Addense

Saturday, 25 July 2026

Batal nikah gara2 mua

 


 Aku putuskan batal nikah karena calon suamiku kekeuh lebih pilih pakai jasa MUA milik Mantannya yang sudah pacaran 5 tahun dan pernah tinggal bareng. Sekarang semua orang bilang aku terlalu kekanak-kanakan karena ini cuma bisnis. Aku dibilang drama dan lebay.


🍒🍒🍒


“Intan, tolong dengerin aku dulu…”


Pandu bersandar pada meja kayu di sudut kafe, mencoba menahan nada suaranya tetap tenang. Intan berdiri dengan mata berkaca-kaca, napasnya memburu. Aroma kopi yang biasanya menenangkan, kini terasa getir di udara yang tegang itu.


“Jadi kamu cuma memanfaatkan aku aja, ya?” Intan menahan suara bergetar di tenggorokannya.


“Bukan gitu maksudku,” ujar Pandu cepat. “Kamu tahu, aku menerima kamu kerja di sini karena memang kamu berbakat, Intan. Riasan kamu selalu rapi, hasilnya memuaskan. Bukan karena—”


“Bukan karena aku sahabat Denia?” potong Intan sinis. “Bukan karena Mas berharap bisa dapat informasi penting dari aku, tentang Denia? Kamu keterlaluan banget sih Mas!"


Pandu mengusap wajah. “Aku nggak bohong. Awalnya mungkin iya, jujur aku… aku penasaran. Tapi sekarang, aku percaya kamu bisa bantu tim ini jadi lebih besar nantinya. Aku butuh kamu sebagai partner kerja, bukan cuma sumber informasi dari mantan kekasih aku.”


Intan memalingkan wajah, matanya nanar. Tapi di balik emosi yang memuncak, ada satu ambisi yang belum selesai.


“Baik,” katanya dingin. “Kalau begitu aku akan tetap kerja di sini. Tapi bukan buat kamu. Aku akan pastikan aku jauh lebih baik dari Cantika. Dan suatu saat nanti, semua orang akan tahu siapa yang lebih pantas di sini.”


Pandu mengangguk pelan.


Intan kembali membahas soal rencana pekerjaan pesanan pernikahan Minggu depan. Ia ingin dekorasi yang dipilih calon pengantin tidak mengecewakan pelanggan. 


"Mas bisa nggak nanti, Cantika nanti pegang make up nya dayang, dan ibu calon pengantinnya saja. Pengantin wanita biar aku yang make up'pin." Intan memohon.


Pandu menjawab, "Soal itu kita rundingan dulu sama Cantika. Dia mau apa nggak?"


"Kalau kamu yang memutuskan pasti Cantika nggak akan menolak, Mas. Aku yakin Cantika juga nggak akan berani melawan aturan Mas Pandu. Kecuali kalau Mas Pandu... "


"Oke-oke, aku usahain."


"Gitu dong, makasih ya Mas." Intan tersenyum licik.


---


Sementara itu, di Serang, Denia berjalan perlahan di halaman rumah besar bergaya modern-minimalis milik keluarga Briyan. Gemetar di tangan masih terasa usai pertemuan tadi siang.


“Ini rumahku,” ucap Briyan bangga, membuka pagar besi otomatis. “Dan aku ingin kamu kenal keluargaku, terutama Mamah. Mamahku orangnya… nggak banyak bicara, tapi aku yakin kamu bisa akrab sama Mamahku. Yuk masuk," ajak Briyan membuka pintu depan.


Denia sempat ragu. Tapi satu senyum dari Briyan cukup untuk membuatnya melangkah.


Di ruang tamu yang hangat, mereka disambut oleh seorang wanita setengah baya dengan wajah tenang dan anggun. Mamah Briyan mengenakan gamis biru muda, duduk di kursi rotan dengan segelas teh manis di tangannya.


“Selamat sore, Tante,” sapa Denia sambil membungkuk sopan.


Mamah Briyan tersenyum kecil. “Kamu Denia, ya? Briyan cerita kamu HRD baru di pabrik.”


“Iya, Tante. Saya baru mulai beberapa minggu lalu.”


Mereka duduk, berbicara ringan. Tentang pekerjaan, masa kecil Briyan, dan sesekali Mamah Briyan tertawa kecil—hal yang menurut Briyan, jarang terjadi.


“Kamu lembut sekali, Denia,” ujar wanita itu kemudian. “Saya jarang cocok ngobrol lama dengan orang baru. Tapi kalau sama Denia, Tante seneng.”


Denia tersenyum, meski jantungnya masih saja berdegup kencang. Gugup, dan gerogi berhadapan dengan Istri Bos Pabrik.


---


Malamnya, Denia duduk sendirian di teras rumah Briyan. Lampu taman remang-remang. Angin lembut mengusap pipi. Di tangannya, layar ponsel menyala.


