahanan terakhirnya.


"Tante Hana, aku benar-benar nggak mau pulang," bisik Amira, matanya yang bulat kini tampak sembab dan merah. "Aku nggak mau Papa menikah dengan Tante Clara. Papa nggak tahu kalau Tante Clara itu jahat."

Hana berlutut di samping kursi Amira, menggenggam sepasang tangan kecil yang terasa dingin itu. "Kenapa Amira bisa bilang begitu? Memangnya Tante Clara melakukan apa pada Amira?"


"Dia selalu tersenyum kalau ada Papa, Tante. Tapi kalau Papa sudah berangkat kerja, wajahnya langsung galak," Amira mengadu dengan b1bir melengkung ke bawah, air matanya kembali menggenang di sudut kelopak mata. 


"Dia suka membentak Amira. Waktu itu Amira nggak sengaja menjatuhkan mainan, dia langsung menjewer telinga Amira sampai merah. Dia bilang Amira anak nakal yang merepotkan. Kalau aku mengadu pada Papa, Tante Clara bilang dia akan membuang boneka beruangku ini. Boneka ini dari Mama, dia … dia pergi. Kata Mama dia akan Kembali, tapi aku tunggu nggak dateng juga."


Hana terdiam, kalimat-kalimat polos dari bibir Amira seperti mesin waktu yang melempar ingatan Hana kembali ke masa belasan tahun yang lalu. Ingatan tentang bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang kehilangan ibu kandung, lalu harus menyaksikan seorang wanita asing masuk ke dalam rumah dengan senyum manis yang ternyata menyimpan dvri.


Dulu, setelah mamanya meninggal, papa Hana memutuskan untuk menikah lagi dengan Sabrina. Di depan papanya, Sabrina adalah sosok ibu sambung yang penuh perhatian dan lemah lembut. 

Namun, begitu punggung sang papa menjauh, rumah itu berubah menjadi neraka kecil bagi Hana. Bentakan, tuduhan, hingga cubitan di lengan menjadi makanan sehari-hari yang harus ia telan dalam kesunyian. 


Dan bagian paling menyakitkan adalah ketika papanya perlahan mulai berubah, lebih memercayai aduan manis Sabrina ketimbang tangisan anak kandungnya sendiri, apalagi setelah Tasya lahir. Hana makin tersisih, hingga maut akhirnya menjemput papanya itu tanpa sempat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


Hana melihat seluruh bayangan masa lalunya yang kelam ada di dalam diri Amira sekarang. Ia bisa merasakan ketakutan yang nyata, rasa tidak berdaya seorang anak kecil yang instingnya sedang berusaha menyelamatkan diri dari ancaman orang dewasa.


Namun, akal sehat Hana buru-buru menariknya kembali ke realitas. Ia tahu betul posisinya sekarang. Ia hanyalah seorang pemilik toko kue, orang asing yang kebetulan disukai oleh anak ini. 


Hana tidak tahu siapa ayah Amira, bagaimana watak keluarganya, atau apakah ada konflik lain di balik cerita ini. Menyembunyikan anak kecil di tokonya tanpa izin orang tua bisa menyeretnya ke dalam jerat hukum yang rumit dengan tuduhan penculikan anak. Setelah semua badai perceraian yang melelahkan kemarin, Hana tidak ingin masuk ke dalam masalah baru.

"Amira, dengar Tante ya," Hana mengusap pipi tembam Amira dengan ibu jarinya, mencoba tersenyum selembut mungkin untuk menenangkan. "Tante tahu Amira sedang takut. Tante juga paham rasanya sedih dan tidak nyaman. Tapi, melarikan diri seperti ini bukan cara yang benar, Sayang. Kasihan Papa, pasti sekarang sedang kebingungan mencari Amira ke mana-mana."


Amira menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya kembali luruh. "Tapi kalau aku pulang, Papa tetap akan menikah dengan Tante Clara. Papa tidak pernah mau mendengarkan aku."


"Itu karena Amira belum bicara dengan cara yang benar pada Papa," Hana menjeda kalimatnya, memberikan ketukan lembut pada punggung tangan anak itu. "Amira harus berani. Katakan pada Papa apa yang Amira rasakan, tunjukkan bagian yang sakit kalau Tante Clara berbuat jahat lagi. Seorang papa pasti akan membela anaknya kalau tahu yang sebenarnya. Amira percaya kan pada Papa?"


Amira menatap Hana dengan ragu, mata bulatnya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna nasihat yang baru saja didengarnya. "Apakah Papa benar-benar akan percaya padaku, Tante?"


"Tentu saja. Tapi pertama-tama, kita harus memberi tahu Papa kalau Amira aman di sini," Hana menegakkan tubuhnya sedikit, lalu merogoh kantong celemeknya. "Amira hafal nomor telepon Papa? Biar Tante yang hubungi."

Anak kecil itu terdiam lama, jemari kecilnya memainkan bulu-bulu boneka beruangnya dengan bimbang. Namun, setelah melihat tatapan mata Hana yang penuh ketulusan dan rasa aman, Amira akhirnya mengangguk pelan. Ia menyebutkan deretan angka yang dihafalnya di luar kepala, yang langsung diketikkan oleh Hana ke atas layar ponselnya.


Hana menatap deretan angka di layar gawainya, lalu mengarahkan jarinya untuk menekan tombol panggil. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh permukaan kaca, sebuah suara deru mesin mobil yang melaju kencang mendadak berhenti dengan hentakan keras tepat di pelataran parkir rukonya.


Suasana sore yang tenang seketika pecah oleh lengkingan suara sirine mobil polisi yang memekakkan telinga, bergema menyorot kaca-kaca depan toko kue Hana dengan kilatan lampu rotator berwarna biru dan merah yang berputar cepat sore itu.


Jantung Hana serasa melompat dari tempatnya ketika pintu kaca toko terdorong kasar hingga membentur pembatas besi di dinding. Suara sirine yang meraung-raung di luar membuat atmosfer di dalam ruangan yang semula hangat dan harum aroma kue, mendadak berubah mencekam dan menegangkan.


Ratih dan dua pegawai dapur lainnya berlari keluar dari ruang belakang dengan wajah pucat pasi. Tangan mereka masih berlumuran sisa tepung, menatap liar ke arah pintu depan dengan mata melebar penuh ketakutan.

"Mbak Hana, ada apa ini? Kenapa ada polisi di luar?" bisik Ratih dengan suara bergetar hebat, tubuhnya gemetaran di balik celemek kerja.


Hana segera menegakkan tvbuh, mengangkat satu tangannya di udara untuk memberikan isak tanda agar seluruh pegawainya menahan diri. "Tenang semuanya. Tetap di tempat kalian dan jangan ada yang keluar dari balik meja kasir. Biar aku yang urus."


Belum sempat Hana melangkah lebih dekat ke arah pintu, dua petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk dengan tatapan mata yang menyelidik tajam. Di belakang mereka, seorang pria bertubuh tinggi tegap merangsek masuk dengan langkah lebar yang terburu-buru.


 Pria itu mengenakan kemeja kerja berwarna biru tua yang lengannya digulung rapi hingga sebatas siku, memamerkan jam tangan perak berdesain tegas di pergelangan tangannya. Wajahnya memiliki garis rahang yang kokoh, dengan hidung mancung dan sepasang mata elang yang memancarkan aura ketegasan sekaligus kepanikan yang teramat sangat. Ketampanannya yang mencolok tertutup oleh gurat kecemasan yang mendalam.


"Papa!" Amira menjerit kencang, langsung melompat turun dari kursi kayu dan berlari menubruk pria tinggi tersebut.

Pria itu langsung berlutut di atas lantai toko, menangkap tubuh mungil Amira dan mendekapnya dengan begitu erat ke dalam d4danya. Ia memejamkan mata dalam-dalam, menghirup aroma rambut putrinya seolah baru saja menemukan kembali dunianya yang sempat hilang. Bahu tegap pria itu tampak naik turun dengan napas yang memburu, meredam rasa takut yang sempat mencekik batinnya selama beberapa jam terakhir.


"Amira... Tuhan, kamu ke mana saja, Nak? Kenapa bisa ada di sini?" bisik pria itu, suaranya terdengar serak dan bergetar di dekat telinga anaknya. Ia mengusap punggung Amira berulang kali, memastikan bahwa anak perempuan kesayangannya itu benar-benar berada di pelukannya dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun.


Hana berdiri terpaku tidak jauh dari mereka, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang campur aduk antara lega sekaligus bingung. Jemarinya bertautan di depan celemek, menunggu dengan sabar hingga pelukan ayah dan anak itu merenggang.


Setelah memastikan Amira baik-baik saja, pria bertubuh tegap itu bangkit berdiri. Ia menatap Hana dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menvsuk, seolah menuntut pertanggungjawaban penuh atas apa yang telah terjadi pada putrinya.


Salah satu petugas polisi yang bertubuh tambun melangkah maju, berdiri di antara Hana dan pria tersebut. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku seragamnya, lalu menatap Hana dengan raut wajah yang sangat serius tanpa kompromi.


Mari kita berpisah




 "Kenapa aku harus menikah dengannya?" Lirih Andini dalam tangisnya. Seharusnya di bulan madu ini mereka bisa berbaikan. Ya, Andini mulai berdamai dengan takdirnya. Mulai menerima Andra sebagai suami yang mungkin Tuhan kirimkan padanya.


 Oleh karena Andra yang tak berminat untuk menari bersama orang lain di tengah Bar sana, maka Briana akan setia menemaninya. Daritadi pertanyaan pancingan selalu diberikan Briana, tapi pria berlengan kekar ini diam saja sambil menyilangkan tangannya di dada. Walau sombong begini, Briana tetap suka. Baginya inilah daya tarik Andra.


 Dua minuman datang, Andra menyesap sodanya perlahan.


 "Gabung, An!" Lukman tiba-tiba datang dan menarik Andra untuk berdiri.


 "Nggak. Kamu aja!" Tolak Andra.


 "Udah. Jangan malu-malu!" Lukman tertawa dan menarik tangan Andra dengan kuat. Daripada diseret, Andra bangkit sendiri dan mengikuti temannya masuk ke tengah orang-orang yang sedang menari bersama.


 Sementara, Briana tersenyum ketika melihat Lukman berhasil menyeret Andra. Tatapan matanya pun beralih pada minuman yang Andra tinggalkan.


 "Aku nggak bisa menari-nari begini!" Andra sampai berdecak. Apalagi ketika tubuhnya ditabrak oleh orang lain.


 "Pejamkan matamu, goyangkan tubuh sesuai iringan musiknya." Lukman mengajari Andra bergoyang hingga membuat Andra jadi tertawa.


 "Temanku memang sudah gila!"


 Daripada menjadi robot yang tersesat diantar orang-orang ini, Andra mundur dan kembali duduk di kursinya. Diapun meminum sodanya.


 "Andra! Astaga! Malah duduk lagi!" Lukman menyusul dan menarik tangan Andra. Namun, segera pria ini menolaknya.


 "Kamu ajalah! Aku nggak bisa nari."


 "Briana aja kalau begitu." Lukman mengulurkan tangan dimana Briana senang hati menerimanya. Briana pun ikut masuk ke dalam permainan goyangan menari.


 Andra mengamati orang-orang yang sedang menari tersebut dengan tangannya yang meraih ponsel. Tak ada pesan yang masuk.


 "Dasar tidak tahu diri!" Andra jadi kesal. "Harusnya dia mengirim pesan dan meminta maaf. Lalu keluar dari hotel ini. Tapi..."


