Addense

Monday, 27 July 2026

Anak rahasia



 A n a k kecil korban kecelakaan itu butuh donor daarah!

Apa golongan daarahnya?

“Sama dengan anda, Dok! Sama-sama langka!”

Apa anaak ini adalah……


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


BAB 1


"Dokter Evan, banyak pasien datang, kami minta tolong!"


Seorang perawat menghampirinya di luar ruang operasi. Evan baru saja selesai mengoperasi usus buntu pasien secara cito.


Ia segera melepas scrub bedahnya. Ia berganti hanscoen baru lalu berlari mengikuti perawat itu. Udara malam terasa dingin menembus pakaiannya. 


"Pasien apa, Amar?" tanya Evan.


"keecelaaka an dok, rombongan a n a k TK habis piknik," jawab Amar sambil terus berlari di sampingnya.


"Malam ini kita kerja keras, Dok!" lanjutnya dengan napas memburu.


Evan mengernyit. keecelaaka an a n a k-a n a k selalu menjadi mimpi buruk bagi dokter mana pun.


"Astagfirullah. Dokter Gilang sudah dihubungi?" tanya Evan menyebut nama rekannya sesama dokter be da h.


"Sudah dok, sedang dalam perjalanan ke rumah s a k i t," jawab Amar.


Evan mengangguk cepat. Suasana IGD begitu ramai saat mereka tiba. a n a k-a n a k terdengar menangis karena kes a k i tan. Ibu-ibu yang mendampingi juga menangis histeris.


Beberapa perawat berlari ke sana kemari membawa perban dan infus. Lantai IGD penuh dengan noda d a r ah dan bekas lumpur.


"Dokter Evan!" teriak Dion dari sudut ruangan.


Hanscoen Dion penuh d a r ah. Evan tahu panggilan itu berarti ada pasien gawat.


Dion sedang menekan perut seorang a n a k kecil dengan kain kasa. Wajahnya pucat menahan tekanan.


"Dok, a n a k laki-laki lima tahun," kata Dion cepat.

"Kemungkinan gegar otak dan ada perd a r ahan terbuka di perut," lanjutnya.


Evan langsung mendekati tempat tidur itu. M a t anya menilai kondisi pasien dalam hitungan detik.


"Tekan sebisa mungkin perd a r ahannya," seru Evan sambil bergegas mendekat.


"Cek golongan d a r ahnya apa!"


Evan melihat a n a k kecil itu. Tubuhnya terkulai lemah dengan sungkup oksigen. Aliran oksigen sudah dibesarkan. a n a k itu mungkin seusia lima tahun. Wajahnya masih imut meskipun pucat. Alisnya tebal seperti alisnya.


"Siapa namanya?" tanya Evan.


"Dari name tag yang terbawa tadi, namanya Rivaldo Evander Diaz, Dok," jawab Dion.


Rivaldo Evander Diaz. Nama itu terdengar asing tapi entah mengapa terasa dekat di telinga Evan.

"Ibunya?" tanya Evan sambil memeriksa pupil a n a k itu.


"Katanya belum ditemukan, Dok," jawab Dion.


Dion menghela napas. "Tim medis dan tim gabungan lainnya masih mencari di lokasi keecelaaka an," tambahnya.


Evan menghela napas. Ia langsung memberi instruksi.


"Suruh bagian ruang operasi siapkan tempat dan alat. Kita harus melakukan operasi segera."


"Foto torak dan lainnya segera!" teriaknya.


Hati Evan berdesir melihat a n a k itu. Ada yang berbeda dari bocah laki-laki ini.


Bentuk wajahnya, rahangnya yang kecil, atau mungkin cara ia mengerutkan kening saat s a k i t. Sesuatu yang tidak bisa Evan jelaskan.


"Kamu kuat, nak," bisiknya pelan.


Ia menyentuh pipi a n a k itu sebentar. Kulitnya dingin tapi masih terasa hangat di bawah telapak tangan Evan.


Seorang perawat perempuan datang sambil membawa kertas hasil pemeriksaan. Itu adalah Tyas, salah satu perawat senior di IGD. Wajah Tyas tampak serius, bahkan sedikit tegang. Tangannya sedikit gemas memegang kertas itu.


"Dok, golongan d a r ah a n a k ini langka," kata Tyas dengan nada terburu-buru.


"Apa?" tanya Evan.


Tyas menarik napas panjang. "Golongan d a r ah Rival adalah Bombay phenotype, Dok."


"Golongan d a r ah Oh," lanjut Tyas dengan suara sedikit bergetar.


Dunia seakan berhenti berputar untuk Evan. Bombay phenotype. Golongan d a r ah yang sama persis dengan miliknya.


Evan terdiam sesaat. Dunia di sekitarnya seperti terasa melambat.


Ia ingat betapa sulitnya ia mendapatkan donor d a r ah setiap kali butuh. Golongan d a r ah itu hanya dimiliki kurang dari satu dari seperempat juta orang.


"Dok, hanya Anda yang punya golongan d a r ah itu di rumah s a k i t ini," kata Tyas pelan.


"Bagaimana?" tanyanya lagi.


Tyas tidak menjawab. Ia hanya menatap Evan dengan M a t a bertanya-tanya. Evan menatap a n a k laki-laki itu lagi. Tubuh kecilnya terkulai lemah di atas tempat tidur.


