"Intan, kamu mau ke mana rapi dan secantik ini?" tanyanya dengan suara tertahan, melangkah mendekat.
"Bukan urusanmu, Mas," jawabku acuh tak acuh, terus berjalan melewati Ibu mertua dan Wina yang menatapku dengan pandangan menusuk.
Aku segera masuk ke dalam mobil. Namun, dari kaca spion, aku melihat mobil Mas Davin langsung melaju membuntutiku di belakang. Aku sengaja meminta Pak Dirman untuk berhenti di sebuah kafe terbuka di pusat perbelanjaan mewah. Di sana, aku duduk santai memesan kopi, sengaja membiarkan beberapa pria di meja sekitar terang-terangan memandangi kecantikanku dengan tatapan memuja.
Benar saja, baru sepuluh menit aku duduk, Mas Davin sudah melangkah lebar menghampiri mejaku. Wajahnya merah padam, napasnya memburu menahan amarah dan cemburu yang sudah di ubun-ubun.
"Intan, pulang!" desisnya, langsung mencengkeram pergelangan tanganku. "Aku tidak tahan melihat pria-pria di sini menatapmu seperti itu! Kamu itu istriku!"
Aku dengan sentakan kasar melepaskan tanganku, lalu menatapnya dengan senyum meremehkan. "Kalau aku tidak mau, bagaimana? Aku masih betah di sini."
"Intan, tolong! Jangan buat aku gila. Kita pulang sekarang, aku mohon," bisiknya frustrasi, matanya menyiratkan ketakutan mendalam kalau aku akan berpaling ke pria lain.
Aku menyandarkan tubuh, melipat tangan di dada sembari menatap lurus ke matanya. "Baik, aku mau pulang. Tapi ada syaratnya."
"Apa? Katakan, apa syaratnya?!" tanyanya cepat.
"Belikan aku kalung berlian di butik perhiasan depan itu. Harganya tiga ratus juta. Cash, tidak pakai kartu kredit," ucapku tenang, menekankan kata cash sembari tersenyum penuh arti. Aku tahu persis dia punya uang miliaran di kartu hitam rahasianya.
Wajah Mas Davin seketika menegang. Ia syok mendengar nominal yang kusebutkan. Rahangnya mengeras, menahan kekesalan yang teramat sangat karena merasa sedang diperas. Namun, saat ia melirik ke sekeliling dan melihat para pria masih mencuri pandang ke arahku, egonya langsung runtuh.
"Oke! Kita beli sekarang, setelah itu kita langsung pulang!" ucapnya dengan muka ketat menahan dongkol.
Dengan langkah terpaksa, Mas Davin menemaniku ke butik perhiasan tersebut. Dengan muka yang luar biasa kesal dan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan salah satu kartu debit hitam premium rahasianya untuk membayar lunas kalung seharga tiga ratus juta itu. Aku hanya tersenyum puas menyaksikan isi tabungan tersembunyinya mulai terkikis.
Begitu sampai di rumah, aku sengaja berjalan paling depan dengan kepala tegak. Di ruang tengah, Ibu mertua dan Wina sedang bersantai. Begitu melihatku masuk bersama Mas Davin, Wina langsung melirik tajam, bersiap mencari celah untuk menyindir.
Namun, sebelum mulut munafiknya terbuka, aku sengaja mengeluarkan kotak beludru besar dari tas belanjanku, membukanya dengan gerakan lambat, lalu memakai kalung berlian seharga tiga ratus juta itu di leherku yang jenjang. Kilau permata dan emas putihnya seketika menerangi ruangan.
"Astaga..." Ibu mertuaku langsung berdiri, matanya melotot hampir keluar melihat kemewahan kalung tersebut.
Wina yang baru kemarin pamer gelang dua ratus juta, seketika pucat pasi. Gelang emas di tangannya mendadak terlihat seperti mainan murah dibanding kalung di leherku. "M-Mas Davin... itu... kalung apa?"
"Kalung baru dari Mas Davin, Wina. Harganya tiga ratus juta, dibayar lunas," sahutku sembari mengelus kalung tersebut dengan anggun, menatap mereka berdua dengan pandangan kemenangan yang mutlak. "Bagaimana? Cantik, kan? Nampak sekali kelasnya berbeda dengan gelangmu."
Wina langsung menoleh ke arah Mas Davin dengan mata berkaca-kaca menahan malu dan iri yang luar biasa. "Mas Davin! Kok Mas belikan Mbak Intan yang lebih mahal?!"
Mas Davin tidak menjawab. Ia hanya melewati Wina begitu saja dengan wajah kusut dan frustrasi, lalu berjalan cepat menuju kamar atas, meninggalkan Ibu mertua dan Wina yang menjerit histeris menahan sesak di dada.
