Addense

Monday, 20 July 2026

Warung warisan mertua

 Saat warung masih reot, aku yang disuruh mengelolanya. Tapi setelah warung soto Lamongan itu sukses berkat kerja ke rasku dan menjadi langganan para pejabat, warungnya malah diberikan kepada ipar. 



Enak saja, dipikir aku akan ting gal diam. Aku akan keluar dan membuka warung sendiri. Lihat saja siapa yang lebih sukses nantinya…


WARUNG WARISAN MERTUA (3)


Setelah tatapan amarah dan melotot itu, barulah Mbak Rani bersuara, nadanya si nis dan menus uk. Tapi ya memang begitulah watak aslinya, ju des dan sombong. Makanya tetangga- tetangga juga banyak yang tidak suka dengan dia.


“Kamu kenapa jadi nggak tahu diri begitu, Rahma? Kamu pikir ga ji tiga kali UMR itu kecil? UMR di kota ini aja dua koma lima juta lebih. Jadi kamu maunya digaji delapan juta? Ha? Anak lulusan SMP kok ngelunjak!"


Aku tidak mundur meski ucapan yang keluar dari bibir wanita itu begitu menya kitkan. Aku sudah terlalu lama diam, dan sekarang saatnya aku mempertahankan hakku. Ru mah makan itu tidak tumbuh begitu saja. Ada keringat dan lelahku di dalamnya.


“Mbak, ga ji segitu memang besar, tapi dibandingkan dengan omzet yang Ibu terima setiap bulan? Itu hanya bagian kecil. Tapi kalau kalian keberatan, ya sudah. Aku pergi dari warung ini.”


Mbak Rani dan Rina tampak melongo dan saling tatap saat mendengar aku mengucapkan omzet yang diterima Ibu mereka sampai jutaan rupiah per harinya. Dan itu karena siapa? Ya karena aku. Jelas mereka tidak tahu. Yang mereka tahu hanya meminta uang saja tanpa mau ikut bekerja dan membantu warung. Dan sekarang warung ini akan diserahkan kepada mereka? Kita lihat saja nanti bagaimana akhirnya.


"Bu, benar apa yang dikatakan Rahma?" tanya Kakak Iparku kemudian kepada Ibunya, dia belum yakin dengan apa yang kukatakan.


Kulihat Ibu mertuaku tampak kikuk, "Sudah, masalah omzet kita bahas nanti, yang penting ini dulu masalahnya diselesaikan," jawabnya seperti berusaha menyembunyikan sesuatu kepada dua anak kesayangannya itu.


“Kamu pikir cuma kamu yang bisa masak? Dikasih hati kok minta jantung.” Suara Mbak Rani semakin taj am, tapi aku tidak gentar.


“Silakan cari tukang masak lain, Mbak. Tapi ingat, warung soto Ibu terkenal karena rasanya yang khas. Dan itu dari tanganku. Dari racikan bumbu rahasiaku. Kalau nanti ganti juru masak, aku tidak yakin apakah rasanya masih bisa sama, atau pelanggan masih tetap setia. Kalau begitu, permisi. Assalamualaikum… Saya pamit keluar dari rum ah makan, Bu,” ucapku tegas sembari berdiri hendak pergi.


Namun tiba-tiba Ibu menahan.


“Tunggu, Rahma… Jangan buru-buru. Ibu masih ingin bicara denganmu. Tunggu di sini sebentar, ya. Ibu mau berdiskusi dulu dengan Rani dan Rina.”


Aku mengangguk pelan, meski dalam hati rasanya sudah remuk. Terserah saja—kalau syaratku diterima, aku masih akan bertahan sebentar, menabung untuk membuka warung sendiri. Kalau tidak, ya sudah. Aku akan mulai lagi dari nol. Aku sudah siap. Karena ternyata, apa yang selama ini aku perjuangkan, hanyalah harapan kosong.


Lalu suara suamiku, memecah keheningan.


“Dik, kamu keterlaluan. Kenapa kamu malah kasih syarat segitu ke Ibu? Kamu nggak kasihan sama beliau? Keuntungannya bisa berkurang banyak karena permintaanmu itu. Lagipula ga ji sebanyak itu buat apa 'sih? Itu kebanyakan untuk kamu!"


Aku hanya tersenyum miris. Mas Arya, seperti biasa, hanya memikirkan perasaan ibunya, tanpa peduli dengan hatiku yang sudah lu ka berkali-kali. Dan aku, tentu saja aku tidak akan membicarakan rencana besarku kepada siapapun, termasuk pada dia, pada suami yang kuanggap telah mezolimi aku.


“Terserah, Mas. Aku nggak memaksa. Kalau Ibu setuju, syukur. Kalau tidak ya sudah, aku bisa cari kerjaan lain. Aku tinggal bilang kalau aku pernah membangun warung soto dari nol sampai sukses seperti warung Bu Sakinah. Dan setelah sukses aku di depak begitu saja tanpa melakukan kesalahan. Pasti banyak yang mau rekrut aku," ucapku yang sebenarnya bertujuan untuk menyindir.


Mas Arya menggeleng, wajahnya penuh ama rah.


“Istri kurang ajar kamu ini memang.”


Terserah, aku tidak memperdulikan ucapannya lagi.


Tak lama, Ibu, Rani, dan Rina keluar dari kamar. Raut wajah mereka tampak serius. Lalu Ibu membuka suara.


“Kami setuju, Rahma. Kamu akan digaji tiga kali UMR, sesuai permintaanmu.”


Baguslah mereka setuju. Akan kusiapkan surat perjanjian dan mereka harus tanda tangan di atas materai. Aku tidak mau kecolongan lagi seperti kemarin. Supaya aku juga punya kekuatan hukum untuk menggugat kalau- kalau mereka ingkar janji dalam mengga jiku.


Aku menarik napas dalam-dalam. Aku masih akan bekerja sebagai juru masak di ru mah makan ini, tapi hanya sampai tabunganku cukup untuk membuka usaha sendiri. Aku akan menunjukkan, jika kesabaran dan perhitungan dalam setiap langkah itu adalah strategi cerdas, bukan kelemahan. 


Dan ketika hari itu tiba, aku akan pergi… bukan dengan tangan kosong, tapi dengan kepala tegak. Karena aku tahu, warung yang mereka banggakan… berdiri dari hasil kerja kerasku.


*


Keesokan harinya, aku pergi ke warung seperti biasa meski tidak dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya.


Namun ada yang aneh.... Rina dan Rani sudah berada disana, keduanya terlihat sedang mengomeli pekerjaku yang sedang mengupas bawang merah dan putih serta rempah- rempah yang lain sebagai bumbu.


Belum- belum mereka sudah membuat kegaduhan, membuatku menggelengkan kepala.


BERSAMBUNG….


No comments:

Post a Comment