Addense

Tuesday, 28 July 2026

Balasan untuk suami


 “Kenapa Mas baru pulang?” 


Luna menjrit dari dalam rumah begitu pintu utama terbuka. 


“Cepat u s i r anak-anak perempuanmu itu sekarang juga, atau aku yang pergi dari rumah ini!”


Sultan baru melangkah masuk. Jasnya masih melekat di bahu, dasinya sedikit longgar, aroma parfum mahal bercampur sisa malam gala dinner masih menempel di tvbuhnya.


Belum sempat ia melepas sepatu, Luna sudah berdiri di ruang tengah dengan daster sutra merah yang kusut. Rambutnya berantakan, pipinya basah, satu tangannya menunjuk ke lantai dua.


Aisyah menyusul beberapa langkah di belakang Sultan. Kebaya hitamnya masih rapi. Ia berhenti di ambang ruang tengah, melipat tangan di depan dada, menatap gvndik suaminya seperti menonton adegan yang sudah ia hafal ujungnya.


“Ada apa?” Sultan menghampiri Luna. Suaranya turun, tapi dahinya berkerut.


“Malam-malam begini kenapa teriak-teriak?”


“Gimana aku nggak teriak, Mas?” 


Luna memvkul dada lelaki di depannya pelan, lalu merems kemejanya. 


“Anak-anak perempuanmu itu sengaja menyalakan musik keras-keras. Aku tegur baik-baik, Nadira malah menyiram wajahku pakai air.”


Luna mengangkat wajah, memastikan Sultan melihat matanya yang basah.


“Dia bilang gvndik sepertiku tidak berhak mengatur rumah ini. Mereka sengaja mau bikin aku kegvgvran, Mas.”


Mendengar itu, jari Sultan berhenti di bahu Luna.


Dari kamar tamu lantai bawah, pintu terbuka kasar. Bu Nurma keluar dengan rambut acak-acakan dan wajah masam.


“Benar, Sultan!” serunya. 


“Ibu juga tidak bisa tidur. Anak-anak itu makin kurang ajar. Sama seperti ibunya.”


Tatapan Bu Nurma langsung menancap ke Aisyah.


“Tadi sore si bungsu mempermalukan Ibu di depan teman ar1san. Malam ini si sulung mau mencelakai calon cucu laki-lakiku. Kalau mereka tidak diusir malam ini, Ibu yang pergi dari sini.”


Sultan menarik napas t a jam. Punggungnya menegang. Pujian dari wali kota, tepukan ketua partai, dan tawa para pengusaha yang tadi membuat dadanya penuh, mendadak terasa dicoreng oleh dua anak perempuannya sendiri.


Ia melirik istri tuanya.


Wanita itu masih berdiri tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya takut kehilangan tempat pulang.


Sultan tidak suka ketenangan itu. Sejak dulu, ia lebih nyaman melihat Aisyah menunduk, menjawab seperlunya, dan membiarkan semua orang mengira rumah ini berdiri karena kerja kerasnya. 


Diam Aisyah malam ini bukan seperti itu. Diamnya terlalu bersih dari rasa takut.


“Anak-anak itu benar-benar tidak bisa dididik,” geramnya.


Luna menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Bu Nurma menegakkan dagu, seolah keputusan sudah berada di pihaknya.


Sultan melepas pelukan istri mudanya, lalu menaiki tangga dengan langkah berat. 


Setiap hentakan sepatunya terdengar di ruang tengah. Tidak lama kemudian, suara pintu dibuka keras disusul bentakan dari lantai dua.


Aisyah tidak bergerak.


Luna menatapnya dengan mata merah, tetapi senyumnya mulai muncul.


“Kamu lihat, Mbak? Anak-anak Mbak akhirnya kena batunya.”


Aisyah menoleh pelan.


“Aktingmu lumayan, Luna. Sayang sekali, pialanya tidak dibagikan di rumah ini.”


Wajah Luna berubah. Kesal karena wanita paruh baya di depannya tidak menangis. Malah menunjukkan reaksi biasa saja.


“Ini semua gara-gara Mbak. Mbak sengaja nyuruh mereka neror aku, kan? Sadar diri dong. Mas Sultan sudah muak sama kalian.”


Aisyah menarik napas dalam, menatap perut Luna sebentar, lalu kembali ke wajahnya.


“Kalau kandunganmu selemah itu, jangan jadikan dia senjata untuk merebut rumah orang.”


“Mbak Aisyah!”


Suara benda terseret dari lantai dua mem0tong teriakan Luna.


Sultan turun dengan wajah merah. Kedua tangannya menarik koper besar, satu bermotif polkadot, satu biru muda. 


Di belakangnya, Nadira dan Rania mengikuti dengan wajah kesal. Tidak ada air mata di pipi mereka. Tidak ada tangan gemetar.


Yang ada hanya tatapan yang sudah terlalu lelah untuk kecewa.


