Addense

Tuesday, 28 July 2026

Istri 200 juta



 Cuma pernikahan kontrak...Tapi kenapa dia memintaku melaya ninya seperti istri sungguhan?" 


Erlangga menggendong Clara dengan langkah cepat menyusuri lorong rumah sakit. Masih pagi, rumah sakit tampak sepi, hanya beberapa perawat dan dokter yang lalu-lalang. Namun, Clara tetap merasa waswas. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena rasa sakit di kakinya, tapi karena takut ada yang mengenalinya dalam posisi memalukan seperti ini.


"Mas, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri," gumam Clara lirih, sedikit mendongak, menatap wajah Erlangga dengan harapan pria itu bersedia menurunkannya.


Erlangga malah tersenyum na kal, matanya menatap Clara dalam-dalam. "Silakan terus menatapku seperti itu, kalau kamu mau masuk berita utama hari ini."


Clara mendengus pelan, lalu memutar bola matanya malas. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Tapi pipinya yang memerah justru mengkhia nati perasaannya. Erlangga yang menangkap rona merah itu hanya menyunggingkan senyum tipis.


Mereka masuk ke ruangan dokter spesialis ortopedi. Begitu melihat dokter Fandi, Erlangga langsung bicara tanpa basa-basi.


“Dok, sembuhkan kaki istriku. Apa pun caranya!” ujar Erlangga tegas, membuat dokter Fandi sedikit terkejut.


Dokter Fandi mengangguk singkat dan mulai memeriksa kaki Clara dengan teliti. Setelah beberapa menit, ia mengangguk kecil dan menatap keduanya.


"Kakinya hanya terkilir ringan. Tidak ada tulang yang bergeser," ujarnya.


Clara menghela napas lega. Erlangga masih menatap dokter dengan ekspresi serius.


“Jadi dia akan baik-baik saja?” tanyanya memastikan.


“Ya, asal tidak terlalu banyak beraktivitas dan rajin melakukan kompres serta istirahat, dua-tiga hari juga sudah membaik,” jelas dokter Fandi sambil menulis resep obat penghilang nyeri.


“Dengar, Clara? Kamu dilarang ke mana-mana sampai benar-benar sembuh,” perintah Erlangga sambil menatap istrinya dengan taj am namun penuh kekhawatiran.


Clara mengerucutkan bi bir. “Iya, tahu. Aku bukan anak kecil,” sahutnya pelan.


---


Setelah pemeriksaan selesai dan dokter mempersilakan mereka untuk pulang, Erlangga tanpa banyak bicara langsung membungkuk, lalu kembali menggen dong Clara. Perempuan itu sempat berusaha menolak, berbisik lirih dengan nada protes.


"Mas, aku bisa jalan sendiri…"


Namun, Erlangga tak mengindahkan. Tatapannya tegas, bahkan cenderung tak terban tahkan. "Diam. Kaki kamu belum pulih betul."


Clara terdiam, pasrah dalam dekapannya, meski hatinya tetap bergejolak. Ada rasa malu, canggung, tapi juga hangat yang menyelinap pelan—perasaan yang sulit ia jelaskan.


Langkah Erlangga mantap dan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Sorot mata petugas dan pengunjung tak diacuhkannya, bahkan saat beberapa orang tampak mengenalinya dan mulai berbisik-bisik, ia tetap melangkah lurus, seolah membawa dunia di pundaknya.


Begitu tiba di area parkir, Erlangga membuka pintu mobil bagian penumpang dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain masih menyangga tub uh Clara. Dengan hati-hati, ia menurunkan Clara ke kursi, memastikan posisi duduknya nyaman sebelum membungkuk dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Gerakannya penuh kehati-hatian, namun tetap dingin dan kaku.


"Kalau sakit, bilang," ucapnya singkat sebelum menutup pintu dan berjalan cepat mengitari mobil lalu masuk ke dalamnya.


Tak lama kemudian, Fano menghampiri mereka setelah menebus obat Clara di apotek.

"Pak, ini obat Bu Clara," ujarnya sambil menyerahkan plastik berisi obat.

Erlangga langsung mengambilnya. Namun matanya menangkap ekspresi Fano yang tampak ragu, seolah menyimpan sesuatu. Ditambah kamera yang tergenggam erat di tangannya, membuat rasa penasaran Erlangga semakin memuncak.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya taj am, menatap langsung ke arah Fano.


Fano tersentak. Sesaat dia terdiam, lalu mengangguk pelan.

"Tadi... ada wartawan yang memotret Anda, Pak. Saat Anda menggendong Bu Clara masuk rumah sakit." Suaranya gugup, namun cukup jelas.


Fano lalu menyerahkan kamera itu pada Erlangga.

"Oya, ini kameranya, Pak."


Erlangga menerima kamera itu, langsung membuka galeri dan menemukan foto dirinya tengah menggen dong Clara. Gambar itu diambil dari belakang, wajah Clara tak terlihat jelas. Tapi Erlangga tahu, jika sampai tersebar—foto itu bisa menimbulkan speku lasi liar.


