Aku bersandar pada pilar rumah sakit yang dingin, mencoba mengatur napas yang terasa se-sak. Pandangan ku masih tertuju pada pintu ruangan dokter kan-dung-an itu. Di dalam sana, suami ku sedang me-mu-ja wa-ni-ta lain.
Sa-kit? Lu-ar biasa sa-kit. Selama satu tahun ini, aku m-ati-ma-ti-an ber-he-mat. Aku rela memakai daster ku-sam yang sudah tipis, aku rela menahan la-par agar u-ang belanja satu ju-ta itu cukup, bahkan aku sering menomboki kekurangan dengan u-ang hasil kerjaku sendiri. Aku melakukan itu semua karena percaya pada janji Baskara dulu.
'Sabar ya, Sa-yang. Kita ta-bung u-ang-nya pelan-pelan. Kita harus punya ru-mah impian yang be-sar, yang cukup untuk a-nak-a-nak kita nanti,' begitu katanya setiap kali aku me-nge-luh soal u-ang belanja.
Ternyata, rumah impian itu memang sedang ia bangun. Namun, bukan bersamaku. Ia membangun ru-mah tangga lain, dengan wa-ni-ta lain, dan kini bahkan sedang menantikan a-nak dari be-nih yang lain. Dia bukan sedang me-na-bung untuk masa depan kami, dia sedang mem-bia-yai hidup istri ge-lap-nya.
Aku tidak ingin menjadi wa-ni-ta bo-doh yang masuk ke ruangan itu lalu men-je-rit his-te-ris atau men-jam-bak wa-ni-ta bernama Neti itu. Tidak. Wa-ni-ta seperti itu tidak layak mendapatkan pang-gung dariku.
Dengan tangan ge-me-tar, aku meraih ponsel. Aku mengaktifkan mode kamera video. Saat mereka ke-lu-ar dari ruangan dokter dengan wa-jah berseri, aku merekam semuanya. Aku mengambil foto-foto ke-de-kat-an mereka, bagaimana Baskara me-nge-cup tangan wa-ni-ta itu, dan bagaimana ia me-rang-kul ping-gang-nya dengan pose-sif.
'Cukup. Bukti ini sudah lebih dari cukup untuk me-nye-ret mu ke Pengadilan, Mas.' Batinku ta-jam.
®
Aku kembali ke Panti dengan perasaan yang jauh lebih tenang, meski ketenangan itu terasa semu. Bu Hanum menyambut ku dengan raut kha-wa-tir yang tidak bisa disembunyikan.
"Nduk, kamu kenapa? Wa-jah-mu pu-cat sekali sejak dari ru-mah sa-kit tadi," tanya Beliau saat kami sudah sampai di ruang tamu Panti.
Aku me-na-rik na-pas panjang, lalu menceritakan semuanya. Tidak ada lagi air mata. Rasanya air mataku sudah mengering sejak tam-par-an pertama di dapur itu. Hatiku kini terasa kebas, mem-be-ku oleh rasa sa-kit yang sudah melampaui batas.
"Bu... aku sudah memutuskan. Besok aku akan mengajukan gu-gat-an ce-rai ke Pengadilan Agama," ucap ku mantap.
Bu Hanum tertegun, namun kemudian ia mengangguk dan meng-geng-gam tangan ku lem-but. "Jika itu yang terbaik untuk har-ga dirimu sebagai wa-ni-ta, lakukanlah. Ibu akan selalu mendukung mu."
®
Ma-lam itu, ponselku terus berdering. Ada puluhan panggilan dan pesan dari Baskara yang terus me-nu-duh ku ber-se-ling-kuh.
"Kamu di mana, Wening?! Sudah be-ra-ni tidak pulang ya sekarang? Pasti kamu lagi asik sama laki-laki sim-pan-an mu itu, kan? Da-sar wa-ni-ta tidak tahu ma-lu! Sifat Ibumu sudah benar-benar men-da-rah da-ging rupanya!"
