Janin Dari Menantu dan Besanku
Hujan gerimis mengguyur kota Jakarta saat Arini duduk di teras rumahnya yang sederhana. Matanya menerawang jauh, menatap titik-titik air yang jatuh dari langit. Tangannya menggenggam erat secangkir teh hangat, namun hangatnya teh itu tak mampu mengusir dingin yang menjalari hatinya sejak tiga bulan terakhir.
Dia tersenyum pahit mengenang bagaimana semuanya bermula. Tiga tahun lalu, hidupnya terasa seperti dongeng. Dia baru saja menikah dengan pria yang sangat dicintainya, Dimas Aryaguna. Pria tampan dengan senyum menawan yang berhasil membuat jantungnya berdegup kencang setiap kali mereka bertemu. Pernikahan mereka dirayakan dengan meriah, dihadiri keluarga besar dari kedua belah pihak.
Arini masih ingat jelas bagaimana perasaannya saat pertama kali memasuki rumah besar keluarga Dimas di kawasan Pondok Indah. Rumah bergaya minimalis modern dengan taman belakang yang asri. Rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama suami tercinta, juga bersama ibu mertuanya, Nyonya Ratih, dan… besannya.
Ya, besan. Ibu dari Dimas, Nyonya Ratih, tinggal bersama mereka. Namun yang membuat situasi sedikit berbeda adalah Pak Hadi, ayah Dimas, sudah tiada. Dan yang menjadi besan bagi keluarga Arini dari pihak Dimas sebenarnya adalah keluarga almarhum Pak Hadi. Tapi dalam keseharian, sosok yang sering berada di rumah adalah Andri—adik ipar Nyonya Ratih, atau dengan kata lain, paman dari Dimas.
Andri adalah seorang duda dengan dua orang anak yang sudah dewasa. Pria berusia empat puluh delapan tahun itu adalah arsitek terkenal dengan postur tegap dan wajah yang masih tampan meski usianya tak lagi muda. Andri tinggal di rumah besar itu sejak istrinya meninggal lima tahun lalu, membantu Nyonya Ratih mengurus rumah dan bisnis keluarga.
“Sayang, kamu sudah di sini? Aku cari kamu ke mana-mana.”
Arini menoleh. Dimas berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya berseri-seri seperti biasa. Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di samping istrinya, meraih tangan Arini dan menciumnya lembut.
“Aku tadi di teras belakang, menghirup udara hujan,” jawab Arini sambil tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Dimas. “Kamu sudah selesai rapat?”
“Belum. Tapi aku kangen kamu.” Dimas memeluk Arini dari samping. “Mama bilang kita akan makan malam bersama dengan Om Andri. Kamu mau ikut, kan?”
Arini mengangguk. “Tentu saja.”
Malam itu, mereka duduk di meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati. Nyonya Ratih duduk di ujung meja, seorang wanita berusia lima puluh tiga tahun yang masih terlihat anggun dengan rambut hitamnya yang tersisir rapi. Di sebelah kanannya duduk Andri, mengenakan kemeja batik lengan panjang. Sementara Arini dan Dimas duduk berseberangan di tengah meja.
“Arini, coba masakan Andri. Katanya dia masak khusus untukmu hari ini,” kata Nyonya Ratih sambil tersenyum ramah.
Andri mengangguk dengan senyum tipis. “Iya, Arini. Ini resep andalanku. Semoga kamu suka.”
Arini mencicipi sup krim jamur yang disajikan. Matanya membelalak kaget. “Enak sekali, Om! Ini benar-benar lezat.”
Andri tertawa kecil. “Senang kamu suka. Aku suka memasak, terutama untuk orang-orang yang kusayangi.”
“Om Andri memang jago masak, Sayang,” tambah Dimas sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. “Dulu waktu aku kecil, Om sering masak buatku kalau Mama sibuk kerja.”
“Ya, Om Andri ini seperti ayah kedua buat Dimas,” sahut Nyonya Ratih dengan nada yang lembut. Matanya menatap Andri dengan kehangatan yang tak biasa. “Dia selalu ada untuk keluarga ini.”
Arini memperhatikan interaksi antara Nyonya Ratih dan Andri. Ada kehangatan di sana, seperti dua orang yang sudah saling mengenal sangat lama. Wajar saja, pikir Arini. Mereka sudah menjadi keluarga selama puluhan tahun.
“Arini, besok kamu dan Dimas ada acara?” tanya Andri tiba-tiba.
