Addense

Wednesday, 15 July 2026





Ku tandatangani kon-trak per-ni-kah-an dengan satu aturan : pisah setelah satu tahun. Tapi ketika saatnya tiba, dia malah me-ro-bek semua bukti. Lalu mem-bi-sik-kan, l

'Kita belum selesai'.


🌵 Part 3


Aku tidak ti-dur se-ma-lam-an.


Bukan karena ta-kut. Bukan karena pa-tah ha-ti. Tapi karena pikiran ku terlalu sibuk merangkai potongan-potongan puzzle yang ku sebut per-ni-kah-an ku sendiri.


Pesan dari nomor tidak dikenal itu masih ku simpan di ponsel. Belum ku hapus. Belum ku balas. Biar saja Celine karena siapa lagi yang akan mengirim pesan seperti itu? Merasa diabaikan. Orang seperti dia tidak tahan diabaikan.


Jam terus berdetak di samping tempat ti-dur. 01.00. 02.30. 04.15.


Di luar jendela, langit belum menunjukkan tanda-tanda terang.


Aku me-me-jam-kan mata, tapi yang muncul bukan wa-jah Bima atau Celine. Yang muncul adalah wa-jah Mama. Wa-jah-nya saat me-na-ngis di kursi roda tadi pagi. Wajahnya saat dia ber-bi-sik, "Kamu yakin, Ras?"


Aku tidak yakin, Ma.


Tapi aku tidak punya pilihan.


🌵


Pukul 06.00, aku turun.


Tangga kayu jati itu berderit pelan di setiap langkah ku. Ru-mah ini terlalu besar untuk satu keluarga apalagi untuk dua orang a-sing yang baru saja me-ni-kah karena kon-trak.


Aroma kopi menyambut ku lebih dulu.


Mbak Ratih berdiri di dapur, tangannya sibuk menyeduh sesuatu di teko kaca. Begitu melihat ku, wa-jah-nya kaget.


"Nyonya Laras? Kok sudah bangun? Baru jam enam!"


"Tidak bisa ti-dur, Mbak."


Dia mengerutkan kening, lalu tersenyum tipis. Aku tahu dia ingin bertanya banyak hal. Tapi Mbak Ratih bukan tipe pem-ban-tu yang u-sil. Dia hanya mengangguk dan menyiapkan secangkir kopi hitam untuk ku.


"Bapak juga sudah bangun dari jam setengah lima," bi-sik-nya sambil menata piring. "Dari tadi mondar-mandir di ruang belakang. Wa-jah-nya... ku-sut sekali, Nyonya."


Aku menyesap kopi ku. Pa-hit. Persis seperti suasana ha-ti-ku.


"Biarkan saja, Mbak. Urusan kami berbeda."


Mbak Ratih mengangguk lagi, lalu kembali ke kompor.


🌵


Aku menemukan Bima di ruang belakang.


Dia berdiri di dekat jendela kaca yang menghadap ke taman bambu. Masih dengan kemeja semalam lengan digulung sampai siku, kerah sedikit ku-sut. Tangan kanannya memegang cangkir kopi yang sudah tidak mengepul lagi, artinya dia sudah berdiri di sana sejak lama.


Ponselnya tertempel di telinga.


"…Aku tahu, Andi. Tapi tolong urus dulu. Jangan biarkan dia datang ke kantor. Beri tahu satpam, siapa pun yang mengaku teman lama ku, jangan di suruh masuk kalau tanpa janji temu."


Dia menutup telepon. Wa-jah-nya masih menatap taman, tapi rahangnya me-nge-ras.


"Aku harap kamu tidak membahas Celine di semua telepon bis-nis mu," kataku dari pintu.


Bima menoleh. Matanya sedikit merah, seperti orang yang juga tidak ti-dur semalaman.


"Pagi," katanya datar.


"Pagi. Kopi mu sudah dingin."


Dia melihat cangkirnya, lalu meletakkannya di meja tanpa minum.


