~ Sah!
Hari berlalu dengan cepat. Radit sudah dinyatakan bisa keluar dari rumah sakit meski harus melakukan pemeriksaan rutin dan juga terapi agar kakinya bisa kembali digunakan sebagai mana mestinya.
Pun dengan p e r n i k a h a n Sheina yang sudah siap digelar. Tak ada kemewahan, hanya p e r n i k a h a n yang diadakan di sebuah masjid dan hanya orang-orang tertentu yang datang. Hanya p e r n i k a h a n secara agama saja.
Ya, Sheina akan melakukan n i k a h s i r i h dengan pemilik b e n i h itu. Sebab proses i n s e m i n a s i b u a t a n ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah m e n i k a h dan menjadi m a h r a m. Karena agama Islam melindungi n a s a b a n a k yang akan l a h i r dengan cara demikian, kemudian Islam juga menetapkan untuk a n a k dan o r a n g t u a masing-masing mempunyai h a k, sesuai dengan kedudukannya sebagai o r a n g t u a dan a n a k.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.” Daffa mengucap dalam satu kali tarikan napas panjang.
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Saaaahhh!”
Suara seruan dari saksi terdengar, menandakan saat ini Sheina dan Daffa sah menjadi s u a m i i s t r i—sementara. Sebab, mereka akan b e r c e r a i setelah Sheina m e l a h i r k a n a n a k Daffa.
Sheina m e n c i u m punggung tangan s u a m i nya seperti arahan dari fotografer yang nantinya foto itu akan dijadikan bukti nyata kalau mereka berdua benar telah m e n i k a h sah di depan penghulu dan saksi.
Sejak tadi ia hanya tertunduk meratapi nasibnya seperti boneka yang dipaksa untuk bekerja. Hari ini tak ada air m a t a yang mengalir, tapi hati m e n j e r i t dengan keadaan yang membawanya sampai ke titik ini.
Lebih-lebih ini adalah pertama, tapi sayang bukan untuk selamanya. Berbeda dengan Daffa yang menganggap p e r n i k a h a n ini murni hanya sebagai pelengkap dari konsekuensi dirinya dan Maudy memilih untuk melakukan proses i n s e m i n a s i b u a t a n.
Pun, dengan Radit. Ia yang paling b e r s e d i h saat ini.
Pasalnya, baru kemarin ia diberitahu sebab kenapa Sheina harus m e n i k a h dengan l e l a k i yang lebih pantas dibilang a y a h atau o m dari pada s u a m i Sheina karena jarak u s i a yang cukup jauh. Sheina 20 t a h u n dan yang satu lagi 35. Sudah seperti s u g a r d a d d y dan s u g a r b a b y.
“Kenapa kalian gak memberitahukan ini padaku? Aku gak setuju Sheina m e n i k a h dengannya!” Radit di sini yang paling menolak keras.
“Terus kamu mau apa, Dit? U a n g juga sudah ada di tangan kita, kamu juga sudah s e m b u h berkat u a n g itu. Kita gak bisa menggagalkan begitu saja, atau kita akan dilaporkan ke p o l i s i,” kata Lastri.
Sheina hanya diam saja saat itu, sungguh air m a t a tak bisa keluar. Ia terlalu lelah dan lebih memilih untuk diam.
“Arrgghh!” Radit m e n j a m b a k r a m b u t nya.
“Kenapa harus Sheina tapi? Kenapa bukan I b u saja? Kenapa m e n g o r b a n k a n Sheina?” tanya Radit terengah.
Adiknya masih kecil, jelas belum siap dengan p e r n i k a h a n apalagi harus m e n g a n d u n g selama sembilan b u l a n dan nantinya a n a k itu akan d i a m b i l oleh orang lain. Memikirkan bagaimana perasaan Sheina aja, Radit tak sampai hati untuk m e n y a k i t i nya.
“Kalo I b u, kemungkinannya sangat kecil, Dit. I b u sudah kepala empat, tingkat k e s u b u r a n nya juga mulai menurun. Pak Daffa juga maunya kalau bisa p e r e m p u a n yang s u b u r. Sedangkan kamu harus d i o p e r a s i, I b u gak punya pilihan.”
Sheina hanya melirik pada i b u nya. Asal tahu saja, jika tidak ada yang penting, Sheina tidak akan mau bicara dengannya.
Mungkin dulu ia b u t a, terlalu sayang dan tidak mengira kalau i b u nya bukan w a n i t a n a k a l, tapi setelah kejadian itu, Sheina berulang kali memergoki i b u nya b e r m a i n dengan Firman di rumah mereka ketika keadaan rumah sepi, bahkan terakhir kali Sheina melihatnya saat Radit ada di rumah dan sedang t i d u r.
