Addense

Sunday, 26 July 2026

Cinta terlarang




“Ba y ar atau tutup!” 


Aruna me re mas kertas peringatan yang kemarin ia terima dengan kuat, dalam waktu 24 jam ia harus mem ba yar tung gakan ba nk atau sanggarnya di si ta. Kini Aruna hanya duduk diam, menatap sanggar yang beralaskan kayu lapuk dan tembok yang berlumut. 


“Ke mana aku harus cari ua ng itu?” gumamnya lirih. 


Pagi hari yang dingin itu memberikan kontras suasana hati Aruna yang mendung bahkan nyaris badai. Ia beranjak mengambil langkah pelan tapi pasti, ia melenggak di atas lantai kayu lapuk dengan aroma menguar tidak sedap. Atap yang bocor dan tembok yang catnya terkelupas. 


Semua tersapu di mata Aruna, menyisakan gerakan pelan tapi tak beraturan. 


Bruk!


Ia terjatuh di lantai dengan suara sound system usang yang memutar musik yang sama. Kepalanya seperti akan pe cah saat itu juga. 


tok tok tok! 


suara ketukan pintu pelan yang perlahan semakin ke ras. ia menghela nafas, berjalan dengan lunglai. Pintu kayu jati yang berderit itu menunjukkan sosok pria dengan tubuh besar dan garang. 


“Permisi!” suara dingin yang kontras dengan pria serba hitam di balik pintu. 


Manik matanya membelalak saat melihat ke belakang pria dengan tubuh besar, seorang pria dengan sepatu yang mengkilap turun dari mobil Pajero hitam yang kinclong. Setelan tuxedo  dari desainer ternama yang disetrika rapi, berbeda dengan penampilan Aruna pagi ini. 


Hanya kebaya usang lengkap dengan kain batik sebagai bawahannya. 


“Selamat pagi, Nona Aruna,” sapanya lirih. 


Di tangannya sebuah map coklat yang sama persis dengan miliknya terlihat rapi. Aruna hanya menatapnya sekilas. 


“Aku Langit, dari Mahendra group. Aset ini udah diakusisi  perusahaanku dari ba nk, dan sudah nu ng gak tiga bulan,” jelasnya dengan tata bahasa yang rapi. 


“Lalu, kalian datang ke sini untuk mengusirku?” tanya Aruna dengan berkacak pinggang. 


“Aku sudah memberi waktu 24 jam untuk me lu na sinya, tapi sampai saat ini?” jawab pria itu tegas. 


“Kamu gila ya? Surat peringatan baru kuterima kemarin dan…” pekik Aruna dengan me mi cingkan mata. 


Langit mengerutkan kening sembari memberi isyarat pada bodyguardnya. 


“Ini sudah  24 jam dan belum lunas, sanggar ini akan rata tanah hari ini,” timpal Langit. 


Suara bariton dingin bagaikan petir yang menyambar Aruna pagi itu, ia tidak pernah menyangka jika h u ta ng di bank akan seperti ini. 


Dalam batinnya Aruna menggerutu, “Semua orang ka ya sama saja, selalu som bong dan me nin das kalangan bawah!” tangannya mengepal seolah siap melayangkan pu ku lan pada pria itu. 


Tapi, semua ini tetaplah salahnya sendiri. 


Terdesak me min jam da na ke ba nk karena nenek sakit dan sanggar sangat krisis, hingga Aruna harus meng ga dai kan ser ti fi kat tanah sanggar ke ba nk. Satu-satunya a set yang ia miliki. 


“Apa kamu tidak akan memberikan keringanan?” tanya Aruna mendongak dengan ang kuh. 


Hanya sebelah alis Langit yang terangkat dengan senyuman tipis. 


“Keringanan seperti apa lagi yang kamu minta, Nona? Bukankah tiga bulan lalu itu sudah?” pria itu berjalan masuk dengan langkah pelan. 


Aruna meremas pelan ujung kebaya-nya hingga kusut. Menatap pria jangkung dengan jas hitam yang melekat pas pada tubuhnya. 


“Tiga bulan lalu sanggarku sepi, jadi untuk mem ba yar-” ucapan Aruna terhenti, jemari kakinya melipat pelan.


Tidak ada jawaban dari pria itu, ia sibuk mengelilingi sanggar. Menatap atap yang bolong dan menginjakkan kaki di lantai kayu yang sudah lapuk. Manik matanya tidak beralih dari cat tembok yang sudah mengelupas. 


Bau menyengat membuat Langit sontak tutup hidung. 


“Sangat memprihatinkan,” gumamnya. 


Kakinya kembali melangkah ke sudut ruangan, sebuah foto wanita dengan kebaya lengkap dengan sanggul. Senyum yang tidak asing bagi Langit. 


“Dia?” gumam Langit dengan menunjuk foto. 


Tangannya memberi isyarat pada Narno, hingga bodguardnya itu mendekat. 


“Saya, Tuan Muda,” ucapnya. 


“Mana map cokelat tadi?” tanya Langit dengan tergesa-gesa. 


Saat map cokelat itu ada di tangannya, manik matanya menatap nama sanggar yang ia akusisi. Dan… Sanggar Cahaya Timur ini yang sangat sering di sebut Budi Mahendra dalam surat wasiatnya. 


Langit me nge palkan tangan dengan kuat, ia menghela nafas dan menatap foto yang menempel di dinding. 


“Belum terlambat,” gumamnya lirih. 


ia menarik kursi kayu dan duduk di sana, kakinya terangkat sebelah. Jari telunjuknya menunjuk Aruna dengan lurus. 


“Kemari!” ucapnya tegas. 


Aruna mengerutkan keningnya, tatapannya nya lang. Ia sempat diam dan berpikir apa yang akan ia dapatkan? 


tapi, perlahan ia mendekati meja. 


“Ada apa?” tanya Aruna dengan ketus. 


“Wanita di foto itu, Ibumu?” Langit melempar tanya dengan menunjuk sebuah foto di sudut sanggar. 


“Iya, mengapa kamu tahu?” tanyanya. 


Langit hanya tersenyum. 


“Narno, batalkan alat besar yang sudah dipesan ke alamat ini,” ucap Langit dengan tegas. 


“Ta-tapi, Tuan Muda… atas alasan apa?” dengan gagap Narno melempar tanya. 


“Sudah atur saja!” tegasnya.


Langit kembali menatap gadis di hadapannya. Ia menurunkan map cokelat itu dengan ka sar ke atas meja kayu yang rapuh.


 Tatapannya menusuk tajam ke mata Aruna yang me nya lang marah.


"Selamat, Nona Aruna. Sanggarmu batal rata dengan tanah hari ini," ucap Langit dengan nada datar yang sulit diartikan, menyembunyikan keterkejutan di balik manik matanya saat melihat foto sang ibu.


 "Bukan karena aku kasihan... tapi karena mendiang ayahku punya urusan yang belum selesai dengan wanita di foto itu. Dan sekarang, urusan itu berpindah ke tanganmu." 


Aruna tertegun. "Maksudmu apa?!"


 Langit berbalik, melemparkan senyum misterius sebelum masuk ke mobil mewahnya.


 "Kita lihat seberapa kuat kamu bertahan hidup di bawah telapak kakiku."



Bersambung...

No comments:

Post a Comment