Sampai di ruang tengah, Sultan melemparkan dua koper itu ke dekat kaki Aisyah.


“Bawa anak-anak kurang ajar ini pergi dari rumahku!” bentaknya. “Malam ini juga.”


Aisyah menunduk melihat koper itu, lalu mengangkat wajah.


“Mengvsir anak kandvngmu sendiri tengah malam, Mas? Hanya karena tangisan gvndikmu?”


Rahang Sultan mengeras.


“Jaga mulutmu. Luna istriku, dan dia sedang mengandvng pewarisku.”


“Pew4ris?” Nadira mendengkus kecil.


Sultan menoleh t a j a m.


“Kamu diam!”


Nadira mengangkat kedua tangan, tapi bibirnya masih melengkung tipis.


Sultan kembali menatap Aisyah. D a d a nya membusung, seperti setiap kata yang keluar dari mulutnya harus diterima sebagai hukum.


“Dengar baik-baik, Ais. Mulai detik ini, aku tidak svdi menampvng kalian di rumahku lagi. Bawa mereka pergi. Kalian bertiga pantas hidup berdesakan di ruko sempit itu.”


Ia menunjuk pintu keluar.


“Biar anak-anakmu tahu rasanya hidup tanpa aku. Setelah surat kuasa tadi pagi, kamu tidak punya apa-apa lagi. Harusnya kamu bersyukur aku masih membiarkan kalian tidur di ruko.”


Sultan menunggu. Matanya menyapu wajah Aisyah, lalu dua putrinya, seolah mencari tanda retak. Ia menunggu isak tangis. Ia menunggu kata maaf. Ia menunggu Aisyah menurunkan harga diri dan mengakui bahwa hidup tanpa dirinya tidak mungkin dilalui.


Tidak ada satu pun yang datang.


Luna segera mendekat, memeluk lengan Sultan. Tubuhnya menempel seolah ingin menunjukkan tempat barunya.


“Benar, Mas. Biar mereka tahu rasa.” 


Luna menatap Nadira dan Rania dari atas ke bawah. 


“Selamat menikmati ruko sempit, ya. Tante akan tidur nyenyak malam ini di kasur empuk kamar utama di rumah ini.”


Bu Nurma tertawa pendek. 


Bukannya iba, ia malah sengaja ikut meremahkan dua cucu perempuan yang dianggapnya tak berguna itu.


“Akhirnya ben4lu-ben4lu ini sadar diri juga,” ejeknya tanpa sungkan.


Bukannya menangis, Nadira malah melirik Rania. Keduanya saling menahan senyum.


“Tidur yang nyenyak ya, Tante,” ucap Nadira santai. 


“Puas-puasin. Jangan lupa bantalnya dielus-elus.”


Rania mengangguk.


“Nenek juga. Tidur yang nyenyak. Jangan bangun terlalu pagi, nanti kaget.”


Sultan menyipit. Reaksi itu tidak sesuai bayangannya. Ia ingin melihat putri sulungnya menangis, gadis bungsunya memeluk kaki bunda mereka, dan Aisyah meminta belas kasihan.


Namun ketiganya berdiri seperti orang yang sudah menunggu saat ini datang.


Aisyah merentangkan tangan. Nadira dan Rania langsung mendekat. Ia memelvk pinggang kedua putrinya, lalu mencivm puncak kepala mereka bergantian.


“Ayo, Nak. Kita pulang ke tempat yang seharusnya.”


“Pulang ke ruko kan?” ejek Bu Nurma.


“Masih juga numpang di ruko Sultan,” katanya percaya diri.


Aisyah tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab.


Ting!


Notifikasi ponsel Aisyah berbunyi dari dalam tas pesta. Ia mengambilnya, membaca pesan singkat dari Mahendra.


[Trnsaksi selesai. Pembeli sudah menerima d0kumen. Uwang muka lunas. Besok pukul tujuh, tim pengosongan datang bersama aparat.]


Aisyah mengunci layar.


Sultan masih berdiri dengan dagu terangkat. Tangannya melingkari bahu Luna, seperti raja yang baru saja mengusir rakyat dari istananya sendiri.


“Kau tersenyum?” ejeknya. “Jatuh m1skin membuatmu g i l a, Aisyah?”


Aisyah menarik pegangan koper Nadira. Sebelum melangkah, ia menatap Sultan sekali lagi.


“Pastikan kalian tidur nyenyak malam ini, Mas.”


Sultan mengerutkan dahi.


“Apa maksudmu?”


“Dan pastikan gvndikmu mulai mengemas barangnya dari sekarang.”


Luna menegang.


“Apa-apaan sih, Mbak? Jangan ngelantur. Mbak yang divsir, kenapa aku yang harus berkemas?”


Aisyah menatapnya tanpa berkedip.


“Karena besok pagi tepat pukul tujuh, pemilik baru rumah mewah yang kamu banggakan ini akan datang bersama aparat untuk mengvsir kalian ke jalanan.”


No comments:

Post a Comment