Addense

Friday, 17 July 2026



Jan-tung-ku berpacu tak karuan seolah aku lah tersangka yang baru saja tertangkap ba-sah. Mataku membelalak nge-ri mendapati telapak tanganku ternyata masih asyik ber-sa-rang di ping-gang ramping Zahra. Lebih pa-rah nya lagi, entah sejak kapan ibu jariku bergerak ritmis, mengu-sap-u-sap lem-but lekuk tu-buh-nya dari balik kain gamis yang ia kenakan.


Udara di sekitar ku mendadak terasa pa-nas. Dalam kepanikan luar biasa yang meng-han-tam har-ga diriku sebagai seorang kapten, o-tak-ku berputar cepat, mencari alasan paling lo-gis untuk menyelamatkan muka.


"I-itu ..." suaraku sedikit tersendat, s i a l a n. Aku berdeham ke-ras, mencoba mengembalikan wibawa ku yang mendadak run-tuh. "Saya... saya lagi ngukur ping-gang kamu."


Ah, ke-bo-ho-ngan yang me-nji-jik-kan!


Zahra terdiam. Alisnya yang membingkai mata indah itu bergerak naik, menandakan kebingungan yang nyata.


"I-itu... Itu loh, kalau istri tentara itu pasti ada seragam buat pertemuan," lanjutku cepat, merangkai ke-bo-ho-ngan dangkal yang terdengar ko-nyol bahkan di telinga ku sendiri. "Seragam persit, pakaian seragam istri militer. Makanya saya lagi ngukur ping-gang kamu dari tadi, Zahra. Jangan pikir kalau saya lagi macam-macam, yah. Lagian tadi kan kita lagi akting, kita harus terlihat serealistis mungkin di depan Dani dan Farah biar mereka ke-pa-nas-an. Kamu paham maksud saya, kan?"


Hening!


Tidak ada suara selain detak jan-tung-ku sendiri yang bergemuruh. Aku me-ne-lan saliva dengan su-sah payah setelah me-lem-par ke-bo-ho-ngan tak masuk a-kal itu. Aku berharap alasan itu berhasil me-ni-pu-nya. Mungkin Zahra akan mengelak, mungkin dia akan ma-rah dan menepis tangan ku, atau setidaknya dia akan merasa semua itu sangat a-neh.


Namun, di luar dugaan ku, reaksi wanita difabel yang tak bisa melihat ekspresi wa-jah pa-nik suaminya ini justru sangat tenang. Dari balik cadar hitamnya, aku bisa melihat kedua sudut matanya melengkung, membentuk sebuah senyuman lembut yang tulus.


"Oh, baju seragam?" ulang Zahra dengan nada suara yang begitu polos. "Baik, Mas. Nanti Mas saja yang mengatur semuanya, yah. Terima ka-sih banyak karena sudah perhatian sama aku."


Ia menjeda kalimatnya sebentar, menundukkan pandangannya yang ko-song. "Aku pikir ... Ehem ... Hehe, tapi itu mustahil. Ya sudah, Mas, kalau begitu aku masuk dulu ke dalam, yah."


Dengan santai dan tanpa be-ban sedikit pun, Zahra me-na-rik tu-buh-nya mundur, me-le-pas-kan diri dari reng-kuh-an  ku seolah sen-tuh-an in-tim tadi adalah hal yang sangat lumrah. Ia berbalik, meraba dinding perlahan untuk menuntun langkahnya masuk kembali ke dalam ru-mah.


Aku terpaku di ruang tamu. Berdiri mematung seperti orang bo-doh.


Apakah Zahra se-bo-doh itu? Atau dia sebenarnya sedang pura-pura tidak tahu? Kenapa dia percaya begitu saja dengan alasan mu-rah-an mengukur ping-gang tanpa meteran?!


"CK!"


Aku men-de-cak ke-ras. Entah kenapa, ada sisi dari diriku yang merasa ke-sal. Hah, harusnya dia jangan percaya! Mustahil kan ada orang mengukur baju dinas hanya dengan me-ra-ba-ra-ba ping-gang pakai telapak tangan? Kalau sampai ada yang melakukan itu pada Zahra, akan ku pa-tah-kan tangannya.


Argh!


Sambil mengacak rambutku yang dipotong cepak ala militer dengan frustrasi, sen-sa-si ping-gang ramping dan lem-but milik Zahra tiba-tiba kembali meng-han-tam kepalaku. Ke-ha-ngat-an tu-buh-nya yang mungil seolah masih tertinggal pekat di telapak tanganku.


"S i a l!" umpatku tertahan. Aku me-mu-kul pa-ha ku sendiri untuk menyadarkan diri. Hentikan, Satria! Kamu sudah gi-la! Jangan pikirkan ping-gang Zahra terus! Fokus! Fokus untuk ba-las den-dam pada Dani dan Farah, paham! Wa-ni-ta ini hanya alat untuk meng-han-cur-kan mereka!


Sambil terus berbicara dan merutuki diriku sendiri di dalam ha-ti, aku akhirnya beranjak per-gi, berniat mengunci pintu depan dan menyusul masuk ke ka-mar-ku sendiri. Aku mengira semuanya akan baik-baik saja malam ini. Rencanaku berjalan lancar, Dani dan Farah pulang dengan membawa ke-ta-kut-an. Semuanya terasa sempurna.


Tapi, ada satu hal—satu hal fa-tal yang aku lupakan sebagai seorang pria normal. Dalam keadaan bu-ta dan tu-li, ke-po-los-an Zahra justru menjadi magnet yang ber-ba-ha-ya. E-go seorang laki-laki, insting li-ar ku yang selama setahun di daerah oper4si tertidur lelap, kini seolah bangkit dan selalu berada satu langkah di depanku.


