Aku bangkit, lalu mengintip dari balik tirai.
Tiga orang berdiri di depan pintu. Mereka celingak-celinguk sambil berbicara.
“Masih ada di dalam. Tuh, mobilnya masih ada,” ucap Mbak Sisil.
“Tahu kita dateng, makanya gak mau keluar,” timpal Mbak Sita.
“Dia gak suka sama aku, Mbak. Jadi pura-pura gak denger kita dateng,” ucap Renita.
“Dia itu iri sama kamu. Status sosialnya aja beda jauh. Terus yang lebih bikin dia iri, Aldi cintanya sama kamu.” Mbak Sita terkikik.
“Lagian, mimpi aja. Cuma dokter ga dungan aja pengen setara sama kita.”
“Emang, bener, ya dia itu dokter ga dungan?” tanya Renita.
“Ya logika aja, dia cuma yatim piatu. Gak jelas asal-usulnya. Gimana bisa kuliah kedokteran,” jawab Mbak Sita.
“Terus, kenapa Ibu bikinin dia klinik? ‘Kan, bahaya kalau ada mal praktek kaya yang lagi terjadi. Aku kasihan, lho, sama ibu,” ucap Renita lagi.
“Sebenernya, di klinik ini juga dia cuma numpang tenar. Yang meriksa pasien, ya, dokter lain, lah,” jawab Mbak Sisil.
“Gitu, ya? Pinter juga, ya, dia pura-pura jadi dokternya?”
“Ya gitu … kaya dia pura-pura baik sama kita, hihi … selama ini, kita sering ngerjain dia. Dan dia nurut aja. Mungkin dia berpikir kita bakal mau nerima dia. Padahal, ih … amit-amit,” ucap Mbak Sita.
“Iya. Dia kaya orang bo doh. Sama Aldi juga nurutnya kaya sama raja. Padahal, Aldi gak pernah bersikap baik sama dia. Makanya, kamu gak usah khawatir, gak lama lagi juga mereka ce rai.”
Aku menarik napas dalam-dalam. Ya, selama ini aku memang bo doh. Menge mis perhatian Mas Aldi, dan memohon-mohon pengakuan dua kakak ipar ini.
Tunggu saja, bukan Mas Aldi yang akan meninggalkan aku. Tapi, aku yang akan meninggalkan dia.
Aku tidak mungkin pergi begitu saja dengan kondisi klinik yang seperti ini. Setidaknya, aku meninggalkannya dalam kondisi baik.
Dan tentang alasan kepada Ibu, sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir. Bukankah beliau sudah mengizinkan aku pergi? Aku hanya tinggal mempersiapkan hati untuk meninggalkannya saja.
Aku memegang gagang pintu, lalu memutarnya. “Lho, malam-malam begini … ada perlu apa, Mbak, dateng ke sini?” tanyaku setelah pintu terbuka.
“Kita habis hang out bareng,” jawab Renita santai sambil masuk dan memandangi ruangan klinik. “Sekalian aja mampir. Pengen lihat tempat kerja kamu. ‘Kan katanya sempat rame, ya?” Nada suaranya lembut tapi dingin.
Mbak Sita menatapku dengan senyum sinis. “Iya, kebetulan lewat. Kirain kliniknya udah tutup, ternyata masih buka. Rajin banget, ya, Dokter Nadia.” Ada tekanan pada kata dokter yang membuat perutku terasa mual.
“Aku cuma beres-beres,” jawabku pelan.
“Wah, hebat, ya,” timpal Mbak Sisil dengan nada setengah menge jek. “Berani juga kamu tetap kerja di tempat yang udah jadi bahan omongan satu kota.”
Aku mengerutkan alis. “Omongan apa, Mbak?”
Mbak Sisil langsung mengeluarkan ponselnya. “Oh, kamu belum lihat? Nih.”
Di layar ponselnya, terpampang sebuah artikel daring dengan judul menco lok.
Diduga Terlibat Kasus O bat Pal su, Klinik Dokter Nadia Diseli diki Polisi.
“Ooh itu. Beritanya kurang tepat. Yang bener itu, polisi mencu rigai distributor gelap yang menyelun dupkan o bat pal su ke klinik ini,” jawabku tenang.
“Tapi udah viral, lho,” sela Mbak Sita. “Malu banget gak, sih, jadi keluarga Aldi sekarang?”
“Kita lihat aja nanti, Mbak. Hasil penyeli dikan polisi,” ucapku.
Wajah Mbak Sisil dan Mbak Sita memerah.
“Oh iya, Mbak Renita.” Aku melirik Renita. “Waktu itu kita belum ngobrol banyak. Aku penasaran, emang, nama orang tua kamu siapa?”
“Ngapain kamu nanya orang tua Renita? Gak sopan banget,” ucap Mbak Sisil.
“Mereka konglomerat, kamu mana tahu.” Mbak Sita terkekeh.
“Sebentar,” ucap Renita ketika ponselnya berdering. “Sherin telpon.” Dia pun mengangkatnya.
