Addense

Sunday, 12 July 2026

 3




“Mereka bilang aku cuma numpang hidup dari suamiku. Sampai aku menghentikan semua u-ang bulanan dan umroh ibu mertua. Detik berikutnya—dia langsung pingsan!”


***


"Apa maksudmu? Zaky itu manajer, tentu saja uwangnya cukup!" 


Aku tertawa, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat merem-ehkan.


"Cukup untuk makan kalian? Mungkin. Tapi untuk gaya hidup 'pangeran-pangeran' Ibu dan hobi pamer a-nak-an-ak Ibu lainnya? Mas Zaky tidak punya uwang sebanyak itu, Bu."


"Arini, cukup!" Mas Zaky mencoba berdiri, tapi aku memberikan satu tatapan tajam yang membuatnya kembali terduduk.


"Dan soal liburan ke Bali ...." Aku merogoh ponselku, menunjukkan layar yang sudah menampilkan konfirmasi pembatalan. "Baru saja, aku membatalkan seluruh tiket pesawat dan konfirmasi hotel atas nama keluarga ini. Karena uwang yang digunakan untuk membayar semua itu adalah uwang dari 'istri yang tid-ak tahu diri' ini."


Mata Ibu membelalak. Wajah Yuli, Susi, dan Bagas berubah pucat pasi.


"Apa?! Kamu membatalkannya?!" teriak Ibu histe-ris. "Zaky! Lihat istrimu ini! Benar-benar kur-ang aj-ar!"


Aku melipat tangan di da-da. "Kurang a-jar? Tidak, Bu. Saya hanya sedang mengikuti saran Ibu tadi. Katanya saya jangan dimanja, kan? Maka mulai malam ini, saya tidak akan memanjakan siapa pun di rumah ini lagi. Termasuk membayar sisa tiket umroh Ibu yang pelunasannya seharusnya saya lakukan minggu depan."


Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Ibu mertuaku tampak terse-dak ludahnya sendiri, sementara Mas Zaky hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Sekarang, silakan diskusikan kembali rencana liburan kalian," ucapku dengan suara sangat tenang namun mematikan. "Pakai uwang Mas Zaky, atau pakai uwang kalian masing-masing. Aku dan Reina akan pulang hari ini juga."


Aku hendak berbalik menuju kam-ar, namun Mas Zaky meraih pergelangan tanganku dan mencengk-ramnya kuat. 


"Lepaskan tanganmu, Mas. Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang akan kita sesali selamanya di depan ibumu ini." Suaraku rendah, hampir terdengar seperti anca-man, hingga Mas Zaky melepaskan cengke-ramannya.


"Rin, jangan keterlaluan," Mas Zaky mencoba mengatur napas, suaranya naik satu oktav. "Awalnya cuma gara-gara satu am-plop THR. Kenapa masalahnya harus dibuat sebesar ini? Kamu merembet sampai ke tiket Bali, sampai ke umroh Ibu. Kamu sadar tidak, ini sudah keterlaluan?"


Aku memutar tu-buh, berdiri tegak menghadapnya. Aku menatap pria yang sudah menemaniku selama tujuh tahun ini dengan pandangan yang kosong. Dingin.


"Hanya gara-gara am-plop?" Aku mengulang kalimatnya dengan tawa kecil yang terdengar menya-kitkan di telingaku sendiri. "Mas, jika kamu masih berpikir ini hanya soal beberapa lembar uwang di dalam am-plop, berarti selama ini kamu memang tidak pernah mengenalku. Kamu juga tidak pernah mengenal putrimu."


"Rin, to-longlah ...."


"Ini soal harga diri, Mas! Soal keberadaanku yang kalian anggap mesin A.T.M berjalan tapi tidak layak dihormati sebagai manusia. Ini soal perasaan Reina yang han-cur karena neneknya sendiri membu-angnya seperti samp-ah di hari raya! Dan kamu? Kamu justru berdiri di sana, menonton an-akmu menan-gis, dan sekarang memintaku untuk tetap membayar kemewahan orang-orang yang menin-dasnya?"


Zaky terdiam sesaat, matanya melirik ke arah Ibu yang mulai tampak gelisah di kursinya.


"Mas tahu Ibu salah, tapi tol-ong maklumi sikapnya. Mas yakin Ibu tidak berniat jahat seperti itu. Itu cuma kebiasaan orang tua. Rin ... Mas mohon, teruskan seto-ran biaya umroh Ibu. Kalau sampai batal, Ibu mau ditaruh di mana mukanya? Semua teman pengajian dan tetangga sudah tahu kalau Ibu mau berangkat. Kita bakal jadi bahan omongan satu kampung."


Aku menatap Ibu mertuaku. Wanita itu kini tidak seberani tadi. Keang-kuhannya luntur, digantikan oleh kecemasan yang nyata. Tentu saja, panggung sandiwara yang ia bangun di depan para tetangga teran-cam run-tuh jika penyandang da-nanya menarik diri.


"Kalau memang Ibu malu, kenapa bukan kalian saja yang patungan?" tanyaku sambil melempar pandangan ke arah saudara-saudara Mas Zaky yang duduk berjajar di sofa seperti terdakwa. 

"Kalian semua kan sayang Ibu. Kalian semua a-nak-an-ak kebanggaan Ibu, kan? Silakan, bayar sisanya."


Hening.


Yuli, si an-ak sulung yang tadi paling semangat bicara soal koper baru, tiba-tiba menunduk dalam.


"Rin ... kamu kan tahu kondisi kami. Mas Bambang sudah setahun ini kena P.H.K. Sekarang cuma narik ojek, hasilnya buat makan sehari-hari saja sering kurang. Mana mungkin aku punya uwang jut-aan buat umroh?"


Aku beralih pada Bagas. Pria itu berdehem, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


"Aduh, Rin. Kamu tahu sendiri kan, di rumahku itu yang pegang keuwangan istriku. Dia itu ... galak soal uwang. Kalau aku minta uwang sebanyak itu buat Ibu, bisa-bisa per-ang dunia ketiga di rumah. Dia saja masih sering mengeluh soal uwang belanja."


Susi, yang tadi sibuk memikirkan konten media sosial, kini memasang wajah memelas.


"Suamiku cuma guru honorer, Rin. Kalau aku nggak bantu jualan onl-ine, mungkin kami sudah nggak makan. Buat bayar cic-ilan motor saja aku masih ngos-ngosan, mana sanggup bantu pelunasan umroh Ibu?"


Terakhir, mataku tertuju pada Roni. Si bungsu itu hanya menggeleng cepat sebelum aku sempat bertanya.


"Aku masih kuliah, Mbak. Belum kerja. Mbak kan tahu sendiri Mbak yang bayar semesteranku kemarin."


Aku ingin tertawa saat itu juga. Inilah keluarga besar yang selalu dibanggakan Mas Zaky. Keluarga yang kompak saat meminta, tapi mendadak lumpuh saat diminta bertanggung jawab. Mereka semua berlindung di balik punggungku, tapi tangan mereka sibuk mencubit an-akku.


Mas Zaky kembali mendekat, kali ini suaranya lebih memelas.


"Rin, tol-onglah. Bagaimanapun juga selama ini Mas kerja dan semua gajinya Mas serahkan padamu. Harusnya kamu tidak masalah jika menggunakan sebagian dari tab-ungan kita untuk melunasi umroh Ibu. Itu kan uwang Mas juga."


No comments:

Post a Comment