Addense

Saturday, 25 July 2026

Mesin uang


 "Gak sia-sia kita sabotase rem mobil Papa waktu itu," ucap suamiku sambil m3meluk adik tiriku di dapur gelap. Jantungku serasa berhenti. Pria yang dipuja sebagai penyelamat keluarga ternyata d4lang kr1minal! Detik itu juga aku...    


#10


"Mas, ini gimana? Air di rumah ini m4ti! Masa kerannya cuma ngeluarin air setetes-setetes sih?!"


 


Suara Bella menggema dari k a mar mandi bawah.


 


Aku yang sedang pusing melihat tumpukan ta gi han langsung membentak balik.


 


"Ya dicoba lagi, Bella!"


 


Bella keluar dengan rambut berantakan dan wajah penuh emosi.


 


"Gak bisa, Mas Joko! Ini pasti gara-gara kamu belum bayar ta gi han PDAM, kan?!"


 


"Jangan asal tuduh! Yang biasa ba yar semua ta gi han rumah ini kan si Hani!" bentakku kesal.


 


"Tapi sekarang Hani gak ada, Mas! Kamu dong yang mikir pakai ot ak!"


 


Aku mem ban ting kertas ta gi han ke meja.


 


"Lihat ini! Ta gih an listrik, internet, sampai i u ran komplek datang barengan! Totalnya hampir d ua ju ta!"


 


"Uwang dari mana?!"


 


Bella malah mencibir t a jam.


 


"Katanya laki-laki hebat, masa ba yar ta gi han d ua ju ta aja gak becus?"


 


Harga diriku langsung ter ba kar.


 


"Kuliahmu, baju-baju ma halmu, semuanya dibayari dari uwang yang aku minta ke Hani!" bentakku.


 


"Tapi sekarang uwangnya gak ada, Mas! Kamu cuma modal omong doang!"


 


Pertengkaran kami terhenti saat Papa Broto datang dengan tongkatnya.


 


"Kenapa kalian berisik sekali pagi-pagi begini?"


 


"Air rumah diputus karena ta gi han belum dibayar, Pa," jawabku kesal.


 


Wajah Papa langsung merah padam.


 


"Si4lan si Hani itu! A n ak durhaka! Cuma gara-gara di pu kul sekali terus dia beginiin kita?!"


 


"Joko, kamu kan suaminya! Kenapa kamu lembek sekali menghadapi istri?"


 


Aku mulai kehilangan kesabaran.


 


"Papa pikir cari Hani gampang? Nomornya mati! Aku ke butik malah di ge ret satpam!"


 


Bella ikut menyela dengan nada sinis.


 


"Sudahlah, Pa! Mas Joko ini memang gak bisa diandalkan dalam keadaan susah!"


 


Aku langsung menatapnya t a jam.


 


"Apa kamu bilang?"


 


"Iya! Kalau kamu pintar, harusnya Mas gak biarin Mbak Hani pergi!" bentak Bella.


 


"Jadi kita gak perlu kelaparan dan kehabisan uwang kayak gini!"


 


Dapur rumah mewah itu mendadak terasa panas dan pengap.


 


Untuk pertama kalinya, kami saling menyalahkan tanpa topeng manis sedikit pun.




Judul: Selesai Jadi Mesin Uang


No comments:

Post a Comment