Addense

Monday, 27 July 2026

Tidak ingin menikah

 



Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.


“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.


Siera sempat menoleh ke arah Dregory, lalu kembali menatap Erick. Tatapannya tenang, namun ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan.


“Saya ingin pernikahan kita dibatalkan,” ucapnya jelas, tanpa ragu.


Keheningan langsung menyelimuti ruangan.


Lalu Erick terkekeh.


Suara tawa itu terdengar ringan, namun cukup untuk menarik perhatian semua orang. Mereka menoleh ke arahnya, termasuk Siera yang ikut memperhatikan dengan sedikit kewaspadaan.


“Ini trik lain untuk menarik perhatianku?” tanyanya, nada suaranya penuh ejekan.


Siera tidak bergeming.


“Tidak. Saya serius, Yang Mulia Pangeran.”


Tawa Erick justru semakin jelas.


“Hahaha… Duke, putri Anda sekarang benar-benar pintar berakting,” katanya sambil menggeleng pelan.


“Kalau saya jadi Anda, saya lebih baik berhati-hati saat bicara, Yang Mulia.” Suara Dregory terdengar tegas dan dingin.


Tawa Erick langsung terhenti. Ia mengatupkan bibirnya, lalu menatap ke arah Dregory yang kini terlihat jauh lebih serius dari sebelumnya.


“Putri Anda ini sangat lucu,” lanjut Erick, meski nadanya sedikit tertahan. “Dia berani mengatakan hal seperti ini, padahal selama ini dia yang tergila-gila padaku, bahkan mengejarku kemanapun.”


Dregory tidak menjawab.


Ia hanya menatap Siera dengan tatapannya yang dingin seperti biasa, namun entah mengapa kali ini terasa berbeda lebih dalam, lebih tajam.


Siera bisa merasakannya.


“Kau pikir kau siapa?” ujar Erick, kini kembali mengarahkan perhatiannya pada Siera. “Berani mengatakan hal seperti ini tiba-tiba? Dulu kau yang memaksa pernikahan ini, dan sekarang kau ingin membatalkannya?”


Siera menunduk pelan.


“Maaf jika selama ini saya membebani Anda,” ucapnya lirih, namun tetap jelas. “Namun saya serius kali ini. Saya tidak ingin menikah dengan Anda.”


“Tapi—” Ucapan Erick terhenti begitu saja.


Tatapan Dregory telah lebih dulu menghentikannya, tatapan yang begitu dingin dan menekan.


“Sebaiknya Anda menerima permintaan putri saya, Yang Mulia.” suara Dregory terdengar rendah namun tegas. “Siera tidak ingin menikahi Anda.”


Erick terdiam sejenak, seolah menahan sesuatu.


“Duke, dia hanya berakting—”


“Lebih baik Anda pulang lebih dulu, Yang Mulia!” Suara Dregory menggema keras di ruangan itu.


Semua orang langsung terdiam. Bahkan udara terasa menegang membuat Siera ikut menahan napas, terkejut dengan sikap ayahnya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Erick kini benar-benar terdiam. Tatapan Dregory padanya begitu tajam hingga tidak menyisakan ruang untuk membantah.


Beberapa saat kemudian, Dregory mengalihkan pandangannya kepada Siera.


“Masuklah ke kamarmu. Kau masih harus istirahat lebih banyak.”


Siera tertegun.


Ia menelan ludah, masih mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi. Selama ini, ayahnya tidak pernah berbicara seperti itu padanya tidak pernah menunjukkan perhatian sekecil itu.


“Siera, jangan bertindak bodoh dan masuk ke kamar sekarang!” Suara Dregory kembali memanggil, sedikit lebih keras.


Siera tersadar.


“Baik, Ayah,” jawabnya pelan.


Ia segera berbalik dan meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apa-apa lagi. Namun saat langkahnya perlahan menjauh, suara Erick kembali terdengar dari belakang.


“Duke, kau tidak bisa mengusirku seperti ini.”


Dregory menjawab tanpa ragu.


“Saya mohon Anda sekarang keluar, kita bisa bicara nanti.”


Erick akhirnya pergi dengan wajah kesal.


Langkahnya cepat dan berat, jelas menunjukkan betapa ia merasa terhina oleh apa yang baru saja terjadi. Dari lantai atas, Siera melihat semuanya dengan diam. Ia berdiri di balik pilar besar, bersembunyi agar tidak terlihat.


Napasnya terlepas pelan.


Di sampingnya, Mia hanya berdiri tanpa suara. Gadis itu tampak ingin bertanya, namun menahan diri, takut mengatakan hal yang salah. Siera menyadarinya, tetapi ia sendiri belum siap untuk menjelaskan apa pun.


Perhatiannya kembali turun ke bawah.


Dregory keluar dari ruangan dan berhenti di aula, berdiri tegak seolah memastikan bahwa Erick benar-benar telah meninggalkan tempat itu. Sikapnya tetap dingin, namun ada kesan waspada dalam caranya mengamati sekitar.


Baru saja ia hendak berbalik saat sebuah suara terdengar dari belakang tubuhnya.


Siera langsung menoleh.


Seorang pria berada tepat di belakang tubuhnya. Dada bidangnya terasa menekan punggungnya, membuat degup jantungnya menggila.


Siera mengenal pria ini!


“Kau cukup berani juga, Lady,” ucapnya ringan.


Dior Julian de Rurich.


Putra Grand Duke Rurich, saudara kandung Kaisar. Lelaki itu adalah murid kesayangan ayahnya.


"Tiba-tiba membatalkan pernikahanmu seperti itu. Apakah kau akhirnya sadar pecundang itu tak pernah mencintaimu?”


Nada ejekannya jelas terdengar.


“Itu bukan urusan Anda, Yang Mulia,” ucap Siera dengan nada dingin.


Alih-alih pergi, Dior justru menyentuh dagu Siera, membuatnya seketika membelalak. Lalu tanpa bisa ia tahan, Dior sudah mengarahkan wajahnya menatap sang ayah yang masih terdiam di depan pintu.


“Sadarlah, Siera. Bahkan ayahmu sendiri tak pernah menyayangimu,” lanjut Dior. “Seharusnya kau menyadarinya.”


Siera diam. Memang benar, bahkan di kehidupan sebelumnya, ayahnya setuju untuk menjadi eksekutornya.


Ia benar-benar sendirian…


“Apakah kau mau aku membunuhnya?”


Siera membelalak.


"Apa…?"


Dior tidak melepas cengkeramannya. Ia justru merapat dari belakang, menempelkan bibirnya tepat di sisi telinga Siera. 


Lalu sambil mengusap lembut rahang Siera, Dior berbisik rendah,


“Erick, dan semua orang yang telah menyakitimu… bahkan ayahmu, aku akan membunuhnya untukmu.”


No comments:

Post a Comment