"Baik. Papa akan tanda tangan."
Dadaku yang tegang sedikit mengendur, membiarkan pasokan udara mengisi paru-paruku yang sesak.
"Tapi kamu harus menikah dulu."
Dahiku berkerut dalam, iris mataku menyempit penuh ketidakpercayaan.
"Begitu kamu resmi menikah, Papa akan langsung ikut ke kantor notaris dan menandatangani seluruh berkas pemecahan sertifikat tanah butikmu," ujar Papa tanpa beban.
"Apa hubungannya pernikahanku dengan tanah peninggalan Kakek?" ce-carku, menahan gemetar tipis di ujung suaraku.
Papa menyilangkan kaki, menatapku lurus dengan pandangan meremehkan. "Itu syarat dari papa yang tidak bisa diganggu gugat. Jadi, Papa tidak akan menyentuh pulpen sebelum kamu menikah."
Belum sempat lidahku menyusun bantahan, Dirga mendekat. "Aina, jangan khawatir. Kita pasti menikah. Hanya saja... kita lakukan tepat setelah Kayla sembuh dan keluar dari rumah sakit."
Di ranjang pasien, Kayla mengangguk-angguk cepat. "Iya, Mbak Aina..." Lirihnya, matanya berkaca-kaca memancarkan binar keharuan yang sempurna.
"Aku ingin lihat Mbak pakai gaun pengantin indah buatan Mbak sendiri. Kalau operasinya berhasil... aku janji pasti datang." Setetes air mata meluncur mulus melintasi pipi pucat Kayla.
"Baik." Satu kata singkat itu meluncur mulus dari bibirku.
Seketika, atmosfer tegang di ruangan ini mencair. Senyum Papa terkembang lebar, bahunya meluruh rileks. Sementara di atas ranjang, Kayla mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata, seolah beban hidup paling berat baru saja terangkat dari dadanya.
Teruslah tersenyum. Rayakan kemenangan kalian malam ini.
"Kalau gitu, aku pulang dulu. Aku lelah banget setelah seharian kerja, dan aku juga belum makan sejak siang."
"Iya, sana cepat pulang dan makan yang banyak agar tidak sakit," ucap Mama dengan raut wajah penuh cemas.
Tentu saja. Aku tahu persis arti 'kepedulian' itu.
POV Kayla
"Kupikir tadi Mbak Aina akan terus memaksa."
"Tenang. Dia percaya," sahut Kak Dirga cepat.
Papa mengangguk membenarkan. Aku memiringkan kepala di atas bantal, menatap Papa dengan mata berbinar.
"Pa..." panggilku lemah namun penuh nada kepastian.,"...Papa benar-benar gak akan tanda tangan pemecahan tanah itu, kan?"
Papa menoleh, mengukir senyum cu-l-as yang sangat kukenal. "Tentu tidak, Sayang."
Darah di dadaku berdesir hangat. Rasanya luar biasa memiliki seorang Papa yang selalu memasang perisai terdepan untuk impianku.
"Kalau Papa tanda tangan sekarang, tanah itu otomatis terpisah dan resmi jadi hak milik Aina," lanjut Papa sambil menyesap teh dingin di atas meja.
"Begitu sertifikatnya pecah atas namanya sendiri, akan sepuluh kali lebih sulit bagi kita merebut hak pengelolaan butik itu."
Kak Dirga mengangguk setuju. "Makanya aku usulkan ide pernikahan itu tadi, Om. Setelah operasi donor selesai dan ginjalnya berpindah, dia sudah tidak punya kartu truf lagi untuk menekan Om Rahmat."
Papa tertawa puas, menunjuk Kak Dirga dengan telunjuknya. "Otakmu cepat juga bertindak, Dirga. Sangat cerdas."
"Begitu ginjalnya sudah resmi ada di tubuh Kayla dan masa pemulihan selesai," tambah Papa dengan mata menyipit tajam, "Papa tidak punya kewajiban apa pun lagi untuk memenuhi syarat konyolnya."
