Mahar seribu rupiah diberikan Mayang oleh calon mertua dan calon suaminya, karena Mayang dianggap hanya gadis miskin anak tukang becak yang berprofesi sebagai pem ban tu. Hingga mereka melihat Mayang datang ke puskesmas dan memperkenalkan diri sebagai dokter baru di kampung itu…
Part 2
"Apa kamu bilang Mayang? Kamu me no lak la ma ran dari kami?" Bu Tari sontak berdiri dari duduknya menyebabkan gelang emasnya bergemerincing dengan riuhnya.
"Iya Bu, saya me no lak lamaran Bagus anak ibu. Mulai detik ini kita tidak ada hubungan lagi. Silahkan keluar dari rumah ini." Telunjuk Mayang mengarah ke pintu depan yang terbuka lebar.
Dalam hati Mayang bersyukur, ibu dan bapaknya urung mengundang beberapa tetangga untuk menjadi tamu sekaligus saksi acara lamaran hari ini.
Mayang yang meminta. Ia tidak ingin kedua orangtuanya mengeluarkan u ang terlalu banyak untuk acara ini. Ia ingin acara yang sederhana saja. Jikapun mengundang tetangga dan keluarga, Mayang ingin ikut menyumbang tapi tentunya akan di to lak mentah-mentah oleh bapaknya.
Bapaknya meskipun hanya seorang tukang becak, benar-benar bertanggungjawab untuk keluarga. Dengan nafkah yang sedikit, ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk saat ini Mayang belum bisa memberi tahu keluarganya tentang keadaannya yang sebenarnya. Nanti saja pikirnya, setelah pekerjaannya stabil baru ia akan memberitahukan semuanya kepada kedua orangtuanya.
Pak Subroto bangkit dari duduknya disusul oleh Bagus. Lelaki berkumis tebal itu menatap Mayang dengan ta jam. "Baiklah kalau begitu. Lamaran ini kami batalkan. Sejujurnya saya lega karena Bagus tidak jadi me ni ka hi Mayang. Anak kami pantas mendapatkan yang lebih baik. Ayo Mah, Bagus kita pulang."
Titah sang kepala rumah tangga diangguki oleh Bu Tari dan Bagus. Mereka melenggang pergi dari rumah sederhana itu dengan ang kuh. Tak ada satu katapun dari Bagus untuk membela atau mempertahankan hubungannya dengan Mayang. Seolah-olah semua sudah direncanakan sejak awal.
Pak Darmo dan Bu Tari mengejar langkah kedua calon besannya itu. Bagaimanapun mereka tidak ingin la ma ran ini ga gal.
"Bu Tari, saya mohon Bu. Tolong jangan pergi dulu." Ucap Bu Lastri sambil memegang lengan wanita berkebaya mewah itu.
Bu Tari yang merasa lengannya disentuh langsung me ne pis dengan ka sar. Ia menatap ji jik wanita berpakaian lu suh yang memegangnya.
"Jangan pe gang-pe gang. Baju ini ma hal. Kalau ru sak, kamu mau ganti huh?" Ben tak nya.
Bu Lastri hanya nenunduk sambil me na han ta ngis. Pikirannya dipenuhi dengan cara bagaimana agar keluarga Bagus tidak pergi begitu saja. Ia masih berharap Mayang tetap me ni kah dengan Bagus.
"Ayo Pah kita pulang. Lama-lama Mamah gak kuat di tem pat ku muh seperti ini." Ucap Bu Tari ang kuh.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan rumah Pak Darmo. Halaman yang sebenarnya merupakan halaman bersama dengan para tetangga lainnya.
Debu jalanan me nge pul saat mobil minibus milik keluarga Pak Subroto dipaksa mundur dengan ka sar. Mesinnya men de ru, seolah mewakili a ma rah pemiliknya yang me le dak-le dak.
"Bagus! Bu Tari! Tunggu dulu, Nak!" Pak Darmo berlari terseok-seok mengejar mobil itu, tangan tuanya melambai pu tus asa.
