Suamiku menumpang hidup denganku tapi saat pelantikan kenaikan jabatan nya aku malah dihin4 Habis-habisan katanya malu punya istri seperti aku
Bab 6
kok wajah Bapak mendadak pucat begitu? Ada apa, Pak? Apa kata ketua yayasan?" tanyaku saat melihat perubahan wajah calon mertuaku.
"Dan, mendingan kamu langsung datang saja ke kantor yayasan. Nanti kamu akan ketemu dengan orang di sana. Di sana nanti kamu akan dapat kejelasan kenapa kamu tidak jadi dilantik," jawab Pak Harto.
"Loh Pak, kenapa nggak Bapak saja yang ngomong? Kan Bapak punya pengaruh?" tanyaku sedikit kecewa karena dalam bayanganku tadi Pak Harto akan pasang badan untuk membelaku.
"Iya, nanti pasti aku akan membela kamu. Aku masih tetap mendukung kamu untuk jadi kepala sekolah," balas Pak Harto yang langsung membuatku tersenyum.
"Ooh, jadi Bapak akan tetap membelaku cuma tidak mau terlihat di depan mereka, supaya nama Bapak tetap terjaga dan supaya saya tidak kelihatan dibela oleh Bapak. Begitu ya, Pak?" tanyaku.
Pak Harto mengangguk, "Iya Dan, kan ya ndak enak kalau orang tahu aku memilih kamu mentang-mentang kamu ini calon menantuku."
Aku langsung tersenyum puas. Aku pikir tadi Pak Harto tidak ingin membelaku tapi ternyata tidak, beliau tetap saja membela. Dan memang benar aku memilih Rani daripada mempertahankan pernikahanku dengan Dina. Perempuan kampung itu kan tidak ada gunanya, sementara Rani ada gunanya di saat seperti ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Saya akan langsung datang ke kantor yayasan untuk meminta kejelasan kepada mereka," ujarku sambil berdiri.
"Iya, pokoknya kamu nggak usah khawatir, aku tetap membela kamu kok untuk jadi kepala sekolah."
Aku mengangguk lalu kemudian segera masuk ke dalam mobil untuk pergi ke kantor yayasan guna meminta kejelasan kepada mereka.
---
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya aku sampai ke kantor yayasan. Suasana kantor masih berjalan baik seperti biasa walaupun anak-anak sedang libur sekolah. Entah apa yang sedang mereka kerjakan.
"Pak Dadang ada? Saya ingin ketemu. Enak saja membatalkan pengangkatan saya secara sepihak, memang dia pikir saya ini apaan? Apa dia itu tidak tahu kalau saya ini calon menantu pemilik yayasan ini? Enak saja main batal-batal, mau dipecat apa dari yayasan sekolah ini?" ujarku kepada petugas yayasan.
"Masalah itu ya saya tidak tahu toh, Pak Danu. Itu kan keputusan ketua yayasan, jadi ya Bapak minta penjelasan saja sama ketua yayasan kenapa kok tiba-tiba surat pengangkatan Bapak sebagai kepala sekolah dibatalkan, bahkan mau diganti kandidat yang lain," jawab pria itu.
"Nggak usah dikasih tahu aku juga sudah tahu, kamu itu cuma guru part time aja banyak tingkah!" geramku.
Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya dan aku tidak peduli. Aku segera melangkah menuju ke ruangan kepala yayasan.
"Loh, Pak Danu nggak jadi dilantik to? Aduh, padahal aku sudah menunggu loh traktirannya," ucap salah seorang guru wanita. Ah sial, padahal udah bilang ke mereka kalau aku sudah dilantik aku akan mengajak mereka untuk makan malam.
"Ya sabar toh, siapa bilang pelantikanku gagal? Pasti kok aku dilantik, orang ketua yayasan saja berpihak kepadaku. Beliau loh tetap mendukung aku untuk jadi kepala sekolah," balasku bangga.
"Loh, apa iya? Lah terus yang membatalkan siapa kalau ketua yayasan berpihak kepada Anda?"

No comments:
Post a Comment