Aku hanya me-na-tap layar ponsel itu dengan senyum si-nis. Lucu sekali. Seorang peng-khia-nat sedang me-nu-duh istrinya ber-se-ling-kuh hanya untuk menutupi bo-rok-nya sendiri. Dia tidak tahu bahwa aku memegang kartu as-nya. Aku me-nga-bai-kan semua pesannya dan memilih untuk ti-dur di sa-lah satu ka-mar tamu Panti. Aku ingin menjauh dari aura negatif ru-mah itu barang se-ma-lam.
®
Keesokan paginya, sebelum pulang ke ru-mah untuk berkemas dan mengambil surat nikah, aku memutuskan untuk per-gi ke pasar tra-di-sio-nal dekat Panti. Aku melihat stok bahan makanan untuk a-nak-a-nak Panti sudah menipis, jadi aku berniat be-lan-ja sedikit menggunakan u-ang pribadi ku.
Suasana pasar cukup ramai. Saat aku sedang menjinjing dua kantong belanjaan berisi sayur dan da-ging, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakang.
"JAMBRET! JAMBRET! TOLOOOONG!"
Seorang laki-laki berjaket hitam berlari ken-cang ke arahku sambil mendekap sebuah dompet kulit berwarna cokelat. Tanpa pikir panjang, saat dia melintas di samping ku, aku mengayunkan tas be-lan-jaan ku yang berisi kaleng su-su dan kentang sekuat tenaga ke arah kakinya.
Bruk!
Si pen-jam-bret ter-sung-kur, wa-jah-nya men-ci-um aspal sebelum akhirnya terjerembab ke dalam got di pinggir jalan. Warga langsung me-nge-pung dan menghakiminya sebelum membawanya ke kantor Polisi.
Aku mendekati seorang Nenek yang tampak ge-me-tar di pinggir jalan. "Ini dompetnya, Nek. Nenek tidak apa-apa?"
"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak," ucap Nenek itu sambil meng-geng-gam tangan ku.
"Oma! Oma nggak apa-apa?" sebuah suara yang sangat ku kenali terdengar pa-nik.
Aku menoleh dan mendapati Bumi berlari menghampiri kami. Ia tampak sangat ce-mas sampai tidak menyadari kehadiran ku pada awalnya.
"Oma cuma ka-get, Bum. Untung ada perempuan can-tik ini yang menolong," ucap Nenek itu sambil menunjuk ke arahku.
Bumi menoleh, dan matanya membe-lalak. "Wening? Kamu lagi?"
Ia kemudian terkekeh, raut wa-jah-nya yang te-gang men-da-dak santai. "Kita kayaknya sering banget ketemu secara tidak se-nga-ja, ya? Jangan-jangan ini tanda kalau kita memang jo-doh, Wen?"
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ke-la-kar Bumi. Di tengah ba-dai hidupku, candaannya sedikit membuatku ingin tersenyum. "Cuma kebetulan, Bum. Jangan mulai, deh."
"Kebetulan itu kalau sekali. Kalau berkali-kali, itu namanya takdir," ba-las Bumi sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Neneknya ikut tertawa.
Namun, tawa kami terhenti seketika saat sebuah tangan ka-sar men-ceng-ke-ram lenganku dengan sangat kuat hingga aku me-me-kik ke-sa-kit-an. Aku berbalik dengan cepat dan.
PLAK!
Satu tam par an ke-ras mendarat di pi-pi-ku. Saking kerasnya kepalaku sampai tersentak, rasa pa-nas dan de-nyut me-nya-kit-kan langsung menjalar. Di hadapanku, Baskara berdiri dengan na-pas mem-bu-ru dan mata yang merah padam seperti i b l i s.
"DA SAR WA NI TA MU RAH AN! JADI INI ALASAN KAMU TIDAK PULANG SE-MA-LAM?!" ben-tak Baskara di tengah keramaian pasar.

No comments:
Post a Comment