Saran dari Ibu Sofia barusan bukanlah sebuah permohonan, melainkan perintah yang dibungkus dengan desisan tajam. Matanya melotot, memberikan isyarat agar Halimah segera lenyap dari pandangan sebelum puluhan pasang mata di sekitar mereka menyadari ada riak besar di balik kemegahan acara khitanan ini.
Halimah tidak mundur selangkah pun. Dia justru menarik napas dalam, merasakan udara aula yang mendadak terasa begitu tipis. Alih-alih menunjukkan gurat kesedihan atau ketakutan, Halimah justru menyunggingkan senyum terbaiknya. Sebuah senyuman santun yang amat tenang, jenis senyuman yang biasa digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.
"Baik, Bu," ucap Halimah. Suaranya tidak melengking, tidak juga bergetar. Nada suaranya diatur sedemikian rupa agar tetap terdengar jelas oleh Bibi Lastri dan beberapa kerabat yang masih berdiri menyemut di dekat tangga pelaminan.
Halimah memiringkan tubuhnya sedikit, lalu menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat kehabisan darah. "Mas Joni, Ibu meminta aku pulang sekarang. Katanya kehadiran aku dengan gamis lungsuran ini tidak cocok berada di tengah keluarga besar kalian yang semuanya serba hijau sage."
"Halimah! Jaga mulutmu!" bentak Joni dengan suara tertahan. Tangannya mengepal di dalam saku celana, menahan malu yang teramat sangat karena beberapa sepupunya kini mulai terang-terangan menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik.
"Aku hanya menyampaikan kembali pesan Ibu, Mas," sahut Halimah lembut. "Aku pamit pulang duluan ke rumah kontrakan kita. Kamu mau tetap di sini menikmati hidangan prasmanan, atau mau ikut istrimu pulang?"
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya yang sudah kehilangan kata-kata, Halimah membalikkan badan. Sebelum melangkah, dengan gerakan yang sengaja diperlambat, dia merapikan helaian jilbab marunnya ke depan bahu. Tindakan sederhana itu secara otomatis membuat kertas label harga Rp2.450.000 yang masih menggantung di lipatan kerah belakang gamisnya kembali berayun bebas, terpampang nyata di hadapan semua orang.
Halimah melangkah pergi dengan punggung tegak dan dagu terangkat. Setiap ketukan pantofelnya di atas lantai marmer aula seolah menjadi melodi penutup dari delapan tahun masa penindasan yang dia terima dalam diam.
Di belakangnya, suasana aula tidak lantas kembali normal. Bibi Lastri segera memanfaatkan momentum itu. Dengan suara lantang yang sengaja dikeras-keraskan, dia mendekati Ibu Sofia yang wajahnya sudah sekaku patung lilin diterpa udara panas.
"Lho, Mbak Sof, kok menantumu disuruh pulang?" tanya Bibi Lastri, pura-pura heran padahal matanya berkilat puas. "Lho, Mbak Sofia kok menantunya disuruh pulang. Kasihan loh Halimah udah capek datang kesini ternyata kamu usir hanya karena bajunya gak seragam sama kalian. Lagian aneh, baju seragam pas nikahan Siska kok baru dikasih kemarin setelah acaranya selesai. Terus sekarang Halimah gak dapet seragam baru seperti yang kalian pakai!"
Ibu Sofia hanya bisa menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Gengsinya yang selama ini setinggi langit runtuh berkeping-keping di hadapan para besan dan kerabat luar kota yang mulai ikut memperhatikan mereka. Mas Doni, sang pemilik hajat, buru-buru membuang muka dan berpura-pura sibuk menyapa tamu lain untuk menghindari tatapan menghakimi dari keluarga besar.
Sementara itu, Joni berjalan cepat menyusul istrinya. Langkah kakinya yang lebar mencerminkan kemarahan yang sedang membakar dadanya. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang suami dan laki-laki telah diinjak-injak oleh Halimah di depan seluruh keluarga besarnya.
Begitu mereka sampai di area parkir luar gedung yang agak lengang, Joni langsung mencengkeram lengan atas Halimah dengan kuat, memaksa wanita itu untuk berbalik menghadapnya.
