Aku melipat tangan di depan da da. Dingin mulai menusuk tulang. Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki bertelanjang da da berjalan sempoyongan ke arahku. Aku menjadi takut sekali.
Aku mulai memegang tas, bersiap untuk kabur ke rumah. Pikiran negatifku tiba-tiba saja hinggap. Tidak mungkin ada orang waras yang hujan-hujannan. Pastilah orang gila. Takutnya orang gila tersebut berbahaya.
"Mbak ... tolong aku," ucap pemuda itu yang ternyata sudah berada di depanku. Terhalang oleh meja tempat dagangan.
Aku memperhatikan dia. Jika dilihat dari wajahnya tampaknya dia orang baik-baik. Wajahnya lumayan tampan, tapi untuk apa tidak memakai baju saat hujanan seperti ini? Bahkan tanpa alas kaki?
Atau mungkin dia laki-laki yang berbuat tidak se no noh dengan istri orang, lalu ketahuan suaminya dan lari? Pikiranku jadi ke mana-mana.
"Mbak ... tolong ... aku kedinginan. Kenapa Mbak diam saja? Apakah ada jahe su su?" tanya laki-laki itu.
Sebagai penjual nasi kucing, tentunya kami selalu memiliki minuman yang satu itu. Jahe su su. Minuman yang sangat disukai oleh pelanggan untuk diminum di malam hari.
Pemuda tersebut meraba kantong kolornya. Aku melengos. Sekilas tampak perutnya yang berbentuk kotak-kotak. Perut yang disukai para emak-emak. Penampilannya yang setengah t e l a n j a n g membuatku merasa tidak nyaman.
"Maaf Mbak ... aku hanya punya u a n g ini. Tolong beri aku minuman jahe su su ala kadarnya. Aku tidak kuat lagi," ucap pemuda itu sembari menunjukkan u a n g koin lima ratus rupiah.
Bukan soal u4ng koinnya, tapi mendengar dia bicara tidak kuat lagi, aku menjadi ketakutan. Wajah pemuda itu mulai terlihat memucat, bibirnya membiru seperti hendak pingsan. Aku segera membongkar lagi barang daganganku untuk mengambil tremos sembari berucap padanya. "Pindahlah kemari agar tidak kena air hujan lagi!"
Pemuda yang berdiri di tengah-tengah hujan dalam keadaan yang menyedihkan itu langsung berjalan memutar agar bisa berdiri di sampingku berteduh dari derasnya hujan. Tubuhnya menggigil. Air berjatuhan dari tubuhnya seakan dia sudah berjam-jam hujan-hujanan.
Aku segera membuat apa yang dia pesan. Dengan cepat aku mengupas jahe lalu kutumbuk. Kububuhkan s u s u dan sedikit gula ke dalam gelas lalu menuangkan air panas dari tremos ke dalamnya.
Setelah aku aduk-aduk, aku menyerahkan minuman tersebut kepada pemuda yang ada di sampingku.
"Ini jahe su sunya, Mas," ucapku.
Pemuda itu menerima jahe su su dariku, tapi matanya menatapku sayu. Dan tiba-tiba mata itu mendelik. Terlihat putihnya doang. Lalu ....
Brught!
Sial!
Dalam hitungan detik.
Pemuda itu pingsan. Apesnya tubuhnya yang besar menimpa badanku. Seketika aku limbung dan langsung terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Minuman jahe s u s u yang aku berikan kepadanya tumpah begitu saja.
Sungguh sama sekali aku tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini.
Aku berusaha mendorong tubuh pemuda tersebut agar menyingkir dari badanku. Namun, rasanya berat sekali.
"Ria ... tolong buatkan jahe su su dua!"
Seseorang yang memakai jas hujan tiba-tiba muncul di saat aku dalam posisi yang tidak semestinya.
Orang itu melongo ketika melihat ada laki-laki yang ber t e l a n j a n g d a d a berada di atas badanku.
"Hah? Apa yang kamu lakukan, Ria? Aku tidak menyangka kalau kamu diam-diam ternyata ...."
Belum sempat aku menjelaskan laki-laki yang memakai jas hujan tersebut pergi begitu saja.
"Pak Tejo, tunggu, Pak!" teriakku.
Laki-laki tersebut hanya menoleh sekilas, lalu tergesa pergi.
"Ingin dimintai tolong malah pergi!" omelku.
"Mas ...!"
Aku langsung mendorong tubuh berat di atasku dengan sekuat tenaga. Menepuk-nepuk pipinya agar segera sadar.
"Mas! Bangun, Mas!"
Aku goyang-goyang tubuhnya, tapi pemuda itu tidak juga bergeming.
Tiba-tiba suara beberapa orang mendatangi kami. Salah satu di antaranya adalah Pak RT. Beliau memakai payung sedangkan yang lainnya memakai jas hujan.