Ibu Mayang, Bu Lastri, ber sim puj di ambang pintu yang miring, a i rma ta nya tum pah mem ba sa hi pipi yang mulai ke ri put. "Tolong, jangan pergi begini... kita bicarakan baik-baik..."
Mobil itu berhenti mendadak. Bu Tari menurunkan kaca jendela, wajahnya yang penuh bedak tebal tampak me me rah pa dam. Ia meludahi tanah dengan pan da ngan ji jik.
"Sudah! Tidak ada yang perlu dibicarakan! Harusnya kami bersyukur Bagus tidak jadi menikah dengan anakmu yang tidak ta hu un tung itu!" te ri ak Bu Tari me leng king. "Sudah mis kin, tidak berpendidikan, ma sa de pan nya su ram, ka sar pula mulutnya! Benar-benar tidak punya ta ta k ra ma!"
Pak Subroto yang duduk di kursi kemudi menimpali dengan suara berat penuh peng hi naan. "Kami ini keluarga terpandang, Pak Darmo. Kami datang dengan niat baik, tapi anakmu malah me ngu sir kami seperti ku cing ku rap. Camkan ini, Mayang tidak akan pernah mendapatkan jodoh sebaik Bagus. Dia akan jadi pe ra wan tua yang mem bu suk di rumah re yot ini!"
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap hitam yang me nye sak kan dada. Pak Darmo berdiri mematung di tengah jalan, bahunya me ro sot da lam. Beliau berbalik, menatap rumahnya dengan pandangan nelangsa yang sanggup me nya yat ha ti siapa pun yang melihatnya.
Di dalam rumah, Mayang hanya diam. Ia berdiri di depan meja tamu yang kini be ran ta kan. Dengan tenang, tangannya terulur mengambil piring berisi kue-kue pasar—lupis dan cenil—yang tadi dibeli ayahnya dengan sisa u a ng hasil menarik becak.
Ia memperhatikan piring itu. Isinya berkurang banyak. Senyum mi ris terukir di bibirnya.
"Katanya orang ka ya, katanya terpandang... tapi ternyata doyan juga makan kue pasar begini sampai hampir habis," gumam Mayang lirih. Suaranya datar, nyaris tanpa e mo si, namun ada kilat ketegasan di matanya.
"Mayang! Apa yang kamu lakukan, Nak?" Bu Lastri masuk dengan tergesa, langsung memegang pundak putrinya. "Kejar Bagus, Mayang. Min ta ma af! Cabut ucapanmu tadi. Katakan kalau kamu khi laf."
Pak Darmo menyusul masuk, duduk di kursi kayu dengan napas te re ngah. "Bapak akan cari pinjaman lagi, Mayang. Bapak akan ta rik becak sampai malam, atau bapak jual becak ini untuk bi a ya pes ta kalian. Yang penting kamu jadi me ni kah dengan Bagus. Jangan sampai kamu jadi pe ra wan tua, Nak. Kita mau taruh di mana muka kita di depan tetangga? Semua orang sudah tahu kamu pulang untuk di la mar."
Mayang tetap bergeming. Ia memasukkan sepotong kue ke mulutnya, mengunyahnya pelan, lalu menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sa yu. "Pak, Bu... mereka meng hi na kalian. Apa Bapak dan Ibu rela har ga diri kita di in jak-in jak hanya demi gelar 'istri pegawai'?"
"Kami ini o ran ke cil, Mayang! Orang ke cil memang tempatnya di bawah," ta ngus Bu Lastri pecah. "Ibu tidak peduli di hi na, yang penting masa depanmu terjamin. Bagus itu PPPK, dia perawat! Kamu cuma pem ban tu di kota, mau cari di mana lagi laki-laki se he bat dia?"
Mayang tidak menjawab. Ia memilih masuk ke kamarnya yang hanya dibatasi bilik bambu tipis. Di sana, ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap dinding yang ditempeli kalender tua.