“Iya, Nak, kenapa?” tanya Renita.
“Mama gak lupa besok, kan, ke sekolah aku?” tanya Sherin yang ternyata teleponnya di loudspeaker.
“Enggak, dong,” jawab Renita. “Tapi, ini beneran boleh hadirin acara di sekolah kamu? Ibu Nadia gimana?” Renita melirikku sekilas.
“Ibu Nadia ya gak gimana-gimana. Sekarang, kan ada Mama. Jadi, Mama yang dateng. Papa juga udah setuju.”
“Ibu Nadia nanti ma rah mama jalan sama papa kamu. Kaya waktu kita makan malem itu.”
“Gak usah dipikirin soal Ibu Nadia, Mah. Gak penting. Aku juga ma les kalau sama dia. Malu-maluin dilihat orang. Nanti aku dibu li. Lagian, Ibu Nadia cuma ibu ti ri.”
Mendengar itu da daku terasa sesak seketika. Gadis kecil yang dulu selalu bersikap manis, sekarang bisa lancar sekali berkata yang bisa melu kai hatiku.
Apalagi, ternyata Mas Aldi juga mau hadir di acara sekolah Sherin. Sesuatu yang jarang mau dia lakukan. Kalau aku yang hadir, biasanya dia tidak mau dan sebaliknya. Intinya, Mas Aldi selalu tidak mau pergi bersama denganku.
“Mbak, aku mau pulang. Silakan Mbak juga pulang. Ini udah malem,” ucapku.
“Ya sudah,” ucap Mbak Sisil sambil berdiri. “Kita pulang, yuk. Kasihan Nadia kalau kita lama-lama di sini. Dia pasti udah capek banget ngadepin ka susnya.”
Mereka bertiga terkekeh.
Sebelum melangkah ke pintu, Mbak Sita menoleh dan berkata pelan. “Kalau kamu butuh bantuan, coba minta sama Aldi. Tapi jangan terlalu berharap, ya. Dia udah punya urusan sendiri.”
Mereka keluar satu per satu, meninggalkan aroma parfum menyengat yang masih menempel di udara.
Begitu suara mobil mereka menjauh, aku terduduk di kursi tunggu, memeluk da da.
Suasana hening, tapi jantungku berdetak tak beraturan.
“Dok.” Riri mendekat.
Aku melirik ke arahnya.
“Itu tadi Renita Angel, ya, Dok? Model yang sempet menghilang, katanya go internasional.”
Aku mengangguk.
“Dia balik ke tanah air, go sipnya karena dia ga gal, Dok. Tapi tadi bicaranya tinggi sekali.”
“Gagal gimana? Bukankah dia a nak konglomerat pemilik sebuah rumah sakit internasional di Ibu Kota?”
“A nak konglomerat apanya? Dulu awal dia muncul, beredar berita kalau dia itu berasal dari keluarga sederhana kaya kita. Terus dia nikah sama orang kaya, dan sekarang saya baru tahu kalau nikah sama Pak Aldi. Gosipnya, dia gak mau ngakuin keluarganya, Dok.”
Aku terdiam. Kalau yang Riri katakan benar, berarti siapa yang dia akui sebagai keluarganya di rumah sakit punya Ayah? Tapi … namanya juga gosip, bisa jadi kabar itu tidak benar.
“Dia emang som bong, Dok. Padahal mah, mis kin,” bisik Riri. “Dokter kenapa diem aja diperlakukan kaya gitu? Meski mereka orang kaya, kita juga berhak membela diri, Dok. Apalagi cuma Renita.”
Riri memang banyak tahu tentang apa yang sering menimpaku. Dia sudah bekerja di sini selama hampir lima tahun.
“Biarin ajalah, Ri. Lagian, aku juga udah ada rencana.”
“Rencana apa, Dok?” Riri menatapku.
Belum sempat aku menjawab, ada telepon dari Kak Malik masuk. Aku langsung mengangkatnya.
“Ka sus kamu biar pengacara yang nyelesein. Kamu keluar aja dari klinik itu. Pindah ke sini. Bantuin kakak,” ucapnya.
Aku tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, baru aku menjawabnya. “Kak, kasih aku waktu sampai kasusnya jelas, ya? Sampai tersang kanya ketemu. Aku gak mau dibilang ka bur dari masalah.”
Kak Malik tidak menjawab, sampai sambungan telepon terputus.
“Dokter, maaf. Yang kemarin ke sini, itu … kakaknya Dokter?” tanya Riri ragu.
Aku mengangguk.
“Beneran, Dok? Bukankah dia putra pemilik Rumah Sakit Internasional Kamil Medika?”
“Kamu tahu?” Aku meliriknya.
“Tahu, Dok. Dari kemarin saya pengen tanya ini sama Dokter. Dulu, saya pernah ikut seminar, salah satu pembicaranya Dokter Malik Kamil,” terangnya. “Kalau Dokter Malik Kamil kakaknya Dokter, berarti … Dokter ini ….”

No comments:
Post a Comment