 Andra kehabisan kata-kata. Dia berpikir jika Andini pasti sedang menyabotase kamar miliknya dan tertidur lelap disana tanpa rasa bersalah.


 "Aku akan bicara pada ibuku. Perempuan itu benar-benar bukan gayaku.."


 Andra mengambil lagi soda di gelasnya dan langsung meneguknya habis. Rasa terbakarpun memenuhi tenggorokannya.


 "Kenapa rasanya pekat sekali?" Andra sampai terbatuk.


 Briana yang baru selesai menaripun lalu duduk di samping Andra.


 "Ternyata capek juga.." ucap Briana sembari tertawa. Ia lalu melihat Andra yang tengah memejamkan matanya dengan kening yang mengernyit. "Kamu kenapa, kak?"


 "Nggak apa-apa." Andra tersadar dan menegakkan kepalanya. Tapi, kenapa pandangannya menjadi kabur. Ia pun mengerjap sambil memijit kepalanya perlahan.


 "Kakak sakit?" Tanya Briana perhatian.


 "Kepalaku sakit sedikit." Mata Andra kembali terkejam karena kepalanya yang begitu berat.


 "Bagian mana yang sakit?"


 Briana mendekatkan tubuhnya pada Andra dan menyentuh kepala pria itu. Tak ada perlawanan hingga membuat Briana bebas memijit kepala Andra sehingga Andra merebahkan kepalanya di bahu Briana.


 Andini sendiri masih menangis di kamarnya. Ucapan Andra tadi benar-benar menyakiti harga dirinya.


 "Kenapa aku harus menikah dengannya?" Lirih Andini dalam tangisnya. Seharusnya di bulan madu ini mereka bisa berbaikan. Ya, Andini mulai berdamai dengan takdirnya. Mulai menerima Andra sebagai suami yang mungkin Tuhan kirimkan padanya.


 Tapi, perlakuan Andra kepadanya sungguh membuatnya sakit hati. Tega sekali dia menuduh dan memfitnah Andini sebagai wanita yang menyimpan banyak aib.


 Padahal, seumur hidupnya Andini begitu menjaga kesuciannya. Tujuannya bercadar bukan karena menutupi aib, tapi lebih ingin menjaga dirinya.


 Sambil mengusap air matanya yang sudah membasahi cadarnya. Andini meraih kopernya. Suaminya sendiri tak mau satu kamar dengannya, kan? Maka Andini akan keluar dari hotel ini untuk mencari hotel lain.


 Tapi, demi menjaga marwah suaminya. Andini akan tetap di kota ini sampai beberapa hari ke depan. Lalu, dia akan pulang ke Jakarta dan mengatakan pada Maryam bahwa semuanya baik-baik saja. Sementara, Andini harus pandai bersandiwara walau tak tahu sampai mana batasnya.


 Andini pun keluar dari kamarnya menuju lift yang ada di koridor tengah sebelah kiri. Ia pun berjalan pelan sembari menggeret koper tersebut.


 Sesampainya di depan pintu lift, pas sekali pintu itu terbuka karena membawa dua penumpang yang satu diantaranya seperti tengah mabuk. Pria itu merocos dan mengaduh dengan tangan yang memeluk erat pinggang wanita di sampingnya.


 Briana yang baru saja keluar hanya melihat sekilas wanita bercadar yang berdiri di hadapan pintu. Tangannya sendiri sedang sibuk menopang tubuh pria ini agar tidak jatuh. Sementara, Andini terperangah..


 Pria yang sedang dirangkul oleh wanita lain itu adalah suaminya, Andra. Apalagi Briana membawa Andra ke sebuah kamar yang berada tak jauh dari sana.


 "Jadi mereka benar memiliki hubungan.." gumam Andini sedih. Ia lalu masuk ke lift tanpa memperdulikan Andra lagi.


Saat ibu menikah lagi

 


Cika, pulang sekarang! Ibu akan jelasin semuanya.


​Pesan singkat itu masuk untuk yang kesepuluh kalinya, disusul panggilan telepon yang langsung kuma tikan begitu saja. Aku tidak peduli.


​Aku terus berjalan menyusuri trotoar dengan air mata yang mengalir deras, membiarkan da daku se sak oleh um patan yang tertahan di tenggorokan.


​“Gimana bisa Ibu kepikiran buat nikah lagi? Kenapa harus secepat ini, Bu?!“ bisikku histeris pada angin malam.


“Ayah kurang apa sama Ibu? Ayah selalu nurutin semua maunya Ibu, banting tulang sampai sakit-sakitan demi kita! Kenapa Ibu tega banget ngelakuin ini sama Ayah?!“


​Pikiranku terus berputar pada sosok Ayah yang selalu pulang dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum lembut setiap kali melihat Ibu.


Di mataku, Ayah adalah laki-laki paling tulus. Lalu sekarang, belum genap setengah tahun Ayah tertimbun tanah, Ibu sudah mau membawa laki-laki lain tidur di bekas tempat tidur Ayah?


​“Ibu e gois! Ibu cuma mikirin diri Ibu sendiri! Ibu nggak pernah sayang sama Ayah, Ibu cuma sayang sama ua ngnya!“ runtuh sudah pertahananku.


Aku menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan, membiarkan beberapa orang yang lewat menatapku kasihan. Tapi perse tan dengan tatapan mereka. Dunianya tidak sedang han cur seperti duniaku.


​Saat bus yang kunaiki berhenti di batas kota, ego remaja dalam diriku menolak keras untuk pulang ke rumah. Rumah itu sudah berubah menjadi ne raka. Aku tidak su di melihat wajah Ibu yang terus memak sa menikah dengan Om Putra.


​Pikiranku langsung berputar, mencari tempat pelarian lain. Aku memu tuskan untuk pergi ke rumah saudara-saudara Ayah. Meski aku tidak terlalu dekat dan jarang berkomunikasi dengan mereka sejak Ayah meninggal, aku sangat yakin hanya mereka yang bisa membantuku menyadarkan Ibu. Mereka seda rah dengan Ayah, mereka pasti sama terlu kanya denganku jika tahu martabat almarhum Ayah diinjak-injak oleh Ibu.


​Aku segera memesan ojek online dan meminta diantarkan ke rumah Om Fito dan Tante Mila. Om Fito adalah adik kandung nomor dua dari almarhum Ayah.


​Sesampainya di depan pagar rumah mereka yang bernuansa asri, aku mengetuk pintu dengan harapan akan mendapat pelukan hangat dari pengganti sosok Ayah. Namun, pintu terbuka dan aku justru disambut dengan tatapan kaku oleh Tante Mila.


​“Eh, Cika? Tumben ke sini? Mana ibumu?“ tanya Tante Mila, matanya melirik ke arah belakangku, mencari-cari keberadaan mobil atau sosok Ibu.


​“Aku sendiri, Tante,“ jawabku lesu. Bahuku merosot. Aku sangat berharap minimal diajak masuk atau dirang kul untuk menenangkan hatiku yang sedang patah.


​“Sen-sendiri?“ Tante Mila tampak terkejut, ekspresi wajahnya berubah aneh dan tidak nyaman.


​“Memangnya kenapa, Tante? Aku nggak disuruh masuk? Udah mau gelap ini, Tan,“ ujarku blak-blakan.


​“Eh iya, ayo masuk, Cik!“ Tante Mila buru-buru menggeser tu buhnya, mempersilakan aku masuk dengan gestur yang dipak sakan.


​Aku melangkah masuk mendahului Tante Mila dan langsung mengempaskan tu buhku di sofa ruang tamu. Aku terpak sa bersikap sok dekat dan sok santai, karena nyatanya, hubunganku dengan keluarga Ayah memang tidak pernah luwes sejak dulu akibat Ibu yang jarang mau diajak berkumpul dengan mereka.


​Tante Mila duduk di sofa seberangku, menatapku dengan pandangan menyelidik. “Apa ada sesuatu, Cika? Ada ma salah di rumah?“


​“Aku mau bicara sama Om Fito, Tan. Kapan Om Fito pulang?“ tanyaku tanpa basa-basi, mengabaikan pertanyaannya.


​“Sebentar lagi juga pulang, jam segini biasanya sudah di jalan. Ya sudah, kamu tunggu aja dulu di sini,“ sahut Tante Mila, nadanya masih terdengar canggung.


​“Boleh aku rebahan, Tante? Aku capek banget,“ kataku sambil memijat pelipisku yang pening setelah seharian menangis dan naik transportasi umum.


​“Boleh, Cik, silakan,“ jawab Tante Mila kaku. Dia bangkit berdiri dari sofanya. “Tante tinggal ke belakang dulu ya, Cik.“


​“Iya, Tan.“


​Tante Mila meninggalkanku sendirian di ruang tamu yang sepi. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan gemuruh di da daku, hingga tanpa sadar waktu berlalu cukup lama. Kerongkonganku mulai terasa sangat kering dan haus. Karena tidak ada tanda-tanda Tante Mila akan mengantarkan minum, aku akhirnya bangun dari sofa dan berjalan pelan menuju ke arah dapur.


​Namun, baru saja langkahku sampai di dekat lorong dapur, aku mendadak menghentikan langkah. Suara Tante Mila yang sedang berbicara di telepon terdengar sangat jelas dari balik sekat ruangan.


​“Kurang tahu, Mas. Makanya kamu cepetan pulang! Siapa tahu Mbak Linda emang nyuruh Cika ke sini buat nganterin wa ri san bagianmu!“ ucap Tante Mila di seberang telepon dengan nada suara yang berbisik namun penuh am bisi.


​Aku mematung. Jan tungku seperti berhenti berdetak seketika.


​“Kan Kakakmu itu nggak punya ank laki-laki, cuma ada Cika. Jadi secara hukum, masih ada jatah wa risanmu dari rumah dan kontrakan yang di sana itu, Mas! Jangan sampai Mbak Linda kuasain semuanya sendiri!“ lanjut Tante Mila berapi-api.


​Apa? Wa risan? Bagian Om Fito?


​Seluruh badanku mendadak dingin dan kaku. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk mataku. Da daku rasanya seperti dihantam batu besar sampai re muk.


​“Iya, aku tunggu. Cepetan ya, Mas! Aku nggak tahu mau ngobrol apa sama Cika dari tadi, anknya diam aja kayak orang linglung,“ keluh Tante Mila sebelum menutup teleponnya.


​Aku melangkah mundur dengan sangat perlahan, berhati-hati agar langkah kakiku tidak menimbulkan suara. Rasa haus yang tadinya menyik sa tenggorokanku mendadak hilang tak berbekas, digantikan oleh rasa mu al yang teramat sangat.


​Aku buru-buru kembali ke ruang tamu, meraih tas sekolahku dengan tangan yang gemetaran hebat. Tanpa pamit, tanpa mengeluarkan suara, aku langsung memutar knop pintu depan dan pergi melesat keluar dari rumah Om Fito.


​Aku berjalan menyusuri jalanan kompleks yang mulai gelap dengan hati yang makin han cur. Han cur sean cur-an curnya sampai tidak ada lagi bagian yang utuh.


​“Wa risan? Kok bisa-bisanya Tante Mila kepikiran wa risan Ayahku di saat aku lagi kayak gini?“ bisikku lirih di tengah isak tangis yang kembali pe cah.


