Meski diambil diam-diam dan dari posisi menyamping, aku mengenali perempuan bersama suamiku yang mengenakan hijab panjang menjuntai menutup punggung.
Perempuan itu bernama Rosa.
Dulu, beberapa kali bertemu saat aku masih aktif mengikuti kajian.
Apa maksud semua ini?
Saat kepalaku sibuk mencerna mengapa Mas Hangga bersama Rosa di restoran itu, video dari Wina masuk.
"Ania... maaf. Aku baru berani memberitahumu sekarang.”
Dengan jari gemetar aku ketuk layar.
Duar!
Petir yang sangat keras seolah menghantam tubuhku.
Dalam video, Mas Hangga menyuapkan makanan ke Rosa seraya tersenyum. Senyum yang tak pernah lagi kutemukan saat dia bersamaku. Perempuan itu balas tersenyum seraya menunduk malu.
Mas Hangga menyodorkan kotak beludru merah berisi perhiasan ke Rosa. Senyum yang mengembang di bibir perempuan itu laksana sembilu yang disayat ke jantungku.
Tubuh bergetar menahan emosi.
“Kamu berhak tahu. Please, jangan bilang aku yang kasih tahu semua ini.”
Pesan Wina kubaca dengan mata lamur karena mataku dihiasi kaca-kaca yang siap tumpah.
Dada bergolak hebat.
Jadi, Mas Hangga bukan ikut kajian tapi bertemu perempuan itu?
Sudah berapa lama?
Apa selama ini kajian hanya dalih mereka untuk bertemu?
Oh, dadaku terasa sesak hingga susah bernapas.
Aku memukul dada berulangkali. Berharap sakit yang terasa sedikit terurai.
Mas Hangga pernah melontarkan kekagumannya pada Rosa yang selalu berpenampilan syar’i.
"Rosa itu perempuan salihah meski dia tulang punggung keluarganya.”
"Dia lemah lembut."
“Selalu menjaga pandangan ke lawan jenis.”
"Perempuan patuh seperti dia sekarang sudah jarang ada.”
Pertahananku runtuh. Aku terisak.
Image Mas Hangga sebagai suami soleh, taat ibadah lenyap di kepalaku. Lelaki yang rutin ikut kajian katanya untuk menambah ilmu agama. Ternyata itu kedok belaka.
Pesan Wina kembali masuk
"Kudengar, tak lama lagi mereka akan menikah.”
HP hampir terlepas dari genggamanku.
Menikah?
Kuraup udara sebanyak-banyaknya.
“Demi nama Allah, Ania. Aku melakukan ini bukan ingin rumah tanggamu hancur, tapi aku tak terima kamu diperlakukan seperti ini. Hangga mengatakan ke semua anggota kajian kamu setuju dipoligami. Ada pernyataan tertulis yang kamu tanda-tangani, tapi aku lihat sendiri jalan yang dia pilih jelas melenceng dari ajaran agama.”
Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.
Mas Hangga sangat rapih menyimpan kebusukannya. Dia mengatur semua dengan sangat baik hingga aku tak mencium bau bangkai sedikit pun. Atau aku yang terlalu naif?
Wina tak mungkin berbohong.
Dia seorang istri. Sama sepertiku.
Aku begitu bodoh sangat mempercayainya selama ini.
“Makasih, Wina. Aku jadi paham mengapa suamiku berubah,” balasku.
Baru kali ini aku merasakan rasa sakit yang tak bisa kuungkapkan. Rasanya seperti belati yang ditancapkan dalam-dalam ke jantungki
Sakit tak terperi.
Air mata kubiarkan berlesakan.
Berbulan-bulan aku mengurus dan menjaga ibunya tanpa keluhan. Mematuhi larangannya tidak keluar rumah agar Ibunya terlayani dengan baik. Di saat aku berjuang demi kesembuhan Ibunya, Mas Hangga justru tengah menyiapkan rumah tangga baru bersama perempuan lain.
Aku percaya penuh padanya hingga bukti yang baru saja dikirimkan Wina membuktikan suamiku adalah lelaki yang tak pantas untuk dipercayai.
Kedua tanganku mengepal.
Tidak, Mas.
Kamu salah menilaiku.
Aku tak selemah yang kamu pikirkan.
“Nia ... minum ....”
Suara Ibu terdengar lirih, tapi aku belum punya daya untuk berdiri.
Tenagaku habis tak bersisa mengetahui kenyataan Mas Hangga berkhianat hingga berencana menikahi perempuan lain.
Kutatap foto pernikahanku dan Mas Hangga yang tergantung di dinding rumah.
Inikah balasan atas semua pengorbananku?
Aku tertawa dengan dada sakit.
“Nia ... hauss ....”
“Nia ....”
Kutarik napas.
Menyusut air mata dengan ujung baju lalu berdiri.
Melangkah ke kamar Ibu.
Di depan pintu yang terbuka kulihat tangan lemah Ibu mencoba menggapai gelas berisi air di dekatnya. Tak lama tangan keriput itu lunglai ke bawah.
Aku mendekat.
Membantu perempuan yang kurawat penuh kasih itu minum melepas dahaganya.
Kemarahan yang menjajah hati sekuat tenaga kusembunyikan.
Ibu tak bersalah.
Tak bijak kulampiaskan emosi pengkhianatan Mas Hangga pada Ibunya.
Perempuan renta ini memperlakukanku dengan baik. Sayang Allah memberinya ujian sakit di usia tua seperti ini.
Aku keluar.
Menutup pintu rapat setelah memastikan Ibu kembali tidur.
Aku duduk di kursi dengan pikiran berkecamuk.
Dua kali teleponku tak direspon.
Apa Mas Hangga sedang bersama Rosa?
Emosi kembali menghantamku.
Dadaku menggelegak oleh amarah juga cemburu.
Kutarik napas panjang berulangkali.
Apa yang harus kulakukan?
Minta cerai?
Pergi dari rumah ini?
Tenang, Ania.
Amarah dan kepanikan tak akan membantu.
Pikirkan sesuatu.
Sesuatu yang membuat Hangga dan perempuan itu menerima rasa malu yang tak terhingga.
Sesuatu yang tak mereka pikir sanggup kamu lakukan.
Benar.
Siasat licik Mas Hangga harus kuimbangi dengan strategi.
Klek!
Pintu rumah terbuka.
Amanda pulang.
Wajahnya menekuk.
Dia melempar odner plastik ke atas meja dengan kasar.
Kertas di dalamnya berhamburan.
“Mbak, buatin aku kopi!”
Suaranya menggema memenuhi ruang tengah.
Aku tak menjawab.
Yang sudah-sudah kuturuti keinginannya bukan karena takut, tapi ingin mengakraban diri dengan adik bungsu suamiku.
Setelah rencana pernikahan diam-diam yang tengah Mas Hangga susun di belakangku, aku tak peduli apa pun lagi.
Yang utama sekarang aku harus mencari tahu kapan tepatnya Mas Hangga menikahi perempuan salihah bernama Rosa itu.
Aku berdiri dari kursi.
Melewati Manda begitu saja.
“Mbak! Aku minta kopi!” Ulangnya kesal.
Aku menoleh. Menatap wajah adik ipar yang berlipat.
“Aku capek, mau istirahat,” jawabku dingin.
“Capek? Emangnya abis nyangkol? Di rumah doang aja bilangnya capek!”
Di rumah doang katanya?


No comments:
Post a Comment