Addense

Sunday, 19 July 2026

 


Hujan masih turun ketika Nadin sampai di teras rumahnya. Sepatunya basah, ujung roknya lembap, rambutnya menempel di pelipis. Ia melangkah pelan, berharap tidak bertemu Bundanya, dan bisa langsung masuk kamar tanpa suara.


“Dari mana?!”


Seketika harapannya luruh. Tubuhnya menegang. Triana berdiri di ruang tamu yang tampak remang. Blazer kerjanya belum dilepas, tas masih tergantung di bahu. Wajahnya kaku dengan sorot mata yang tajam.


Nadin menunduk. Tangannya meremas kuat ujung bajunya “Dari sekolah, Bun.”


“Sekolah?” Triana melirik jam di pergelangan tangannya. “Kamu tahu sekarang jam berapa?”


Nadin mengangguk kecil. Tidak berani menjawab.


“Anak kelas sembilan pulangnya hampir magrib,” lanjut Triana, suaranya dingin. “Tanpa kabar. Tanpa izin. Kamu pikir tindakanmu itu benar?”


“Ada remedial matematika,” jawab Nadin lirih. Rasa takut menjalari hatinya.


Triana tertawa pendek, sinis. “Remedial?”


Ia meletakkan tasnya dengan keras di sofa. “Kamu tahu nggak, wali kelasmu kirim pesan ke Bunda sore ini.”


Jantung Nadin langsung berdegup cepat. Ia sadar, ini tidak sekedar kemarahan karena dianggap keluyuran sampai magrib. Tapi ini kemurkaan, karena ia kembali mendapat remedial.


“Nilai matematika kamu bermasalah. Dan besok… kamu diminta menghadap guru BK.”


Kata BK itu jatuh seperti palu.


“Ini hasil dari apa, Nadin?” suara Triana meninggi. “Ibu sudah atur jadwalmu, lesmu, targetmu. Tapi yang Ibu terima justru panggilan BK?!”


Nadin menggenggam ujung tasnya. “Aku cuma...”


“Kamu cuma apa?” potong Triana. “Cuma capek? Cuma nggak fokus? Semua anak juga capek, tapi mereka punya tanggung jawab. Tidak seperti kamu!” ia menunjuk wajah putrinya sambil berjalan mendekat


“Kamu pikir remedial itu hal sepele? Itu artinya kamu tertinggal. Itu artinya kamu gagal memenuhi standar!.”


Nadin menunduk semakin dalam. Bahunya gemetar. Kata gagal itu menghancurkan mentalnya. Seperti palu yang menghantam gelas kaca.


“Besok Ibu akan ke sekolah,” lanjut Triana tegas. “Dan kamu akan jelaskan ke guru BK kenapa nilai kamu turun, dan kenapa kamu sering terlambat.”


“Aku sudah berusaha, Bun,” suara Nadin pecah di ujung kalimat.


“Kalau itu sungguh-sungguh berusaha,” balas Triana dingin, “hasilnya tidak akan seperti ini.”


Ia menarik napas panjang sebelum berkata dengan nada final,


“Jangan tambah masalah lagi. Ibu sudah cukup lelah menghadapi ini semua. Tidak kamu, tidak ayahmu, sama saja, beban!”


Triana berbalik masuk dan langsung naik ke lantai dua


Nadin tetap berdiri di tempatnya. Tubuhnya basah, kakinya dingin, dadanya sesak. Meski hari ini terasa panjang dan berat, Ia tidak menangis keras, hanya membiarkan air mata jatuh pelan satu persatu.


*


Pagi datang terlalu cepat. Nadin berangkat seperti biasa. Seragamnya rapi, tas di punggung, rambut diikat sederhana. Triana tidak banyak bicara pagi itu, hanya satu kalimat pendek sebelum berangkat kerja.


“Jangan bikin masalah lagi hari ini.”


Nadin mengangguk. Seperti yang selalu ia lakukan. Tidak ada bantahan, tidak ada nada tinggi, tapi ia selalu salah di mata Bundanya.


Ia kembali naik angkot menuju sekolah. Bundanya berangkag lebih dulu saat Nadin baru memulai sarapannya. Tidak ada ajakan untuk berangkat bersama. Dia pun terlalu takut untuk meminta.