"Apa perlu saya han curkan kameranya, Pak?" tanya Fano hati-hati.


Erlangga menggeleng pelan, menyerahkan kembali kamera tersebut.

"Tidak perlu. Kembalikan dan sampaikan padanya... agar berhati-hati dengan apa yang ditulisnya. Ini bukan berita murahan."


"Baik, Pak." Fano langsung berbalik dan melangkah menuju wartawan yang dimaksud. Ia menyerahkan kembali kamera sambil menyampaikan pesan Erlangga.


---


Di dalam mobil, Clara mencuri pandang ke arah suaminya. Raut wajah Erlangga tampak serius sejak tadi. Ada kegelisahan yang ia tangkap dari gerak-geriknya.


"Mas... soal foto tadi, itu sebenarnya foto siapa?" tanya Clara dengan nada setenang mungkin, meski jantungnya berdegup tak karuan.


Erlangga hanya melirik sekilas, tanpa menghentikan laju mobil. "Kepo," sahutnya singkat, datar.


Clara menghela napas, mencoba menelan rasa penasaran yang mulai menyakitkan. Tapi diam bukan pilihan. Pikirannya penuh tanda tanya, dan akhirnya, ia membuka suara lagi—lebih pelan, tapi jelas terdengar.


"Jangan-jangan... itu foto Mas sama Elisa?"


Pertanyaan itu membuat Erlangga refleks menoleh. Sekilas, ekspresinya berubah. Ia tampak terkejut, meski cepat-cepat menutupi reaksinya dengan mengencangkan rahangnya.


“Nggak usah dipikirin. Fokus aja sama penyembuhan kakimu,” ucapnya cepat, seolah hendak mengubur topik itu tanpa ruang tanya.


Namun justru dari cara Erlangga menghindar, Clara semakin yakin. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar menekan keras di sana. Bayangan gosip-gosip tentang kedekatan suaminya dengan Elisa berkelebat kembali di benaknya, menampar perasaan yang selama ini berusaha ia bungkam.


Kenapa selalu ada bayang-bayang orang ketiga di antara kami? Kenapa harus aku yang terluka? batinnya pedih.


Ia menoleh ke arah jendela, menatap kosong pada dunia luar yang terus melaju, padahal dunianya sendiri sedang kacau balau. Air mata mulai menggenang, tapi ia menahannya mati-matian.


"Lihat apa sampai melamun begitu?" suara Erlangga membuyarkan lamunannya.


Sebelum Clara sempat menjawab, pria itu tiba-tiba membungkuk dan mengecup pipinya—hangat, tapi juga membingungkan.


Clara terkejut. Tub uhnya menegang seketika, jantungnya berdebar tidak karuan.


Kenapa Mas Erlangga memperlakukanku seperti ini? Kadang dingin, kadang begitu hangat. Aku nggak ngerti… apa sebenarnya yang ada di hatinya? pikirnya getir.


Erlangga memperhatikan perubahan sikap Clara. Dahi pria itu berkerut taj am. Ia menoleh sepenuhnya, lalu bertanya pelan, "Sayang, kenapa kamu tegang begitu?"


Clara buru-buru menggeleng. "Nggak apa-apa, Mas," ucapnya pelan, menunduk.


Namun Erlangga belum menyerah. Ia mengulurkan tangan, mengangkat dagu Clara dengan lembut, memaksa tatapan mereka bertemu. Pandangan mata itu saling bersitatap—dalam, gelisah, dan penuh pertanyaan yang tak terucap.


Dalam keheningan itu, waktu seolah berhenti.


---


Sementara itu, dunia maya tengah membara.


Foto Erlangga yang sedang menggendong seorang wanita misterius masuk ke rumah sakit tersebar luas di berbagai platform media sosial. Diambil dari sudut belakang, wajah sang wanita memang tak terlihat jelas. Tapi justru itu yang membuat rasa penasaran publik semakin meledak.


Komentar-komentar netizen membanjiri jagat maya:


"Posisi Elisa secepat itu tergeser, gila sih!"


"Liat cara Erlangga gendong cewek itu, pasti bukan orang biasa buat dia."


"Tolong dong next-nya fotoin dari depan, penasaran banget siapa ceweknya!"


Di tempat lain, Rafi yang tengah bersantai sambil membuka media sosial, ikut terperanjat saat melihat foto itu muncul di linimasa.


"Om Erlangga... itu siapa?" gumamnya, menajamkan pandangan ke foto.


Ia menyipitkan mata, mencoba mengingat. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Perempuan dalam gen dongan Erlangga—meski hanya tampak sebagian—terlihat sangat familiar.


"Kenapa aku merasa mengenalinya?" batinnya cemas.


Perlahan, jantungnya mulai berdebar dengan gelisah, seolah firasat buruk tengah menyusup diam-diam ke dalam pikirannya.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment