Addense

Monday, 27 July 2026

Bahagia setelah gugat cerai



 Diperlakukan seperti pembantu oleh ibu mertua dan suami, karena tidak kunjung hamil, Aini nekad k4bur mencari ibu kandungnya, meninggalkan surat cerai di tempat tidur, saat sidang pembacaan talak, suaminya shock karena ternyata Aini_



Kejadian lima tahun lalu, sebelum pernikahan Aini dan Bagas.


"Kenapa ibu datang?"


"Besok kan kamu menikah, ibu cuma mau memberi selamat."


Aini memang tidak mengundang ibunya.


"Buat apa? Ibukan yang m3ninggalkan aku dan ayah. Ibu yang k4bur dan pergi, aku juga nggak butuh ibu, aku bisa hidup tanpa ibu yang sudah m3mbuangku."


"Aini..."


"Benar kan? Dulu ibu yang m3mbuang kami. Aku akan menikah dan memiliki keluarga yang menyayangiku. Aku nggak butuh ibu. Jangan pernah muncul dan datang mencari ku. Buatku, ibu sudah m4ti, jauh lebih dulu sebelum ayah pergi."


Sambil menc3ngkram tangannya, airmata ibu jatuh menetes ke tanah. Mungkin, saat itu bumi ikut menangis dan m3ngutuk ku sebagai anak durh4k4.


Kalau ingat kejadian hari itu, Aini benar-benar merasa tidak tahu malu sekarang, dia datang menemui ibunya.


Dia sudah m3nyakiti hati ibu dengan kata-katanya. Ibu yang melahirkannya, s3kejam apapun ibu, seharusnya dia tidak boleh melakukannya.


Dan saat ini, Aini bersimbuh di lantai, mencium kaki ibunya.


"Maafkan aku Bu, maafkan aku yang sudah j4hat sama ibu. Ampuni do sa-do saku Bu. Allah pasti menghukumku sekarang, karena do sa-do saku sama ibu. Maafkan aku Bu."


Suara Aini serak karena bercampur tangis. Ibu sudah ikut melorot ke lantai, mengangkat kepala Aini dan memeluknya. Ibu ikut menangis dengan suara keras.


"Ibu nggak pernah m4rah sama kamu Nak."


"Maafkan Aini Bu. Maafkan aku Bu."


Bibi pelayan, ikut menangis melihat ibu dan anak yang sudah terpisah oleh k3bencian dan masa lalu itu saling berdamai.


Setelah keduanya tenang, barulah ibu bertanya lagi.


"Kenapa bercerai? Kamu benar-benar mau bercerai dari suami mu?"


Ya, ibu pasti heran, karena setahunya Aini dan Bagas saling mencintai.


Aini menganggukkan kepala.


"Kalian b3rtengkar?"


Aini menggeleng, membuat ibunya bingung. Tapi, saat melihat Aini membuka kancing bajunya, dan saat baju itu ditarik ke bawah, ibu pun menjerit.


L3bam yang sudah membiru, indikasi k3k3rasan d4lam rum4h tangga.


"Aini..." Ibu menangis lagi. "Suamimu yang m3mukul mu. Ya Allah Nak, kok bisa begini, katanya kalian saling mencintai, katanya mereka keluarga yang baik. Kamu dip√kul suamimu sejak kapan? Aini... Ya Allah..."


Rasanya ibu begitu nelangsa.


"Bukan Mas Bagas yang m3mukul ku Bu."


"Terus siapa?"


Aini mengigit bibirnya sampai memerah.


"Aini! Siapa yang m3mukulmu? Kalau bukan suamimu, memang suamimu nggak tahu dan nggak bisa melindungi mu!"


Ibu semakin g3ram dan m4rah.


"Ibu.. ibu mertuaku Bu, dia yang memukulku. Tapi.. hiks.. hiks.. Mas Bagas juga tahu, dia tahu kalau aku dip√kuli ibunya, tapi dia diam saja dan malah menyalahkan aku. Huaaaa... Bu, aku mau c3rai Bu. Bantu aku berc3rai Bu. Aku mohon! Hiks.. hiks..."


Aini menangis lagi dalam pelukan ibunya, menangis dengan keras, setelah tiga tahun memendamnya sendiri.


Setelah minum air hangat dan makan dengan bubur ayam, Aini bisa meneruskan ceritanya.


"Ayah dan mertuaku baik cuma setelah dua tahun pernikahan kami Bu, setelah dua tahun dan aku tidak kunjung hamil, ibu mertuaku berubah."


Ibu m3mukul sofa dengan g3ram.


"Adik Mas Bagas yang baru menikah, langsung bisa hamil. Itu membuat ibu mertuaku selalu bilang aku m4ndul."


