Addense

Monday, 27 July 2026

Memilih ibu

 MEMILIH IBU 10




Darah memang lebih kental daripada air. Tapi kalau darah itu mengandung penyakit yang mematikan, membuangnya adalah langkah paling tepat.


Ikatan darah tak akan bisa diputus meski kita berpisah jarak sejauh apapun. Pun tak bisa dibuang hanya dengan selembar surat putus hubungan. Tapi, menjaga jarak aman agar hati yang selalu disakiti bisa sembuh, itu akan lebih menenangkan.


Seperti itulah.


Aku menatap lega paspor di tanganku. Hari ini aku datang lagi ke kantor imigrasi untuk mengambil pasporku dan Aruna yang sudah jadi. Dengan bus antar kota, aku datang sendiri. Aruna tak perlu datang lagi setelah pengambilan foto seminggu yang lalu. Dia aman dalam penjagaan Bi Sani.


(Pasporku dan Aruna sudah selesai, Rhea.)


(Berita bagus. Bisa kamu kirimkan untuk kelengkapan administrasi? Papa akan urus tiket keberangkatan kita. Seminggu lagi kita berangkat, Selena.)


Dadaku berdebar karena adrenalin bercampur antusiasme. Rasa haru menelusup. Kalau tak ada Rhea, aku tak akan bisa melakukan ini semua. Kadang, orang lain yang tak punya ikatan darah dikirimkan oleh Tuhan sebagai pengganti keluarga yang sesungguhnya.


(Aku akan mampir ke rumahmu. Sekalian mengucapkan terima kasih pada Papa dan Mamaku.)


(Ah, bagus. Aku tunggu ya. Sekalian biar Papa jelaskan apa apa yang harus kamu bawa.)


Aku keluar dari kantor imigrasi dan duduk menunggu taksi online. Kemudian baru kusadari kalau di seberang kantor ini adalah SMP tempat Elio sekolah. Aku menajamkan pandang, mencari sosoknya di antara ratusan anak-anak yang keluar dari gerbang di jam pulang sekolah.


Itu dia! Di antara kerumunan teman-temannya, tampak Elio memisahkan diri. Anak itu berjalan seorang diri menyusuri trotoar. Wajahnya tampak lelah dan tak bersemangat. Aku terdiam sejenak, teringat kebersamaan kami sebelum Lyra diketahui hamil. Dia sering minta ajari aku menggambar setelah melihatku menggambar sunset di kertas HVS. Itu adalah salah satu masa paling indah. Tapi setelah Lyra ketahuan hamil dan Ayah mengakui pernikahan sirinya, rumah berubah jadi neraka. Tanpa sadar, jarak membentang di antara kami.


“Elio!”


Kuputuskan untuk memanggilnya. Bagaimanapun dia adikku, meski aku belum tahu apakah dia dipihak Ibu atau aku. Elio masih kecil. Dia pasti bingung dengan semua yang terjadi di rumah.


Aku melambaikan tangan saat Elio menoleh. Aku tak dapat melihat apakah dia terkejut atau tidak. Yang jelas dia langsung menyebrang jalan dan berlari menghampiriku.


“Kak Selena? Kok Kakak disini?”


Aku tersenyum.


“Kakak sengaja nunggu kamu. Gimana kabar di rumah?”


Aku terpaksa berbohong. Aku tak mau membocorkan rencana kepergianku karena takut dia keceplosan. Andaipun Ibu harus tahu, itu saat aku sudah tak ada lagi di Indonesia.


Wajahnya langsung murung.


“Kacau. Kak Lyra ngamuk-ngamuk terus karena nggak boleh keluar sama Ibu. Soalnya … soalnya masih gendut.”


Oh begitu. Tentu saja, yang hamil kan dia. Tentu saja badannya tidak serta merta jadi langsing lagi.


“Kalau ada tetangga yang liat kakak sekarang, pasti mereka sadar kalau Kakak nggak pernah hamil. Kakak langsing soalnya.”


Aku tersenyum,” Biar saja. Penilaian orang itu nggak penting.”


Elio diam sejenak, “Bayinya mana?”


“Ada di kampung. Kakak titip sama tetangga sebentar.”


Dia diam sejenak, “Kasian dia ya. Coba kalau dia bisa memilih Ibu, dia pasti nggak akan pilih Kak Lyra jadi ibunya.”


“Kenapa ngomong gitu?”


“Kak Lyra dan Ibu itu sama. Sama-sama egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Meski aku kasian sama kakak karena harus ngurus bayi kak Lyra, tapi aku agak lega bayinya diurus orang baik.”


Bahkan anak sekecil ini sudah tahu mana orang-orang yang baik.


“Aku nggak sebaik itu, Elio. Aku hampir aja buang bayi itu di hutan.”


Elio terkejut. Wajahnya horor. Aku tertawa.


“Tenang. Nggak jadi kubuang. Aku takut dihantui perasaan bersalah. Ngomong-ngomong kamu udah makan?”


Dia menggeleng.


“Ibu sering lupa ninggalin uang saku. Tiap hari cuma ngurus Kak Lyra.”


Ya ampun. Ini sudah jam tiga siang. Dia pasti kelaparan.


“Kamu berangkat sekolah naik apa?”


“Berangkat nebeng teman, tapi pulangnya sering jalan kaki.”


