Addense

Monday, 20 July 2026

Karena utang aku di jual


 "Aku diju al Ayahku… seharga 10 mi liar.

Dan suamiku bahkan ji jik menyen tuhku di ma lam pertama."


Part 1 🔥


"Jasmine! To long Ayah!" Suara seorang pria meme cah keheningan malam. Wajah tuanya yang te gang terlihat pu cat.


"Ayah, ada apa?" Suara lembut Jasmine bergetar di udara men ahan pa nik yang tiba-tiba menye rang tanpa sebab.


Di luar rintik hujan yang menghan tam atap seng rumah tua itu terdengar seperti irama pengadilan bagi Jasmine Ayla. Di ruang tamu yang re mang, ia duduk bersim puh di atas sajadah yang mulai memudar warnanya. Matanya yang jernih, satu-satunya bagian wajah yang terlihat di balik cadar hitamnya, tampak tenang namun menyimpan ba dai yang tak berkesudahan.


Di hadapannya, Hardi, ayahnya, duduk dengan bahu yang mero sot ta jam. Pria itu tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya. Tangannya geme tar saat memegang selembar surat perjanjian bermaterai.


"Jasmine..." Suara Hardi parau, hampir hi lang dite lan bunyi guntur. "Ayah tidak punya pilihan. U ang perusahaan, aset rumah kita, bahkan ta bungan masa depanmu... semuanya ha bis. Ayah dijebak dalam inves tasi itu, dan bunga u tang dari rente nir itu akan membu nuh kita jika tidak dilun asi besok."


Jasmine tidak bergerak. Ia sudah mendengar cerita ini berulang kali selama seminggu terakhir. Ayahnya, yang ia kenal sebagai pria jujur, tergelin cir dalam kesera kahan sesaat yang berujung pada kehan curan total. Nilai ut angnya bukan mai'n-mai'n, sepuluh mili ar rupiah. Angka yang mustahil dicapai oleh Jasmine meski ia bekerja sebagai desainer grafis freelance selama seumur hidupnya.


"Lalu, apa yang Ayah inginkan?" tanya Jasmine lembut. Suaranya seperti aliran air di pegunungan, kontras dengan kekacauan di ruangan itu.


"Baron Adhitama. Sahabat lama Ayah." Hardi mena rik napas panjang. "Dia menawarkan bantuan. Dia akan melu nasi seluruh u tang itu tanpa si sa. Tapi, dia meminta satu syarat. Dia ingin kamu jadi menantunya. Dia ingin kamu meni kah dengan putra tunggalnya, Emyr Adhitama."


Jasmine memejamkan mata. Ia tahu siapa Emyr Adhitama. Seringkali wajah pria itu menghiasi majalah bisnis sebagai arsitek jenius sekaligus CEO muda yang bertangan dingin. Pria yang hidup di dunia yang sangat berbeda dengannya, dunia yang penuh kemewahan, kilatan kamera, dan kesom bongan.


"Ayah menju al ku?" tanya Jasmine, tanpa nada menu duh, hanya sebuah konfirmasi yang ge tir.


"Tidak, Nak! Baron orang baik. Dia tahu kamu ga dis shalihah. Dia hanya ingin anaknya mendapatkan istri yang bisa membimbingnya. Ayah mo hon... ini satu-satunya cara agar kita tidak mende kam di pen jara atau ma ti di tangan pre man."


Jasmine mengem buskan napas panjang. Ia menatap telapak tangannya. Sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatannya dengan cadar, ia selalu memimpikan pernikahan yang berawal dari restu dan cinta karena Allah. Namun kini, ma har pernikahannya adalah tumpukan kuitansi u tang. Sesuatu yang jauh dari harapannya dari bayangannya ataupun impiannya.


"Jika ini bisa mengha pus do'sa-do'sa Ayah dan menyelamatkan keluarga kita, aku bersedia," bisik Jasmine, dengan berat hati setelah melihat ekspresi sedih Hardi.


"Terima kasih, Nak. Hanya kamu yang bisa menolong keluarga kita saat ini." Hardi hanya tersenyum ti pis di tengah masalah yang menghim pit keluarga ini, meski dia juga terpak sa dan merasa bersalah melakukan ini karena tak ada pilihan lain.


"Semoga aku mempunyai kehidupan pernikahan yang baik seperti yang lainnya," lirih Jasmine setelah Hardi pergi dengan penuh keraguan. 


Tiga hari kemudian di hari pernikahan.


Pernikahan itu berlangsung sangat tertutup di kediaman mewah keluarga Adhitama. Tidak ada pesta pora, hanya akad nikah sederhana yang dihadiri saksi-saksi inti. 


Jasmine mengenakan gaun putih long gar dengan cadar senada yang menutupi wajahnya.


Emyr Adhitama berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang sangat mahal. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dengan garis rahang yang te gas, namun matanya sedingin es. 


Sejak tiba di lokasi, ia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah calon istrinya. Baginya, pernikahan ini hanyalah sebuah transa ksi bis nis yang menjeng kel kan untuk membung kam tun tutan ayahnya, Baron.


Pemuda yang berdiri di depan Emyr dan Jasmine memberi sebuah kode.


Emyr langsung paham dengan kode itu untuk segera memulai ijab qobul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jasmine Ayla binti Hardi dengan mas ka win tersebut diba yar tu nai."

Kalimat itu melun cur dari bi bir Emyr dengan satu tari kan napas, datar tanpa emo si. 