"Apa yang kalian lakukan di bawah situ, Ria?" tanya Pak RT.
"A--apa maksud Pak RT?" tanyaku tak mengerti.
"Aku mendapat laporan warga kalau kamu melakukan perbuatan a s u s i l a di lapak jualanmu di tengah-tengah hujan," ucap Pak RT.
"Itu Fitnah, Pak. Itu tidak benar!" jawabku membela diri.
"Halah! Kamu jangan mengelak, Ria! Aku melihat dengan mata kalian sendiri bagaimana pemuda itu dan kamu melakukan hal tak s e n o n o h!" ucap Pak Tejo.
"Bapak salah paham. Kami tidak melakukan ...."
"Kalau aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri mungkin aku tidak akan percaya. Mungkin aku bisa kelabuhi dengan wajah lugu kamu, tapi aku masih mengingat bagaimana pemuda itu berada di atas t u b u h m u. Dan kalian berbaring di bawah situ!" teriak laki-laki itu.
Aku jadi kebingungan. Sungguh ini di luar kuasaku. Aku tidak menyangka hanya karena ada orang pingsan dan menimpa t u b u h k u, aku difitnah telah melakukan hal tak seno noh.
"Siapa dia, Ria? Pemuda dari mana dia?" tanya Pak RT.
"Aku tidak kenal, Pak. Aku juga tidak tahu dia dari mana. Dia hanya orang yang membeli jahe su su," jawabku.
"Kamu baru saja bertemu dengan pemuda yang tidak kamu kenal saja sudah berani berbuat melakukan hal yang memalukan di lingkungan kita. Mau jadi apa kamu, hah?"
"Aku tidak seperti yang bapak duga. Tidak terjadi apa-apa di antara kami," ucapku. Rasanya ingin sekali menangis ketika aku yang benar-benar tidak tahu apa-apa ini dituduh melakukan hal yang tidak bermoral.
"Sebaiknya kita nikahkan saja Ria, Pak! Dari pada mencoreng nama lingkungan kita!" ucap bapak-bapak yang memakai baju merah.
"Betul, Pak. Aku setuju itu," sahut yang lainnya.
"Tapi Ria tidak kenal pemuda ini, Pak," sahutku. Aku benar-benar sudah menangis. Bukan hanya difitnah, tapi aku juga dipaksa menikah.
"Kamu kenal saja tidak sudah berani berhubungan b a d a n, apalagi yang sudah kenal. Bisa jadi kamu melakukannya berulang-ulang!" ucap Pak Tejo.
"Astagfirulloh, Pak. Aku bukan perempuan macam itu!" teriakku.
"Kalau kamu perempuan baik-baik maka menikahlah! Jangan berhubungan sebelum ada ikatan pernikahan!" ucap bapak-bapak itu.
"Sumpah demi Allah, Pak. Aku tidak melakukannya!" ucapku.
Aku melihat pemuda yang ada di dekatku mulai sadar.
"Hei kamu! Kamu harus tanggung jawab! Gara-gara kamu, aku dituduh yang tidak-tidak sama warga!" ucapku kepada pemuda itu.
Pemuda yang ada di bawah kakiku itu duduk. Dia menggeleng-gelengkan kepala mungkin dengan tujuan agar kesadarannya pulih.
"Benarkan kalau kamu dan Ria sudah berbuat tak senonoh di tempat ini?" tanya Pak RT.
"Maaf, Pak. Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku lakukan," ucap pemuda itu.
"Tuhkan, ngaku dia," sahut bapak-bapak berbaju merah. Dia langsung menyeret pemuda itu agar mengikutinya ke rumah Pak RT. Sedangkan yang lain memaksaku agar ikut berjalan.
"Hei! Apa-apaan ini? Kenapa kalian memaksaku ikut?!" tanyaku.
"Kamu tidak dengar kalau pemuda tadi sudah mengakui perbuatanya?! Maka kamu harus menikah dengannya!" ucap bapak-bapak berbaju merah dengan suara lantang.
"Kapan?" tanyaku.
"Bukankah barusan dia mengakui kalau dia melakukannya karena tidak sadar," sahut bapak-bapak berbaju merah.
"Pengakuan macam apa itu? Tidaaak ... ibu ... aku tidak ingin mereka membawaku, Bu ...," rengekku.
Aku langsung meraung-raung seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
"Dia tidak sadar beneran. Bukan tidak sadar yang itu," rengekku, tapi tak ada satu orang pun yang peduli terlebih suaraku terhalang derasnya suara air hujan. Mereka justru bersemangat 45 seperti pemburu yang sedang mendapat mangsa. Hendak menikahkanku dengan pemuda tersebut malam ini juga, pemuda yang sama sekali tidak aku kenal.

No comments:
Post a Comment