Sungguh g i l a!
“Kembalikan saja sisa u a n g nya, sisanya biar aku yang gantikan biar Sheina gak perlu n i k a h sama l e l a k i itu!” katanya tetap tidak terima.
“Mau kamu ganti sama apa, Dit? K a k i kamu aja belum sepenuhnya s e m b u h, t e r a p i yang kamu jalani juga membutuhkan u a n g, kamu juga belum kerja lagi, gajimu juga hanya berapa? Sedangkan u a n g yang sudah dikeluarkan hampir setengahnya.”
“Seharusnya aku m a t i saja kalau aku gak bisa menjadi k a k a k yang baik! Akh! Sial!”
“Istighfar, K a k. Sheina gak papa kok. Sheina ikhlas asal K a k a k s e m b u h,” tanggap Sheina mendekat, ia m e m e l u k k a k a k nya yang masih menggunakan kursi roda. K a k i nya masih belum sepenuhnya pulih.
M a t a Radit b e r k a c a - k a c a saat membalas p e l u k a n adiknya. Ia m e n c i u m k e p a l a adiknya berkali-kali dengan b i b i r bergetar. Merasa tidak ada artinya ia h i d u p karena tidak bisa berbuat apa-apa, malah menyusahkan banyak orang.
“Kenapa kamu rela melakukan ini demi K a k a k, Shein? Seharusnya kamu biarkan aja aku m a t i.”
“Bukan salah K a k a k, apa yang Sheina lakukan juga gak seberapa dengan kembalinya n y a w a K a k Radit. Jadi, gak usah bahas k e m a t i a n, karena aku gak mau k e h i l a n g a n K a Radit.”
H a n c u r rasanya Radit mengingat perkataan Sheina. Saat ini pun ia hanya bisa diam dan beberapa kali m e n e t e s k a n a i r m a t a. Melihat w a j a h Sheina yang murung, tak ada senyum di b i b i r adiknya semakin n y e r i rasa di d a d a nya.
“Andai aku gak mengalami ini, kamu gak perlu m e n i k a h, Shein, bahkan kamu rela menjadi seorang w a n i t a h a m i l yang setelah itu a n a k nya gak bisa kamu miliki.”
K a k a k mana yang tega melihat adiknya seperti itu? tidak ada, Radit juga tidak g i l a h a r t a, ia bahkan tidak tahu wujud u a n g yang diberikan sebagai DP agar Sheina mau melakukan i n s e m i n a s i itu.
Bukan acara besar, yang datang pun hanya saksi dan penghulu juga k e l u a r g a Sheina. Maudy bahkan tidak hadir karena tidak ingin melihat s u a m i nya m e n i k a h i p e r e m p u a n lain meski p e r n i k a h a n hanya status. Hanya o r a n g t u a t u n g g a l dari Daffa yang datang ke p e r n i k a h a n. Adalah i b u nya.
"Kamu yakin gak ikut Sayang?" tanya Daffa lembut saat ia akan berangkat ke masjid tempat ia akan melaksanakan i j a b q a b u l.
Maudy menggeleng. "Aku di rumah aja nunggu kamu, Mas. Meski ini hanya sementara, tetap saja aku gak ingin lihat kamu n i k a h sama p e r e m p u a n lain." Maudy merajuk.
Dari awal ia tidak setuju kalau Daffa harus m e n i k a h lagi, tapi Daffa memaksa.
Mungkin bagi Maudy hanya 9 b u l a n aja, ngapain harus n i k a h? Toh mereka juga gak akan melakukan apa-apa.
Namun bagi Daffa, mau bagaimana pun nantinya, p e r e m p u a n yang akan dititipkan b e n i h nya akan tetap menjadi t a n g g u n g j a w a b nya. Ia tidak ingin suatu hari ada salah paham dan orang lain membuat f i t n a h di antara mereka. Namanya juga m u l u t manusia. Walau Daffa tetap saja salah, karena tidak dibenarkan ia m e n i k a h i a n a k g a d i s orang lalu d i c e r a i setelah semua keinginannya terkabul. Itu bisa disebut z a l i m.
Acara sudah selesai. Penghulu dan saksi sudah pulang dari masjid, tinggal Sheina dan k e l u a r g a nya juga Daffa dengan orangnya.
“Kemasi barang-barang kalian, setelah ini kalian akan tinggal di rumah yang aku siapkan,” kata Daffa. “Selama kamu h a m i l, kebutuhanmu juga akan menjadi t a n g g u n g j a w a b ku. Jadi katakan saja kalau kamu perlu sesuatu.”
“Terima kasih, Pak.”
