"Dia begitu cantik hingga sesaat aku membayangkan memilikinya. Namun, saat kulihat langkahnya, dad aku seolah direm as. Dia ternyata..."
Desa Kalinampu, Yogyakarta.
"Dasar perem puan mur ahan! Berani sekali kamu meng goda suamiku!" teri ak seorang perempuan gemuk dengan pakaian modis.
Brak!
Tub uh Jingga tersu ngkur ke tanah. Keranjang berisi sayur yang dibawanya terj atuh, membuat tomat dan cabai berserakan di jalan setapak yang mulai ramai oleh warga.
"Aduh ... Bu Siti, aku tidak melakukan apa-apa!" Jingga mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.
Namun, wan ita par uh baya yang berdiri di hadapannya justru semakin murka. Dengan waj ah meme rah dan nap as memburu, Bu Siti kembali men arik rambut panjang Jingga dengan kas ar.
"Kamu pikir aku bu ta, hah?" ben taknya. "Tadi pagi kamu tersenyum pada suamiku di warung! Jangan pikir wajah cantikmu bisa merebut suamiku!"
Jingga mer ingis kesakitan. "Bukan begitu, Bu. Pak Rahmat yang menyapa saya duluan...."
Plak!
Sebuah tamp aran ker as mendarat di pipi kiri Jingga. Gadis itu terdiam. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.
Di sekeliling mereka, belasan warga hanya berdiri menyaksikan. Beberapa ibu berbisik pelan.
"Kasihan Jingga."
"Bu Siti memang keterlaluan."
"Sudah, jangan ikut campur. Nanti kita yang kena."
Semua orang tahu siapa Bu Siti. Pemilik toko bangunan, sawah puluhan hektar, dan pemberi pinjaman bagi sebagian besar warga Desa Kalinampu. Tak ada yang berani mencari masalah dengannya.
Sementara Jingga, Ia hanya gadis misk in yang tinggal di rumah kecil. Sehari-hari, ia membantu menjahit dan berjualan sayur demi menyambung hidup, dan kecantikannya, justru sering menjadi sumber masalah.
"Kamu masih berani menyangkal?" Bu Siti semakin mur ka. "Jangan kira aku tidak tahu. Semua laki-laki pasti terg oda melihat wajahmu!"
"Bu, saya tidak, Aaaah!" Jingga menj erit pelan saat rambutnya kembali dija mbak. Tubu hnya hampir ters eret di atas tanah.
"Bu Siti, sudah...," seorang ibu setengah baya mencoba menenangkan.
Namun, wanita itu malah membe ntak. "Diam! Siapa yang berani membela perempuan ini?!"
Semua orang kembali bungkam, dan saat itulah sebuah truk militer berwarna hijau memasuki desa. Beberapa warga langsung menoleh. "Wah, tentara datang."
"Katanya ada satgas teritorial," ucap warga lain.
Beberapa pria berseragam loreng turun sambil membawa ransel besar. Mereka tampak lelah setelah perjalanan pan jang.
Di antara mereka, seorang pria tinggi dengan wajah tampan dan rahang tegas turun paling akhir. Kapten Barat Pratama. Perwira muda berusia tiga puluh tahun itu baru ditugaskan ke Desa Kalinampu untuk menjalankan program pembinaan wilayah selama beberapa bulan ke depan.
Baru beberapa langkah berjalan, keningnya berkerut melihat kerumunan warga. "Ada apa?" tanyanya pada seorang pria tua.
Pria itu tersenyum canggung. "Ah, tidak apa-apa, Pak Tentara. Urusan keluarga."
Barat menga ngguk pelan. Namun, sebelum ia melangkah pergi, sebuah suara tangis pelan membuat langkahnya terhenti. "Ampun, Bu...."
Entah kenapa, suara itu membuat dad anya terasa tidak nyaman. Barat mencoba melihat dari celah kerumunan, dan ia melihat seorang gadis yang sedang tersu ngkur. Ramb utnya dijam bak. Pipinya memerah. Air mata mengalir di wajahnya.
Sepasang mata bening itu. Tatapan memohon itu. Tatapan yang seolah sedang berte riak meminta pertolongan. Untuk sesaat, jant ung Barat berd etak lebih cepat.
"Aduh, Pak. Jangan ikut campur!" pria tua tadi buru-buru mencegah. "Bu Siti orang paling berpengaruh di sini."
Barat tidak menjawab. Perlahan, ia menurunkan ransel dari pundaknya.
"Pak?" Pria tua itu terkejut.
Namun, Kapten Barat sudah melan gkah. Mene robos kerumunan warga yang spontan memberi jalan.
"Cukup!" Suara beratnya membuat semua orang menoleh.
Termasuk Bu Siti. Saat wa nita itu hendak kembali menjam bak rambut Jingga, sebuah tangan be sar lebih dulu menc engkeram pergelangan tangannya.
Bu Siti ters entak. "Siapa kamu?!"
Barat menatapnya dingin. Tatapan yang membuat beberapa warga langsung bergidik. "Kapten Barat Pratama."
Suasana mendadak hening. Tatap annya penuh intim idasi. "Dan saya tidak peduli apa masalah Ibu dengan gadis ini. Tapi kalau Ibu tidak berhenti sekarang juga...." Sorot matanya berubah taja m. "Saya akan melakukan sesuatu."
Bu Siti mene lan lud ah. Entah kenapa, pria berseragam loreng itu membuat nyalinya ciut. Apalagi tubu hnya yang tinggi dan tata pannya yang dingin membuat Bu Siti tak berani melawan.
Dengan kesal, ia melepaskan rambut Jingga. "Kamu beruntung hari ini!" bent aknya pada Jingga. "Tapi dengar baik-baik! Kalau aku melihatmu menggo da suamiku lagi, aku akan melakukan sesuatu yang lebih dari ini!"
Pak Rahmat yang sejak tadi hanya diam menu nduk malu. "Ayo, Mas!" Bu Siti menarik lengan suaminya dengan ka sar.
Tak lama kemudian mereka pergi. Kerumunan warga mulai bubar. Beberapa orang memandang Jingga dengan iba.
Sebagian lagi hanya men ghela na pas sebelum kembali ke rumah masing-masing. Kini hanya tersisa gadis itu dan Kapten Barat.
Melihat tub uh kecil yang masih gem etar, hati Barat entah kenapa terasa tidak nyaman. Perlahan, ia berjon gkok di hadapan gadis itu.
Suara yang tadi tegas kini berubah lembut. "Aku Barat."
Jingga masih tertunduk. Ia enngan men atap Barat.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Barat, tapi tak ada jawaban. "Apa kamu bisa berdiri?"
Perlahan. Sangat perlahan. Gadis itu mengangkat wajahnya.
Seketika itu, Napas Barat tercekat. Jant ungnya seolah berhenti berd etak.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat seorang gadis secantik itu. Kulit putih bersih. Bulu mata lentik yang masih basah oleh air mata. Bibir merah alami yang berg etar menahan tangis, dan sepasang mata bening, sebening krista yang entah mengapa terasa begitu tidak asing.
Barat membe ku. Sementara Jingga men atap pria yang baru saja menyelamatkannya dengan panda ngan bingung. Tanpa sadar, Kapten Barat Pratama, ia kehilangan kata-kata.

No comments:
Post a Comment