​Ternyata dugaanku salah besar. Tidak ada satu pun orang dewasa yang tulus di dunia ini. Ibu sibuk mencari pemu as naf su dengan laki-laki lain, sedangkan keluarga Ayah yang kuharap bisa menjadi pelindung, ternyata hanya mengincarku sebagai kurir pembawa har ta wari san. Mereka semua sama saja. Manusia-manusia se ra kah yang bermuka dua!


​Aku berjalan tanpa arah di bawah temaram lampu jalanan, memeluk tas sekolahku erat-erat seperti memeluk sisa-sisa har ga diriku yang tersisa. Aku tidak tahu lagi harus bersandar ke siapa sekarang. 


Hidupku benar-benar terasa ki amat sejak Ayah mening gal, dan diperparah oleh Ibu yang egois. Aku sendirian di dunia ini. Benar-benar sendirian.


​Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di samping trotoar tempatku berjalan. Kaca mobilnya perlahan turun, menampilkan sosok laki-laki.


​“Dek, malam-malam nangis di pinggir jalan sendirian. Mau saya antar pulang?“


Bersambung 

Kado perpisahan buat suami




Malam itu berlalu dengan penuh kegadvhan. Aku mendengar Mas Aris mema ki-ma ki opera tor laya nan pelang gan di telepon, sementara Bu Ratna sibuk mengipasi dirinya dengan majalah, mengeluh betapa panasnya udara tanpa AC. Mereka tidak

tahu bahwa ini baru permulaan. Tanpa listrik, pompa air otomatis pun ma ti. Besok pagi, rumah mewah ini tidak akan berbeda dengan bangunan kosong yang ma ti suri.


Namun, tubvhku tampaknya tak sekuat men talku. Teka nan ba tin selama berhari-hari, ditambah kehujanan saat ke ba nk tadi siang dan tampa ran keras Mas Aris, membuat pertahananku runtuh. Tengah malam, kepalaku mulai berdenyut hebat. Seluruh sendiku terasa ngilu, dan da daku sesak. Aku menggigil hebat di balik selimut tipis, sementara Mas Aris tidur memunggungiku di sisi ran jang yang lain, tetap tidak peduli meski napasku terdengar berat.


Pagi datang dengan cahaya matahari yang menusvk celah gorden, tapi tubvhku terasa seperti dihim pit bongkahan batu besar. Mataku panas, tenggorokanku kering seperti padang pasir. Saat aku mencoba ba ngkit, dunia di sekitarku berputar hebat.


"Maya! Maya! Bangun!"


Pintu kamar digeb rak ka sar. Suara Mas Aris menggelegar, membuyarkan kesadaranku yang masih samar.


"Sudah jam setengah tujuh! Kenapa belum ada bav masakan di dapur? Air di kamar man di juga ma ti! Kamu sengaja ya mau menyik sa kami?"


Aku berusaha duduk, mengumpulkan tenaga yang tersisa. "Mas! Kepalaku sakit sekali. Badanku panas..." suaraku hanya keluar seperti bisikan parau.


Mas Aris melangkah mendekat, tapi bukannya menyentvh keningku untuk memeriksa suhu tubvh, dia justru menarik selimutku hingga terlempar ke lantai.


"Jangan akting!" bentaknya. "Aku tahu ini caramu protes karena masalah kemarin, kan? Kamu mau memba las den dam karena perhiasan itu disi ta Ibu? Kekanak-kanakan sekali kamu, Maya!"


Aku menatapnya dengan pandangan kabur. Wajah suamiku, pria yang dulu berjanji akan menjagaku di depan Papa, kini tampak seperti orang asing yang sangat menakvtkan. Tidak ada secercah pun rasa iba di matanya, yang ada hanya kemarahan karena kenyamanannya terganggu.


"Aku benar-benar sakit, Mas! Tolong, be likan ob at atau panggilkan dokter," rintihku, air mata mulai mengalir karena rasa sakit yang tak tertahankan di kepalaku.


"Dokter? Kamu pikir cari ua ng itu gampang? Ua ng belanja satu jvta saja sudah habis kamu buat apa sampai ba yar listrik saja tidak becvs!" Mas Aris menceng kram rahangku, memak saku menatapnya. "Dengar ya, aku tidak mau tahu. Aku ada rapat penting pagi ini. Mandi tidak bisa karena air ma ti, setidaknya siapkan sarapan dan kopi untukku dan Ibu! Cepat!"


Ia menghem paskanku kembali ke bantal. "Dasar istri tidak bergvna! Baru sakit segitu saja sudah mengeluh. Lihat Sarah, dia wanita karir yang sibuk tapi tetap terlihat segar dan energik. Tidak seperti kamu, yang cuma di rumah saja lembek begini!"


Setelah mengucapkan kalimat yang menya yat hati itu, dia keluar sambil memban ting pintu.


Dengan sisa tenaga yang ada, aku menye ret kakiku menuju dapur. Setiap langkah terasa seperti menginjak duri. Di ruang tengah, aku melihat Bu Ratna sedang duduk di sofa dengan wajah cemberut, menatap cermin kecil sambil memoles bedak.


"Nah, ini dia tuan putrinya baru keluar!" sindir Bu Ratna tanpa menoleh. "Maya, air ma ti! Ibu tidak bisa man di! Cepat ambil air di tandon belakang pakai ember atau apa saja. Badan Ibu sudah gatal-gatal!"


"Aku sakit, Bu! Tidak kuat angkat ember."


"Alasan!" Bu Ratna berdiri, menghampiriku dan mendo rong bahuku hingga aku terbentvr pinggiran meja makan. "Jangan jadi pema las! Kamu itu menantu, tugasmu mela yani! Kalau air ma ti, ya usaha! Jangan cuma mengeluh. Cepat buatkan sarapan, Aris mau berangkat!"


Aku memegang pinggiran meja, berusaha tetap berdiri. Di dapur, aku menyalakan kompor gas. Tanganku gemetar hebat saat memegang wajan. Aku hanya sanggup memecahkan dua butir telur, tapi aroma minyak goreng membuat perutku mual luar biasa.


Tiba-tiba, suara klakson mobil berbunyi dari depan rumah. Itu bukan suara mobil Mas Aris.


"Aris! Itu Sarah sudah datang menjemput!" seru Bu Ratna kegirangan.


Mas Aris keluar dari kamar dengan jas rapi, wajahnya langsung cerah seketika.


"Oh, dia sudah sampai? Baguslah, aku memang malas menyetir pagi ini karena tidak man di."


Ia masuk ke dapur sebentar, melihat telur yang baru setengah matang di wajan, lalu mendengvs ji jik. "Lama sekali! Sudah, tidak usah sarapan! Aku sarapan dengan Sarah saja di kantor. Kamu benar-benar pa yah, Maya! Menggoreng telur saja tidak becvs, apalagi mengurvs suami."


"Mas! Kamu mau pergi?" tanyaku lirih, menatap punggungnya. "Aku menggi gil, Mas! Tolong..."


Mas Aris berhenti sebentar, tapi tanpa menoleh dia berkata, "Jangan manja! Kamu kan sudah besar. Kalau memang sakit, minum air putih yang banyak. Aku pergi dulu. Oh ya, jangan lupa bersihkan rumah, debunya sudah tebal. Malu kalau nanti

sore Sarah mampir lagi."


Dan begitu saja, dia pergi. Meninggalkanku yang sedang berjuang melawan kesadaran yang kian menipis. Aku mendengar suara tawa Sarah dari luar, lalu suara deru mobil yang menjauh. Bu Ratna pun ikut keluar, kabarnya mau ikut Sarah ke butik karena di rumah panas dan tidak ada air.


Aku ditinggalkan sendirian di rumah besar yang sunyi ini dalam kondisi de mam yang memba kar seluruh tubvhku.


Aku mencoba mema tikan kompor, tapi pandanganku tiba-tiba menjadi gelap total.


Ribuan bintang seolah menari di depan mataku. Rasa mval itu memvncak, dan hal terakhir yang kudengar adalah suara denting wajan yang jatuh ke lantai sebelum tubvhku menyentvh ubin dapur yang dingin.


Aku menyerah, entah berapa lama aku tergeletak di sana. Namun, sayup-sayup aku mendengar suara

pagar yang dibuka paksa. Langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat.


"Non? Non Maya!"


Suara itu, aku mengenalnya. Itu bukan suara Aris. Bukan pula suara dingin mertuaku.


Pintu dapur terbuka dengan ban tingan keras.


"Astaga, Non!"


Aku merasakan tangan yang kuat dan kas ar namun penuh kehati-hatian mengangkat kepalaku. Seseorang sedang menepuk pipiku dengan panik.


"Pak Dirman?" bisikku sangat pelan, nyaris tak terdengar.


"Iya, Non! Ini saya! Ya Tuhan, badan Non panas sekali! Kenapa Non bisa begini? Di mana si Aris itu?" suara Pak Dirman bergetar karena marah dan panik.


Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa merasakan air mata hangat jatuh dari sudut mataku. Pak Dirman, sopir pribadi Ayahku yang biasanya datang diam-diam untuk mengantar kiriman makanan dari Papa, kini menatapku dengan wajah pucat pasi.


"Sabar ya, Non! Saya bawa ke rumah sakit sekarang. Saya sudah bilang ke Tuan Surya kalau ada yang tidak beres dengan rumah ini karena lampu jalan ma ti semua, makanya saya nekat masuk lewat pagar samping," Pak Dirman menggen dongku dengan sigap.


Saat ia membawaku keluar melewati ruang tamu, ia melihat kekacauan di rumah itu. Piring kotor yang berserakan, baju-baju yang dilempar dari kamar oleh Bu Ratna kemarin, dan suasana rumah yang seperti kapal pecah.


"Kurang ajar!" umpat Pak Dirman pelan. "Mereka memperlakukan putri tunggal Tuan Surya seperti ini? Mereka benar-benar bosan hidup."


Pak Dirman memasukkanku ke dalam mobil mewah yang terparkir di luar pagar. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang kembali, aku melihatnya mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Halo, Tuan? Iya, ini saya Dirman. Non Maya pingsan, Tuan! Badannya panas sekali. Di rumah ini, sepertinya Non Maya diperlakukan lebih burvk

dari pela yan di sini. Saya akan bawa ke Rumah Sakit Medika sekarang."


Ada jeda sebentar, lalu aku mendengar suara Pak Dirman lagi, kali ini dengan nada yang sangat tegas.


"Siap, Tuan! Saya mengerti! Saya akan panggil tim hukum dan tim keamanan sekarang juga untuk mengosongkan as et. Baik, Tuan! Mereka tidak akan tahu apa yang menimpa mereka besok pagi."


Aku memejamkan mata dengan tenang. Papa sudah tahu dan jika Papa sudah turun tangan, maka badai yang sebenarnya baru saja dimulai bagi Aris dan ibunya.

Ceraikan suami

 



Meski diambil diam-diam dan dari posisi menyamping, aku mengenali perempuan bersama suamiku yang mengenakan hijab panjang menjuntai menutup punggung.


Perempuan itu bernama Rosa.


Dulu, beberapa kali bertemu saat aku masih aktif mengikuti kajian.


Apa maksud semua ini?


Saat kepalaku sibuk mencerna mengapa Mas Hangga bersama Rosa di restoran itu, video dari Wina masuk.


"Ania... maaf. Aku baru berani memberitahumu sekarang.”


Dengan jari gemetar aku ketuk layar.


Duar!


Petir yang sangat keras seolah menghantam tubuhku.


Dalam video, Mas Hangga menyuapkan makanan ke Rosa seraya tersenyum. Senyum yang tak pernah lagi kutemukan saat dia bersamaku. Perempuan itu balas tersenyum seraya menunduk malu.