"Aku dengar dari Mbak Ratih kamu sudah turun dari jam enam," katanya. "Apa kamu tidak ti-dur?"


"Ti-dur? Di ru-mah ini? Dengan perempuan miste-rius yang tiba-tiba muncul di ma-lam per-ta-ma?" Aku duduk di kursi taman dekat pintu. "Oh, tentu saja aku ti-dur nyenyak, Bima. Seperti ba-yi."


Sudut bi-bir Bima bergerak. Bukan senyum. Lebih seperti refleks gugup yang ga-gal disembunyikan.


"Aku minta maaf tentang semalam," katanya. Suaranya pelan. Tidak nya-man. Seperti seseorang yang jarang mengucapkan kata maaf seumur hidupnya. "Aku tidak tahu dia akan datang."


"Kamu tidak tahu," ulang ku perlahan. "Atau kamu tidak ingin tahu?"


Dia me-na-tap-ku.


"Maksudmu?"


"Aku bukan psikolog, Bima. Tapi aku cukup pintar untuk melihat ketika seseorang membiarkan pintu belakang ru-mah-nya ter-bu-ka lebar." Aku menyilangkan kaki. "Celine bisa masuk ke ru-mah ini semudah dia masuk ke ruang tamu se-ma-lam. Itu artinya dia tahu kode pagar. Atau dia masih punya kunci. Atau—"


"Kamera depan sudah aku cek," potong Bima cepat. Terlalu cepat. "Pagar tidak ru-sak. Tidak ada pak-sa masuk."


"Itu bukan jawaban, Bima. Itu menghindari pertanyaan."


Diam.


Aku mendengar burung berkicau di taman bambu. Jauh sekali, ada suara klakson mobil dari jalan raya. Tapi di ruang belakang ini, hanya ada kami berdua dan te-gang-an yang semakin mengental.


Bima akhirnya duduk di kursi seberang ku. Siku di atas meja. Wa-jah menunduk.


"Celine dan aku...," dia berhenti. "Kami sudah bersama hampir empat tahun. Dia tahu semua kode. Semua akses. Semua kebiasaan ku."


"Dan kamu tidak mengganti kode pagar setelah dia per-gi?"


Bima menghela na-pas. Panjang. Seperti menarik seluruh isi da-da-nya ke-lu-ar.


"Aku tidak te-ga," bi-sik-nya. "Sebagian diriku... masih berharap dia akan kembali."


Aku me-na-tap-nya.


Laki-laki ini. Pengusaha sukses. Ru-mah me-wah. Mobil ma-hal. Seluruh kota mungkin mengenalnya sebagai pria dingin tanpa e-mo-si. Tapi di sini, di pagi yang dingin ini, dia terlihat seperti a-nak kecil yang ke-hi-lang-an mainan favoritnya.


Aku tidak te-ga. Tapi aku juga tidak akan membiarkan itu menguasai ku.


"Maukah kamu menggantinya sekarang?"


Bima me-na-tap-ku. "Kode pagar?"


"Dan kode ka-mar mu. Kode garasi. Semua akses yang dia tahu. Kalau dia bisa masuk seenaknya kapan pun dia mau, berarti ru-mah ini tidak aman untuk ku."


Dia terdengar seperti sedang memikirkan ribuan alasan untuk me-no-lak.


"Bima," kataku pelan. "Aku tidak akan memintamu melupakannya. Itu urusan mu. Tapi aku ber-hak merasa aman di ru-mah yang aku tinggali selama 18 bulan ke depan. Atau kamu lupa kita ada kon-trak?"


Dia me-na-tap-ku lama. Lalu mengangguk.


"Baik. Akan aku ganti hari ini."


"Minta tolong teknisi. Jangan kamu sendiri. Aku tidak percaya kamu tidak akan memberitahunya kode barunya."


Bima menyipitkan mata. "Kamu pikir aku akan—"


"Aku tidak tahu akan apa. Tapi aku tidak mau ambil risiko."