"Sah," seru para saksi.


Setelah doa selesai, sesuai tradisi, Jasmine mendekat untuk menci um tangan suaminya. Saat jemari Jasmine menyen tuh ku lit tangan Emyr yang dingin, ia merasakan sedikit geta ran peno lakan dari pria itu. Emyr mena rik tangannya dengan cepat seolah baru saja menyen tuh sesuatu yang ko tor.


Baron Adhitama mendekat, menepuk bahu putranya. "Jaga Jasmine, Emyr. Dia adalah permata yang tidak akan kamu temukan di tempat lain."


Emyr hanya tersenyum si nis, sebuah senyuman yang hanya bisa dilihat oleh Baron. "Aku sudah memba yar har ganya, Ayah. Se puluh mi liar untuk seorang wanita yang bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya. Sangat ma hal untuk sebuah permata."


Jasmine mendengar itu. Setiap kata mera jam hatinya, namun ia tetap tegak. Ia tahu, mulai hari ini, neraka dunianya baru saja dimulai.


*


Jasmine duduk di pinggir tempat tidur di ka mar utama rumah mewah Emyr. Ka mar itu sangat luas, dengan interior minimalis modern yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Sangat maskulin dan terasa sangat a sing.


Brak! Pintu terbuka ka sar. 


Emyr ma suk tanpa mele pas jasnya. Ia melem par kan kunci mobil ke atas meja kerja, lalu menatap Jasmine yang masih mengenakan pakaian pengantin lengkap dengan cadarnya.


"Dengar." Suara Emyr berat dan penuh otoritas. "Jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku menikahi mu hanya karena Ayahku mengan cam akan menco ret namaku dari ah li wa ris jika aku meno lak. U tang ayahmu sudah ku luna si tadi pagi. Anggap saja kita im pas."


Jasmine berdiri perlahan. "Aku istrimu sekarang, Mas Emyr. Aku tahu bagaimana pernikahan ini dimulai, tapi aku akan berusaha menjalankan kewajibanku."


Emyr tertawa menge jek. Ia melangkah mendekat, mengintimi dasi Jasmine dengan perbedaan tinggi badan mereka. 


"Kewajiban? Kamu mau bicara soal ma lam perta ma?"


Emyr menjang kau cadar Jasmine, namun ia berhenti tepat beberapa sentimeter sebelum menyentuhnya. Ia mena rik tangannya kembali dengan ji jik.


"Simpan saja wajahmu itu. Aku nggak terta rik melihat apa yang ada di balik kain itu. Entah kamu cantik atau bu ruk ru pa, itu nggak ada bedanya bagiku. Bagiku, kamu hanyalah pengingat bahwa ayahku bisa mendikte hidupku dengan uangnya."


"Mas..."


"Jangan panggil aku 'Mas'. Terasa menji jikkan di telingaku," po tong Emyr tajam. "Kamu boleh tinggal di rumah ini. Kamu punya ka mar sendiri di ujung lorong. Jangan ma suk ke kamarku tanpa izin, jangan menyen tuh barang-barangku, dan jangan pernah berharap aku akan menyen tuhmu."


Emyr berbalik, mengambil bantal dan selimut, lalu melem parkannya ke arah Jasmine. "Sekarang, kel uar dari kamarku. Aku ingin istirahat."


Jasmine menang kap bantal itu dengan tangan geme tar. Air mata mulai mengge nang di sudut matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia tidak boleh terlihat le mah. Jika Emyr menganggapnya sebagai barang yang dibe li, maka ia akan membuktikan bahwa barang ini memiliki har ga di ri yang tidak bisa dibe li dengan sepu luh mili ar sekalipun.


Tanpa sepatah kata pun, Jasmine berbalik dan kel uar dari ka mar itu. Di lorong yang sunyi, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di koridor. Ga dis bercadar yang tak terlihat, istri yang tidak diinginkan.


"Kamu tidak mengenalku, Emyr," bisik Jasmine pada bayangannya sendiri. "Kamu memben ci sosok ini karena kamu pikir kamu memilikinya. Tapi kamu akan berte kuk lu tut pada sosok yang tidak akan pernah kamu sangka."


Di dalam otaknya, sebuah rencana mulai tersusun. Jasmine adalah seorang desainer. Ia ahli dalam menciptakan identitas, membangun branding, dan memanipulasi persepsi visual. 


Jika Emyr Adhitama menginginkan wanita yang glamor, cerdas, dan be bas, tipe wanita yang biasa ia kenca ni, maka Jasmine akan memberikan sosok itu kepadanya.

Ia akan menjadi "ma du" bagi suaminya sendiri. 


Sebuah perseling ku han hati yang akan membong kar kemuna fi kan pria yang kini berstatus sebagai suaminya.


Malam itu, di ka mar ke cil di ujung lorong, Jasmine tidak tidur. Ia membuka laptopnya, mengakses akun media sosial lama yang sudah lama ia tinggalkan, dan mulai mencari tahu setiap detail kehidupan Emyr Adhitama, tempat kopi favoritnya, gaya arsitektur yang ia puja, hingga kriteria wanita ideal yang pernah ia ken cani.


Permainan baru saja dimulai. Emyr telah memba yar untuk seorang istri, tapi dia akan kehila ngan hatinya untuk seorang wanita a sing.


"Mas Emyr... kita lihat saja nanti." Jasmine tersenyum di tengah si sa air mata yang masih menga lir.


No comments:

Post a Comment