Mas Hangga menyodorkan kotak beludru merah berisi perhiasan ke Rosa. Senyum yang mengembang di bibir perempuan itu laksana sembilu yang disayat ke jantungku.


Tubuh bergetar menahan emosi.


“Kamu berhak tahu. Please, jangan bilang aku yang kasih tahu semua ini.”


Pesan Wina kubaca dengan mata lamur karena mataku dihiasi kaca-kaca yang siap tumpah.


Dada bergolak hebat.


Jadi, Mas Hangga bukan ikut kajian tapi bertemu perempuan itu?


Sudah berapa lama?


Apa selama ini kajian hanya dalih mereka untuk bertemu?


Oh, dadaku terasa sesak hingga susah bernapas.


Aku memukul dada berulangkali. Berharap sakit yang terasa sedikit terurai.


Mas Hangga pernah melontarkan kekagumannya pada Rosa yang selalu  berpenampilan syar’i.


"Rosa itu perempuan salihah meski dia tulang punggung keluarganya.”


"Dia lemah lembut."


“Selalu menjaga pandangan ke lawan jenis.”


"Perempuan patuh seperti dia sekarang sudah jarang ada.”


Pertahananku runtuh. Aku terisak.


Image Mas Hangga sebagai suami soleh, taat ibadah lenyap di kepalaku. Lelaki yang rutin ikut kajian katanya untuk menambah ilmu agama. Ternyata itu kedok belaka.


Pesan Wina kembali masuk


"Kudengar, tak lama lagi mereka akan menikah.”


HP hampir terlepas dari genggamanku.


Menikah?


Kuraup udara sebanyak-banyaknya.


“Demi nama Allah, Ania. Aku melakukan ini bukan ingin rumah tanggamu hancur, tapi aku tak terima kamu diperlakukan seperti ini. Hangga mengatakan ke semua anggota kajian kamu setuju dipoligami. Ada pernyataan tertulis yang kamu tanda-tangani, tapi aku lihat sendiri jalan yang dia pilih jelas melenceng dari ajaran agama.”


Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.


Mas Hangga sangat rapih menyimpan kebusukannya. Dia mengatur semua dengan sangat baik hingga aku tak mencium bau bangkai sedikit pun. Atau aku yang terlalu naif?


Wina tak mungkin berbohong.


Dia seorang istri. Sama sepertiku.


Aku begitu bodoh sangat mempercayainya selama ini.


“Makasih, Wina. Aku jadi paham mengapa suamiku berubah,” balasku.


Baru kali ini aku merasakan rasa sakit yang tak bisa kuungkapkan. Rasanya seperti belati yang ditancapkan dalam-dalam ke jantungki


Sakit tak terperi.


Air mata kubiarkan berlesakan.


Berbulan-bulan aku mengurus dan menjaga ibunya tanpa keluhan. Mematuhi larangannya tidak keluar rumah agar Ibunya terlayani dengan baik. Di saat aku berjuang demi kesembuhan Ibunya, Mas Hangga justru tengah menyiapkan rumah tangga baru bersama perempuan lain.


Aku percaya penuh padanya hingga bukti yang baru saja dikirimkan Wina membuktikan suamiku adalah lelaki yang tak pantas untuk dipercayai.


Kedua tanganku mengepal.


Tidak, Mas.


Kamu salah menilaiku.


Aku tak selemah yang kamu pikirkan.


“Nia ... minum ....”


Suara Ibu terdengar lirih, tapi aku belum punya daya untuk berdiri.


Tenagaku habis tak bersisa mengetahui kenyataan Mas Hangga berkhianat hingga berencana menikahi perempuan lain.


Kutatap foto pernikahanku dan Mas Hangga yang tergantung di dinding rumah.


Inikah balasan atas semua pengorbananku?


Aku tertawa dengan dada sakit.


“Nia ... hauss ....”


“Nia ....”


Kutarik napas.


Menyusut air mata dengan ujung baju lalu berdiri.


Melangkah ke kamar Ibu.


Di depan pintu yang terbuka kulihat tangan lemah Ibu mencoba menggapai gelas berisi air di dekatnya. Tak lama tangan keriput itu lunglai ke bawah.


Aku mendekat.


Membantu perempuan yang kurawat penuh kasih itu minum melepas dahaganya.


Kemarahan yang menjajah hati sekuat tenaga kusembunyikan.


Ibu tak bersalah.


Tak bijak kulampiaskan emosi pengkhianatan Mas Hangga pada Ibunya.


Perempuan renta ini memperlakukanku dengan baik. Sayang Allah memberinya ujian sakit di usia tua seperti ini.


Aku keluar.


Menutup pintu rapat setelah memastikan Ibu kembali tidur.


Aku duduk di kursi dengan pikiran berkecamuk.


Dua kali teleponku tak direspon.


Apa Mas Hangga sedang bersama Rosa?


Emosi kembali menghantamku.


Dadaku menggelegak oleh amarah juga cemburu.


Kutarik napas panjang berulangkali.


Apa yang harus kulakukan?


Minta cerai?


Pergi dari rumah ini?


Tenang, Ania.


Amarah dan kepanikan tak akan membantu.


Pikirkan sesuatu.


Sesuatu yang membuat Hangga dan perempuan itu menerima rasa malu yang tak terhingga.


Sesuatu yang tak mereka pikir sanggup kamu lakukan.


Benar.


Siasat licik Mas Hangga harus kuimbangi dengan strategi.


Klek!


Pintu rumah terbuka.


Amanda pulang.


Wajahnya menekuk.


Dia melempar odner plastik ke atas meja dengan kasar.


Kertas di dalamnya berhamburan.


“Mbak, buatin aku kopi!”


Suaranya menggema memenuhi ruang tengah.


Aku tak menjawab.


Yang sudah-sudah kuturuti keinginannya bukan karena takut, tapi ingin mengakraban diri dengan adik bungsu suamiku.


Setelah rencana pernikahan diam-diam yang tengah Mas Hangga susun di belakangku, aku tak peduli apa pun lagi.


Yang utama sekarang aku harus mencari tahu kapan tepatnya Mas Hangga menikahi perempuan salihah bernama Rosa itu.


Aku berdiri dari kursi.


Melewati Manda begitu saja.


“Mbak! Aku minta kopi!” Ulangnya kesal.


Aku menoleh. Menatap wajah adik ipar yang berlipat.


“Aku capek, mau istirahat,” jawabku dingin.


“Capek? Emangnya abis nyangkol? Di rumah doang aja bilangnya capek!”


Di rumah doang katanya?


Balasan untuk suami


 “Kenapa Mas baru pulang?” 


Luna menjrit dari dalam rumah begitu pintu utama terbuka. 


“Cepat u s i r anak-anak perempuanmu itu sekarang juga, atau aku yang pergi dari rumah ini!”


Sultan baru melangkah masuk. Jasnya masih melekat di bahu, dasinya sedikit longgar, aroma parfum mahal bercampur sisa malam gala dinner masih menempel di tvbuhnya.


Belum sempat ia melepas sepatu, Luna sudah berdiri di ruang tengah dengan daster sutra merah yang kusut. Rambutnya berantakan, pipinya basah, satu tangannya menunjuk ke lantai dua.


Aisyah menyusul beberapa langkah di belakang Sultan. Kebaya hitamnya masih rapi. Ia berhenti di ambang ruang tengah, melipat tangan di depan dada, menatap gvndik suaminya seperti menonton adegan yang sudah ia hafal ujungnya.


“Ada apa?” Sultan menghampiri Luna. Suaranya turun, tapi dahinya berkerut.


“Malam-malam begini kenapa teriak-teriak?”


“Gimana aku nggak teriak, Mas?” 


Luna memvkul dada lelaki di depannya pelan, lalu merems kemejanya. 


“Anak-anak perempuanmu itu sengaja menyalakan musik keras-keras. Aku tegur baik-baik, Nadira malah menyiram wajahku pakai air.”


Luna mengangkat wajah, memastikan Sultan melihat matanya yang basah.


“Dia bilang gvndik sepertiku tidak berhak mengatur rumah ini. Mereka sengaja mau bikin aku kegvgvran, Mas.”


Mendengar itu, jari Sultan berhenti di bahu Luna.


Dari kamar tamu lantai bawah, pintu terbuka kasar. Bu Nurma keluar dengan rambut acak-acakan dan wajah masam.


“Benar, Sultan!” serunya. 


“Ibu juga tidak bisa tidur. Anak-anak itu makin kurang ajar. Sama seperti ibunya.”


Tatapan Bu Nurma langsung menancap ke Aisyah.


“Tadi sore si bungsu mempermalukan Ibu di depan teman ar1san. Malam ini si sulung mau mencelakai calon cucu laki-lakiku. Kalau mereka tidak diusir malam ini, Ibu yang pergi dari sini.”


Sultan menarik napas t a jam. Punggungnya menegang. Pujian dari wali kota, tepukan ketua partai, dan tawa para pengusaha yang tadi membuat dadanya penuh, mendadak terasa dicoreng oleh dua anak perempuannya sendiri.


Ia melirik istri tuanya.


Wanita itu masih berdiri tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya takut kehilangan tempat pulang.


Sultan tidak suka ketenangan itu. Sejak dulu, ia lebih nyaman melihat Aisyah menunduk, menjawab seperlunya, dan membiarkan semua orang mengira rumah ini berdiri karena kerja kerasnya. 


Diam Aisyah malam ini bukan seperti itu. Diamnya terlalu bersih dari rasa takut.


“Anak-anak itu benar-benar tidak bisa dididik,” geramnya.


Luna menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Bu Nurma menegakkan dagu, seolah keputusan sudah berada di pihaknya.


Sultan melepas pelukan istri mudanya, lalu menaiki tangga dengan langkah berat. 


Setiap hentakan sepatunya terdengar di ruang tengah. Tidak lama kemudian, suara pintu dibuka keras disusul bentakan dari lantai dua.


Aisyah tidak bergerak.


Luna menatapnya dengan mata merah, tetapi senyumnya mulai muncul.


“Kamu lihat, Mbak? Anak-anak Mbak akhirnya kena batunya.”


Aisyah menoleh pelan.


“Aktingmu lumayan, Luna. Sayang sekali, pialanya tidak dibagikan di rumah ini.”


Wajah Luna berubah. Kesal karena wanita paruh baya di depannya tidak menangis. Malah menunjukkan reaksi biasa saja.


“Ini semua gara-gara Mbak. Mbak sengaja nyuruh mereka neror aku, kan? Sadar diri dong. Mas Sultan sudah muak sama kalian.”


Aisyah menarik napas dalam, menatap perut Luna sebentar, lalu kembali ke wajahnya.


“Kalau kandunganmu selemah itu, jangan jadikan dia senjata untuk merebut rumah orang.”


“Mbak Aisyah!”


Suara benda terseret dari lantai dua mem0tong teriakan Luna.


Sultan turun dengan wajah merah. Kedua tangannya menarik koper besar, satu bermotif polkadot, satu biru muda. 


Di belakangnya, Nadira dan Rania mengikuti dengan wajah kesal. Tidak ada air mata di pipi mereka. Tidak ada tangan gemetar.


Yang ada hanya tatapan yang sudah terlalu lelah untuk kecewa.


Sampai di ruang tengah, Sultan melemparkan dua koper itu ke dekat kaki Aisyah.


“Bawa anak-anak kurang ajar ini pergi dari rumahku!” bentaknya. “Malam ini juga.”