Nadin duduk di dekat jendela, menatap jalan yang basah sisa hujan semalam. Tangannya dingin, meski matahari mulai perlahan merangkak.


Di dalam kepalanya, satu kata terus berdengung.


BK!


Bayangan ruang itu membuat dadanya sesak. Kursi-kursi dingin. Tatapan sekitarnya yang menilai. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia tahu bagaimana cara menjawabnya dengan benar. Semua itu membuatnya semakin jatuh, tanpa tahu bagaimana caranya bangkit.


Ketika angkot melambat di dekat taman kota, Nadin berdiri.


“Kiri, Pak.”


Angkot berhenti. Nadin turun setelah membayar.


Ia berdiri di tepi jalan. Taman kota masih sepi. Hanya ada beberapa pedagang yang mulai menata lapak. Nadin duduk, sengaja memilih bangku paling ujung, biar tidak mencolok, mengingat dia menggunakan seragam sekolah. Tasnya ia pangku. Ia tidak tahu harus ke mana. Tidak tahu harus melakukan apa. Yang ia tahu hanya satu, ia tidak sanggup berada di sekolah hari ini.


“Eh, kamu bukan anak sini, ya?”


Seorang gadis berseragam SMP dari sekolah yang berbeda, menghampirinya. Senyumnya lebar dan santai.


Nadin menggeleng pelan.


“Lagi tunggu teman?” 


Nadin kembali menggeleng


"Kalau begitu, kenapa tidak langsung masuk saja?"


Nadin mengerutkan keningnya, " Masuk?"


"Kamu ke sini untuk ikut lomba kan?" Gadis itu tampak bingung melihat reaksi Nadin


"Gak, aku ke sini karena bolos sekolah," akunya jujur.


"Waww..." serunya tertahan sambil menutup mulut. Ia langsung ambil duduk di samping Nadin. "Kalau mau bolos, jangan ke taman kota, bisa di seret satpol kembali ke sekolah. Tapi karena hari ini ada lomba di pendopo, jadi banyak siswa yang seliweran di sini. Hari ini kamu aman."


Nadin langsung mengedarkan pandangannya, ia baru sadar kalau ternyata benar ada banyak siswa berseragam SMP dan SMA yang mulai berdatangan. Mereka menuju pendopo yang ada di selatan taman.


"Dari pada kamu bengong sendirian di sini, mending ikut ke dalam"


"Lomba apa?"


"Melukis. Temanya bebas"


Raut wajah Nadin mulai tampak antusias "Kamu ke sini untuk lomba juga?"


"Gak, bolos," cengirnya


Nadin menatapnya penuh selidik


"Gak usah segitunya liatin aku, kita sama kali, sama-sama bolos." Ia kembali terkikik


"Mau masuk?"


Gadis itu tampak bingung melihat perubahan ekspresi Nadin. Tadi ia terlihat lesu, seperti orang yang kehilangan arah, tiba-tiba saja bersemangat seperti pejuang yang baru menang dari musuh.


"Kenalan dulu kali!. Main ngajak aja seperti kita sudah sahabatan." Ekspresinya di buat sedikit judes. Tapi itu tidak mempengaruhi Nadin


Nadin langsung berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan "Aku Nadin, siswi kelas sembilan."


Gadis di depannya tersenyum lebar dan menjabat tangan Nadin "Aku Rara, juga siswi kelas sembilan"


Rara berdiri dari duduknya dan langsung menarik tangan Nadin. “Ayo!. Keburu mulai.”


Mereka berlari kecil menuju pendopo. Di sana, beberapa meja sudah tersusun rapi. Kanvas-kanvas putih berjajar, cat air dan kuas dibagikan oleh panitia. Spanduk lomba terbentang di depan pendopo.


Lomba Melukis Pelajar Tingkat SMP–SMA. Tema Bebas.


Nadin berhenti melangkah. Matanya menatap kanvas putih itu cukup lama.


“Kenapa?” tanya Rara.


"Aku suka melukis,” jawab Nadin pelan. “Tapi cuma di rumah. Nggak pernah ikut lomba, karena tidak pernah di bolehkan.”


Rara menyeringai. “Berarti ini waktunya!.”