"Ya Allah, Aini.. Ya Allah.." ibu semakin nestapa, memikirkan tiga tahun p3nderitaan putrinya. "Suamimu, dia diam saja! Dasar laki-laki durj4na!"


Aini mengusap ujung matanya. Pedih, kalau mengingat kata-kata k3jam yang diucapkan Mas Bagas.


"Dia jadi terpengaruh sama ibunya, dan ikut menyalahkan aku karena aku nggak bisa hamil. Diam saja walaupun melihat pipi sama tubuhku m3mar. Aku sudah sering bilang, kalau aku dip√kuli ibu, hiks, hiks, tapi dia selalu membelanya dan bilang aku yang salah."


Mas Bagas memang tidak pernah m3mukulnya, namun kata-kata k4sar dan p3nghinaan yang selalu dia ucapkan, lebih menusuk sampai ke hati. Apalagi Bagas adalah suami Aini, laki-laki yang dia cintai, yang seharunya menjaga dan melindunginya.


"Bu.. tolong bantu aku berc3rai. Aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi."


"Memang harus b3rcerai! Kamu memang harus segera b3rcerai dari suami dan mertua t0xid itu!"


Aini menarik nafas lega, tadinya dia takut ibu akan menolak membantunya. Karena lima tahun lalu, dia sudah menyakiti hati ibunya.


"Terimakasih Bu."


"Nggak usah berterimakasih! Aku itu ibumu!"


Aini menghapus airmatanya.


"Sekarang, aku mau pulang dulu Bu, mertuaku pasti sudah m4rah-m4rah karena aku pergi terlalu lama."


"Heh! Pulang? Kamu mau pulang ke mana? Kamu nggak boleh pulang ke rumah suamimu lagi!"


Aini menepuk tangan ibunya lalu tersenyum.


"Ibu kan harus bilang sama suami ibu. Untuk membantu ku kan?"


"Ya memang, tapi apa hubungannya dengan kamu yang harus kembali ke rumah suami mu?"


"Ibu memang ibuku, tapi suami ibu, bukan siapa-siapa ku kan? Kalau dia tidak mau membantu..."


"Aini!"


"Maaf, aku kan sudah j4hat sama ibu. Kalau suami ibu..."


"Anak ini ya Allah." Ibu memeluk Aini. "Ibu pasti membantu, ya Allah. Ibu nggak pernah marah sama kamu Nak. Lima tahun lalu walaupun ibu sedih, ibu nggak pernah sedikitpun membencimu."


Karena kamu nggak tahu apa-apa, karena ayahmu yang sudah m3racuni pikiranmu. Ibu Aini, sebenarnya ingin sekali menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka. Kenapa dia bisa b3rcerai dengan suaminya yang merupakan ayah Aini, tapi.. Kalau dia cerita semua yang sesungguhnya, ayah yang baik dalam kenangan Aini, akan langsung hancur porak-poranda. Jadi ibu memilih memendam semuanya, alasan Dia b3rcerai dan pergi meninggalkan Aini.


Hari itu akhirnya Ibu melepaskan Aini pulang ke rumah suaminya.


Dan seperti dugaan Aini, Ibu mertuanya sudah menunggunya di teras rumah. Langsung m3njambak rambut Aini, belanjaan di tangannya berjatuhan ke lantai.


"Menantu nggak t4hu diri, keluyuran ke mana kamu."


Pl4k! Pl4k!


"Amp√n Bu, maaf. Tadi ojeknya motornya mogok."


"Alasan aja kamu ya, memang kamu yang mau keluyuran kan!"


Pl4k! Pl4k!


"Kamu mau membuatku kelaparan!"


Pl4k! Pl4k!


"Ngepel sama cuci baju aja belum, kalau nggak bisa h4mil, kerja yang bener, bersyukurlah kamu sudah dikasih makan. Benar-benar, p3malas kamu ya Aini."


Pl4k! Pl4k!


"Nanti kalau Bagas menikah lagi, jangan bertingkah kamu ya, apalagi sampai cemburu-cemburu. Kamu itu cuma pembantu di rumah ini."


Entah ocehan apalagi yang didengar Aini, panjang sekali. Tapi Aini yang biasanya menangis karena sedih, kini mengusap sudut matanya sambil tersenyum sinis. Airmatanya keluar bukan karena sedih, tapi karena sakit.


"Aku harus pulang Bu, aku harus mengumpulkan bukti-bukti. Selama ini, aku nggak pernah kepikiran untuk merekam atau memfoto p3nyiksaan ibu mertua. Tapi, kalau aku mau mengajukan gugatan karena k3k3rasan rumah tangga, aku harus menyerahkan bukti kan?"


Untuk itulah, akhirnya ibu Aini melepas kepergian anaknya.


Dan hp yang ada di saku baju Aini saat ini, sedang menyala tanda rekaman audionya.


No comments:

Post a Comment