Ingatannya melayang ke sepuluh tahun lalu. Saat ia memutuskan merantau karena Ayahnya tak mampu membiayainya kuliah. Saat itu, Bagus me na ngis melepasnya di terminal. Bagus yang saat itu baru masuk D3 Keperawatan berjanji akan se tia.
Mayang teringat betapa naifnya dia dulu. Di kota, ia bekerja mem ban ting tulang. Bukan hanya untuk makan, tapi diam-diam ia menyisihkan ga ji nya untuk dikirimkan kepada Bagus. “U ang kiriman bapak kurang, Yang. Buat beli buku medis ma hal,” begitu keluh Bagus setiap telepon. Dan Mayang, dengan tulus, mengirimkan separuh ga ji nya demi cita-cita pria itu.
Tiga minggu lalu, telepon dari Bagus membawa angin segar. “Pulanglah, Yang. Aku sudah jadi PPPK. Aku ingin me la mar mu.”
Mayang pulang dengan harapan bunga-bunga. Namun yang ia dapati adalah du ri yang me nu suk jan tung nya. Bagus yang sekarang bukan lagi Bagus yang dulu menghargainya. Bagus yang sekarang merasa dunianya sudah terlalu tinggi untuk seorang "pem ban tu" seperti Mayang.
Titt... titt...
Ponsel di atas kasur ber ge tar. Sebuah nomor yang ia kenali sebagai Pak Fajar, Kepala Puskesmas di kecamatan tempat tinggalnya, muncul di layar.
Mayang mengusap si sa a i r ma ta di sudut matanya, lalu mengangkat telepon itu.
"Halo, selamat siang, Pak Fajar," ucap Mayang, suaranya mendadak berubah menjadi sangat profesional.
"Selamat siang, Dokter Andira. Maaf mengganggu waktunya di kampung halaman," suara Pak Fajar terdengar sangat hormat di seberang sana. Pak Fajar memang hanya mengenal Mayang dengan nama belakangnya, Andira. Ia tak pernah tahu bahwa Andira adalah putri tu kang be cak yang sering mangkal di depan pasar.
"Tidak apa-apa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Hanya ingin memastikan, Dok. Kapan Dokter bisa mulai bertugas di Puskesmas kami? Kami sangat membutuhkan tenaga Dokter Umum tambahan di sini, apalagi dengan pengalaman Dokter di rumah sakit besar di kota."
Mayang menghela napas panjang, matanya menatap lubang-lubang kecil di bilik bambu kamarnya. "Mungkin bulan depan, Pak. Saya masih mengurus surat penugasan dari Kemenkes dan sisa kepindahan saya."
"Baik, Dok. Kami tunggu kehadirannya. Oh ya, nanti Dokter akan dibantu oleh beberapa perawat dan bidan baru di sini. Salah satunya perawat PPPK yang baru masuk, namanya Bagus. Nanti saya perkenalkan saat Dokter masuk."
Mayang terdiam sejenak. Sebuah senyum dingin terbit di wajahnya yang ayu. "Bagus, ya? Baik, Pak. Saya tidak sabar ingin bekerja sama dengannya."
Setelah menutup telepon, Mayang merebahkan tubuhnya. Lu ka di ha ti nya masih ada, tapi kini rasa sa kit itu berganti menjadi a pi yang tenang.
Bagus ingin ma har se ri bu ru piah karena menganggap Mayang ren dah? Baiklah. Mayang akan membiarkan Bagus menikmati ke som bo ngan nya sebentar lagi. Ia tidak sabar melihat bagaimana wajah pria itu, dan bagaimana Bu Tari akan bersikap, saat mereka menyadari bahwa "pem ban tu" yang mereka hi na adalah atasan yang memegang kendali atas nasib mereka di Puskesmas nanti.
"Sepuluh tahun aku menjagamu, Bagus. Tapi mulai hari ini, aku yang akan men ja tuh kan mu.


No comments:
Post a Comment