Aisyah menunduk melihat koper itu, lalu mengangkat wajah.


“Mengvsir anak kandvngmu sendiri tengah malam, Mas? Hanya karena tangisan gvndikmu?”


Rahang Sultan mengeras.


“Jaga mulutmu. Luna istriku, dan dia sedang mengandvng pewarisku.”


“Pew4ris?” Nadira mendengkus kecil.


Sultan menoleh t a j a m.


“Kamu diam!”


Nadira mengangkat kedua tangan, tapi bibirnya masih melengkung tipis.


Sultan kembali menatap Aisyah. D a d a nya membusung, seperti setiap kata yang keluar dari mulutnya harus diterima sebagai hukum.


“Dengar baik-baik, Ais. Mulai detik ini, aku tidak svdi menampvng kalian di rumahku lagi. Bawa mereka pergi. Kalian bertiga pantas hidup berdesakan di ruko sempit itu.”


Ia menunjuk pintu keluar.


“Biar anak-anakmu tahu rasanya hidup tanpa aku. Setelah surat kuasa tadi pagi, kamu tidak punya apa-apa lagi. Harusnya kamu bersyukur aku masih membiarkan kalian tidur di ruko.”


Sultan menunggu. Matanya menyapu wajah Aisyah, lalu dua putrinya, seolah mencari tanda retak. Ia menunggu isak tangis. Ia menunggu kata maaf. Ia menunggu Aisyah menurunkan harga diri dan mengakui bahwa hidup tanpa dirinya tidak mungkin dilalui.


Tidak ada satu pun yang datang.


Luna segera mendekat, memeluk lengan Sultan. Tubuhnya menempel seolah ingin menunjukkan tempat barunya.


“Benar, Mas. Biar mereka tahu rasa.” 


Luna menatap Nadira dan Rania dari atas ke bawah. 


“Selamat menikmati ruko sempit, ya. Tante akan tidur nyenyak malam ini di kasur empuk kamar utama di rumah ini.”


Bu Nurma tertawa pendek. 


Bukannya iba, ia malah sengaja ikut meremahkan dua cucu perempuan yang dianggapnya tak berguna itu.


“Akhirnya ben4lu-ben4lu ini sadar diri juga,” ejeknya tanpa sungkan.


Bukannya menangis, Nadira malah melirik Rania. Keduanya saling menahan senyum.


“Tidur yang nyenyak ya, Tante,” ucap Nadira santai. 


“Puas-puasin. Jangan lupa bantalnya dielus-elus.”


Rania mengangguk.


“Nenek juga. Tidur yang nyenyak. Jangan bangun terlalu pagi, nanti kaget.”


Sultan menyipit. Reaksi itu tidak sesuai bayangannya. Ia ingin melihat putri sulungnya menangis, gadis bungsunya memeluk kaki bunda mereka, dan Aisyah meminta belas kasihan.


Namun ketiganya berdiri seperti orang yang sudah menunggu saat ini datang.


Aisyah merentangkan tangan. Nadira dan Rania langsung mendekat. Ia memelvk pinggang kedua putrinya, lalu mencivm puncak kepala mereka bergantian.


“Ayo, Nak. Kita pulang ke tempat yang seharusnya.”


“Pulang ke ruko kan?” ejek Bu Nurma.


“Masih juga numpang di ruko Sultan,” katanya percaya diri.


Aisyah tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab.


Ting!


Notifikasi ponsel Aisyah berbunyi dari dalam tas pesta. Ia mengambilnya, membaca pesan singkat dari Mahendra.


[Trnsaksi selesai. Pembeli sudah menerima d0kumen. Uwang muka lunas. Besok pukul tujuh, tim pengosongan datang bersama aparat.]


Aisyah mengunci layar.


Sultan masih berdiri dengan dagu terangkat. Tangannya melingkari bahu Luna, seperti raja yang baru saja mengusir rakyat dari istananya sendiri.


“Kau tersenyum?” ejeknya. “Jatuh m1skin membuatmu g i l a, Aisyah?”


Aisyah menarik pegangan koper Nadira. Sebelum melangkah, ia menatap Sultan sekali lagi.


“Pastikan kalian tidur nyenyak malam ini, Mas.”


Sultan mengerutkan dahi.


“Apa maksudmu?”


“Dan pastikan gvndikmu mulai mengemas barangnya dari sekarang.”


Luna menegang.


“Apa-apaan sih, Mbak? Jangan ngelantur. Mbak yang divsir, kenapa aku yang harus berkemas?”


Aisyah menatapnya tanpa berkedip.


“Karena besok pagi tepat pukul tujuh, pemilik baru rumah mewah yang kamu banggakan ini akan datang bersama aparat untuk mengvsir kalian ke jalanan.”


Mertua


 Saran dari Ibu Sofia barusan bukanlah sebuah permohonan, melainkan perintah yang dibungkus dengan desisan tajam. Matanya melotot, memberikan isyarat agar Halimah segera lenyap dari pandangan sebelum puluhan pasang mata di sekitar mereka menyadari ada riak besar di balik kemegahan acara khitanan ini.


​Halimah tidak mundur selangkah pun. Dia justru menarik napas dalam, merasakan udara aula yang mendadak terasa begitu tipis. Alih-alih menunjukkan gurat kesedihan atau ketakutan, Halimah justru menyunggingkan senyum terbaiknya. Sebuah senyuman santun yang amat tenang, jenis senyuman yang biasa digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.


​"Baik, Bu," ucap Halimah. Suaranya tidak melengking, tidak juga bergetar. Nada suaranya diatur sedemikian rupa agar tetap terdengar jelas oleh Bibi Lastri dan beberapa kerabat yang masih berdiri menyemut di dekat tangga pelaminan.


​Halimah memiringkan tubuhnya sedikit, lalu menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat kehabisan darah. "Mas Joni, Ibu meminta aku pulang sekarang. Katanya kehadiran aku dengan gamis lungsuran ini tidak cocok berada di tengah keluarga besar kalian yang semuanya serba hijau sage."


​"Halimah! Jaga mulutmu!" bentak Joni dengan suara tertahan. Tangannya mengepal di dalam saku celana, menahan malu yang teramat sangat karena beberapa sepupunya kini mulai terang-terangan menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik.


​"Aku hanya menyampaikan kembali pesan Ibu, Mas," sahut Halimah lembut. "Aku pamit pulang duluan ke rumah kontrakan kita. Kamu mau tetap di sini menikmati hidangan prasmanan, atau mau ikut istrimu pulang?"


​Tanpa menunggu jawaban dari suaminya yang sudah kehilangan kata-kata, Halimah membalikkan badan. Sebelum melangkah, dengan gerakan yang sengaja diperlambat, dia merapikan helaian jilbab marunnya ke depan bahu. Tindakan sederhana itu secara otomatis membuat kertas label harga Rp2.450.000 yang masih menggantung di lipatan kerah belakang gamisnya kembali berayun bebas, terpampang nyata di hadapan semua orang.


​Halimah melangkah pergi dengan punggung tegak dan dagu terangkat. Setiap ketukan pantofelnya di atas lantai marmer aula seolah menjadi melodi penutup dari delapan tahun masa penindasan yang dia terima dalam diam.


​Di belakangnya, suasana aula tidak lantas kembali normal. Bibi Lastri segera memanfaatkan momentum itu. Dengan suara lantang yang sengaja dikeras-keraskan, dia mendekati Ibu Sofia yang wajahnya sudah sekaku patung lilin diterpa udara panas.


​"Lho, Mbak Sof, kok menantumu disuruh pulang?" tanya Bibi Lastri, pura-pura heran padahal matanya berkilat puas. "Lho, Mbak Sofia kok menantunya disuruh pulang. Kasihan loh Halimah udah capek datang kesini ternyata kamu usir hanya karena bajunya gak seragam sama kalian. Lagian aneh, baju seragam pas nikahan Siska kok baru dikasih kemarin setelah acaranya selesai. Terus sekarang Halimah gak dapet seragam baru seperti yang kalian pakai!"


​Ibu Sofia hanya bisa menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Gengsinya yang selama ini setinggi langit runtuh berkeping-keping di hadapan para besan dan kerabat luar kota yang mulai ikut memperhatikan mereka. Mas Doni, sang pemilik hajat, buru-buru membuang muka dan berpura-pura sibuk menyapa tamu lain untuk menghindari tatapan menghakimi dari keluarga besar.


​Sementara itu, Joni berjalan cepat menyusul istrinya. Langkah kakinya yang lebar mencerminkan kemarahan yang sedang membakar dadanya. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang suami dan laki-laki telah diinjak-injak oleh Halimah di depan seluruh keluarga besarnya.


​Begitu mereka sampai di area parkir luar gedung yang agak lengang, Joni langsung mencengkeram lengan atas Halimah dengan kuat, memaksa wanita itu untuk berbalik menghadapnya.


​"Kamu sengaja, kan?!" desis Joni, napasnya memburu. Matanya merah menahan amarah. "Kamu sengaja tidak mencopot label harga itu supaya bisa mempermalukan Ibu dan aku di depan semua orang? Jawab, Halimah!"


​Halimah menatap tangan Joni yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap mata suaminya. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Tatapan Halimah begitu dingin, sedingin es yang mampu membekukan kemarahan Joni dalam seketika.


​"Lepas, Mas. Sakit," ujar Halimah datar.


​Joni refleks melonggarkan cengkeramannya, terkejut dengan nada bicara istrinya yang sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalah. "Kamu sudah berubah ya, Mah. Di mana sopan santunmu? Selama ini kamu tidak pernah seperti ini. Ibu itu orang tua kita, kenapa kamu tega membuat beliau menanggung malu di depan banyak orang?"


​Halimah membenarkan posisi gamisnya yang sempat tertarik akibat cengkeraman Joni. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa asing bagi Joni yang mengenalnya selama delapan tahun ini.


​"Siapa yang mempermalukan siapa, Mas?" tanya Halimah berbalik menantang. "Apakah aku yang mempermalukan Ibu, atau Ibu yang selama delapan tahun ini gemar mempermalukan aku di depan keluarga kalian?"


​"Kamu sadar gak sih Mas, kalau kedudukan kita diremehin sama keluarga kamu!" bela Joni dengan suara meninggi.


​"Baju yang seharusnya aku pakai sebulan lalu ternyata disimpan ibu dan diberikan kemarin dengan alasan bajunya kekecilan. Kamu sadar gak si kalau aku gak pernah dianggap sama keluarga kamu?" potong Halimah, suaranya tetap tenang namun menusuk tepat di ulu hati Joni. "Delapan tahun aku diam dan menahan semua rasa sakit hatiku karena tidak pernah dianggap ada oleh keluarga kamu. Hari ini, aku hanya menunjukkan kepada keluarga kamu tentang arti sebuah penghinaan. Cukup sudah aku bertahan hidup dengan keluarga toxic seperti keluarga kamu, Mas!"


​Joni bungkam. Dia mencoba mencari celah untuk membantah, namun kenyataan yang diucapkan Halimah adalah kebenaran yang selama ini sengaja dia abaikan demi menjaga kedamaian semu dan bakti butanya pada sang ibu.


​"Sekarang pilihan ada di tanganmu, Mas," lanjut Halimah sambil membuka pintu mobil tua mereka. "Kamu mau pulang bersamaku ke rumah kontrakan yang bulan depan masa sewanya habis dan belum kamu bayar karena uangnya kamu pakai untuk menyumbang acara khitanan keponakanmu ini, atau kamu mau kembali ke dalam aula, mendengarkan Bibi Lastri menguliti harga diri ibumu?"