Astaga. Rumah Ibu ke sekolah Elio cukup jauh. Kasian sekali adikku ini. Kenapa ada seorang Ibu yang begitu pilih kasihnya seperti Ibu? Elio tidak dibuang seperti aku, tapi dia juga tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan Lyra.


Taksi online yang kupesan akhirnya datang. Aku berdiri, mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan dari dalam tas dan menaruhnya di telapak tangan Elio.


“Ambil, jangan bilang-bilang Ibu. Pakai untuk keperluanmu.”


Dia terkejut melihat uang itu, “Banyak banget.”


Aku tersenyum, mengusap kepalanya.


“Mungkin setelah ini kita nggak akan ketemu lagi dalam waktu yang lama. Tapi kakak pesan, jaga dirimu baik-baik. Kamu lelaki. Ada banyak jalan untuk bertahan dan bertumbuh. Kelak, kalau kita bertemu lagi, Kakak ingin mendengarkan cerita baik darimu.”


Elio tiba-tiba menggenggam tanganku.


“Kakak mau kemana? Aku ikut Kakak aja. Di kampung kan ada sekolah SMA. Nanti aku bantu jaga bayi itu.”


Aku menggeleng, “Maaf, Elio, Kakak belum bisa membawamu.”


Wajahnya langsung berubah sendu.


Aku menepuk-nepuk bahunya, “Sampai ketemu lagi.”


Dengan langkah berat aku masuk ke dalam mobil dan kendaraan roda empat itu melaju pergi. Saat berbalik, aku melihat Elio masih berdiri di tempatnya semula, memandangi mobil yang kutumpangi hingga akhirnya tak terlihat lagi.


Aku menitipkan adikku padamu, Ya Allah. Tak ada yang bisa menjaga dia sebaik Engkau.


***


Aku mampir ke rumah Rhea sebentar. Papa dan Mamanya menyambut hangat, memberi wejangan yang tak pernah diberi oleh orang tua kandungku.


“Disana nanti, awalnya mungkin akan berat karena kamu membawa Aruna, tapi Tante percaya kamu bisa, Selena. Kamu harus menunjukkan pada orang tuamu, bahwa kalian berdua, anak dan cucu yang mereka buang, bisa berdiri tegak di atas kaki sendiri.”


Terakhir, Tante Wita memelukku erat. Rasanya sudah lama sekali tak dipeluk sehangat ini. Ibu angkatku lebih dulu meninggal. Bapak yang sangat mencintai Ibu memutuskan tidak menikah lagi sampai beliau meninggal dunia setahun yang lalu. Aku sangat beruntung dibesarkan oleh mereka.


Semua persiapan itu akhirnya selesai. Aku tinggal menunggu hari keberangkatan. Di rumah, kuraih Aruna yang kini sudah bisa tersenyum. Dia sehat dan gemuk. Bi Sani sangat telaten mengurusnya. Di usianya yang hampir dua bulan, beratnya sudah lima kilogram. 


Aku membalas senyum polosnya. 


“Aruna anak Mama, besok kita akan terbang melintasi lautan dan meninggalkan negara ini. Ayo kerjasama sama Mama anakku, kita tunjukkan pada mereka bahwa kita bisa berdiri tegak di atas kaki sendiri.”


***


Hari itu akhirnya tiba. Bi Sani mengantarku ke Bandara bersama Pak Rahmat dan istrinya. Rhea dan keluarganya juga sudah menunggu. Mereka semua menyambut kami hangat.


“Ibu dan kakakmu akan menyesal karena telah membuang anak secantik ini.”


Tante Wita menggendong Aruna sebentar. Aruna menggeliat dan kembali meringkuk dengan nyaman dalam gendongan.


“Tante sudah hubungi agen penyalur. Dalam satu atau dua hari, kau akan dihubungi jika sudah ada orang yang tepat untuk mengasuh Aruna.”


Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Panggilan penumpang pesawat Singapore Airlines menggema. Aku dan Rhea memasuki gate keberangkatan dengan langkah pasti. Dadaku gemuruh. Setiap langkah adalah satu tiket menuju masa depan kami. Masa depanku dan juga Aruna.


Tepat sebelum aku merubah ponsel ke mode pesawat, pesan dari Elio masuk. Dengan dada berdebar aku membacanya.


(Kak, aku nggak tahan lagi. Ibu dan Kak Lyra makin gila. Kalau aku nggak tahan dan menyerah aja, apakah aku dosa? Apa arwahku akan gentayangan dan jadi setan?)


Dadaku berdetak kencang, gemuruh pesawat yang mulai lepas landas bersaing dengan gemuruh di dadaku. Dengan tangan gemetar, aku mengetik balasan untuknya.


(Elio, kau laki-laki! Aku tidak punya adik laki-laki yang gampang menyerah seperti itu! Bertahan! Tunggu kakak dan Aruna pulang lima tahun lagi. Kalau kau menyerah, jangan pernah anggap aku kakakmu lagi!)



Hikss, apakah Elio akhirnya menyerah? Bagaimana nasib Selena dan Aruna selanjutnya. Bagaimana keadaan Ibu dan Lyra? Bab selanjutnya teman-teman bisa baca di kbm app ya. Mohon maaf ini bab terakhir di FB. Link kbm ada di kolong komentar. Terimakasih semuanya


No comments:

Post a Comment