"Kita mau ke mana, Pak? Ke rumah nenek? Ibu kenapa tak ikut? Dan kenapa tadi pintunya dikunci?"
Denis terus mengajukan pertanyaan yang memang sangat ingin dia ketahui jawabannya. Anto tak begitu menanggapi. Dia malah menyalakan rokok, kemudian berjongkok di bawah pohon besar di pinggir jalan.
Karena terhitung masih sore, kondisi jalan raya lumayan ramai. Kendaraan roda dua dan roda empat sibuk berlalu lalang, sehingga Anto harus jeli mencegat mobil bak yang akan ditumpanginya.
"Pak!"
"Sudah jangan merengek terus! Bikin pusing!" Sambil memasang ekspresi marah, Anto memperingatkan Denis untuk tak banyak bertanya. Bocah itu ketakutan, sampai tak berani lagi bicara.
Selang lima belas menit, sebuah mobil bak berhenti tepat di depan mereka. Anto bergegas menenteng tas bawaannya, kemudian meminta Denis untuk segera naik.
Meski kebingungan, bocah itu menurut. Dia masih berkeyakinan bahwa tujuan mereka adalah rumah neneknya, yang hanya berjarak sekitar empat kilometer dari tempatnya tinggal.
"Lu bawa anak, To? Nanti di sana dia sama siapa?" tanya pak supir sebelum mobil melaju.
"Ya biarin aja udah gede ini! Bisa ditinggal sendirian di kontrakan," sahut Anto, yang tentu saja membuat Denis semakin kebingungan.
"Emang bini lu ke mana?"
"Ada di rumah. Udah lah, cepetan jalan! Kasihan anak gw kedinginan!" Anto meminta pak supir bergegas melajukan kendaraan.
Sebelum melaju, pemilik mobil sempat meminta Denis untuk duduk di depan, tapi bocah itu menolak. Dia tidak tahu jika perjalanan yang akan dilaluinya lumayan panjang. Anto berencana membawa dia pergi ke perantauan tempatnya biasa mencari nafkah.
Sekitar dua jam, tubuh kecil Denis harus berperang dengan rasa dingin dari embusan angin malam. Dia sampai menggigil dan Anto membiarkannya begitu saja. Pria berbadan kekar itu malah sibuk melamun sambil menghisap rokok.
Beberapa kali Denis merengek dan kembali bertanya tentang tujuan mereka, juga keberadaan sang ibu. Anto hanya menjelaskan, jika sebentar lagi mereka akan sampai di kontrakan tempat dia biasa tinggal.
"Kita mau ke mana, Pak?"
"Kita mau ke kontrakan Bapak! Kamu bosan kan, tinggal di kontrakan lama?"
"Lalu ibu bagaimana? Kenapa ibu tak ikut?"
"Ibu lagi, ibu lagi! Kamu tak bisa hidup tanpa ibu kamu?"
"Tadi pintu kontrakan Bapak kunci! Kalau ibu tak bisa ke luar, bagaimana?"
Denis terus terbayang pada ibunya. Yang ada di pikiran bocah tersebut, saat ini ibunya masih tertidur pulas di dalam kamar, dan akan kebingungan jika ingin ke luar, gara-gara pintu dikunci dari luar oleh ayahnya.
"Tak perlu pikirkan itu! Yang penting kamu ikut sama Bapak! Nanti akan Bapak belikan ayam goreng yang enak di sana!"
"Denis gak mau! Denis maunya sama Ibu!"
"isshh! Ibu kamu biar nanti menyusul!" Anto berusaha keras agar Denis tak lagi rewel dan mengajukan pertanyaan. Dia sampai berbohong dengan mengatakan bahwa Suti nanti akan datang menyusul. Anto tidak tahu saja, jika ucapannya tersebut akan menjadi kenyataan.
Arwah sang istri yang tadi dia h4bisi dan dia kubur di dekat wc kontrakan akan datang menyusul, demi mencari keadilan.
***
Di lain tempat, sepulang dari mengaji, Aji bocah sembilan tahun yang tadi diminta pak ustadz mengantar quran milik Denis, mencoba mengetuk pintu kontrakan Suti.
Awalnya dia ke sana bersama anak-anak lain, tapi mereka malah berlarian pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah Aji sendirian. Sambil mengamati area sekeliling, dia berteriak memanggil Denis dengan nada yang khas.
"Denis! Denis! Ini quran kamu ketinggalan di mesjid. Denis!"
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Setelah beberapa kali diketuk, barulah pintu ada yang membuka. Padahal tadi jelas pintu tersebut dikunci dari luar oleh Anto. Suti muncul dengan kondisi rambut panjang terurai berantakan. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot dan terdapat lingkaran hitam di bawah kelopaknya.
Aji sampai terperangah dan sedikit mundur karena terkejut. Terlebih Suti mengenakan pakaian putih, mirip sosok hantu yang sering Aji lihat di film-film horor.
"Ada apa?" tanya Suti dengan pandangan kosong dan suara lirih.
"Ini, quran Denis tadi ketinggalan di mesjid." Aji berbicara dengan terbata, sambil menyerahkan quran yang dia pegang.
Mata bocah tersebut fokus menatap paras perempuan dewasa di hadapannya. Aji merasa yang sedang dia ajak bicara tidak mirip sama sekali dengan ibunya Denis.
"Bawa saja pulang ke rumah kamu! Nanti kalau ada Denis, baru kamu serahkan!"
"I, iya."
Dengan ekspresi ketakutan, Aji mundur, kemudian lari terbirit-birit menuju pulang. Jarak menuju rumahnya memang tak terlalu jauh. Dia hanya tinggal memutar jalan saja, karena kontrakan tempat dia tinggal punggung-punggungan dengan kontrakan Suti. Karena dalam kondisi ketakutan, beberapa menit bahkan detik juga terasa lama.
"Bu! Ibu!"
Prak prak prak!
Begitu sampai, Aji menggeprak pintu rumah kontrakannya yang ternyata dalam keadaan terkunci. Sang ibu yang tengah menidurkan anak bungsunya sampai kesal dan menggerutu. Dia segera ke luar kamar untuk membuka kunci sekalian memarahi sang anak. Aji dianggap berisik dan berlebihan.
"Aji! Apa sih kamu? Dikejar anjing?" umpat Dian sambil berjalan terburu-buru menuju pintu.
Setelah pintu dibuka, bocah yang dia marahi dan dia pelototi langsung memeluk. Merasa penasaran, Dian meminta anaknya duduk dan bercerita apa yang baru saja terjadi.
"Ibu! Aji takut!"
"Kenapa? Ada apa?" tanya Dian seraya memandang sebentar ke luar, kemudian menutup pintu. Aji tak kunjung melepaskan pelukannya. Terlihat sekali dia sedang sangat ketakutan.
"Di rumah Denis ada hantu, Bu!"
"Hantu? Kamu bicara apa, Aji?"
"Aku habis antar quran Denis ke rumahnya. Denisnya gak ada, cuma ada ibunya. Ibunya Denis mirip hantu, Bu!"
"Astagfirullah! Jangan bicara sembarangan, Ji. Ayo bicara sambil duduk!"

No comments:
Post a Comment