​Joni menatap bergantian antara pintu aula gedung yang megah dan sosok istrinya yang kini sudah duduk di balik kemudi. Perasaan  malu, marah, dan bingung berkecamuk di kepalanya. Namun sebelum dia sempat mengambil keputusan untuk masuk ke dalam mobil, ponsel di saku celananya bergetar hebat.


​Joni merogoh sakunya dan melihat layar ponsel. Nama ibunya tertera di sana. Dengan tangan bergetar, Joni menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. Belum sempat dia mengucap salam, suara lengkingan Ibu Sofia yang penuh histeria langsung menyambar dari seberang telepon.


​"Joni! Kamu lekas kesini, kita mau foto keluarga. Tapi jangan bawa istrimu yang tidak tahu diuntung itu! Ibu enggak mau dia lebih mempermalukan keluarga kita didepan umum lagi."


​Suara klik tanda telepon diputus sepihak terdengar nyaring. Joni terpaku di tempatnya berdiri, tangannya perlahan lemas hingga ponselnya hampir merosot dari genggaman. 


​Halimah yang memperhatikan perubahan ekspresi suaminya dari dalam mobil hanya menaikkan sebelah alisnya. 


​"Ada apa, Mas?" tanya Halimah dingin.


​Joni menatap Halimah dengan tatapan kosong dan penuh ketakutan.


Bersambung. 

Pewaris


 "Cepat bayar mobil adikku," kulempar browsur itu ke wajah istriku yang penurut itu ke wajah istriku yang penurut itu namun jawabannya 


Halah! Itu cuma fitnah murahan buat nakut-nakutin aku. Renata pasti bisa beresin itu. Dia kan pemegang 'kunci' ke bos besar. Percaya sama aku, Sher. Begitu aku bicara sama dia, Indra yang akan aku tendang keluar dari gedung ini!" aku mengepalkan tangan, membayangkan wajah Indra yang memohon ampun padaku nanti.


Bu Lastri mulai mengipasi wajahnya lagi, tapi kali ini dengan senyum yang mulai mengembang. "Bener ya, Bagas? Ibu nggak mau ya kalau acara lamaran mewah kita batal cuma gara-gara kamu jadi OB."


"Nggak akan batal, Bu. Malah nanti kita buat lebih mewah lagi. Renata itu gampang disetir. Dia itu budak cinta aku sejak dulu. Sekali aku bilang 'aku butuh kamu', dia pasti langsung lari bawain semua keinginanku," aku tertawa kecil, merasa rencanaku sudah sempurna.


"Tuh kan, Sher. Mas Bagas ini cerdik. Dia pasti sudah punya rencana," ucap Bu Lastri pada anaknya.


Sherly mulai tersenyum manja, dia mendekat dan merapikan kerah seragamku dengan ujung jarinya yang lentik. "Ya sudah, kalau gitu cepetan kamu hubungi si Renata itu. Aku nggak tahan lihat kamu pakai baju ini, Mas. Malu-maluin kalau ada temen-temen sosialitaku yang lihat."


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi semua kembali normal. Aku akan tunjukkan siapa bos sebenarnya di sini," kataku penuh kesombongan.


Tiba-tiba, suara ting! dari lift utama yang berada tepat di tengah lobi memecah percakapan kami. Pintu lift terbuka perlahan. Suasana lobi yang tadinya agak riuh mendadak sunyi senyap. Semua karyawan berdiri tegak, merapikan barisan.


Pak Indra langsung berlari kecil menuju pintu lift dengan wajah yang sangat hormat, jauh lebih hormat daripada saat dia menyambut Pak Baskoro tadi.


"Itu siapa, Mas? Bos besarnya ya?" bisik Sherly penasaran.


"Mungkin. Perhatikan ya, begitu bosnya keluar, aku akan langsung minta Renata bicara," jawabku sombong sambil membusungkan dada, seolah-olah aku masih memakai jas mahal.


Dari dalam lift, muncul seorang pria paruh baya dari bagian HRD, Pak Gunawan. Dia melangkah keluar terlebih dahulu, lalu berbalik dan membukakan jalan untuk seseorang di belakangnya.


"Perhatian semuanya," suara Pak Gunawan menggema di lobi. "Hari ini adalah hari bersejarah bagi perusahaan kita. Setelah melalui proses transisi, saya ingin memperkenalkan secara resmi pemilik baru sekaligus Direktur Utama PT Adiyatama yang memegang saham mayoritas."


Aku menajamkan penglihatan. Aku berharap melihat sosok pria tua kaya raya yang bisa aku lobi melalui Renata.


Namun, jantungku seolah berhenti berdetak saat kaki dengan sepatu hak tinggi merk Christian Louboutin melangkah keluar dari lift. Gaun blazer berwarna krem yang elegan membungkus tubuh proporsional itu. Rambutnya yang dulu selalu kuncir kuda berantakan, kini tertata rapi dalam gaya wavy yang sangat berkelas.


Wajahnya... wajah yang sangat aku kenali. Wajah yang tadi aku sebut sebagai 'wanita bodoh'.


"Selamat siang semuanya," suaranya lembut namun penuh penekanan dan otoritas.


"RE-RENATA?!" teriakku spontan. Suaraku tercekat di tenggorokan.


Sherly dan Bu Lastri melongo. Mereka berdiri mematung seperti patung garam.


Pak Gunawan tersenyum lebar dan berdiri di samping wanita itu. "Perkenalkan, ini adalah Ibu Renata Adiyatama. Pemilik tunggal perusahaan ini setelah mengakuisisi seluruh saham dari pemilik sebelumnya."


"Apa!" Bagaikan petir menyambar kepalaku, dunia bagaikan berhenti berputar. Jadi selama ini pemilik perusahaan ini Renata.


Sungguh kecewa




Saat aku pulang dari penugasan di Papua, yang menyambutku bukan pelvkan suami ... melainkan su-raat cee-rai, rumah yang disii-ta ba-nk, dan tabunganku yang habis untuk membii-ayaai seling-kvhan suamiku. Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?


“Apa-apaan ini?”


Arina keluar dari mobil dengan langkah sempoyongan. Tangannya menyen-tvh stiker merah yang dingin itu.


"Kenapa bisa disii-ta?" bisik Arina pada angin malam. Daada Arina mendadak sesak, napasnya memburu tak percaya. "Tiap bulan ... tiap bulan aku selalu mentrans-fer u-wang ..."


Bahkan di tengah keterbatasan sinyal di pedalaman Papua, Arina tidak pernah absen mentrans-fer sepuluh jv-ta rupiah dari ga-ji dan tunjangannya ke reke-ning Reno khusus untuk melu-nasi cii-cilan rumah tersebut. Ke mana perginya u-wang puluhan jv-ta yang selalu ia kirimkan?


"Dok Arina? Ya Allah, Dok, akhirnya pulang juga ..." sebuah suara parau memecah keheningan yang mence-kam.


Arina menoleh dengan pandangan kabur oleh air mata. Terlihat Bu RT dari sebelah rumah berjalan tergesa-gesa menghampirinya sambil menyeret sebuah kardus bekas yang tampak lu-suh dan berdebu.


"Bu RT ..." lirik Arina lemas. "Ini ... rumah saya kenapa bisa disii-ta ba-nk? Mas Reno ke mana, Bu?"


Dengan tatapan penuh rasa iba yang justru menya-yat harga diri Arina sebagai seorang perwira, wanita paruh baya itu memegang lengan Arina pelan. "Aduh, Dok ... Ibu ndak tega mau ceritanya."


"Tolong katakan yang sebenarnya, Bu! Apa yang terjadi selama saya bertugas di Papua?" desak Arina dengan mata memerah, menahan sesak yang memba-kar ddanya.


"Dua minggu lalu ... Mas Reno datang ke sini, Dok. Tapi dia ndak sendiri," bisik Bu RT seraya menengok ke sekeliling dengan raut cemas.


Jan-tung Arina serasa berhenti berdetak. "Dia sama siapa, Bu?"


"Dia datang bersama seorang wanita, Dok. Pakaiannya agak terbuka begitu," terang Bu RT pelan. "Mereka bawa mobil boks, mengemas seluruh pakaian serta barang-barang yang ada di rumah itu, lalu pergi begitu saja. Rumah ini ditinggalkan kosong begitu saja sampai pihak ba-nk datang menempel stiker itu tiga hari lalu."


Arina mematung. Kata-kata Bu RT menyengat setiap saraf di tv-buhnya hingga membeku.


"Lalu kardus ini ..." Arina menunjuk kardus lusuh di tanah dengan telunjuk yang bergetar.


"Ini barang-barang milik Dokter. Mas Reno menyuruh satpam membu-wangnya ke tempat sam-pah, tapi saya kasihan, jadi saya simpan di garasi saya," tambah Bu RT dengan nada prihatin.


Arina menatap nanar seragam dinas lapangan (PDL) lorengnya yang menyembul dari ro-bekan kardus itu. Seragam kebanggaan yang ia pakai untuk mempertaruhkan nya-wa demi negara, kini tersimpan di dalam wadah sam-pah akibat ulah suaminya sendiri. Arina menyadari bahwa ia telah didepak dari hidupnya sendiri secara terhi-na oleh Reno.


"Terima kasih banyak, Bu RT ... terima kasih sudah menyelamatkan barang saya," bisik Arina, suaranya terdengar sangat kosong.


"Sabar ya, Dok. Dokter wanita kuat. Mas Reno itu yang ndak tahu diri," hibur Bu RT seraya menge-lus bahu Arina. "Malam ini Dokter mau menginap di mana? Apa mau ti-dur di ru-mah saya?"


"Terima kasih, Bu. Saya bisa cari penginapan, Bu," jawab Arina singkat, berusaha mempertahankan sisa-sisa martabatnya.


Setelah Bu RT pamit kembali ke rumahnya, Arina berdiri sendirian di pinggir jalan yang sepi. Malam kian larut dan angin dingin menyapu wajahnya yang basah oleh air mata. Mencoba mempertahankan sisa-sisa logikanya, Arina merogoh kantong celana lorengnya dan membuka ponsel. Jemarinya hendak berniat mengisi sal-do akun taksi online karena ia saat ini tak memegang u-wang tunai sepeser pun.


Namun, begitu ia membuka aplikasi 'mobile ban-king' miliknya untuk mentransfer dana, jemarinya membeku seketika.


Digit angka yang muncul di layar tampak begitu mustahil: Rp 0,-.


"Nol?" Arina mengusap matanya, mengira penglihatannya kabur oleh air mata. Namun angka itu tidak berubah. "Bagaimana bisa bernilai nol?!"


Arina menekan rincian mutasi rekening dengan napas tersengal-sengal. Ta-bungan pribadi hasil jerih payahnya bertahun-tahun, u-wang tunjangan penugasan khusus dari TNI yang baru cair bulan lalu, hingga seluruh dana darurat yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, semuanya telah dikuras habis tanpa sisa.


Terdapat riwayat penarikan dan transfer besar-besaran secara bertahap menuju rekening atas nama Reno. "Ternyata dia memanfaatkan fitur akses akun bersama yang dulu aku tanda tangani atas dasar cinta dan kepercayaan penuh."


Tepat saat Arina hendak menelepon suami bereng-seknya untuk meminta penjelasan, nama Reno sudah tertera lebih dulu.