Tanpa sengaja, jempolnya berhenti di sebuah unggahan.


Foto pernikahan. Caption-nya:


"Salah satu karya terbaikku sebagai MUA hari ini. Love the energy of this wedding 💍✨ - IntanMUA"


Tapi yang membuat jantung Denia mencelos adalah sosok dua orang di belakang pengantin: Pandu dan Cantika. Berdiri berdampingan. Tertawa.


Air matanya jatuh pelan, diam-diam. Tangannya bergetar. Luka yang ia pikir sudah pulih, nyatanya kembali menganga. Denia memeluk lututnya di kursi rotan. Tak sadar, Briyan datang membawakan minuman.


“Denia?” ucap Briyan pelan, lalu terdiam melihat wajahnya.


Ia meletakkan gelas perlahan, lalu duduk di sebelah Denia. Ia mengeluarkan sehelai tissue, lalu mengusap lembut pipi Denia yang basah.


“Ada apa? Kalau kamu nggak keberatan cerita… aku pasti dengerin.”


Denia menarik napas panjang. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya bersuara.


“Aku pernah gagal nikah, Briyan. Dua minggu sebelum hari H, aku sendiri yang membatalkannya.”


Briyan menatapnya, tak menyela.


“Karena… dia memaksa pakai MUA yang ternyata mantannya sendiri. Aku minta dia ganti, tapi dia nggak mau. Aku... nggak bisa jalan terus sama orang yang nggak bisa jaga perasaanku.”


Denia mengusap air matanya sendiri. “Dan sekarang aku tahu… mereka memang punya hubungan. Mungkin sudah lama. Bodohnya aku baru tahu sekarang.”


Briyan menggenggam tangan Denia. Hangat.


“Kamu nggak salah. Kamu hanya memilih untuk tidak menyakiti diri sendiri lebih dalam.”


Denia menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil muncul di bibirnya.


---


Di Kalimantan, suasana studio Pandu tampak berbeda. Cantika, yang biasanya ramah dan antusias, kini bersikap dingin.


Intan memerhatikannya dari balik meja make up. Senyum kemenangan terselip di wajahnya.


“Kamu kenapa, Tik?” tanya salah satu staf.


Cantika menggeleng, “Nggak apa-apa. Cuma capek.”


Tapi kata hatinya tahu. Ia tidak hanya capek. Ia mulai merasa tergantikan.


Apalagi sejak Pandu sering mengajak Intan rapat berdua. Memberi tanggung jawab baru. Dan malam ini, Intan resmi diumumkan sebagai penanggung jawab proyek besar bulan depan.


Saat Pandu berdiri di depan tim dan memberi ucapan selamat pada Intan, Cantika merasa darahnya mengalir cepat. Cemburu. Takut kehilangan yang ada di genggaman. Dan marah dengan Intan.


---


Di kamar apartemennya, Intan membuka layar ponselnya. Ia menatap foto-foto pernikahan klien hari ini. Salah satu foto menunjukkan Pandu dan Cantika tampak berdiri dekat di belakangnya.


Lalu ia menulis caption. 


"Love working with partner terbaik. Energi positif, hasil maksimal."


---


Malam di Serang. Briyan mengantar Denia pulang ke rumah kontrakan yang tak jauh dari warung.


Sebelum turun dari mobil, Briyan berkata pelan, “Denia… aku tahu aku bukan orang lama dalam hidup kamu. Tapi kalau kamu butuh seseorang untuk buatmu lupa masa lalu... aku siap jadi orang itu.”


Denia terdiam. Lalu tersenyum samar.


“Kamu baik, Briyan. Makasih ya, mau berteman denganku.”


Briyan ingin lebih dari sekedar teman biasa.


“Bukan soal baik. Aku cuma ingin kamu bahagia. Itu aja.”


---


Di Kafe Pandu, suasana lengang. Intan baru datang, membawa secangkir kopi sendiri. Pandu duduk di sudut, membuka laptop.


“Mas Pandu,” ucap Intan mendekat.


“Aku tahu Mas Pandu masih sayang Denia. Aku mau kasih informasi penting," kata Intan sambil tersenyum.


Pandu menghentikan gerakannya. Pandu memang ingin mengetahui kabar Denia. Apalagi semenjak nomornya sudah diblo kir oleh Denia. Di sosial media pun, Denia memilih menghindar dengan memutus pertemanan juga memblokir akun miliknya.


“Tapi aku juga tahu, kamu terlambat. Sekarang mungkin ada orang lain di samping dia.”


Pandu menoleh cepat. “Maksud kamu?”


Intan tersenyum. “Nggak semua wanita mau menoleh ke belakang.”


Ia meninggalkan Pandu dalam diam. Kata-kata itu menggantung di udara. Tak ada yang pasti. Tapi hatinya mulai gelisah.


Bersambung


Judul: Batal Nikah Gar a-Ga ra M UA 

No comments:

Post a Comment