🌵


Jederrrr!


Suara kilat menyambar, disusul gelegar petir yang sangat ke-ras, tiba-tiba memekakkan telinga. Cuaca malam yang tadinya hanya mendung kini pe-cah oleh ba-dai. Hujan turun dengan sangat lebat dalam hitungan detik, membawa serta hembusan angin dingin yang me-nu-suk tulang masuk melalui pintu depan yang belum sempat ku tutup rapat.


Dari arah lorong, aku melihat Zahra sedang berjalan meraba-raba dinding, hendak kembali ke depan untuk menutup pintu yang terhempas angin. Namun, suara petir yang menggelegar itu rupanya tertangkap sangat ke-ras oleh alat bantu dengarnya, menghasilkan suara bising yang me-nya-kit-kan.


"Astaghfirullah!" pe-kik-nya ka-get.


Petir menyambar lagi, kali ini cahayanya menerangi seisi ruangan yang ge-lap, disusul suara den-tum-an yang menggetarkan kaca jendela.


Tu-buh Zahra ber-ge-tar hebat. Ia ke-hi-lang-an keseimbangan dan langsung terduduk di lantai, tepat di dekat ambang pintu yang dingin. Dan saat itulah, dia mulai meraung minta tolong.


"Arrgggggghhhh!"


Zahra men-je-rit his-te-ris. Ia meringkuk di atas lantai yang dingin, kedua tangannya men-ceng-ke-ram kuat sisi kepalanya, berusaha menutup telinga dari suara bising yang terus me-nyik-sa-nya.


"T-tolong! Ayah! AYAH TOLONG ZAHRA!" teriaknya pi-lu, suaranya pe-cah diiringi isak ta-ngis yang me-nya-yat hati. "Telinga Zahra... mata Zahra... Zahra gak bisa denger apa-apa, Ayah! Gelap! Zahra gak bisa ngelihat apa-apa! Tolong!"


Mendengar je-rit-an penuh pen-de-rita-an itu, jan-tung-ku seakan melorot ke dasar pe-rut. Aku berlari secepat kilat menghampirinya.


"Zahra?!" panggilku pa-nik, berlutut di hadapannya.


Gadis itu terlihat sangat ka-cau. Dia terus me-na-ngis his-te-ris dalam posisi jongkok, me-ra-cau tak karuan dengan na-pas yang mem-bu-ru cepat. Entah itu trau-ma atau apapun itu, tapi semuanya benar-benar menguasainya, me-ne-lan-nya ke dalam ruang gelap masa lalu yang paling ia ta-kuti.


"Zahra ... Zahra? Ya Allah, kamu kenapa?!" Aku berusaha memanggilnya lebih ke-ras, mencondongkan wa-jah-ku ke dekatnya.


Namun, dia sama sekali tidak menggubris ucapanku. Ta-tap-an matanya ko-song, sangat li-ar dan penuh te-ror. Aku meraih kedua bahunya, meng-gun-cang tu-buh-nya dengan maksud menyadarkannya dari serangan panik itu.


"Zahra, sa-dar! Ini saya, Angkasa! Sa-dar, Zahra!"


Nihil. 


Dia terus meronta, me-mu-kul-mu-kul udara dengan mem-ba-bi bu-ta, seolah sedang me-la-wan bayangan ma-ut yang menjemputnya di malam ke-ce-la-ka-an itu. Hujan di lu-ar semakin deras, menenggelamkan suaraku. Dia benar-benar ke-hi-lang-an ken-dali atas dirinya sendiri.


Aku kehabisan a-kal. Kata-kataku tidak me-nem-bus kesadarannya. Guncangan ku tidak menghentikan his-te-ris nya. Dan saat itulah... sebuah hal gi-la, sesuatu yang sangat impulsif dan tak pernah ku bayangkan sebelumnya, terlintas begitu saja di kepalaku.


Tanpa berpikir panjang, dengan gerakan yang lem-but namun dipenuhi dominasi mutlak, tanganku menyambar bahu Zahra untuk menahan pergerakannya. Tangan kananku naik, meraih rahang bawahnya, lalu menarik dagunya mendekat ke arahku.


"Zahra ... Saya mohon izin ..."


Dengan ibu jariku, aku menarik turun kain cadar yang menutupi wa-jah-nya hingga sebatas leher, mengekspos wa-jah can-tik-nya yang ba-sah oleh air mata untuk pertama kalinya di ma-ta-ku. Dan sebelum dia sempat memproses apa yang terjadi...


DEG!


Aku me-na-brak-kan bi-bir-ku ke atas bi-bir mungilnya yang ber-ge-tar.


Kecupan itu terjadi begitu cepat, mem-bung-kam je-rit-an his-te-ris nya seketika. Aku me-lu-mat-nya pelan, mengirimkan sebuah kejut terapi untuk menarik kembali ke-wa-ras-an nya dari bayang-bayang masa lalu.


Kelopak mata Zahra ter-bu-ka lebar seketika. Pupil indahnya membesar karena syok lu-ar biasa. Tu-buh-nya yang tadi meronta hebat, kini mematung ka-ku di pe-luk-an ku.


Sungguh, ini adalah ci-um-an pertama kami, terjadi di atas lantai yang dingin dan dalam keadaan yang sangat genting. Rasa asin dari air matanya bercampur dengan manis di be-lah-an bi-bir-nya.


Ah, s i a l! 


Jan-tung-ku berdebar gi-la-gi-la-an. Niat awalku hanya untuk menyadarkannya dari panic attack, tapi saat merasakan ke-lem-but-an di bi-bir-nya, a-kal sehatku seolah menguap begitu saja. Ini sangat ber-ba-ha-ya! Terlalu ber-ba-ha-ya untuk pertahananku sendiri

No comments:

Post a Comment