Arina pun mengangkatnya. "Reno, kamu kemanakan u-wangku?" teriak Arina sambil mengepalkan tangannya.


Reno tertawa. "Halo Sa-yang, tidak perlu marah-marah. U-wangmu sudah aku amankan. Oh ya, Sa-yang. Jangan repot-repot pulang. Karena rumah itu sudah bukan rumahmu lagi. Selamat menggem-bel di jalanan!"


Hanya anak pembantu



 Aku diusir keluarga calon suamiku. Hanya karena aku datang bersama mantan pembantu mereka yang kupanggil Ibu.

Katanya aku tidak setara dengan mereka.

Tapi aku tidak marah, karena anak pembantu ini yang membuat mereka menangis guling guling nantinya !!


---


"Gita? Kamu datang dengan Mbok Darmi?" 


Gita kaget. Calon suaminya sudah mengenal siapa yang ia bawa.


"Kamu sudah kenal dengan ibu, Ga?" tanya Gita kepada calon suaminya, Arga Mahendra. Selebgram dengan 12 juta pengikut. Tampan, kaya, dan selalu tampil sempurna di depan kamera.


Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya melongo.


Namun setttt...


Bu Miranda sebagai ibu Arga langsung mencengkram tangan Arga dan menariknya ke dalam.  Entah apa yang akan dibicarakan.


"Jadi, Gita itu anak Mbok Darmi?" tanya Bu Miranda dengan tatapan tajam.


Arga menggeleng bingung.


"Aku juga tidak tau Ma. Gita tidak pernah cerita sebelumnya kalau Ibu nya itu pembantu."


"Telingamu masih berfungsi dengan baik bukan? Dia memanggilnya dengan sebutan Ibu. Ah Rendra, seperti tidak ada wanita lain saja di dunia ini. Kamu itu terkenal, tampan, kaya. Masa iya mau nikah dengan anak pembantu? Yang ada reputasi kamu sebagai selebgram terkenal bisa hancur begitu saja," kata Bu Miranda.


"Lalu aku harus bagaimana Ma?"


"Kok masih tanya. Ya tinggalkan Gita. Dia tidak cocok dengan kita."


Sementara itu, Gita masih berdiri di teras. Pegal. Tidak dipersilahkan masuk. Padahal ia juga datang dari luar kota. Namun tak lama kemudian, Arga dan mamanya datang dari dalam. Gita berniat masuk. Ingin duduk.


"Eh eh mau kemana kamu? Mau duduk? Siapa yang menyuruh kamu duduk?" tanya Bu Miranda.


Gita semakin melongo. Ternyata.


"Kita bicara diluar saja Git," ajak Arga.


Terpaksa Gita mengangguk setuju.


"Bicara apa memangnya? Aku jauh jauh dari luar kota kesini untuk menjenguk kamu. Bukankah kamu sedang sakit?" tanya Gita.


Arga mengibaskan tangannya di udara.


"Yang bisa menyembuhkan penyakit itu dokter. Bukan kamu. Memangnya kamu mau bawakan aku dokter? Dokter langgananku itu mahal. Kamu punya uang? Kan ibumu hanya pembantu. Mbok Darmi itu mantan pembantu ku dulu. Jadi kamu mau mengelak kalau kamu bukan anak pembantu?


Deg...


Gita kaget. Baru kali ini, Arga mengatakan hal sepeda itu.


"Mas Arga..."


Tangan Gita reflek memegang tangan Mbok Darmi. Mengisyaratkan untuk tidak usah ikut campur.


"Gita, saya mamanya Arga. Sampai sini kamu paham bukan? Kalua Arga tidak pantas dengan anak pembantu seperti kamu. Jadi pernikahan kalian dibatalkan ya? Jangan baper. Nanti jangan mengancam bunuh diri," lanjut Bu Miranda.


"Iya," jawab Gita dengan singkat. Tatapannya beralih kepada Mbok Darmi.


"Ayo Bu kita pulang," ajak Gita.


Mbok Darmi menatap Gita seperti keberatan.


"Tapi...."


Bu Miranda langsung berkacak pinggang.


"Ada apa lagi Darmi? Kamu mau jadi nyonya begitu kalau Gita menikah dengan Arga. Kamu pasti sudah tau siapa calon suami Gita. Dan kamu pasti memilih tutup mulut karena kamu juga ingin hidup kaya raya. Benar begitu bukan? Sudahlah saya hafal otak orang miskin seperti kalian," hina Bu Miranda.


"Tante, kalau hubungan saya dan Arga adalah sebuah kesalahan. Salahkan saya. Bukan ibu. Permisi," kata Gita.


"Ya sudah pergi sana. Disini juga tidak adalah lowongan kerja untuk pembantu," usia Bu Miranda. 


Gita dan Mbok Darmi pergi dari perumahan elite itu tanpa menoleh lagi.


Di seberang jalan agak jauh terparkir sebuah mobil mewah. Mobil milik Gita


"Non, kenapa tidak bilang terus terang saja kepada keluarga Mas Arga tentang siapa Non Gita?" tanya Mbok Darmi.


Ya wanita itu memang pembantu. Yang kini bekerja di rumah Gita. Namun karena dekatnya dengan sang adik, Gisel. Adiknya sering memanggil Mbok darmi dengan sebutan Ibu. Gita  pun juga. Karena memang Mbok Darmi sebaik itu.


Gita tertawa kecil


"Biar Bu. Dari sini aku tau seperti apa sifat mereka. Padahal aku kesini sekalian membawakan kontrak kerja untuk Arga dari papa sebagai produser agar bisa main dalam sebuah sinetron."


Ibu itu bukan pengasuh



 "Ibu!"


Suaraku pecah begitu saja. Aku bahkan tak lagi peduli apakah kehadiranku akan mengejutkan banyak orang. Yang kutahu, dadaku sudah terlalu sesak melihat ibu diperlakukan seperti itu.


Ibu yang sedang membungkuk hendak memungut pecahan mangkuk langsung menoleh. Dan saat melihatku yang sudah berdiri tak jauh darinya, mata beliau tampak membulat.


"Astaghfirullah... Meysa?" bibirnya bergetar. "Nduk... kok tiba-tiba di sini?"


Aku memilih tak menjawab. Melainkan mempercepat langkah, lalu menghampiri beliau dan meraih pergelangan tangannya.


"Bu, Meysa yang harusnya bertanya,"ucapku tegas. Tanganku menggenggam tangan ibu yang mulai dipenuhi keriput itu.


"Ibu ngapain di sini?"tanyaku. Kemudian menoleh ke arah perempuan tua yang sejak tadi duduk di atas kursi roda.


"Dan... siapa nenek ini?"


Perempuan itu membalas tatapanku dengan sorot mata malas. Bukannya menjawab, ia malah mendecak pelan.


"Ck!"


Lalu tiba-tiba ia berteriak sekencang mungkin. Membuatku reflek mundur beberapa langkah. 


"Adnaaan...!"


"Adnan!"


"Istrimu bawa orang nggak sopan ke sini!"


Aku mengernyit. Sementara Ibu justru tampak semakin panik.


"Nduk... ayo... sini dulu,"kata ibu.  Beliau menarik pelan lenganku.


"Ayo kita ke depan dulu."


"Kenapa harus ke depan, Bu? Meysa cuma mau tahu—"


Belum sempat kalimatku selesai, terdengar suara langkah kaki berlari dari dalam rumah.


"Bu!"


Seorang laki-laki muncul dari arah pintu belakang. Rupanya, Mas Adnan.

Wajahnya terlihat begitu cemas.


"Ada apa, Bu? Kenapa teriak-teriak?" tanyanya sambil menghampiri kursi roda. "Udah jadi makan, kan?"


Perempuan tua itu langsung menunjuk ibu dengan wajah kesal.


"Makan apanya?" Jawabnya.  "Itu... mertua kamu itu nggak bisa apa-apa."


Aku mengepalkan tangan. Berarti... Perempuan ini adalah ibunya Mas Adnan? 


Darahku langsung mendidih.


Jadi benar...mereka membawa ibu ke sini bukan tanpa alasan. 


Aku melepaskan genggaman tangan ibu. Lalu berjalan cepat menghampiri Mas Adnan.


"Jadi karena ini, Mas?"


Mas Adnan menoleh kaget. Sepertinya baru menyadari keberadaanku.


"Meysa? Kamu... kapan datang?"


Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan terasa asing di wajahku sendiri.


"Kenapa, Mas?"tanyaku sinis. "Kaget karena tiba-tiba aku ada di sini?"


"Bu-bukan begitu..."lirihnya terbata. Ia menatapku juga ibunya bergantian. 


"Jadi karena ini Mas dan Mbak Nela bersikeras membawa ibu ke rumah ini?"ucapku lagi.  Aku menunjuk ibu yang masih berdiri mematung.


"Karena ibu dibawa ke sini buat merawat ibunya Mas, kan?"


"Meysa, kamu salah paham,"bantahnya. Ia menegakkan punggungnya sekarang. 


"Salah paham apanya?" 


Aku tertawa hambar, kepalaku menggeleng sangking tak percayanya atas apa yang barusan aku lihat. 


"Mas, ibu itu sudah enam puluh tahun. Tapi kalian malah membiarkannya mengurus orang lain, membiarkannya dimarahin, dibentak, bahkan dilempari mangkuk."


"Meysa, dengarkan dulu—"


"Tega ya kalian,"potongku. Sungguh aku tak mau mendengar alasan apapun dari mulutnya. Emosiku sudah di ubun-ubun. 


"Ibu itu juga lansia, Mas," tambahku lagi. "Harusnya ibu juga sudah ada yang ngerawat. Bukan malah dijadikan perawat buat lansia lain!"


"Meysa!"


Suara perempuan lain memotong ucapanku. Saat aku menoleh, Mbak Nela tampak berdiri di ambang pintu dapur rumahnya. 


Ia masih memakai pakaian tidur. Rambutnya acak-acakan seolah baru bangun. Dan saat melihatku berdiri di sini, wajahnya jelas memperlihatkan keterkejutan.


"Mey? Kapan datang? Kok nggak ngomong dulu?"


Aku menarik napas panjang. Rasanya percuma berbasa-basi.


"Nggak usah basa-basi, Mbak,"sahutku.

Tatapanku lurus menatap kakak kandungku itu.


"Hari ini juga aku bakal bawa ibu pulang."


Mbak Nela mengernyit. Ia menatap kami satu persatu. 


"Loh? Kok kamu datang-datang langsung ngamuk gini? Ada apa sih kamu?"


Aku hampir tertawa. Dia bahkan masih bertanya ada apa?


"Mbak masih nanya ada apa?"tanyaku sinis.  "Ibu di sini kalian jadiin pengasuh ibunya Mas Adnan, kan? Iya, kan?"


Suasana mendadak hening. Tak ada yang menjawab pertanyaanku. Hal itu semakin membuatku yakin kalau dugaanku benar.


Namun...Hal yang sama sekali tak kuduga justru terjadi.


"Hahaha..."


Mbak Nela malah tertawa. Bahkan semakin lama tawanya semakin keras.


"Ya Allah, Mey,"ucapnya. Ia mengibaskan tangan ke udara.  "Stress, ya kamu?"


Aku mengernyit. Menatap ibu sekilas. 


"Ngapain Mbak bikin ibu jadi pengasuh mertuanya Mbak?"ucapnya. Ia menyilangkan tangan di dada dengan pongahnya.  "Mbak ini ada uang. Mbak bisa sewa siapa saja buat ngurus mertuanya Mbak."


