"Cepat bayar mobil adikku," kulempar browsur itu ke wajah istriku yang penurut itu ke wajah istriku yang penurut itu namun jawabannya
Halah! Itu cuma fitnah murahan buat nakut-nakutin aku. Renata pasti bisa beresin itu. Dia kan pemegang 'kunci' ke bos besar. Percaya sama aku, Sher. Begitu aku bicara sama dia, Indra yang akan aku tendang keluar dari gedung ini!" aku mengepalkan tangan, membayangkan wajah Indra yang memohon ampun padaku nanti.
Bu Lastri mulai mengipasi wajahnya lagi, tapi kali ini dengan senyum yang mulai mengembang. "Bener ya, Bagas? Ibu nggak mau ya kalau acara lamaran mewah kita batal cuma gara-gara kamu jadi OB."
"Nggak akan batal, Bu. Malah nanti kita buat lebih mewah lagi. Renata itu gampang disetir. Dia itu budak cinta aku sejak dulu. Sekali aku bilang 'aku butuh kamu', dia pasti langsung lari bawain semua keinginanku," aku tertawa kecil, merasa rencanaku sudah sempurna.
"Tuh kan, Sher. Mas Bagas ini cerdik. Dia pasti sudah punya rencana," ucap Bu Lastri pada anaknya.
Sherly mulai tersenyum manja, dia mendekat dan merapikan kerah seragamku dengan ujung jarinya yang lentik. "Ya sudah, kalau gitu cepetan kamu hubungi si Renata itu. Aku nggak tahan lihat kamu pakai baju ini, Mas. Malu-maluin kalau ada temen-temen sosialitaku yang lihat."
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi semua kembali normal. Aku akan tunjukkan siapa bos sebenarnya di sini," kataku penuh kesombongan.
Tiba-tiba, suara ting! dari lift utama yang berada tepat di tengah lobi memecah percakapan kami. Pintu lift terbuka perlahan. Suasana lobi yang tadinya agak riuh mendadak sunyi senyap. Semua karyawan berdiri tegak, merapikan barisan.
Pak Indra langsung berlari kecil menuju pintu lift dengan wajah yang sangat hormat, jauh lebih hormat daripada saat dia menyambut Pak Baskoro tadi.
"Itu siapa, Mas? Bos besarnya ya?" bisik Sherly penasaran.
"Mungkin. Perhatikan ya, begitu bosnya keluar, aku akan langsung minta Renata bicara," jawabku sombong sambil membusungkan dada, seolah-olah aku masih memakai jas mahal.
Dari dalam lift, muncul seorang pria paruh baya dari bagian HRD, Pak Gunawan. Dia melangkah keluar terlebih dahulu, lalu berbalik dan membukakan jalan untuk seseorang di belakangnya.
"Perhatian semuanya," suara Pak Gunawan menggema di lobi. "Hari ini adalah hari bersejarah bagi perusahaan kita. Setelah melalui proses transisi, saya ingin memperkenalkan secara resmi pemilik baru sekaligus Direktur Utama PT Adiyatama yang memegang saham mayoritas."
Aku menajamkan penglihatan. Aku berharap melihat sosok pria tua kaya raya yang bisa aku lobi melalui Renata.
Namun, jantungku seolah berhenti berdetak saat kaki dengan sepatu hak tinggi merk Christian Louboutin melangkah keluar dari lift. Gaun blazer berwarna krem yang elegan membungkus tubuh proporsional itu. Rambutnya yang dulu selalu kuncir kuda berantakan, kini tertata rapi dalam gaya wavy yang sangat berkelas.
Wajahnya... wajah yang sangat aku kenali. Wajah yang tadi aku sebut sebagai 'wanita bodoh'.
"Selamat siang semuanya," suaranya lembut namun penuh penekanan dan otoritas.
"RE-RENATA?!" teriakku spontan. Suaraku tercekat di tenggorokan.
Sherly dan Bu Lastri melongo. Mereka berdiri mematung seperti patung garam.
Pak Gunawan tersenyum lebar dan berdiri di samping wanita itu. "Perkenalkan, ini adalah Ibu Renata Adiyatama. Pemilik tunggal perusahaan ini setelah mengakuisisi seluruh saham dari pemilik sebelumnya."
"Apa!" Bagaikan petir menyambar kepalaku, dunia bagaikan berhenti berputar. Jadi selama ini pemilik perusahaan ini Renata.

No comments:
Post a Comment