Addense

Monday, 20 July 2026

Hamba alloh

 Diam-diam aku menyumbang 10 ekor sapi ke Masjid untuk di qurbankan. Kuminta panitia  merahasiakan namaku, tapi saat Sholat Idul Adha, bukan Hamba Allah yang di sebutkan panitia seperti permintaanku. Beliau menyebut lantang namaku beserta jumlah ekor yang di qurbankan sehingga membuat mereka yang ada di Masjid itu langsung diam terbungkam.


💦💦💦


"Eh, Mbak Nina ... mau beli sapi juga?" tanya Mang Dadang dengan senyum sumringah. Dia tak salah, hanya saja waktu dan keadaan yang membuat pertanyaan itu seakan menyudutkanku.


"Nggak, Mang," sahutku sambil tersenyum. "Saya di suruh Bu Rahma ngambil daging pesanannya."


"Ohhh iya, Neng. Maaf ya, sebentar saya ambilkan dulu."


Pria itu masuk, meninggalkan aku sendirian di pelataran rumahnya. Tak lama, gema tawa yang kukenal muncul perlahan, keluar dari area kandang sapi yang lokasinya tak jauh dari tempatku berdiri.


Degh!


Itu Mbak Rani. Iparku, saudari almarhum suamiku. Pantas saja Mang Dadang tadi bertanya 'apa aku juga mau beli sapi?' ternyata ada Mbak Rani di sini.


"Hahaha, iyaa Mbak siyapp. Pokoknya di tubuh sapi qurban milik Mbak Rani nanti, akan saya tulis nama Mbak, besar-besar. Biar seluruh warga kampung tahu, kalau sapi qurban terbesar tahun ini milik Mbak Rani."



Aku mendengar celotehan itu seperti gemercik air yang masuk ke telinga. Sangat mengganggu dan terkesan membuat tak nyaman.


'Qurban?' tanyaku dalam hati. 'Ohhh Mbak Rani mau qurban ... ya syukur alhamdulillah, mungkin Mbak Rani lagi ada rezeki lebih. Semoga dia ingat kalau ada keponakannya yang juga ingin makan daging,' monologku dalam hati. 


Aku masih berdiam diri di sana, di tempat semula menunggu Mang Dadang yang sedang mengambilkan daging pesanan majikanku. Awalnya aku mencoba untuk biasa saja. Aku menunduk seperti biasa, hal yang selalu aku lakukan di saat aku merasa tidak  nyaman. Namun, semakin aku menunduk gema suara itu semakin datang mendekat. 


"Aman-aman," ucap Bu Idah, pemilik peternakan ini sambil terus berjalan mengantar Mbak Rani hingga ke pelataran depan, tepat di mana saat ini aku berdiri. "Pokoknya beres deh, Mbak. Mbak Rani nggak perlu khawatir. Nanti tak bilangin sama panitia kalo nama Mbak Rani harus paling awal di sebutkan, dan berat bobot hewan qurban milik Mbak Rani-lah yang paling abot tahun ini." 


Iparku tersenyum, tapi lagak angkuhnya sangat terpancar di wajah cantiknya. Berharap sekali mendapat pujian setelah namanya di umumkan di Toa masjid besok saat idul adha. 


'Kesannya biar apa? Mau pamer? Biar satu kampung tahu kalau Mbak Rani sudah berqurban?'  tapi sayangnya, gerutuan itu hanya bisa aku lontarkan dalam hati. Mana berani aku berkata demikian, yang ada malah aku kena sembur beliau nanti. 


"Eh, Nina," tegurnya sambil mengambil kacamata hitam dari tas kulit miliknya. "Ngapain kamu di sini? Mau qurban juga?"  


"Eng,-" 


"Memangnya sanggup?" po tongnya cepat, secepat kurir mengirimkan paket. Dia berjalan mendekatiku, hingga satu senti jarak mulutnya dari telingaku. "Kalo masih misk in jangan belagu," bisiknya taj am, lebih taj am dari pis a u dapurku. 


Aku semakin tertunduk, jant ungku berdebar-debar. Ngilu rasanya mendengar lima kata yang baru saja terlontar dari mulut iparku. Dia tahu aku mis kin, tapi memberi secanting beras pada istri almarhum adiknya saja  tak pernah. 


Berat rasa kepa la ini untuk tertegak, menatap matanya, apalagi membal as ucapannya. Namun, di hati kecilku, ada bisikan halus yang mengatakan bila aku harus mengaminkan ucapan Mbak Rani yang sebelumnya. "Aamiin, Mbak. Do'ain rezekiku lancar ya, biar bisa qurban juga seperti  Mbak Rani," balasku lirih, sambil menahan sesak di dada. 


"Heleh. Jangan mimpi! Bisa makan hari ini saja harusnya kamu bersyukur!" ketus Mbak Rani, ma tanya melot ot menandakan ia tak suka dengan ucapanku tadi. 


Bu Idah yang Juga masih berdiri di sana, merasa tak enak dengan perdebatan kecil kami. Tapi aku bersyukur beliau hanya diam saja, tak ikut campur  men ghinaku. Tak lama, Mang Dadang datang membawa lima kilo daging pesanan majikanku. 


"Nggak boleh gitu Mbak Rani. Semua orang juga kalo ada rezeki lebih Pasti pingin qurban. Kita nggak boleh menghin a, apalagi Mbak Nina ini istri almarhum adek kamu, harusnya kamu dukung finansial dia, kan kamu orang kaya yang baik hati. Jangan bisa qurban, tapi saudara susah malah di biarin," cec ar Mang Dadang. Jlebbb, ucapan suami Bu Idah itu spontan, bagai ikan lele yang melihat umpan, langsung di makan, tapi ia tersangkut di antara kail yang ta jam, dan umpan yang mematik an. 

No comments:

Post a Comment