Kebaya putih panjang hingga menyentuh lantai membungkus t u b u h indah g a d i s pemilik nama Sheina Zahwa Altaluna. Dipadukan dengan kerudung warna senada yang menutupi d a d a nya.
Make up yang digunakannya pun tipis, natural. B i b i r nya yang mungil diselimuti lipstik berwarna pink menyala membuat Sheina hari itu seperti putri dari negeri dongeng. Cantik sekali. W a j a h nya pun terlihat pangling, tidak seperti biasanya.
Mungkin kemarin Daffa memang sudah bertemu dengan Sheina saat p e m e r i k s a a n. Tapi baru kali ini ia melihat w a j a h Sheina secara penuh dan tidak sepucat sebelumnya. Yang sama hanya tak ada senyum yang terukir.
Tak memungkiri jika ... i s t r i kecilnya ... cantik. Sangat cantik.
“Kalau gitu saya harus kembali duluan karena masih ada pekerjaan di kantor. Fathur nanti yang akan menemani kalian pindah ke rumah baru,” ucap Daffa menunjuk orang kepercayaannya.
“Dan besok kita akan bertemu di r u m a h s a k i t. Kamu siap ‘kan?” Daffa memandang Sheina.
“Ya, Pak, saya siap,” ucapnya lemah dengan suara lembut.
Lastri sudah tak sabar rasanya ingin pindah ke rumah barunya. Entah akan seperti apa.
Saat Daffa akan pergi, Sheina memegang l e n g a n jasnya. Daffa menoleh dan melihat Sheina mengulurkan t a n g a n nya.
Karena bingung, ia pun memberikan t a n g a n nya tanpa tahu maksud Sheina apa.
“Hati-hati, Pak. Dan terima kasih karena Bapak, k a k a k saya s e l a m a t.”
Ternyata Sheina m e n c i u m t a n g a n s u a m i nya. Ia masih tahu adab yang diajarkan a y a h nya. Karena mau bagaimanapun p e r n i k a h a n ini, Sheina tetaplah i s t r i dari seorang Daffa.
Daffa melirik pada Lastri juga Radit dengan canggung. Ia hanya mengangguk, salah tingkah. “I-iya, ka-kamu gak ... perlu melakukan ini, p e r n i k a h a n ini hanya ... formalitas saja,” ucapnya. “Sa-saya pergi dulu.”
L e l a k i itu pun pergi, begitu juga dengan Sheina beserta k e l u a r g a. Mereka akan berkemas dan segera pindah ke rumah baru yang disiapkan untuk Sheina dan k e l u a r g a nya. Sepanjang perjalanan Sheina hanya diam saja duduk di kursi belakang bersama i b u nya.
Sedangkan Radit duduk di depan bersama Fathur—orang kepercayaan Daffa yang disuruh untuk mengurusi kepindahan Sheina.
“Ini rumah kalian,” kata Fathur begitu tiba di rumah yang cukup mewah dan besar tetapi tidak bertingkat.
“Ya ampun, ini beneran kami akan tinggal di sini?” Lastri lah orang yang paling bahagia saat ini, apalagi rumah ini bukan hanya sementara, melainkan bonus yang dijanjikan Daffa kalau a n a k nya sudah d i l a h i r k a n.
Ia pun gegas berlari masuk dengan membawa handbagnya ke dalam lebih dulu. benar-benar bertolak belakang dengan rumahnya.
Dinding lembab, di mana-mana pasti ada yang mengelupas, belum lagi yang retak juga ada beberapa bekas hewan rayap yang mencetak dinding hingga terlihat menjijikkan.
Sedangkan Sheina masih di luar menunggu Fathur pergi setelah membantu memasukkan barang-barang yang dibawa. Ia juga membantu mendorong kursi roda k a k a k nya.
“K a k, mulai besok kita setiap pagi jalan-jalan keliling sini, ya? Sekalian K a k a k belajar jalan, nanti Sheina bantu.”
Radit hanya tersenyam kecut. Sungguh, ia merasa gagal jadi seorang k a k a k. Bagaimana ia bisa senang jika adiknya harus menerima keadaan ia akan h a m i l sembilan b u l a n dan itu b e n i h dari seorang l e l a k i b e r i s t r i, belum lagi nanti Sheina tidak akan bisa memiliki b a y i itu.
Roda yang berputar, dihentikan oleh t a n g a n Radit. “Kamu baik-baik aja, Shein?” Ia menatap Sheina dengan perasaan bersalah.
Mengangguk dengan cepat, Sheina balas dengan senyum. “Aku bahagia, apalagi K a k a k sudah s e m b u h. Tinggal t a n g g u n g j a w a b ku membantu K a k a k buat jalan.
Bersambung …
Judul: Benih Calon Ayah Tiriku


No comments:
Post a Comment