Malam harinya, kepuasan masih membuncah di dadaku. Kuasai kemudi permainan, aku sengaja turun ke ruang makan dengan kalung tiga ratus juta itu tetap melingkar indah di leherku. Kontras gaun tidur satin hitamku membuat kilau berliannya kian menyala.
Di meja makan, atmosfer terasa begitu mencekam. Wina duduk dengan mata bengkak karena habis menangis seharian, sementara Ibu mertuaku terus-menerus menusuk makanannya dengan garpu seolah sedang melampiaskan dendam. Mas Davin hanya menunduk, mengaduk nasi di piringnya tanpa selera.
"Davin," suara Ibu mertua akhirnya memecah keheningan, nadanya bergetar menahan amarah. "Ibu mau bicara. Kenapa kamu tega menghamburkan uang tiga ratus juta hanya untuk kalung centil itu? Sementara Wina yang sedang hamil anakmu hanya kamu beri gelang biasa?!"
Mas Davin menghentikan sendoknya. Ia melirikku takut-takut sebelum menjawab ibunya. "Bu, tolong jangan dibahas lagi. Intan pantas mendapatkannya."
"Pantas dari mana?!" pekik Wina tidak tahan, air matanya kembali meleleh. "Mas Davin pilih kasih! Mas lebih takut Mbak Intan dilirik laki-laki lain di kafe daripada memikirkan perasaan aku dan anak ini! Mas jahat!"
Aku meletakkan sendok dengan dentingan pelan, lalu menopang dagu, menatap Wina dengan pandangan geli. "Wina, Wina. Sudah kubilang, kan? Jangan pernah coba-coba membandingkan kelasmu dengan kelas istri sah. Mas Davin membelikan ini karena dia tahu, harga diriku jauh lebih mahal dari sekedar rengekan ngidammu.”
"Intan! Jaga bicaramu! Kamu sengaja ingin membuat madumu keguguran karena stres?!" bentak Ibu mertuaku, membela Wina yang kini terisak di bahunya.
"Kalau dia stres, itu karena keserakahannya sendiri, Bu, bukan karena saya," sahutku tenang. "Baru jadi madu saja tuntutannya sudah setinggi langit. Sadar diri sedikit."
"Mas... lihat Mbak Intan..." adu Wina sesenggukan, berharap Mas Davin akan mengamuk membentakku seperti dulu.
Namun, Mas Davin justru menggebrak meja dengan frustrasi. Brak!
"Cukup! Bisa tidak kita makan dengan tenang?!" bentak Mas Davin, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan. Wina dan Ibu mertua seketika terbungkam dengan wajah syok.
Mas Davin memandang Wina dengan tatapan jengkel. "Wina, kalau kamu tidak bisa berhenti menangis dan mengeluh, masuk ke kamar sekarang! Aku lelah baru pulang kerja, jangan buat kepalaku makin pecah!"
Wina terbelalak, tidak percaya suaminya kembali membentaknya demi meredam situasi. Dengan perasaan terluka dan malu yang teramat sangat, ia bangkit dari kursi dan berlari meninggalkan ruang makan sembari menyembunyikan wajahnya.
"Davin! Kamu benar-benar keterlaluan!" Ibu mertuaku ikut berdiri, menatap putranya dengan pandangan tidak percaya sebelum akhirnya melangkah pergi menyusul Wina.
Kini, tinggal aku dan Mas Davin di meja makan. Pria itu mengembuskan napas berat, lalu menatapku dengan mata yang menyiratkan permohonan.
"Intan... kamu sudah senang, kan? Aku sudah turuti maumu," bisiknya dengan suara serak, mencoba meraih tanganku. "Tolong, kembalilah seperti dulu. Jangan dingin seperti ini kepada suamimu."
Aku menarik tanganku dengan cepat, lalu menyunggingkan senyum paling menawan namun sekaligus paling mematikan. "Kembali seperti dulu, Mas? Menjadi wanita lusuh yang bisa kamu bohongi dan kamu duakan dengan gampang?"
Aku berdiri, merapikan gaun tidurku sembari mengelus kalung berlian di leherku. "Tentu saja tidak. Ini baru permulaan, Mas. Aku akan memastikan setiap sen dari tabungan rahasiamu keluar untuk membayar rasa sakit hati yang pernah kamu berikan."
Tanpa menunggu sepatah kata pun dari bibirnya yang kelu, aku melangkah anggun meninggalkan ruang makan, membiarkan Mas Davin duduk sendirian meratapi rahasia besarnya yang kini justru berbalik menjadi bumerang penghancur dirinya sendiri.
Malam belum terlalu larut ketika ketukan pelan dan ragu terdengar di pintu kamarku. Aku yang sedang duduk di depan cermin sembari mengoleskan krim malam segera menoleh.

No comments:
Post a Comment