Addense

Monday, 20 July 2026

Calon suami kaka




Aku menundukkan kepala. “Baik, Pak. Saya mengerti. Saya tidak akan berinteraksi lagi dengan Faris, selain urusan pekerjaan.”

Pak Adam menghela napas, seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertarungan. 


“Bagus. Sekarang, lupakan cokelat itu dan per-gi lah ambil laporannya. Cepat. Waktu ku terbatas.”


Aku bangkit dan berjalan ke-lu-ar. Meskipun ditegur ke-ras, aku tidak sepenuhnya se-dih. Justru ada sedikit kegembiraan a-neh. 


Apakah jangan-jangan Pak Adam cem-bu-ru? 


Mungkin dia tidak mau mengakuinya, tapi sikap pro-tek-tif yang berlebihan ini sungguh a-neh.


Saat aku kembali dari ruang server, aku melihat Faris di lorong. Dia tersenyum padaku, tapi aku hanya mengangguk sopan dan berjalan cepat, menahan diri untuk tidak berhenti. Aku harus patuh pada pe-rin-tah Pak Adam, meskipun itu berarti me-ngor-ban-kan persahabatan.


Aku masuk kembali ke ruangan Pak Adam, menyerahkan laporan. Pak Adam mengambilnya tanpa melihat ku.


“Nanti malam, kita harus menghadiri jamuan makan malam dengan keluarga Chandra. Bersiaplah. Gaun sudah disiapkan di ru-mah,” katanya.


Aku mengangguk. “Baik, Pak Adam.”


Saat aku berjalan menuju mejaku, Pak Adam berkata lagi. “Dan Zahra.”


Aku menoleh.


“Jika ada yang be-ra-ni me-ren-dah-kan mu lagi di depan umum, termasuk dengan pan-dang-an mereka, kau tidak perlu mem-ba-las. Biar aku yang mengurusnya. Sekarang kerjakan tugas mu.”


Aku tidak tahu apakah kalimat itu adalah bentuk perlindungan atau an-cam-an. Tapi aku tahu, aku tidak bisa lari dari permainan ini. 


🌵


Jamuan makan malam dengan keluarga Chandra berjalan suk-ses. Pak Adam terlihat sangat berwibawa dan aku dalam balutan gaun malam yang sopan, berhasil menjalankan peran sebagai Nyonya Alfarizi yang kalem dan suportif. 


Di mata publik, kami adalah pa-sang-an yang terhormat, meskipun di mobil pulang, Pak Adam hanya membahas strategi bis-nis yang ia dapatkan dari pertemuan tersebut.


Keesokan harinya, te-kan-an kerja memuncak. Pak Adam harus menyelesaikan proposal ten-der be-sar untuk proyek infrastruktur negara. Proposal ini membutuhkan data yang sangat teliti dan aku harus bekerja lembur bersamanya.


Pukul sepuluh malam, seluruh lantai eksekutif sudah sepi. Hanya lampu ruang kerja Pak Adam dan ruanganku yang menyala. Aku duduk di meja ku, memeriksa kembali data fi-nan-sial, sementara Pak Adam sibuk di mejanya dengan spreadsheet.


Aku merasa sangat le-lah. Mataku terasa be-rat dan kepalaku mulai pening. Aku mencoba untuk tetap fokus, menggali data yang tertunda.


Tiba-tiba, Pak Adam memanggil ku dari ruangannya. “Zahra, kemari.”


Aku segera masuk. 


Pak Adam berdiri di samping meja kerjanya yang besar, di atasnya berserakan ratusan lembar draft laporan yang sudah ia revisi.


“Aku butuh data proyeksi anggaran di halaman 7, draft yang kedua. Cepat carikan!” pe-rin-tah-nya, menunjuk tumpukan berkas yang menjulang tinggi di pinggir meja.


“Baik, Pak Adam.”


Aku mendekati meja tersebut. Tumpukan berkas itu sangat banyak dan be-ran-tak-an. 


Aku harus membongkar tumpukan itu, mencari laporan yang dimaksud. Ruangan terasa hening, hanya ada suara helaan na-pas kami dan gemerisik kertas.


Aku mulai mencari, tangan kananku me-nyen-tuh lembaran teratas, sementara tu-buh-ku sedikit membungkuk untuk melihat label yang tertulis di setiap dokumen.


“Kau yakin draft itu ada di sana?” tanyanya, suaranya dekat.


“Sebentar, Pak. Saya rasa ini ada di bawah.” Aku berusaha meraih bagian bawah tumpukan.


Tiba-tiba, tumpukan berkas itu goyah. Aku pa-nik, ta-kut tumpukan setinggi itu ja-tuh dan me-ru-sak kertas yang penting.


“Awas!” seru Pak Adam.


Secara refleks, Pak Adam langsung bergerak mendekat. Tangan kanannya sigap menahan tumpukan kertas itu agar tidak ja-tuh, sementara tangan kirinya mendarat kuat di pung-gung bawah ku, menstabilkan tu-buh-ku yang oleng karena berusaha menahan be-ban kertas.


Kami berdua terdiam dalam posisi tersebut. Tu-buh-ku mem-be-ku. Aku bisa merasakan ke-ha-ngat-an telapak tangan Pak Adam yang menembus kain blouse kerjaku. Sentuhan itu tidak ka-sar, justru terasa kuat dan menenangkan. Na-fas-ku tertahan di tenggorokan.


