"Panglima, seluruh area luar toko sudah steril. Kendaraan operasional sudah bersiap di depan."
Laporan dari Letnan Ryan yang berdiri tegap di ambang pintu dapur merun tuhkan sisa-sisa harapan yang Sinta miliki pagi itu. Di luar, suara deru mesin mobil dinas militer terdengar mende ru konstan, meme cah keheni ngan jalanan kota satelit yang biasanya damai. Tiga mobil hitam besar dengan pelat nomor dinas khusus tampak menge pung halaman toko kue "Sweet Sinta", meman cing perhatian beberapa tetangga yang mulai keluar dengan tatapan penuh tanya dan ketaku tan.
Rama yang sejak subuh sudah berdiri menga wasi dari sudut rua ngan, hanya mengang guk kecil tanpa menga lihkan pandangannya dari Sinta. "Bagus. Siapkan jalur khusus di ru mah sakit. Saya tidak mau ada media atau pihak luar yang menci um urusan ini."
"Siap, Panglima!" Ryan memberi hormat secepat ki lat lalu kembali mun dur ke luar.
Sinta meme luk Tama erat-erat di atas pangkuannya. Bo cah lelaki itu tampak kebingu ngan, tangan mungilnya mere mas jaket ibunya sembari menatap ta kut ke arah Rama yang kembali mendekat. Di dalam da da Sinta, jan tungnya berta lu begitu heb at hingga menciptakan rasa nye ri yang mence kik. Rahasianya, benteng pertahanan yang dia bangun dengan tete san air mata selama lima tahun, kini berada di ujung tan duk kehanc uran seutuhnya.
"Ayo, Sinta. Jangan membuat a nak buahku menunggu lebih lama lagi," ujar Rama, suaranya terdengar luar biasa tenang namun mengandung perintah yang mutlak.
"Rama, aku mohon... jangan lakukan ini di depan Tama," bisik Sinta dengan bi bir yang geme tar par ah. "Dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua kegi laan ini. Kau bisa menya kiti psikologisnya."
Rama berlut ut di hadapan mereka berdua. Pandangannya melem but secara instan saat menatap wajah polos Tama yang bersembunyi di balik lengan Sinta. Pria itu mengu lurkan tangan tegapnya, mencoba mengu sap ram but lebat sang putra dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"Tama a nak yang kuat, dia tidak akan sak it," ucap Rama lemb ut, matanya menatap dalam ke manik mata a naknya. "Tama, hari ini ikut Om ke ru mah sakit sebentar, ya? Kita hanya mau memeriksa kesehatan Tama agar nanti kalau sekolah, tidak ada lagi teman-teman yang berani na kal atau mengejek Tama. Mau, kan?"
Tama mendo ngak, meli rik ibunya yang sudah berlinang air mata, lalu kembali menatap Rama. "Kalau Tama ikut Om, apa nanti Ayah yang di bintang ma lam itu akan cepat pu lang?"
Da da Rama serasa dihan tam batu besar mendengar pertanyaan itu. Kilat penyes alan yang pekat melintas di matanya, sebelum dia mengangguk mantap. "Iya, Sayang. Kalau Tama pintar hari ini, Ayah pasti akan segera datang dan tidak akan pernah pergi lagi."
"Rama, stop memberikan harapan pal su pada a nakku!" ben tak Sinta parau, da danya naik turun mena han ama rah yang bercampur dengan keta kutan yang luar biasa. Jika tes DNA itu berjalan, semuanya akan terbong kar. Fakta bahwa Tama adalah dar ah daging Rama, fakta bahwa dia telah membo hongi seorang Panglima tertinggi, akan terpampang nyata di atas kertas putih laboratorium. Rama bisa saja mengambil Tama darinya sebagai bentuk huku man atas kelan cangannya.
"Ini bukan harapan pal su, Sinta. Ini adalah janji seo rang prajurit," sahut Rama dingin sembari berdiri tegak kembali. "Ryan! Bawa koper kecil di sudut itu. Kita berangkat sekarang."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Sinta untuk mempro tes, Rama langsung mera ih tu buh Tama dari dekapan Sinta. Bocah itu sempat meme kik ka get, namun kekua tan le ngan Rama yang kokoh membuatnya merasa aman dalam sekejap. Sinta yang tidak punya pilihan lain terpaksa bangkit berdiri dan mengikuti langkah lebar Rama dari belakang dengan kaki yang terasa sebe rat timah.
Perjalanan menuju Ru mah Sakit Pusat Angkatan Darat terasa bagai perjalanan menuju tiang gantu ngan bagi Sinta. Sepanjang jalan di dalam mobil dinas yang kedap suara, dia hanya bisa memandang keluar jendela dengan tatapan ko song, sementara Tama sibuk bertanya banyak hal tentang atribut militer kepada Rama, yang anehnya dijawab oleh pria itu dengan kesabaran yang luar biasa.