"Kamu sengaja, kan?!" desis Joni, napasnya memburu. Matanya merah menahan amarah. "Kamu sengaja tidak mencopot label harga itu supaya bisa mempermalukan Ibu dan aku di depan semua orang? Jawab, Halimah!"
Halimah menatap tangan Joni yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap mata suaminya. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Tatapan Halimah begitu dingin, sedingin es yang mampu membekukan kemarahan Joni dalam seketika.
"Lepas, Mas. Sakit," ujar Halimah datar.
Joni refleks melonggarkan cengkeramannya, terkejut dengan nada bicara istrinya yang sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalah. "Kamu sudah berubah ya, Mah. Di mana sopan santunmu? Selama ini kamu tidak pernah seperti ini. Ibu itu orang tua kita, kenapa kamu tega membuat beliau menanggung malu di depan banyak orang?"
Halimah membenarkan posisi gamisnya yang sempat tertarik akibat cengkeraman Joni. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa asing bagi Joni yang mengenalnya selama delapan tahun ini.
"Siapa yang mempermalukan siapa, Mas?" tanya Halimah berbalik menantang. "Apakah aku yang mempermalukan Ibu, atau Ibu yang selama delapan tahun ini gemar mempermalukan aku di depan keluarga kalian?"
"Kamu sadar gak sih Mas, kalau kedudukan kita diremehin sama keluarga kamu!" bela Joni dengan suara meninggi.
"Baju yang seharusnya aku pakai sebulan lalu ternyata disimpan ibu dan diberikan kemarin dengan alasan bajunya kekecilan. Kamu sadar gak si kalau aku gak pernah dianggap sama keluarga kamu?" potong Halimah, suaranya tetap tenang namun menusuk tepat di ulu hati Joni. "Delapan tahun aku diam dan menahan semua rasa sakit hatiku karena tidak pernah dianggap ada oleh keluarga kamu. Hari ini, aku hanya menunjukkan kepada keluarga kamu tentang arti sebuah penghinaan. Cukup sudah aku bertahan hidup dengan keluarga toxic seperti keluarga kamu, Mas!"
Joni bungkam. Dia mencoba mencari celah untuk membantah, namun kenyataan yang diucapkan Halimah adalah kebenaran yang selama ini sengaja dia abaikan demi menjaga kedamaian semu dan bakti butanya pada sang ibu.
"Sekarang pilihan ada di tanganmu, Mas," lanjut Halimah sambil membuka pintu mobil tua mereka. "Kamu mau pulang bersamaku ke rumah kontrakan yang bulan depan masa sewanya habis dan belum kamu bayar karena uangnya kamu pakai untuk menyumbang acara khitanan keponakanmu ini, atau kamu mau kembali ke dalam aula, mendengarkan Bibi Lastri menguliti harga diri ibumu?"
Joni menatap bergantian antara pintu aula gedung yang megah dan sosok istrinya yang kini sudah duduk di balik kemudi. Perasaan malu, marah, dan bingung berkecamuk di kepalanya. Namun sebelum dia sempat mengambil keputusan untuk masuk ke dalam mobil, ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Joni merogoh sakunya dan melihat layar ponsel. Nama ibunya tertera di sana. Dengan tangan bergetar, Joni menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. Belum sempat dia mengucap salam, suara lengkingan Ibu Sofia yang penuh histeria langsung menyambar dari seberang telepon.
"Joni! Kamu lekas kesini, kita mau foto keluarga. Tapi jangan bawa istrimu yang tidak tahu diuntung itu! Ibu enggak mau dia lebih mempermalukan keluarga kita didepan umum lagi."
Suara klik tanda telepon diputus sepihak terdengar nyaring. Joni terpaku di tempatnya berdiri, tangannya perlahan lemas hingga ponselnya hampir merosot dari genggaman.
Halimah yang memperhatikan perubahan ekspresi suaminya dari dalam mobil hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Halimah dingin.
Joni menatap Halimah dengan tatapan kosong dan penuh ketakutan.
Bersambung.

No comments:
Post a Comment