“Tapi aku nggak daftar.”


“Bisa,” jawab Rara ringan. “Panitianya sepupu ayahku. Selama masih jam pendaftaran ulang, aman.”


Mereka menghampiri meja panitia. Seorang pria paruh baya dengan kaus panitia menoleh ke arah Rara.


“Om! Ini temanku. Boleh ikut lomba, kan?”


Pria itu melirik Nadin “Sebenarnya sudah tutup."


"Yah... Bolehin dong Om. Satu orang aja. Masa tidak bisa..." 


"Teman sekolahmu?”


“Iya, Om,” bohongnya tanpa beban


“Ya sudah. Kartu pelajarnya ada?”


Nadin ragu sesaat, lalu mengangguk. “Ada.”


“Ambil nomor peserta.”


"Yeeiii. Makasih Om" Rara berseru kegirangan


Nomor peserta itu terasa dingin di telapak tangan Nadin. Seperti sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan ia pegang hari ini. Bolosnya dia hari ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia sesali, apapun dampak yang akan dia terima setelahnya, ia siap.


Nadin duduk di salah satu kursi. Kanvas putih berdiri di depannya. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya meredup. Suara-suara orang, lalu-lalang panitia, bahkan rasa takutnya sendiri, semuanya menjauh.


Yang tersisa hanya putih.


Panitia mengumumkan lomba di mulai. Tangannya gemetar saat mengambil kuas. Tapi begitu ujungnya menyentuh kanvas, sesuatu di dalam dirinya bergerak.


Ia mulai melukis.


Goresan pertama ragu. Lalu kedua. Ketiga. Semakin lama, semakin yakin. Warna-warna mulai memenuhi kanvas. 


Langit mendung, seorang gadis kecil duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri. Retakan samar di dinding. Cahaya tipis masuk dari jendela kecil. 


Gambar itu tampak begitu nyata.


Rara mengintip dari belakang. Senyumnya perlahan memudar, berganti kagum.


“Kamu… jago banget,” bisiknya.


Nadin tidak menjawab. Ia tenggelam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa salah. Tidak merasa bodoh. Tidak merasa gagal.


Waktu berjalan tanpa ia sadari.


“Sepuluh menit lagi!” seru panitia.


Nadin menambahkan detail terakhir. Bayangan cahaya itu ia pertegas. Bukan cahaya terang, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa masih ada harapan.


Ketika waktu habis, kuasnya ia letakkan perlahan.


Ia menatap hasilnya. Dadanya berdebar. Bukan karena takut. Tapi karena… bangga, pada dirinya sendiri.


Pengumuman pemenang dilakukan satu jam kemudian.


Nadin berdiri di antara peserta lain. Tangannya dingin. Rara berdiri di sampingnya, nyengir tanpa beban.


“Juara tiga,” kata MC, “diraih oleh peserta nomor dua belas.”


Bukan Nadin.


Genggaman tangannya di pergelangan Rara, mengetat.


“Juara dua,” lanjut MC, “peserta nomor tujuh.”


Nadin menelan ludah.


“Dan juara satu… diraih oleh peserta nomor seratus satu.”


Rara menoleh cepat. “Itu kamu!.”


Nadin terdiam. Seperti tidak mendengar dengan benar.


“Peserta nomor seratus satu, atas nama Nadin. Silakan ke depan!.”


Tepuk tangan menggema. Sertifikat dan piala kecil diserahkan ke tangannya.


“Karya kamu kuat, hidup dan penuh penjiwaan” kata juri utama


Nadin hanya mengangguk. Matanya panas.


Untuk sesaat, hanya sesaat, ia merasa menang.


Bukan hanya lomba. Tapi pada dirinya sendiri.


Namun di balik itu, jauh di tempat lain, Bundanya sedang duduk di ruang BK. Menunggu seorang anak yang tidak pernah datang ke sekolah pagi ini.


Dan Nadin belum tahu…


kemenangan ini akan berujung pada badai yang jauh lebih besar.


***


“Nadin belum masuk dari pagi?” tanya Bu Indah, guru BK, pada guru piket.


“Belum, Bu. Absennya kosong.”


Guru BK itu masuk ke ruang guru. “Bu Rini, di mana Nadin?. Ibunya sudah menunggu di ruang BK sejak tadi.”