“Tidak ada, Om. Kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu melihat proyek renovasi vila di Puncak. Mungkin kamu punya ide-ide segar untuk dekorasinya. Katanya kamu lulusan desain interior?”
Arini tersenyum bangga. “Iya, Om. Saya senang sekali diajak. Aku memang suka hal-hal seperti itu.”
“Bagus. Kita berangkat pagi, pulang sore. Dimas, kamu ikut?”
Dimas menggeleng. “Ada meeting besar besok, Om. Tolong jaga Arini ya.”
“Tentu.” Andri menatap Arini dengan senyum yang sulit diartikan.
Perjalanan ke Puncak keesokan harinya terasa menyenangkan bagi Arini. Andri mengendarai mobil SUV hitamnya dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol tentang berbagai hal—dari dunia arsitektur, desain interior, hingga kehidupan pribadi.
“Kamu bahagia menikah dengan Dimas?” tanya Andri tiba-tiba saat mobil memasuki jalan berkelok menuju puncak.
Arini terkejut dengan pertanyaan itu. “Tentu, Om. Dimas suami yang baik.”
“Aku tahu.” Andri menghela napas. “Aku hanya ingin memastikan. Dimas adalah putra dari kakakku. Dia seperti anakku sendiri. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya.”
“Terima kasih, Om. Saya juga bersyukur punya keluarga seperti ini. Om Andri, Nyonya Ratih, semuanya sangat baik padaku.”
Andri tersenyum. “Kamu memang pantas masuk ke keluarga ini, Arini. Kamu pintar, baik hati, dan… cantik.”
Arini merasakan ada yang aneh dari nada bicara Andri saat mengucapkan kata terakhir itu. Tapi dia segera mengabaikannya. Mungkin hanya perasaannya saja.
Vila yang akan direnovasi itu berada di kawasan dengan pemandangan indah. Arini terkesima saat melihat luasnya bangunan dan taman di sekelilingnya. Mereka berkeliling, berdiskusi tentang konsep yang akan diterapkan.
“Menurutmu, ruang tamu ini cocoknya bergaya apa?” tanya Andri sambil berdiri di tengah ruangan.
Arini berjalan mengelilingi ruangan, matanya jeli mengamati setiap sudut. “Menurut saya, gaya rustic modern akan cocok di sini, Om. Dengan sentuhan kayu dan batu alam, tapi tetap mempertahankan kesan modern.”
Andri mengangguk kagum. “Pintar. Kamu memang berbakat, Arini.”
Mereka berjalan menuju balkon belakang vila. Dari sana, terlihat hamparan perkebunan teh yang hijau membentang. Udara sejuk pegunungan membuat Arini menarik napas dalam-dalam.
“Kamu tahu, Arini,” Andri berdiri di sampingnya, siku bertumpu pada pagar balkon. “Aku belum pernah bertemu wanita sepintar dan secantik kamu sejak istriku meninggal.”
Arini merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terdengar terlalu personal. “Om Andri pasti bisa menemukan wanita yang lebih baik nantinya.”
“Kamu pikir?” Andri menoleh, menatap Arini dengan intens. “Mungkin. Tapi tidak semudah itu menemukan wanita yang tepat.”
Mereka terdiam beberapa saat. Angin sejuk berhembus membawa aroma teh dari perkebunan. Arini berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa aneh.
“Om, bagaimana kalau kita lihat kamar-kamarnya sekarang?”
Andri tersenyum dan mengangguk. “Baik, ayo.”
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju area kamar. Andri membuka pintu kamar utama yang sangat luas. “Ini kamar utama. Aku ingin ini terasa sangat nyaman, seperti surga pribadi bagi penghuninya.”
Arini masuk ke dalam kamar itu. Matanya tertuju pada jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan gunung. “Ini luar biasa, Om. Pemandangannya sangat indah.”
“Kamu suka?” Andri berdiri di belakangnya, jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
Arini merasakan kehangatan tubuh Andri di belakangnya. Dia bergerak sedikit menjauh. “Iya, Om. Sangat suka.”
Tanpa disadari, waktu berlalu begitu cepat. Matahari mulai condong ke barat saat mereka menyelesaikan kunjungan. Dalam perjalanan pulang, Andri memutar musik klasik lembut di dalam mobil. Arini yang kelelahan akhirnya tertidur di kursi penumpang.