Jan-tung-ku berdebar sangat kencang, suaranya terasa memukul-mukul telingaku. Aku tidak tahu apakah Pak Adam bisa mendengarnya atau tidak.


Jarak kami sangat tipis. Aku bisa men-ci-um aroma mint dan parfum maskulin dari tu-buh-nya.


Aku mendongak. Wa-jah Pak Adam hanya berjarak beberapa inci dariku. Matanya yang ta-jam me-na-tap mataku, tidak lagi dingin, tetapi dipenuhi keterkejutan, seolah dia sendiri terperangkap oleh sen-tuh-an yang tak disengaja ini.


Pak Adam menyadari posisi kami. Perlahan, ia menarik tangan kirinya dari pung-gung-ku. Sen-tuh-an nya hilang, me-ning-gal-kan rasa ha-ngat yang menggelitik di tempat ia me-nyen-tuh.


Ia berdeham keras, mengalihkan pandangan. Wajahnya terlihat sedikit memerah, atau mungkin hanya pantulan lampu ruangan.


“Maaf,” kata Pak Adam, suaranya serak dan jauh dari nada perintah biasanya. “Kertasnya hampir ja-tuh.”


“Y-ya, terima kasih, Pak Adam,” ba-las-ku, suaraku juga ter-ce-kat. Aku segera memundurkan langkah, kembali ke jarak aman.


Tumpukan kertas yang tadi kami selamatkan seolah menjadi objek paling menarik di ruangan itu. Kami sama-sama menghindari kontak mata.


Pak Adam kembali memposisikan dirinya sebagai bos. Ia mengambil nafas dalam-dalam. “Lupakan itu. Sekarang cari kertas itu. Di sini. Draft kedua.”


Dengan hati yang masih berdebar kencang, aku kembali mencari, kali ini dengan tangan yang sedikit gemetar. Aku akhirnya menemukan berkas yang ia maksud.


“Ini, Pak Adam.” Aku menyerahkan berkas itu, berusaha tidak menyentuh tangannya.


Pak Adam mengambilnya. “Baik. Sekarang kau boleh pulang. Besok kita lanjutkan. Jangan sampai terlambat.”


“Tapi, Pak Adam. Anda belum selesai.”


“Aku akan menyelesaikannya sendiri. Kau terlihat seperti akan ja-tuh pingsan di sini.” Ada nada perhatian yang samar, meskipun diucapkan dengan cara yang agak menyebalkan.


Aku mengangguk. “Baik, Pak Adam. Terima ka-sih. Saya permisi.”


Aku bergegas ke-lu-ar dari ruangannya, menuju ruang kerjaku, mengambil tas, dan me-ning-gal-kan lantai eksekutif. 


Aku berniat untuk naik taksi, tapi ternyata Pak Adam sudah menyiapkan seorang sopir untuk menjemputku menggunakan mobilnya yang lain.


Sepanjang perjalanan pulang, sen-tuh-an tangan Pak Adam di pung-gung-ku terus terbayang. Jan-tung-ku tidak berhenti berdebar.


Aku menggeleng cepat. Berusaha menghilangkan semua bayangan itu. Aku tidak boleh memikirkannya lagi.


Sesampainya di ru-mah, Aku langsung membersihkan diri dan Shalat Isya. Aku menghabiskan waktu yang lama dalam sujud, meminta kejelasan atas perasaan ku yang ka-cau.


Aku sadar, ada yang berbeda. Namun, aku tidak boleh sampai ja-tuh ha-ti padanya.


Selesai beribadah, aku memutuskan untuk menunggu Pak Adam pulang. Aku turun ke dapur dan membuat teh chamomile ha-ngat, berharap bisa mengurangi rasa pening ku. Aku duduk di sofa ruang keluarga yang besar.


Tak lama kemudian, aku mendengar suara gerbang ter-bu-ka. Pak Adam pulang.


Ia masuk dengan wa-jah le-lah, jasnya dia sampirkan di bahu. Matanya langsung menangkap kehadiranku di ruang keluarga. Ia tampak terkejut.


“Kenapa kau belum ti-dur?” tanya Pak Adam, suaranya sedikit lebih lem-but dari biasanya.


“Saya menunggu Anda pulang, Pak Adam. Saya membuat teh ha-ngat. Mungkin bisa mengurangi le-lah Anda.” Aku menyodorkan cangkir teh yang sudah ku siapkan.


Pak Adam me-na-tap cangkir itu, lalu me-na-tap-ku. Tatapannya lama, seolah sedang menganalisis setiap gerakanku.


“Kau tidak perlu melakukan ini. Ada pe-la-yan untuk menyiapkan teh,” katanya.


“Saya tahu. Tapi sebagai istri, saya rasa ini adalah kewajiban saya. Dan saya tidak ingin Anda sa-kit karena terlalu le-lah.”


Pak Adam mengambil cangkir itu. Jari-jari kami ber-sen-tuh-an sangat singkat, tetapi sensasi listrik yang ku rasakan tadi kembali muncul. Pak Adam segera menarik tangannya.


“Terima ka-sih,” katanya, duduk di sofa di seberangku, menjaga jarak.


Kami duduk diam selama beberapa menit. Pak Adam meminum tehnya perlahan.


“Tentang tadi ...” Pak Adam memulai, suaranya rendah.


Bersambung...

No comments:

Post a Comment