"Dia tidak masuk, Bu. Nomornya juga sudah tidak aktif."


Beberapa kali nomor Nadin dihubungi. Awalnya sempat berdering, tapi tidak di angkat. Saat di hubungi lagi, sudah tidak aktif. Teman-teman sekelasnya juga tidak ada yang tahu kemana Nadin. 


Hingga sebuah notifikasi masuk ke ponsel guru seni rupa. Itu pesan dari salah satu rekan sesama guru seni rupa dari sekolah lain yang kebetulan menjadi juri dalam lomba melukis di pendopo taman kota.


"Selamat, Bu. Siswanya juara"


Sebuah foto terlampir


Seorang siswi berseragam SMP berdiri di panggung pendopo, memegang piala dan sertifikat. Senyumnya tipis, canggung, tapi matanya hidup.


Juara 1 Lomba Melukis Pelajar Tingkat SMP - SMA.


Nama di sertifikat terlihat jelas. Nadin.


“Ini… Nadin?!” serunya. Semua perhatian di ruangan itu langsung tertuju padanya


“Dia ikut lomba melukis.” Dengan bangga ia menunjukkan foto Nadin pada guru yang lain


Suasana berubah seketika. Kekhawatiran berganti rasa bangga.


“Aku tidak menyangka, anak itu ternyata berbakat,” ujar salah satu guru. 


“Luar biasa."


“Juara satu, lho.”


Kabar itu menyebar cepat. Grup WhatsApp guru ramai. Grup wali murid ikut heboh. 


Bu Indah langsung menemui ibunya Nadin yang sudah lama menunggu di ruangannya. Ia menunjukkan foto Nadin di grup guru. 


Triana menatap layar ponsel dengan wajah dingin. Tangannya bergetar. Bukan karena bangga. Melainkan marah.


“Jadi dia bolos untuk ini?” suaranya rendah, bergetar menahan amarah. “Benar-banar gak berguna!” geramnya dengan suara tertahan


Bu Indah terhenyak. Tidak menyangka jika akan seperti ini reaksi orang tua siswanya atas prestasi putrinya sendiri.


“Bu Triana, ini prestasi putri ibu,” kata Bu Indah hati-hati. “Juara satu tingkat kota...”


“Prestasi?” Triana tertawa pendek, tajam. “Aku tidak menyekolahkannya untuk ini!”


Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. “Di mana dia sekarang?”


Bu Indah terdiam, begitu pun Bu Rini yang berdiri di ambang pintu. Tidak ada yang berani menyela.


“Taman kota,” jawab Bu Indah pelan.


Triana pamit dengan wajah dingin.


Gerimis mulai turun ketika Triana sampai di taman kota.


Nadin masih duduk di bangku pendopo. Pialanya ia peluk di dada, sertifikat terlipat rapi di tas. Rara duduk di sampingnya, bercerita panjang lebar tentang bagaimana karya Nadin difoto banyak orang.


“Nanti kamu bisa ikut lomba lagi,” kata Rara semangat. “Aku bisa bantu daftar...”


“NADIN!”


Seruan lantang itu menyentak keduanya.


Tubuh Nadin membeku.


Bundanya berdiri di hadapannya. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, matanya menyala seperti api.


Rara langsung berdiri. “Eh… Tante, mamanya Nadin ya?” mencoba bersikap ramah


Triana tak menggubris. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan Nadin dengan keras.


“Bun, aku...”


“Diam!” bentaknya. “Pulang. Sekarang!.”


“Tante, maaf, tapi dia juara satu...” Rara berpikir mungkin ibunya Nadin akan bangga kalau tahu putrinya berprestasi


Triana menoleh tajam. “Kamu siapa?”


Rara langsung bungkam. Nyalinya surut saat melihat kemarahan di wajah ibu teman barunya itu.


Triana menarik Nadin tanpa peduli tatapan orang-orang. Piala dalam dekapannya pun terjatuh. 


Nadin menoleh ke belakang. Air matanya jatuh melihat piala pertamanya patah tak terselamatkan. 


“Bun, sakit…” lirih Nadin.


“Lebih sakit lagi kalau kamu terus melawan!”