Saat dia terbangun, mobil sudah memasuki Jakarta. Arini menemukan jaket tebal menutupi tubuhnya. Dia menoleh dan melihat Andri tersenyum padanya.
“Kamu tidur nyenyak. Aku tidak tega membangunkanmu.”
Arini tersenyum malu. “Maaf, Om. Saya tidak tahu kalau saya sekecapek itu.”
“Tidak apa-apa. Aku senang melihatmu tidur dengan tenang. Wajahmu terlihat sangat damai.”
Arini tidak tahu harus merespons apa. Ucapan Andri selalu terdengar manis, namun terlalu manis untuk hubungan besan dan menantu. Dia memilih diam dan memandang ke luar jendela.
Minggu-minggu berikutnya, Arini semakin sering menghabiskan waktu dengan Andri. Awalnya karena urusan pekerjaan—Andri memintanya membantu mendesain interior vila tersebut. Namun lambat laun, pertemuan-pertemuan itu berubah menjadi lebih personal.
Andri sering mengajaknya makan siang di restoran-restoran mewah, membelikannya hadiah-hadiah kecil, dan selalu memperhatikannya dengan cara yang membuat Arini merasa istimewa. Arini sadar ini tidak pantas. Dia sudah menikah. Tapi ada sisi lain dari Andri yang membuatnya nyaman—pria itu selalu mendengarkannya, selalu memahami perasaannya, sementara Dimas sibuk dengan pekerjaannya.
Suatu malam, Dimas pulang larut setelah rapat panjang. Arini terbangun saat mendengar suara pintu terbuka. Dia turun dari tempat tidur dan menemukan Dimas duduk di ruang tamu dengan wajah lelah.
“Mas, kamu sudah pulang?” Arini duduk di sampingnya.
Dimas menghela napas. “Iya. Maaf pulang larut, Sayang. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Kamu belum makan?”
“Belum. Tapi aku tidak lapar. Aku hanya ingin tidur.”
Arini merasa ada yang berbeda dari Dimas akhir-akhir ini. Suaminya itu semakin sibuk dan jarang punya waktu untuknya. Sementara Andri selalu ada ketika Arini membutuhkan seseorang untuk berbicara.
“Mas, apakah ada masalah?” tanya Arini hati-hati.
Dimas menggenggam tangannya. “Tidak ada, Sayang. Hanya pekerjaan yang menumpuk. Aku janji, setelah proyek ini selesai, kita akan liburan berdua. Kamu sabar ya.”
Arini mengangguk meski hatinya sedikit kecewa. Dia memeluk Dimas dan mencium keningnya. “Aku selalu mendukungmu, Mas.”
“Terima kasih, Sayang. Aku beruntung memilikimu.”
Mereka berjalan ke kamar, bergandengan tangan. Namun di balik senyum yang Arini tunjukkan, ada kegelisahan yang mulai menggerogoti hatinya. Apakah yang dia rasakan terhadap Andri hanya rasa terima kasih? Atau ada sesuatu yang lebih? Dan apakah Andri benar-benar hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Arini tidak tahu bahwa semua ini hanyalah awal dari badai yang akan menghancurkan kehidupannya.
Di kamarnya yang sunyi, Andri duduk di tepi tempat tidur sambil memegang sebuah foto lama. Foto itu memperlihatkan seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Arini. Air mata mengalir di pipinya.
“Kamu tahu, Nita? Aku akhirnya menemukan seseorang yang mirip denganmu,” bisiknya pada foto itu. “Tapi dia adalah menantu dari kakak iparku. Apakah ini salah? Apakah ini dosa?”
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menyelimuti kamar pria itu, bersama dengan rasa bersalah yang mulai menggerogoti hatinya, namun tak cukup kuat untuk melawan gejolak yang muncul setiap kali dia melihat Arini.
Keesokan harinya, Arini terbangun dengan perasaan yang tidak biasa. Dimas sudah pergi sejak subuh, meninggalkan pesan singkat di atas meja: “Ada urusan ke luar kota. Pulang besok malam. Love you.”
Arini menghela napas. Lagi-lagi Dimas pergi tanpa memberitahu sebelumnya. Padahal dia berharap akhir pekan ini mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Saat dia berjalan menuju dapur untuk sarapan, dia mendengar suara dari ruang keluarga. Andri sedang duduk di sofa sambil membaca koran. Begitu melihat Arini, pria itu langsung berdiri.
