"Aku akan menanggung seluruh biaya rumah s a k i t, tapi dengan syarat seperti yang sudah kukatakan sebelumnya."
Kata-kata beberapa jam lalu itu menggema di kepala Ara, ia tak pernah menyangka akan mendengar pernyataan seperti itu dari mulut seorang pria yang dulu pernah bersumpah akan melindunginya seumur hidup.
"Putra Anda tak bisa menunggu lagi. Tindakan harus segera, waktu kita tidak banyak." Suara panik dokter berpadu dengan bunyi monitor menampar kesadaran Ara.
Ara nyaris tak sanggup berdiri. Di tengah kekalutan, ia merogoh saku jaket. Di dalamnya, sebuah kartu nama terlipat rapi, nama Raja dan nomor teleponnya tertera jelas di sana.
Raja, si mantan suami yang tak ingin lagi dijumpainya, tetapi saat ini hanya dia satu-satunya harapan solusi cepat.
Satu dering. Dua dering. Lalu suara itu dingin itu terdengar, tanpa sedikitpun nada berbelas kasih.
“Halo?”
"Ini saya ... Gistara."
“Kenapa, berubah pikiran?”
Ara menelan ludah perih mendengar intonasi remeh yang berdenging di telinga. Tapi demi Jagat, si seluruh napasnya. Ia tidak bisa kehilangan anak itu.
“Saya butuh u a ng yang sangat banyak sekarang juga. Apakah tawaran Anda masih berlaku?"
"Tentu saja tawaranku masih berlaku. Satu kata 'setuju' meluncur dari mulutmu, dalam hitungan menit orangku akan datang membawa surat pernyataan yang harus ditandatangani beserta u a ng yang kamu inginkan, Gistara."
Dalam keheningan koridor rumah s4kit yang dingin, Ara tahu ia sedang
meng h4ncvrkan dirinya sendiri. Tapi ini bukan soal terinjaknya h a r g a diri. Ini tentang detak dunianya yang tak boleh berhenti.
“Baik, Pak Raja. Saya… setuju

No comments:
Post a Comment