Langit Desa Kalinampu mulai berwarna jingga ketika Kapten Barat Pratama tiba di rumah kepala desa. Rumah joglo yang cukup luas itu tampak ramai. Beberapa anggota Satgas sudah lebih dulu berkumpul bersama perangkat desa.
Begitu melihat Barat datang, Pak Kades Sukirno langsung berdiri menyambutnya. "Silakan masuk, Kapten."
Barat menjabat tangan pr ia yang usianya hampir enam puluh tahun itu. "Maaf saya terlambat, Pak Kades. Ada warga yang perlu saya bantu."
Pak Kades tersenyum maklum. "Tidak apa-apa. Saya dengar tadi ada sedikit kerib utan di dekat warung."
Barat hanya mengan gguk singkat. Di ruang tamu, Rangga yang sedang menikmati teh hangat langsung menyeringai.
"Komandan, tumben telat. Biasanya malah kami yang ditunggu."
Beberapa anggota Satgas ikut tertawa kecil.
Barat meletakkan topinya di atas meja. "Kalau ada warga butuh bantuan, ya didahulukan."
Jawaban singkat itu membuat Rangga langsung mengangkat kedua tangannya. "Siap, Komandan. Saya cuma bercanda."
Pak Kades kemudian membuka map berisi beberapa berkas. "Kalau begitu kita mulai saja."
Barat du duk sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari saku seragamnya.
"Selama tiga bulan ke depan kami berharap Satgas bisa membantu warga," ujar Pak Kades. "Yang paling mend esak ada beberapa pekerjaan desa yang belum sempat kami selesaikan."
Beliau menjelaskan beberapa kebutuhan desa secara singkat. Barat sesekali mencatat sambil mengan gguk. "Besok pagi saya dan anggota akan survei dulu," katanya. "Setelah itu baru kami susun pekerjaan mana yang harus diprioritaskan."
"Alhamdulillah," sahut Pak Kades lega. "Warga pasti senang mendengarnya."
Tak lama kemudian rapat selesai. Pak Kades hendak menutup mapnya ketika suara Barat kembali terdengar. "Pak Kades."
"Iya, Kapten?"
"Saya mau tanya satu hal."
"Silakan."
Barat men atap pri a tua itu beberapa saat. "Gadis yang tadi sore, namanya Jingga, ya?"
Ruangan yang semula santai mendadak hening. Pak Kades saling pand ang dengan sekretaris desa.
Sementara Rangga tampak bingung. Ia tak menyangka komandannya justru masih memikirkan ga dis yang ditolong sore tadi.
Sekretaris desa mengem buskan na pas pelan. "Kasihan anak itu."
Barat semakin penasaran. "Kenapa memangnya?"
Pak Kades menyandarkan pungg ungnya ke kursi. "Kalau soal akhlak, saya berani menjamin Jingga an ak baik. Tapi hidupnya memang tidak pernah mudah sejak ia dan datang ke desa ini lima belas tahun lalu.
Barat kembali teringat rumah sederhana yang tadi didatanginya. "Lalu dia hi dup dari apa?"
Sekretaris desa ikut menjawab. "Jingga tidak pernah memilih pekerjaan, Kapten. Kalau ada tetangga yang minta dijahitkan baju, dia menjahit. Kalau Bu Marni membuat kue lalu butuh bantuan, dia datang."
Lalu kenapa wanita tadi memperlakukannya seperti itu?" tanya Barat serius.
Pak Kades tersenyum pa hit. "Karena wajahnya."
Barat meng ernyit. "Maksudnya?"
"Jingga terlalu cantik. Banyak la ki-la ki tanpa sadar memperhatikannya. Padahal Jingga sendiri tidak pernah mengg oda siapa pun. Akibatnya para istri cem buru. Termasuk Bu Siti."
Tapi tadi tidak ada satu pun warga yang membantu?" tanya Barat.
Sekretaris desa menjawab pelan, "Bukan kami tidak mau. Sebagian warga bekerja di sawah Bu Siti. Yang lain masih punya uta ng padanya."
Barat memahami maksud mereka. Kalau melawan Bu Siti, bukan hanya satu orang yang akan menerima akibatnya.
"Lalu... ka kinya?"
Pak Kades menggeleng pelan. "Saya sendiri tidak tahu pasti. Dia sudah begitu sejak ia datang ke sini.
Tak ada lagi yang ditanyakan Barat. Namun, wajah Jingga terus terbayang di benaknya.
---
Malam mulai turun.Sebagian anggota Satgas sudah bersiap berpatroli mengelilingi desa.
Rangga menghampiri Barat yang sedang duduk sendirian di teras. Lalu pergi setelah Barat memberi isyarat.
Kini hanya suara jangkrik dan hembu san angin yang menemani Barat. Pikirannya kembali dipenuhi wajah gadis yang baru dikenalnya beberapa jam lalu.
Jingga. Gadis yang memilih diam meski diperlakukan semena-mena.
Barat meng usap wajahnya pelan. "Aneh..." Baru kali ini ia terus memikirkan seseorang yang bahkan belum dikenalnya dengan baik.
Pandan gannya kemudian tertuju pada sebuah sepeda ontel tua yang terparkir di bawah pohon mangga. Milik tetangga Pak Kades. Barat berdiri. "Pak."
Seorang pria tua yang sedang menyapu halaman menoleh. "Iya, Pak Tentara?"
"Boleh saya pinjam sepedanya sebentar?"
"Boleh. Silakan saja."
"Terima kasih."
Tak lama kemudian Barat sudah mengayuh sepeda menyusuri jalan desa yang mulai sepi.
Lampu-lampu rumah warga tampak redup.
Udara malam terasa sejuk.
Sekitar sepuluh menit kemudian, rumah berdinding anyaman bambu itu kembali terlihat. Lampu sentir yang menggantung di teras memancarkan cahaya kekuningan.
Di atas bale-bale, Jingga duduk sambil memangku sebuah ponsel tua. Layarnya retak di beberapa bagian. Di layar itu sedang tayang ajang pencarian bakat menyanyi.
Sesekali bibir Jingga ikut menggumam mengikuti lagu yang dibawakan peserta.
Barat menghentikan sepedanya di depan pagar kayu.
Suara rem sepeda membuat Jingga men oleh.
Matanya memb esar. "Pak Tentara..."
Barat tersenyum kecil. "Malam." Ia menyandarkan sepeda di pagar lalu berjalan mema suki halaman. "Malam, Jingga."
Gadis itu buru-buru mematikan layar ponselnya.
Jingga men atap Barat yang tersenyum. "Apa aku mengganggu?"
Jingga menggeleng pelan, tetapi bib irnya tetap rapat. Keheningan kembali menyelimuti halaman rumah itu.
Barat melangkah mendekat. Baru satu langkah. Jingga tiba-tiba berdiri.
Namun, bukannya mendekat, Jingga justru mun dur selan gkah. Wajahnya tampak gugup.
Seolah ada tembok tak kasatmata yang sengaja ia bangun di antara dirinya dan pria berseragam loreng itu.
Barat menghentikan langka hnya. "Kamu kenapa?"
Jingga mengg igit bib ir ba wahnya. Tatapannya dipenuhi keraguan.
Bersambung...

No comments:
Post a Comment