“Selamat pagi, Arini. Kamu tidur nyenyak?”
“Selamat pagi, Om. Iya, tadi tidur cukup nyenyak.”
“Dimas sudah pergi?”
Arini mengangguk. “Ada urusan ke luar kota.”
Andri mengangguk pelan. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita sarapan berdua? Aku sudah menyiapkan sarapan. Bubur ayam kesukaanmu.”
Arini tersenyum. “Terima kasih, Om. Om selalu ingat.”
“Tentu. Aku ingat semua hal tentangmu, Arini.”
Mereka duduk di meja makan, menikmati sarapan. Andri menyiapkan semuanya dengan sempurna—bubur dengan topping ayam suwir, cakwe, dan sambal yang tidak terlalu pedas sesuai selera Arini.
“Enak sekali, Om,” puji Arini setelah menyendok beberapa kali. “Om ini bisa buka restoran.”
Andri tertawa. “Senang kamu suka. Sebenarnya aku belajar membuat ini khusus untukmu. Aku perhatikan kamu suka bubur ayam dari langganan di dekat kantormu dulu.”
Arini terkejut. “Om memperhatikan hal sekecil itu?”
“Bukan hal kecil, Arini. Segala sesuatu tentang kamu itu penting bagiku.”
Kata-kata Andri kembali membuat Arini merasa tidak nyaman. Dia memilih mengalihkan pembicaraan. “Om, bagaimana progres renovasi vila? Sudah sampai mana?”
“Sudah hampir selesai. Aku ingin kamu melihat hasilnya akhir pekan ini. Mungkin kita bisa ke sana lagi?”
“Saya tidak tahu, Om. Dimas mungkin akan pulang besok.”
“Tidak apa-apa. Kita tunggu Dimas pulang. Kita bisa pergi bertiga.”
Arini mengangguk lega. Setidaknya jika Dimas ikut, situasi tidak akan terasa canggung seperti sebelumnya.
Setelah sarapan, Arini membantu Andri membersihkan meja. Tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil piring yang sama. Arini cepat menarik tangannya, tapi Andri justru memegangnya sebentar.
“Maaf,” kata Andri cepat, melepaskan genggamannya. “Aku tidak sengaja.”
Arini hanya mengangguk dan bergegas membawa piring ke dapur. Jantungnya berdebar kencang. Sentuhan itu membuatnya merasakan sesuatu yang tidak seharusnya dia rasakan.
Di dapur, Arini berdiri sebentar menenangkan diri. Dia menutup mata dan mencoba mengusir semua pikiran tentang Andri. Dia mencintai Dimas. Hanya Dimas. Tidak boleh ada yang lain.
“Arini, kamu baik-baik saja?”
Suara Andri dari balik pintu membuat Arini membuka matanya. “Iya, Om. Saya baik-baik saja.”
Dia keluar dari dapur dengan senyum yang dipaksakan. “Om, saya mau ke kamar dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.”
“Tentu. Kalau kamu butuh bantuan, aku di ruang tamu.”
Arini berjalan cepat menuju kamarnya. Begitu sampai, dia langsung membaringkan diri di tempat tidur. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar.
“Apa yang sedang terjadi padaku?” bisiknya lirih. “Aku tidak boleh seperti ini.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia merasa bersalah atas perasaan yang mulai tumbuh di hatinya. Padahal dia tahu ini salah. Ini sangat salah.
Sementara di ruang tamu, Andri duduk termenung. Tangan yang tadi menyentuh Arini masih terasa hangat. Dia tahu apa yang dilakukannya salah. Arini adalah menantu dari kakak iparnya. Tapi hatinya tidak bisa berbohong.
“Maafkan aku, Dimas,” bisiknya. “Maafkan aku, Ratih. Aku tidak bisa menahan perasaan ini.”
Di luar, hujan mulai turun lagi. Membasahi tanah yang mulai kering, seperti air mata yang mulai membasahi hati-hati yang tak seharusnya bersatu.
Awal yang indah dari pernikahan Arini dan Dimas mulai menunjukkan retakan-retakan kecil. Retakan yang akan melebar menjadi jurang yang dalam. Jurang yang akan menelan kebahagiaan yang pernah mereka bangun bersama.
Dan di tengah semua itu, Arini masih belum tahu bahwa pertemuannya dengan Andri akan membawanya ke dalam pusaran cinta terlarang yang akan mengubah hidup mereka selamanya.


No comments:
Post a Comment