"Kalau memang bisa nyewa orang...Kenapa malah ibu yang nyuapin mertuanya Mbak?"serangku balik. Membuatnya mengatupkan bibirnya seketika. 


Tapi, ibu malah lebih dulu melangkah ke tengah-tengah kami. Menengahi perdebatan ini. 


"Nduk...Sudah ya," lirihnya. Tangannya mengusap punggungku.  "Ibu tadi yang mau. Bukan karena ibu jadi pengasuh besannya ibu."


Aku menatap wajah ibu lekat-lekat. Tapi beliau malah menghindari pandanganku.


Entah kenapa... Sikap itu justru membuatku semakin curiga.


"Tuh, dengar,"ucap Mbak Nela. Dia kembali melipat kedua tangannya di dada.


"Makanya itu otak dipakai yang bener.

 Jangan taunya suudzon mulu. Kebanyakan makan micin kali ya."


Aku menggigit bibir sekuat tenaga mendengar ucapannya. Bukan karena malu. Melainkan karena berusaha menahan air mata dan amarah yang bercampur menjadi satu.


Kalau memang ibu melakukannya dengan suka rela dan atas dasar kedekatannya dengan besannya, tapi kenapa tadi beliau sampai dibentak?

Kenapa juga harus meminta maaf berkali-kali seperti orang yang sedang  ketakutan? 


Dan yang paling membuatku tidak tenang...Kenapa sejak tadi ibu terus menghindari menatap mataku?


Aku mengenal ibu lebih dari siapa pun.

Beliau selalu seperti itu setiap kali sedang menyembunyikan sesuatu.


Tanganku perlahan mengepal.


Tidak.


Aku sama sekali tidak percaya.


Ibu pasti sedang berbohong.


Dan aku akan mencari tahu... kebohongan apa yang sebenarnya sedang mereka sembunyikan dariku. 


Istri 200 juta



 Cuma pernikahan kontrak...Tapi kenapa dia memintaku melaya ninya seperti istri sungguhan?" 


Erlangga menggendong Clara dengan langkah cepat menyusuri lorong rumah sakit. Masih pagi, rumah sakit tampak sepi, hanya beberapa perawat dan dokter yang lalu-lalang. Namun, Clara tetap merasa waswas. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena rasa sakit di kakinya, tapi karena takut ada yang mengenalinya dalam posisi memalukan seperti ini.


"Mas, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri," gumam Clara lirih, sedikit mendongak, menatap wajah Erlangga dengan harapan pria itu bersedia menurunkannya.


Erlangga malah tersenyum na kal, matanya menatap Clara dalam-dalam. "Silakan terus menatapku seperti itu, kalau kamu mau masuk berita utama hari ini."


Clara mendengus pelan, lalu memutar bola matanya malas. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Tapi pipinya yang memerah justru mengkhia nati perasaannya. Erlangga yang menangkap rona merah itu hanya menyunggingkan senyum tipis.


Mereka masuk ke ruangan dokter spesialis ortopedi. Begitu melihat dokter Fandi, Erlangga langsung bicara tanpa basa-basi.


“Dok, sembuhkan kaki istriku. Apa pun caranya!” ujar Erlangga tegas, membuat dokter Fandi sedikit terkejut.


Dokter Fandi mengangguk singkat dan mulai memeriksa kaki Clara dengan teliti. Setelah beberapa menit, ia mengangguk kecil dan menatap keduanya.


"Kakinya hanya terkilir ringan. Tidak ada tulang yang bergeser," ujarnya.


Clara menghela napas lega. Erlangga masih menatap dokter dengan ekspresi serius.


“Jadi dia akan baik-baik saja?” tanyanya memastikan.


“Ya, asal tidak terlalu banyak beraktivitas dan rajin melakukan kompres serta istirahat, dua-tiga hari juga sudah membaik,” jelas dokter Fandi sambil menulis resep obat penghilang nyeri.


“Dengar, Clara? Kamu dilarang ke mana-mana sampai benar-benar sembuh,” perintah Erlangga sambil menatap istrinya dengan taj am namun penuh kekhawatiran.


Clara mengerucutkan bi bir. “Iya, tahu. Aku bukan anak kecil,” sahutnya pelan.


---


Setelah pemeriksaan selesai dan dokter mempersilakan mereka untuk pulang, Erlangga tanpa banyak bicara langsung membungkuk, lalu kembali menggen dong Clara. Perempuan itu sempat berusaha menolak, berbisik lirih dengan nada protes.


"Mas, aku bisa jalan sendiri…"


Namun, Erlangga tak mengindahkan. Tatapannya tegas, bahkan cenderung tak terban tahkan. "Diam. Kaki kamu belum pulih betul."


Clara terdiam, pasrah dalam dekapannya, meski hatinya tetap bergejolak. Ada rasa malu, canggung, tapi juga hangat yang menyelinap pelan—perasaan yang sulit ia jelaskan.


Langkah Erlangga mantap dan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Sorot mata petugas dan pengunjung tak diacuhkannya, bahkan saat beberapa orang tampak mengenalinya dan mulai berbisik-bisik, ia tetap melangkah lurus, seolah membawa dunia di pundaknya.


Begitu tiba di area parkir, Erlangga membuka pintu mobil bagian penumpang dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain masih menyangga tub uh Clara. Dengan hati-hati, ia menurunkan Clara ke kursi, memastikan posisi duduknya nyaman sebelum membungkuk dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Gerakannya penuh kehati-hatian, namun tetap dingin dan kaku.


"Kalau sakit, bilang," ucapnya singkat sebelum menutup pintu dan berjalan cepat mengitari mobil lalu masuk ke dalamnya.


Tak lama kemudian, Fano menghampiri mereka setelah menebus obat Clara di apotek.

"Pak, ini obat Bu Clara," ujarnya sambil menyerahkan plastik berisi obat.

Erlangga langsung mengambilnya. Namun matanya menangkap ekspresi Fano yang tampak ragu, seolah menyimpan sesuatu. Ditambah kamera yang tergenggam erat di tangannya, membuat rasa penasaran Erlangga semakin memuncak.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya taj am, menatap langsung ke arah Fano.


Fano tersentak. Sesaat dia terdiam, lalu mengangguk pelan.

"Tadi... ada wartawan yang memotret Anda, Pak. Saat Anda menggendong Bu Clara masuk rumah sakit." Suaranya gugup, namun cukup jelas.


Fano lalu menyerahkan kamera itu pada Erlangga.

"Oya, ini kameranya, Pak."


Erlangga menerima kamera itu, langsung membuka galeri dan menemukan foto dirinya tengah menggen dong Clara. Gambar itu diambil dari belakang, wajah Clara tak terlihat jelas. Tapi Erlangga tahu, jika sampai tersebar—foto itu bisa menimbulkan speku lasi liar.


"Apa perlu saya han curkan kameranya, Pak?" tanya Fano hati-hati.


Erlangga menggeleng pelan, menyerahkan kembali kamera tersebut.

"Tidak perlu. Kembalikan dan sampaikan padanya... agar berhati-hati dengan apa yang ditulisnya. Ini bukan berita murahan."


"Baik, Pak." Fano langsung berbalik dan melangkah menuju wartawan yang dimaksud. Ia menyerahkan kembali kamera sambil menyampaikan pesan Erlangga.


---


Di dalam mobil, Clara mencuri pandang ke arah suaminya. Raut wajah Erlangga tampak serius sejak tadi. Ada kegelisahan yang ia tangkap dari gerak-geriknya.


"Mas... soal foto tadi, itu sebenarnya foto siapa?" tanya Clara dengan nada setenang mungkin, meski jantungnya berdegup tak karuan.


Erlangga hanya melirik sekilas, tanpa menghentikan laju mobil. "Kepo," sahutnya singkat, datar.


Clara menghela napas, mencoba menelan rasa penasaran yang mulai menyakitkan. Tapi diam bukan pilihan. Pikirannya penuh tanda tanya, dan akhirnya, ia membuka suara lagi—lebih pelan, tapi jelas terdengar.


"Jangan-jangan... itu foto Mas sama Elisa?"


Pertanyaan itu membuat Erlangga refleks menoleh. Sekilas, ekspresinya berubah. Ia tampak terkejut, meski cepat-cepat menutupi reaksinya dengan mengencangkan rahangnya.


“Nggak usah dipikirin. Fokus aja sama penyembuhan kakimu,” ucapnya cepat, seolah hendak mengubur topik itu tanpa ruang tanya.


Namun justru dari cara Erlangga menghindar, Clara semakin yakin. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar menekan keras di sana. Bayangan gosip-gosip tentang kedekatan suaminya dengan Elisa berkelebat kembali di benaknya, menampar perasaan yang selama ini berusaha ia bungkam.


Kenapa selalu ada bayang-bayang orang ketiga di antara kami? Kenapa harus aku yang terluka? batinnya pedih.


Ia menoleh ke arah jendela, menatap kosong pada dunia luar yang terus melaju, padahal dunianya sendiri sedang kacau balau. Air mata mulai menggenang, tapi ia menahannya mati-matian.


"Lihat apa sampai melamun begitu?" suara Erlangga membuyarkan lamunannya.


Sebelum Clara sempat menjawab, pria itu tiba-tiba membungkuk dan mengecup pipinya—hangat, tapi juga membingungkan.


Clara terkejut. Tub uhnya menegang seketika, jantungnya berdebar tidak karuan.


Kenapa Mas Erlangga memperlakukanku seperti ini? Kadang dingin, kadang begitu hangat. Aku nggak ngerti… apa sebenarnya yang ada di hatinya? pikirnya getir.


Erlangga memperhatikan perubahan sikap Clara. Dahi pria itu berkerut taj am. Ia menoleh sepenuhnya, lalu bertanya pelan, "Sayang, kenapa kamu tegang begitu?"


Clara buru-buru menggeleng. "Nggak apa-apa, Mas," ucapnya pelan, menunduk.


Namun Erlangga belum menyerah. Ia mengulurkan tangan, mengangkat dagu Clara dengan lembut, memaksa tatapan mereka bertemu. Pandangan mata itu saling bersitatap—dalam, gelisah, dan penuh pertanyaan yang tak terucap.


Dalam keheningan itu, waktu seolah berhenti.


---


Sementara itu, dunia maya tengah membara.


Foto Erlangga yang sedang menggendong seorang wanita misterius masuk ke rumah sakit tersebar luas di berbagai platform media sosial. Diambil dari sudut belakang, wajah sang wanita memang tak terlihat jelas. Tapi justru itu yang membuat rasa penasaran publik semakin meledak.


Komentar-komentar netizen membanjiri jagat maya:


"Posisi Elisa secepat itu tergeser, gila sih!"


"Liat cara Erlangga gendong cewek itu, pasti bukan orang biasa buat dia."


"Tolong dong next-nya fotoin dari depan, penasaran banget siapa ceweknya!"


Di tempat lain, Rafi yang tengah bersantai sambil membuka media sosial, ikut terperanjat saat melihat foto itu muncul di linimasa.


"Om Erlangga... itu siapa?" gumamnya, menajamkan pandangan ke foto.


Ia menyipitkan mata, mencoba mengingat. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Perempuan dalam gen dongan Erlangga—meski hanya tampak sebagian—terlihat sangat familiar.


"Kenapa aku merasa mengenalinya?" batinnya cemas.


Perlahan, jantungnya mulai berdebar dengan gelisah, seolah firasat buruk tengah menyusup diam-diam ke dalam pikirannya.

Bersambung...