Addense

Monday, 27 July 2026

Pengganti mu



 “Kamu nggak perlu tinggal di rumah ini lagi, Rena. Pergi.”


Kalimat itu meluncur dari bibir Papa dengan dingin, setajam belati yang baru saja diasah. Beliau berdiri membelakangiku, menatap taman belakang seolah-olah wajah putri kandungnya sendiri adalah polusi yang merusak pemandangan.


“Pa… tolong dengarkan aku dulu. Satu kali aja,” suaraku bergetar, nyaris hilang di telan sunyi.


Aku berdiri dengan sisa kekuatan yang kupunya, memegangi sudut sofa agar tidak ambruk. Pipiku masih berdenyut panas akibat tamparan tadi, tapi rasa perih di sana tidak sebanding dengan hancurnya harga diriku saat ini.


Papa berbalik, matanya merah padam. “Aku sudah mendengar cukup dari bukti, Rena! Foto-foto itu tidak berbohong. Kamu ditemukan di kamar hotel dengan laki-laki asing saat pernikahanmu tinggal dua hari lagi! Kamu mau aku mendengar apa? Kebohongan apalagi yang mau kamu susun?”


“Aku dijebak, Pa! Amel yang membawaku ke sana. Dia yang memberiku minum—”


“Cukup!”


Papa menghantam meja kaca di depannya.


Prang!


Bunyi gelas yang bergeser menambah dramatis suasana. “Jangan lempar kesalahanmu pada adikmu. Amel sudah menceritakan semuanya. Dia bahkan menangis memohon agar aku memaafkanmu, tapi bukti dari Randy tidak bisa dibantah!”


Di sudut ruangan, Mama Fara melangkah maju dengan wajah yang dipaksakan terlihat sedih. Dia meletakkan tangannya di bahu Papa, mencoba “menenangkan” tapi sebenarnya justru memperkeruh suasana.


“Rena, Sayang… sudah ya. Jangan membantah Papa lagi,” ucap Mama Fara dengan nada lembut yang memuakkan. “Ini demi kebaikan kamu juga. Mungkin dengan hidup mandiri di luar sana, kamu bisa merenungi kesalahanmu. Kami hanya tidak ingin nama Wiguna semakin terseret ke lumpur jika kamu tetap di sini.”


“Mama benar, Kak,” timpal Amel. Aktingnya begitu paripurna sampai-sampai aku ingin tertawa histeris. “Aku gak mau ini terjadi… aku sayang Kak Rena. Tapi mungkin ini yang terbaik… Papa butuh waktu untuk tenang.”


Aku menatap Amel tajam. Di balik air mata palsu itu, aku melihat kilatan kemenangan. Dia tahu aku tidak punya bukti. Dia tahu dialah yang memegang kendali atas narasi ini.


Papa menghela napas pendek.


“Keluarkan kopernya.”


Dua pelayan rumah langsung bergerak tanpa menatapku. Seolah ini bukan pertama kali mereka menyaksikan seseorang dibuang dari rumah ini.


Koperku diseret keluar pintu. Lalu dilempar.


Bukan diletakkan. Dilempar.


“Tidak ada v4ng saku. Tidak ada fasilitas. Kamu sudah bukan bagian keluarga ini lagi.”


Aku berdiri diam.


Ada bagian dari diriku yang masih berharap ini mimpi buruk. Bahwa aku akan bangun di kamar hotel, atau di klub itu, atau di mana pun asal bukan di sini.


Tapi tidak. Ini nyata.


“Pa…” suaraku pecah pelan. “Aku mohon…”


“Pergi, Rena.”


Kali ini tidak ada nada tinggi.


Tapi justru karena itu… aku tahu tidak ada jalan kembali.


Aku berdiri di halaman rumah dengan koper di sampingku. Gerbang besi besar itu berdentang menutup, mengunci dunia yang selama dua puluh empat tahun ini kusebut rumah. Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku yang terasa mengecil.


“Aku… bahkan nggak dikasih kesempatan untuk sekadar ganti baju yang layak,” gumamku sambil menatap pakaian yang masih kukenakan sejak semalam.


Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah memecah kesunyian jalanan perumahan elit ini. Sebuah sedan hitam mengkilat berhenti tepat di depan gerbang. Jantungku menyempit. Aku mengenali plat nomor itu.


Randy.


Harapan kecil muncul di benakku. Mungkin Randy datang untuk membawaku pergi. Mungkin dia sudah berpikir jernih. Aku berlari kecil menuju mobil saat pria itu turun. Randy Wiryadinata keluar dengan setelan jas yang sempurna, namun wajahnya lebih dingin dari es di kutub utara.


“Randy!” aku memegang lengannya, mengabaikan tatapan jijik dari orang-orang lewat. “Randy, syukurlah kamu datang. Kamu percaya aku, kan? Kamu tahu aku bukan wanita seperti itu. Amel, dia—”


Randy menarik lengannya dengan kasar, membuatku nyaris terjatuh ke aspal. Dia menatapku seolah-olah aku adalah noda yang merusak pemandangan indahnya.


“Aku tidak butuh penjelasan, Rena,” suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun.


“Tapi aku dijebak! Seseorang menaruh sesuatu di minumanku dan—”


“Bukti sudah berbicara lebih keras dari mulutmu,” potongnya cepat. Dia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan kembali foto-foto laknat itu. “Kamu t1dvr di sana, Rena. Dengan laki-laki lain. Di hotel yang dimiliki keluargaku sendiri. Kamu sadar betapa memalukannya ini bagiku?”


Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku bersumpah, tidak terjadi apa-apa semalam. Laki-laki itu… dia hanya t1dvr di sofa. Dia menjagaku!”


Randy tertawa sinis, sebuah tawa yang merobek sisa keberanianku. “Menjaga? Di kamar hotel dengan kancing baju terbuka? Kamu pikir aku bodoh? Aku tidak bisa menikahi wanita yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Aku punya reputasi, Rena. Keluarga Wiryadinata punya standar.”

No comments:

Post a Comment