Air mata haru membasahi sudut mataku. "Aku sebenarnya merasa bersalah pada Mbak Aina... Tapi, Pa... aku benar-benar menginginkan butik itu. Aku ingin punya usaha atas namaku sendiri."
Papa mendekati ranjangku, lalu mengusap puncak kepalaku dengan jarinya yang hangat dan penuh kasih sayang. "Kamu tidak salah sedikit pun, Sayang. Aina saja yang terlalu eg-ois dan pe-lit. Dia itu lahir sehat, otaknya encer, pintar cari ua-ng. Jadi memang sudah seharusnya dia mengalah untuk adiknya. Sebentar lagi, tempat itu akan jadi milikmu."
Mama mengangguk membenarkan. "Benar kata Papamu, Nak. Kamu gak boleh merasa bersalah, nanti stres. Kalau kamu harus merintis bisnis dari nol dengan kondisi fisikmu yang rentan begini... Mama gak akan tega. Mama gak bisa melihatmu kelelahan."
Aku merengkuh leher Papa erat-erat, menyandarkan wajahku di dadanya. Mama ikut memeluk kami dari samping.
"Terima kasih, Pa... Terima kasih, Ma..." bisikku penuh kehangatan. "Papa dan Mama memang orang tua terbaik di dunia."
***
Setelah memastikan waktu cukup, aku mendekati pintu kayu VIP berlabel nama Kayla.
Pintu itu tidak terkatup rapat—menyisakan celah sempit sekitar dua senti. Dari dalam, sayup-sayup terdengar derai tawa renyah.
Aku menahan napas, menempelkan tubuhku di samping bingkai pintu. Saat ujung jariku hampir menyentuh ponsel, terdengar suara langkah mendekati pintu.
Aku menahan napas. Bayangan seseorang jatuh di bawah celah pintu.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup, langkah itu menjauh. Dengan gerakan perlahan, kembali kuulurkan tangan menembus celah sempit, mer-a-ba permukaan kursi plastik kecil tepat di dekat engsel. Ujung jemariku menyentuh permukaan dingin. Ketemu.
Dengan jantung berdegup kencang, aku berbalik dan melangkah cepat menuju area parkiran yang luas. Begitu masuk ke dalam mobil, jemariku menekan tombol m4tikan rekaman.
Dua puluh menit kemudian, mobilku terparkir di depan sebuah rumah makan sederhana yang masih menyalakan lampu kuningnya. Aku memilih bilik paling sudut di bagian belakang, terlindung dari jangkauan pandangan luar.
Setelah makan, aku membuka aplikasi perekam suara, menekan tombol play. Suara Dirga terdengar, disusul suara Papa. Rekaman terus berlanjut. Suara serak Kayla menyusul. Lalu suara Mama.
Jemariku meremas kain serbet di atas pangkuan hingga membentuk gumpalan kusut. Air mataku menetes jatuh. Ma, Pa, kenapa begitu tega padaku? Bukankah aku anak kalian juga?
Tawa kering tiba-tiba lolos begitu saja dari tenggorokanku. "Ha ha. Jadi rencana besar kalian sudah sejauh itu?"
Beberapa pengunjung di meja tengah menoleh terkejut mendengar tawa dinginku. Aku sama sekali tidak memedulikan pandangan mereka. Aku terus tertawa.Tertawa sambil menangis tersengal-sengal. Untuk pertama kalinya aku benar-benar sadar, di mata Papa dan Mama, aku bahkan tidak pernah dianggap sebagai anak mereka.
"Jika kalian begitu tega padaku, maka jangan salahkan aku."
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berdiri meninggalkan meja makan. Rekaman ini, adalah senjata pertama yang tanpa sadar mereka berikan padaku.
"Terima kasih, Pa. Papa sendiri yang membuat syarat itu. Kalau Papa hanya mau menandatangani sertifikat setelah aku menikah..."
Aku meraih kunci mobil, lalu melangkah keluar. Senyumku perlahan berubah dingin.
"Baik. Aku akan menikah."
Bersambung...

No comments:
Post a Comment