Kenapa a n a k itu bisa memiliki golongan d a r ah yang sama dengan dirinya? Ini sungguh di luar nalarnya. Mungkin saja kebetulan, kata hati kecilnya. Tapi sebagai dokter, Evan tahu bahwa golongan d a r ah Bombay tidak lahir begitu saja dari orang tua sembarangan.


Semua perawat yang tengah sibuk ikut mendengar. Kepala mereka menoleh bergantian dari Tyas ke Evan.


Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka. Golongan d a r ah itu sangat langka, dan hanya Evan yang memilikinya.


Seorang perawat muda berbisik kepada rekannya. "Dokter Evan belum menikah, kan?" tanyanya pelan.


"Belum," jawabnya singkat.


Evan mengabaikan bisikan itu. Pikirannya kacau tapi ia harus tetap fokus pada pasien.


Gilang tiba-tiba muncul dari balik kerumunan. Ia baru saja tiba di IGD dengan jas dokter yang masih terkancing tidak rapi.


Wajah Gilang sedikit berkeringat karena terburu-buru. Rambutnya acak-acakan seperti baru bangun tidur.


Ia langsung menepuk bahu Evan. "Aku akan bantu operasi a n a k ini," kata Gilang tegas.


"Siapkan jadi pendonor d a r ah saja kamu!" lanjutnya sambil meraih hanscoen dari meja terdekat.


Evan masih berdiri diam. M a t anya tidak lepas dari wajah Rivaldo Evander Diaz.


Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan secara logika. Mungkin bentuk alis a n a k itu. Atau cara ia menggigit bibir bawahnya saat kes a k i tan, persis seperti kebiasaan Evan dulu.


"Evan!" panggil Gilang menyadarkan.


"Kita tidak punya banyak waktu," kata Gilang.


Evan menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menghela napas panjang.


"Baik. Aku setuju," jawab Evan akhirnya.


"Tapi setelah ini, aku ingin bicara dengan pihak keluarga a n a k itu," lanjutnya.


Gilang mengangguk. "Nanti kita cari tahu," katanya singkat.


Tyas dan Gilang saling berpandangan. Mereka sama-sama tahu bahwa ibu a n a k itu masih belum ditemukan.


Tim medis dan tim gabungan mungkin masih menyisir lokasi kejadian. Malam yang gelap pasti memperlambat pencarian.


Tyas terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia tampak tidak enak hati. Tangannya meremas ujung jas perawatnya.


"Tapi Dok, kita belum mendapat persetujuan operasi dari keluarga pasien," kata Tyas hati-hati.


"Dokter Gilang pun tidak bisa mengoperasi tanpa tanda tangan," lanjutnya.


Evan menoleh cepat ke arah Tyas. M a t anya menyala. Ia tidak peduli dengan formalitas saat nyawa seseorang dipertaruhkan. Terutama nyawa seorang a n a k kecil.


"Kita tidak bisa menunggu," kata Evan tegas.


"a n a k ini akan mati kalau kita menunggu lebih lama," lanjutnya.


Tyas masih ragu. "Tapi peraturan rumah s a k i t, Dok..."


Dion yang masih menekan perut Rival juga ikut menatap Evan. Semua M a t a tertuju padanya.


"Peraturan tidak akan menyelamatkan nyawa a n a k ini," potong Evan.


Seorang perawat lain mendekat. "Dokter Evan, sebaiknya kita tunggu dulu," katanya pelan.


"Keluarga pasien belum ada yang datang ke IGD," tambah perawat itu.


Evan menghela napas kasar. Ia menatap Rival yang mulai membiru di ujung bibirnya. Saturasi oksigen a n a k itu pasti sudah turun drastis. Waktu tidak menunggu siapa pun.


Waktu tidak berpihak pada bocah itu. Setiap detik sangat berharga. Evan membulatkan tekad. Ia tidak akan membiarkan a n a k ini meninggal karena prosedur birokrasi.


"Aku yang bertanggung jawab!" teriak Evan tiba-tiba.


Suaranya menggema di seluruh ruang IGD. Semua aktivitas sejenak berhenti. Perawat yang sedang memasang infus berhenti bergerak. 


a n a k-a n a k yang menangis ikut terdiam karena kaget.


"Oh, Tuhan," bisik seorang perawat tua sambil memegang dadanya.


Evan berdiri tegak. Wajahnya menunjukkan tekad yang tidak bisa digoyahkan.


"Aku yang tanda tangan persetujuan operasi," kata Evan dengan nada tidak bisa ditawar.


"Aku juga yang akan mendonorkan d a r ah untuknya," lanjutnya.


Gilang mengangkat alis. Ia mengenal Evan sudah lama, tapi belum pernah melihat rekannya seperti ini.


Evan selalu dingin dan mengikuti prosedur dengan ketat. Tapi malam ini berbeda.


"Kamu yakin, Van?" tanya Gilang pelan.


"Tanda tanganmu tidak menggantikan tanda tangan keluarga secara hukum," kata Gilang.

Evan menoleh ke arah Gilang. "Aku tahu," jawabnya pendek.


"Tapi aku lebih takut melihat a n a k ini mati di mejaku nanti," lanjutnya.


No comments:

Post a Comment