Kamar itu kembali sunyi setelah pintu dibanting.


Triana menempelkan telunjuknya di kening Nadin. Berkali-kali mendorongnya sampai Nadin mundur beberapa langkah. "Berani sekali kamu membantah Bunda?!."


Nadin hanya bisa tertunduk dengan air mata yang terus mengalir. Bahkan untuk sekedar mengeluarkan isakannya pun ia tidak berani.


"Bunda hanya mengizinkan kamu melukis di rumah. Itu pun hanya di hari libur. Tapi hari ini kamu sudah membangkang, dan tidak ada lagi toleransi!"


Triana membuka lemari, menarik kotak kayu kecil milik Nadin, tempat semua alat lukisnya disimpan dengan rapi. “Lukisan. Kanvas. Cat. Kuas. Semua ini harus di singkirkan!” 


“Nggak, Bun… itu punyaku…Itu hadiah dari Ayah dan Oma.” Nadin menggeleng keras dan memohon. Untuk pertama kalinya ia histeris. Berusaha merebut kotak kayu miliknya.


Triana mendorong tubuh ringkih putrinya. Tidak peduli apakah perbuatannya itu akan melukainya.


Satu per satu, kuas dilempar ke lantai. Cat air dipencet hingga tumpah. Kanvas sobek. Sketsa-sketsa Nadin, wajah, cahaya, luka, dirobek tanpa sisa.


“Kamu mau jadi apa? Pelukis?” teriaknya. “Hidup dari coretan tidak jelas?!”


Nadin terduduk di lantai. Tangannya gemetar hebat. “Ini semua yang aku punya…” bisiknya.


Triana berhenti sejenak. Menatap Nadin dari atas.


“Justru itu masalahnya,” katanya dingin. “Mulai sekarang, lupakan semua ini dan fokus belajar.”


Ia lalu beranjak meninggalkan kekacauan yang ia buat. Dan menutup pintu di belakangnya dengan keras.


Nadin sendirian.


Di lantai, pecahan mimpinya berserakan. Cat bercampur air mata. Kuas patah. Kertas sobek.


Dan kemenangan yang tadi terasa begitu hangat, berubah menjadi luka paling perih yang pernah ia rasakan.


Setelah meninggalkan kamar Nadin, Triana langsung menghubungi suaminya


“Mas,” katanya tanpa basa-basi begitu panggilan terhubung. “Kamu pulang sekarang!.”


Di seberang sana, Mahendra terdiam sejenak. “Ada apa? Aku sedang rapat.”


“Aku tidak peduli!,” potong Triana tajam. “Anakmu bikin masalah besar hari ini.”


Kata anakmu diucapkan dengan tekanan.


Mahendra menarik napas. “Masalah apa?”


"Kamu akan tahu setelah tiba di sini!" Dia langsung memutuskan panggilannya tanpa mau repot mendengar jawaban suaminya.


Pukul satu dini hari, Mahendra tiba di rumahnya. Ia tidak bisa mengabaikan perintah istrinya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada putri tunggalnya. Sepanjang rapat ia tidak bisa konsentrasi, apa lagi setelahnya ia tidak bisa menghubungi putrinya, karena ponsel Nadin sudah disita Triana.


Triana masih terjaga. Sengaja menunggu suaminya datang. 


"Mana Nadin?"


"Di kamarnya"


Mahendra bergegas naik ke lantai dua. Saat membuka kamar putrinya, matanya langsung tertuju ke lantai yang kacau, dan Nadin yang meringkuk di kasur sambil menggenggam kuas yang patah.


"Apa ini, Triana?!" Mahendra menggeram.


Tanpa ragu, Triana langsung menceritakan semuanya. Tentang bolos. Tentang lomba melukis. Tentang rasa malu yang ia rasakan di sekolah. Tentang bagaimana Nadin ‘melawan’ dan ‘tidak bisa disiplin'.


“Aku sudah hancurkan semua alat lukisnya,” tutup Triana dingin. “Biar dia tahu batas.”


Untuk beberapa detik tidak ada suara


Lalu Mahendra berbicara, pelan. Terlalu pelan.


“Kamu… melakukan apa?”


“Mas, jangan mulai membela. Anak itu...”