Kami bertatapan.


Lalu Bima menghela na-pas lagi kali ini lebih pendek.


"Baik. Aku akan hubungi teknisi."


🌵


Pukul 09.00, teknisi datang.


Amati dari jendela ka-mar-ku: dua orang laki-laki dengan seragam biru menenteng tas peralatan. Bima menemani mereka di pintu pagar sambil berbicara dengan suara rendah.


Lalu ponselku bergetar.


Sekali lagi, nomor tidak dikenal.


Aku buka pesannya.


"Kode pagar di ganti? Lucu. Kamu pikir segampang itu mengunci ku di luar, Laras? Bima mi-lik ku jauh sebelum kamu ada."


Jan-tung-ku berdetak lebih cepat. Tapi tanganku tidak ge-me-tar. Aku mulai mengetik balasan.


"Celine. Bima bukan properti. Dan aku tidak datang untuk mengambilnya. Aku datang karena kon-trak. Jadi jangan bu-ang energi mu untuk me-ngan-cam ku. Simpan saja untuk terapi."


Kirim.


Satu menit kemudian.


Panggilan masuk. Nomor tidak dikenal.


Aku tekan hijau sebelum sempat berpikir dua kali.


"Be-ra-ni sekali kamu."


Suara Celine di ujung sana tidak lagi lembut. Tidak lagi manis. Ada ge-ram yang tertahan, seperti kucing siap me-ner-kam.


"Kamu menelpon ku," jawabku tenang. "Jadi siapa yang lebih be-ra-ni?"


"Coba lihat wa-jah-mu sekarang. Tidakkah kamu ma-lu? Me-ni-kah dengan pria yang tidak men-cin-tai mu, hanya karena u-ang—"


"Hanya karena operasi jan-tung Ibuku," po-tong ku. "Kalau kamu mau meng-ha-kimi, setidaknya gunakan fakta yang benar."


Celine terdiam.


Aku menambahkan, "Dan kamu? Empat tahun bersama. Lalu per-gi tanpa kabar. Sekarang balik dan mengaku ber-hak atas Bima? Kedengarannya seperti kamu me-ning-gal-kan-nya, Celine. Bukan sebaliknya."


"Hanya karena aku per-gi bukan berarti aku merelakannya."


"Itu ma-sa-lah antara kamu dan dirimu sendiri. Jangan libatkan aku."


"Aku akan melibatkan mu. Karena kamu yang tidur di ru-mah-nya sekarang. Kamu yang memakai namanya. Kamu yang—"


"Celine." Suaraku dingin sekarang. "Apa yang kamu ta-kut kan? Bahwa dalam 18 bulan ini dia akan lebih men-cin-tai ku dari pada dirimu? Bahwa aku yang istri kon-trak ini bisa memberikan sesuatu yang tidak pernah kamu berikan?"


Terdengar helaan napas tersengal di ujung sana.


"Kamu tidak kenal Bima," bi-sik Celine. "Dingin. Kaku. Tidak bisa men-cin-tai. Percayalah, dalam 18 bulan itu kamu hanya akan men-de-ri-ta."


"Terima ka-sih sarannya. Tapi itu risiko ku."


Aku menutup telepon.


Lalu aku berdiri dari tepi tempat ti-dur. Melangkah ke jendela.


Ku lihat Bima di halaman depan. Dia sedang berbicara dengan teknisi, tangannya masuk ke saku celana. Wa-jah-nya masih datar. Tapi ada sesuatu yang berbeda.


Dia melihat ke arah jendelaku.


Ta-tap-an kami bertemu sejenak.


Lalu dia mengalihkan pandangan.


Aku tidak tahu apa artinya. Tapi satu hal yang aku tahu :


Pe-rang dengan Celine baru saja dimulai.


Dan aku tidak akan ka-lah di babak pertama.


Bersambung...

No comments:

Post a Comment