Addense

Monday, 20 July 2026

Istri di ujung sabar



Ibu mertuaku minta antar belanja pas pa-nas lagi terik teriknya. Tapi kalo aku nolak, bisa-bisa jadi gosip sekampung.





Suara lem-but Alina menyapanya dari balik pintu.


Raisa mem-bu-ka perlahan. Alina berdiri di sana, dengan wajah ber-sa-lah dan sedikit ge-li-sah.


“Maaf ya, Mbak! Ibu emang kadang suka ngomong nggak disaring. Aku tahu Kakak nggak kayak gitu.”


Raisa me-na-tap mata adik iparnya. Ha-ngat. Tulus. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Raisa merasa sedikit... dilihat. Dianggap. Dia masih punya seseorang yang peduli dengannya. 


“Terima kasih ya, Na. Udah belain aku,” jawabnya pelan.


Alina tersenyum kecil. “Kalau Mbak bu-tuh temen ngobrol, chat aku aja ya. Aku ngerti kok... Nggak gampang tinggal di ru-mah ini.”


Raisa hanya mengangguk. Suaranya tercekat. Tapi dalam diam itu, ada sesuatu yang tumbuh di da-da-nya: kekuatan kecil, harapan kecil, bahwa tidak semua orang di ru-mah ini mem-ben-ci-nya.


Setelah Alina per-gi, Raisa kembali duduk di ruang tamu. Tapi kali ini, dia tak hanya menatap ko-song.


Sejak melihat pesan tawaran kerja freelance dari Aida, pikiran Raisa tak pernah tenang. Rasanya seperti berjalan di atas tali antara ingin mandiri dan takut membuat Arya ma-rah.


Ia tahu suaminya tak suka perempuan bekerja, apalagi kalau sampai terlihat sibuk dan tak fokus mengurus ru-mah. Tapi Raisa juga sa-dar, hidup begini terus bisa bikin dia gi-la. Dia bu-tuh pegangan. Bu-tuh peng-ha-sil-an. Butuh har-ga diri. Maka ia mulai mencari cara pekerjaan yang bisa dilakukan disekitar ru-mah-nya. Raisa lalu mengingat sesuatu. ,"Oh iya. Pak Sarman!"


Setelah memastikan Ibu mertuanya tidak ada di depan dan suasana ru-mah cukup sepi, Raisa memberanikan diri ke-lu-ar. Ia melirik ke arah pagar ru-mah tetangga sebelah, Pak Sarman, peternak ayam yang kandangnya cukup be-sar dan terkenal bersih. Suaranya pun sering terdengar riuh tiap pagi, suara ayam, bukan suara gosip.


Raisa meneguk lu-dah. Ragu. Tapi ia tahu, kalau hanya menunggu perubahan dari Arya, hidupnya akan jalan di tempat.


Ia mem-bu-ka pagar pe lan, melangkah ke arah samping ru-mah tetangga yang memang ter-bu-ka.


“Permisi, Pak…” suaranya pelan, nyaris seperti bi-sik-an.


Pak Sarman yang sedang menuang pakan ayam menoleh. Wa-jah-nya ramah seperti biasa, meski sedikit kaget melihat Raisa berdiri di depan pintu kandang.


“Oh, Mbak Raisa. Ada apa, Mbak?”


Raisa menarik napa s dalam-dalam. “Saya mau nanya, Pak. Di sini… ada kerjaan nggak, ya? Maksudnya… bantu-bantu bersihin kandang, atau ngurus ayam… apa aja deh, asal halal.”


Pak Sarman menatapnya beberapa detik, seperti mencoba mencerna.


“Kerjaan sih ada. Tapi… Mbak Raisa beneran mau? Ko-tor, ba-u, belum lagi pagi-pagi banget…”


Raisa mengangguk cepat. “Nggak pa-pa, Pak. Saya siap. Saya bu-tuh kerja. Tapi nggak bisa jauh-jauh, nggak bisa ninggalin ru-mah lama-lama. Jadi… saya pikir kerja di sini mungkin cocok.”


Pak Sarman menggaruk-garuk kepala. “Yah… kalau gitu besok pagi aja langsung coba bantuin dulu. Mulai jam lima pagi ya. Tapi ga-ji-nya nggak gede, paling seminggu seratus ribuan.”


Raisa tersenyum kecil, senyum le-ga, meski hanya sepercik.


“Nggak apa-apa, Pak. Seratus pun, asal hasil sendiri, udah bikin saya tenang.”


Dan di saat ayam-ayam berkokok nyaring, di bawah langit pagi setengah siang, Raisa merasa langkah kecilnya hari itu… ada secuil harapan. Tanpa harus me-nge-mis pada Arya. Tanpa harus menunggu di ka-si-hani.