Begitu mobil berhenti di lobi belakang ru mah sakit, beberapa petugas medis dengan pakaian sterilisasi lengkap sudah berdiri menyambut. Jalur itu benar-benar sepi, sengaja dikosongkan atas perintah darurat sang Panglima.
"Panglima Rama, rua ngan khusus satu sudah siap. Tim dokter spesialis forensik dan genetika sudah menunggu di dalam," ujar seor ang dokter berpangkat Kolonel sembari memberi hormat tegap.
"Lakukan dengan cepat. Ambil sampel mukosa pipi dan da rah. Saya ingin akurasi seratus persen," perintah Rama tanpa basa-basi.
Sinta menggan deng tangan Tama dengan sangat erat saat mereka melangkah memasuki rua ngan serba putih yang berb au antiseptik ta jam. Di tengah ruan gan, sebuah kursi medis berukuran besar sudah bersiap. Keta kutan Sinta mencapai pun caknya; dia merasa seluruh dunianya yang tenang selama lima tahun ini perlahan-lahan mulai run tuh menjadi ab u.
"Ibu... Tama tak ut," bisik bo cah itu, menyembu nyikan wajahnya di pinggang Sinta saat melihat ja rum suntik kecil yang disiapkan oleh perawat.
Sinta langsung berlu tut, meme luk putranya dengan air mata yang kembali mene tes de ras. "Dokter, saya mohon... apa tidak bisa pakai metode lain? An ak saya trauma dengan jar um sun tik!"
"Mohon maaf, Ibu Sinta, untuk akurasi terbaik pada a nak-a nak, kami mengombinasikan swab mukosa dalam mu lut dan pengambilan sedikit sampel da rah tepi," jelas dokter tersebut dengan nada sopan namun tegas.
"Sinta, minggir. Biar aku yang meme ganginya," potong Rama. Pria itu maju, memi sahkan Sinta dari Tama dengan halus namun bertenaga, lalu membawa bocah itu ke dalam pangkuannya di atas kursi medis. "Tama, lihat Om. Tutup matamu dan hitung sampai tiga, oke? Laki-laki tidak boleh takut. Om ada di sini meme lukmu."
Tama mengangguk pas rah dalam dekapan ha ngat ayahnya. "Satu... dua..."
Cess.
Proses pengambilan sampel da rah itu hanya berlangsung beberapa detik, diikuti dengan usa pan lem but kapas di bagian dalam mu lut Tama. Bo cah itu sempat meri ngis kecil, namun pelu kan erat dan bisikan mene nangkan dari Rama membuatnya berhasil mena han ta ngis.
Sinta yang menyaksikan semua itu dari sudut ruangan hanya bisa menyan darkan punggungnya ke dinding keramik yang dingin. Seluruh tu buhnya le mas, keri ngat dingin membas ahi telapak tangannya. Pikirannya berputar li ar pada konsekuensi tiga hari ke depan. Rahasianya sudah berada di tangan tim dokter militer.
Setelah proses selesai dan Tama dibawa ke ru ang tunggu bersama Bu Ratih yang ikut mengawal, Rama melangkah mendekati Sinta yang masih terpaku di sudut rua ngan.
"Semua sudah selesai, Sinta. Sampelku juga sudah diambil," ujar Rama, menatap lekat wajah wanita yang tampak sangat ra puh itu. "Sekarang, kita hanya perlu menunggu tiga hari. Tiga hari untuk menentukan apakah kau akan tetap tinggal di toko kue kecilmu itu, atau kembali ke sisiku sebagai Nyonya Besar di ru mahku."
Sinta mendo ngak, menatap Rama dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan dan keben cian yang menda lam. "Kau benar-benar mon ster, Rama. Kau menggunakan kekuasaanmu untuk mengin jak-in jak hakku sebagai ibunya. Kau pikir setelah semua pak saan ini, aku akan bisa menerimamu kembali dengan mudah?"
Rama terdiam sejenak, gu rat aslinya yang lelah dan penuh kerinduan sempat muncul di balik topeng tegasnya. Dia mengu lurkan tangan, menceng keram kedua ba hu Sinta dengan lembut namun pose sif.
"Aku terpaksa menjadi mon ster agar bisa membawamu pulang, Sinta," bisik Rama dengan suara yang serak dan sarat emo si. "Lima tahun aku hidup bagai mayat berjalan tanpa arah. Aku tidak peduli seberapa besar kau memben ciku sekarang, tapi demi dar ah dag ingku yang ada pada Tama, dan demi cintaku yang tidak pernah mati untukmu... aku akan memastikan bahwa kali ini, kau tidak akan punya celah sedikit pun untuk berla ri dariku lagi."
Sinta hanya bisa meme jamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya menga lir deras membas ahi pipi, menyadari bahwa pela riannya benar-benar telah berakhir di tangan pria yang paling dia hindari, namun juga paling dia rindukan di dalam hatinya.
Istri Rahasia Panglima

No comments:
Post a Comment