Addense

Thursday, 23 July 2026

Gagal menikah

 Aku baru saja gagal menikah karena calon suamiku direbut sahabat sendiri. Tetapi kenapa tiba-tiba bosku mengakuiku sebagai tunangannya? Wah, nggak beres ini!




“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.


Setelah Naufal mengurus dokvmen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghvlu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.


Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gil4’. 


Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.


Kylar menoleh sekilas. “Serius.”


Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket. 


Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.


Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.


“Kalau nanti orang kantor tanya tentang suami saya bagaimana?” tanya Ryn. Dia tidak mungkin menyebut nama Kylar sebagai suaminya. Di Ashwara Culinary Group, menikah dengan orang sekantor jelas dilar a ng.


Kylar menoleh, tatapannya dingin tapi fokus. “Jawab saja dengan seseorang.”


Ryn melotot. “Pak, itu malah bikin penasaran.”


“Itu bagus,” kata Kylar datar dan langsung membuat Ryn semakin membel al a kkan matanya.


“Bagus apanya, yang ada go sipnya malah makin lebar,” gervtu Ryn spontan, pelan nyaris seperti bisikan karena ke sal dengan jawaban bosnya.


“Setidaknya, target gos ipnya sudah berpindah,” balas Kylar santai, matanya fokus pada ponsel.


Mendengar itu, Ryn menatap Kylar tak percaya.


Dia mendengarnya?


Ryn memejamkan mata sebentar. Menye balkan.


Tapi, setelah dipikir-pikir, ucapan Kylar ada benarnya juga. Akhirnya, gadis itu hanya bisa berdec ak kesal. Makin merasa ke sal karena ucapan bosnya yang menye b alkan itu terasa masuk akal.


“Sekarang ke rumah kamu dulu. Ambil barang, sekalian minta izin. Lalu ke rumah saya,” ucap Kylar tiba-tiba.


Dan saat kalimat itu jatuh, Ryn sadar satu hal, mental yang dia pikir sudah dia siapkan, ternyata sama sekali belum siap. Dia bukan hanya menikah. Dia juga akan tinggal satu atap dengan Kylar Ashwara Putra.


Kylar baru melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Kita beli cincin dan foto pernikahan dulu.”


Ryn mematung. “Foto?”


Untuk apa?


Ryn kira hanya dengan buku nikah dan tanda tangan saja selesai.


Kylar mengangguk singkat. “Kalau kita cuma punya sta tus tanpa bukti visual, keluarga saya akan mencivm kebohongan.”


Tanpa menunggu jawaban, Kylar sudah berjalan menuju mobil yang menunggu di parkiran.


Ryn berdiri di tempatnya beberapa detik, memegang buku nikah seperti memegang bukti bahwa hidupnya baru saja belo k taj am tanpa sein.


Lalu, dengan napas berat, dia menyusul. Karena apa pun yang baru saja terjadi, dia sudah resmi terje b ak.


---


“Okay! Masnya berdiri di kanan, Mbaknya di sampingnya. Nah, bagus. Senyum!” Fotografer memberi ara h an.


Setelah membeli cincin, dan memilih gaun pengantin dengan proses secepat kil at, Kylar langsung meny e ret Ryn ke studio fo to. Kata ‘menye ret’ di sini bukan kiasan, karena Ryn benar-benar merasa hidupnya dibawa lari tanpa sempat negos i asi.


Ryn berdiri dengan gaun putih yang masih terasa asi ng di tubuhnya. Tangannya bingung mau ditaruh di mana. Di depan? Di samping? Di pingga  ng? Akhirnya dia pilih yang paling aman: di sisi gaun, pura-pura menahan kain.


Kylar berdiri di sebelahnya seperti orang yang datang ke rapat penting, bukan sesi foto pernikahan dad a kan.


“Sekarang pose yang romantis ya. Mas rangkvl pin g gang Mbaknya.” Fotografer memberi arahan lagi.


Ryn refleks menahan napas.


Oke. Ini dia. Momen yang tidak ada di kontrak. Atau mungkin ada, tapi Ryn belum sempat membacanya dengan mental siap.


Ryn baru mau melangkah sepersekian sentimeter menjauh, ketika Kylar lebih cepat. Tangannya langsung mendarat di ping ga ng Ryn.


Ryn mencoba meng ges er tubuh pelan. Sengaja pelan supaya tidak terlihat seperti men ol ak. Kylar mengikuti gerakannya, mera pat lagi.

Ryn mengg es er lagi. Kylar merapat lagi.


Fotografer malah makin semangat. “Wah, natural banget! Bagus! Terus gitu ya, dekat-dekat!”


Kylar menunduk sedikit, suaranya rendah. “Kamu itu kenapa? Kamu mau foto ini kelihatan seperti saya mak sa kamu?”


Ryn membekv sepersekian detik, tapi tidak sempat protes karena fotografer langsung mene m bak kamera bertvbi-tubi.


“YESSS! Bagus! Nah, senyum! One … two … three!”


Klik. Klik. Klik.


Ryn memaksa senyum, tapi rah a ngnya mulai peg al. Di sisi lain, Kylar justru terlihat nyaman. Sangat nyaman.


Saat fotografer sibuk menge c ek hasil, Ryn melihat tangan Kylar masih berada di ping g angnya. “Pak Kylar, tangan Bapak bisa turun sekarang.”


Kylar menatapnya, datar. “Kenapa? Kamu takut?”


Ryn menahan senyum. “Saya takut dituduh mel3cehk4n bos.”


Kylar mengangkat alis. “Sekarang saya suami kamu.”


Ryn hanya bisa menarik napas, karena dia tahu, tidak ada kalimat bant ah an untuk itu.


Begitu sesi itu selesai, Ryn mundur setengah langkah, dan merapikan gaunnya.


“Saya ganti gaun dulu ya, Pak,” ujar Ryn sopan, yang dibalas mengangguk singkat.


Ryn berbalik menuju ruang ganti dengan langkah cepat, tapi ujung sepatu Kylar menginjak ekor gaunnya.


“Aaaa!”


Ryn terse n tak. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tumitnya terpe le set sedikit, dan selama sepersekian detik, dia benar-benar yakin akan jatuh dengan cara paling memalvkan di depan seluruh studio.


Namun, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, tangan Kylar sudah menahan punggungnya.


Ryn berhenti tepat di ambang jatuh. Tubvhnya miring, terje bak di antara udara, da da Kylar, dan jarak di antara mereka menda dak terlalu dekat untuk ukuran hubungan kontrak.


Kylar menunduk sedikit. Ryn mendongak. Dan untuk sesaat, semuanya terasa sunyi, meski studio masih ramai.


Wajah Kylar terlihat jelas dari jarak itu.


Ryn baru sadar, bosnya bukan hanya menyeba lkan. Bosnya juga tampan dengan cara yang tidak perlu, seolah Tuhan sengaja menambah fitur bonus supaya hidupnya makin sulit.


“Kamu itu kenapa?” tanya Kylar.


Ryn menelan ludah, lalu menggeleng pelan. “M–Maaf, Pak.”


Dia cepat-cepat berdiri tegak lagi, menjauh setengah langkah, lalu mengembalikan jarak aman sebelum otaknya mulai berkata macam-macam.


Kenapa Kylar Ashwara Putra terlihat sangat tampan dari jarak sedekat itu?


Baca selengkapnya ....

No comments:

Post a Comment