Baru saja Raisa duduk sebentar, pintu ru-mah diketuk ke-ras dua kali.


Suara khas yang langsung bikin jan-tung-nya mel orot. Belum juga ia buka pintu, suara nyaring itu sudah berseru.


“Raisa! Kamu di ru-mah nggak? Ini Ibu nih!”


Raisa buru-buru mem-bu-ka pintu sambil merapikan kerudungnya.


“Iya, Bu. Ada apa ya?”


Bu Ratna, Ibu mertua Raisa, berdiri di ambang pintu dengan tas tangan besar dan ekspresi sok sibuk.


“Ibu mau ke supermarket. Belanja bulanan. Antar Ibu sekarang, ya!”


Raisa sempat bengong. Matanya melirik jam dinding, "Jam 11 siang. Pa-nas lagi terik-teriknya. Tapi ya sudahlah. Kalau ini ditolak, bisa-bisa bahan gosip se-RT"


“Oh… iya, Bu. Tapi saya belum sarapan…”


“Ya udah nanti di jalan kita be-li gorengan kek apa kek. Yang penting sekarang siapin motor!”


Suara Bu Ratna makin cepat, makin nuntut. Raisa hanya mengangguk, meski hatinya men-de-sah.


Sepanjang perjalanan ke supermarket, Raisa jadi sopir pribadi tanpa upah. Bu Ratna sibuk ngoceh soal promo minyak goreng, diskon sabun cuci, sampai tentang betapa cerewetnya tetangga sebelah.


“Eh ya, kamu denger nggak sih, si Bu Yanti tuh katanya a-nak-nya nikah sama insinyur. Ga-ji-nya dua digit. Lah kamu? Masih minta diantar kemana-mana sama Arya…”


Dalam hati Raisa membatin, "Bukannya minta diantar kemana-mana. Tapi kalau aku per-gi kemana-mana sendiri, Mas Arya pasti ma-rah-ma-rah." Maksud hati Raisa ingin menjelaskan. Tapi dari pada jadi panjang, ia lebih memilih diam. 


Raisa menggi git bibi r. Tangan di setang motor mulai berkeringat. Ingin rasanya ba-las bicara. Tapi apa daya, sudah terbiasa menelan kata-kata sendiri demi menjaga “kehormatan” ru-mah tangga yang rapuh.


Sampai di supermarket, Raisa seperti bayangan. Dorong troli, angkut barang, hitung diskon, dan akhirnya... bawa belanjaan, sementara Bu Ratna sibuk video call-an dengan temannya sambil pamer, “Belanja bulanan, gaes!”


Saat mereka menyusuri lorong sabun dan perawatan tu-buh, Bu Ratna sempat melirik Raisa yang sejak tadi hanya mendorong troli tanpa mengambil apa-apa.


“Kamu nggak mau be-li apa gitu, Sa? Ambil aja, nanti ganti pas Arya ga-ji an juga. Gampang!”


Raisa mengangguk pelan, meski dalam hati tetap ada ragu. Ia memang butuh body lotion. Kulitnya sudah mulai kering dan gatal karena kebanyakan kena sabun cuci. Tapi sekalipun Bu Ratna bilang “Ambil aja!”, Raisa tahu, akan ada catatan kecil di balik kebaikan itu.


Ia berjalan ke rak body lotion, memilih merek paling murah, ukuran kecil. Har ga nya cuma belasan ribu. Padahal di sebelahnya ada merek bagus yang biasa ia pakai sebelum meni-kah. Dulu, saat masih kerja dan punya peng-ha-sil-an sendiri, dia tak perlu mikir panjang soal be-li lotion. Sekarang, bahkan untuk sabun tubu h pun harus mikir dua kali.


Bu Ratna sempat melirik lotion yang Raisa ambil.


“Lah itu kenapa ambil yang kecil amat? Nggak ngefek nanti!”


Raisa tersenyum kaku. “Coba ini dulu, Bu. Nanti kalau cocok, beli lagi…”


Bu Ratna men-de-ngus ringan, tapi tak berkata apa-apa lagi.


Sambil mendorong troli ke bagian bahan pokok, Raisa cepat-cepat mengambil sebotol kecil kecap dan satu liter minyak goreng. Di ru-mah, minyak tinggal setetes, kecap pun sudah harus diguncang keras baru bisa ke-lu-ar. Tapi lagi-lagi, ia ambil ukuran paling kecil.


“Itu minyak satu liter doang? Kamu masak buat siapa sih, hemat amat,” komentar Bu Ratna tanpa filter.


Bersambung.

No comments:

Post a Comment