“Aku tanya!,” suara Mahendra naik, bergetar, “kamu melakukan apa pada Nadin?”


Triana terdiam. Ada sedikit ketakutan di hatinya saat melihat kilatan amarah di mata suaminya.


Mahendra melangkah mendekati Triana. Langkahnya berat, tapi sorot matanya tajam.


“Kamu tahu nggak...,” katanya lirih namun bergetar, “apa yang paling menyakitkan dari semua ini?”


Triana mendengus. “Jangan drama, Mas.”


“Yang paling menyakitkan...,” lanjut Mahendra, mengabaikannya, “bukan karena dia bolos. Bukan karena dia ikut lomba tanpa izin. Tapi karena anak kita menang… dan ibunya memilih menghancurkannya.”


Triana tertawa pendek. “Aku mendidiknya.”


“Tidak,” Mahendra menggeleng keras. “Kamu mengendalikan. Kamu menekan. Kamu mematahkan dia pelan-pelan.”


“Kalau aku tidak keras, dia akan jadi apa?” Triana membalas, suaranya meninggi. Seolah lupa mereka berada di kamar putrinya yang sedang tidur. “Pelukis? Hidup dari lomba-lomba tidak jelas? Aku ingin masa depan yang pasti untuk anak kita!”


Mahendra menatapnya lama. Terlalu lama.


“Dan siapa kamu sampai berhak menentukan mimpi hidupnya?” tanyanya akhirnya. “Kamu lupa satu hal, Triana. Nadin bukan milikmu. Dia anak kita. Manusia.”


Triana terdiam sejenak, lalu menyeringai. “Jadi sekarang aku ibu yang jahat?”


Mahendra menarik napas panjang. Dadanya sesak. Kepalanya penuh dengan bayangan Nadin kecil yang dulu berlari memamerkan coretan krayon, tersenyum bangga saat ia bilang, ‘Bagus.’


“Ya,” katanya pelan, tapi tegas. “Hari ini, kamu ibu yang kejam.”


Triana terhenyak. “Mas...”


“Kamu tahu apa yang aku lihat?” Mahendra menunjuk ke arah Nadin. “Anak kita meringkuk sambil memegang kuas patah, seperti itu satu-satunya pegangan hidupnya. Dan kamu yang mematahkannya.”


“Itu lebay!”


“Tidak!” suara Mahendra pecah. “Kamu tidak pernah mau melihatnya sebagai anak. Yang kamu lihat cuma angka, nilai, target, gengsi!”


Triana melangkah mendekat. “Tahu apa kamu soal mendidik?!. Selama ini aku yang mengurus semuanya!. Kamu cuma datang sebagai ayah baik-baik yang tidak pernah benar-benar ada!”


Mahendra tersenyum pahit. “Mungkin aku memang kurang hadir. Tapi setidaknya aku tidak menghancurkan jiwanya.”


Pertengkaran itu semakin panas. Kata-kata saling menghantam, saling melukai. Tidak ada lagi rem, tidak ada lagi upaya memahami.


Hingga akhirnya Mahendra terdiam.


Ia menutup mata, menarik napas panjang, seolah mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya.


“Cukup!,” katanya.


Triana masih hendak bicara, tapi Mahendra mengangkat tangannya.


“Aku tidak sanggup lagi,” lanjutnya dengan suara lelah. “Aku tidak bisa membiarkan anakku tumbuh dengan rasa takut di rumahnya sendiri. Aku tidak bisa hidup dengan melihat kamu terus merusaknya atas nama cinta.”


Triana menatapnya tak percaya. “Apa maksudmu?”


Mahendra membuka mata. Menatap Triana lurus, tanpa ragu.


“Aku akan membawanya. Dan, kita cerai,” ucapnya jelas, “aku jatuhkan talak satu.”.... “Demi Nadin.”


Kata itu jatuh berat di udara.


Triana membeku


Dalam keremangan cahaya, di balik mata yang pura-pura terpejam, ada hati yang semakin remuk.


Talak.


Kata itu bergema di kepalanya. Sama kerasnya seperti suara kanvas yang disobek siang tadi.


Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Nadin belajar bahwa mimpinya bukan hanya bisa dihancurkan, tapi juga bisa memecah keutuhan keluarga.


No comments:

Post a Comment